JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 68 "Bukan demi anda pak Gustaf."


__ADS_3

Yurina dan Moranno disambut oleh beberapa polisi saat mereka tiba. Yurina lalu diantar menuju ruang pemeriksaan ditemani Moranno dan pengacaranya yang telah menunggu.


Keterangan demi keterangan diberikan oleh Yurina saat pihak kepolisian memberi pertanyaan. Tak terasa waktu dua jam pun berlalu.


"Baiklah nyonya, saya rasa cukup keterangan yang kami terima hari ini. Selanjutnya, kami akan melakukan pemanggilan kembali bila ada hal yang masih diperlukan." Kata sang polisi.


"Siap Pak..." Ujar Yurina menyanggupi.


"Pak bolehkah saya bertemu dengan pak Gustaf, salah seorang penculik itu." Pinta Yurina.


"Ada keperluan apa nyonya ingin bertemu dengannya?" Selidik polisi tersebut.


"Seperti keterangan saya tadi, salah seorang dari para penculik itu, telah membantu saya saat ingin melarikan diri dari para penculik. Sebelumnya ia meminta pada saya untuk membantu isteri dan anaknya yang sedang dirawat dirumah sakit pemerintah. Karena pria yang membantu saya itu mengatakan bahwa ia terpaksa ikut bergabung dalam pekerjaan penculikan karena memerlukan biaya perawatan keluarganya. Dan sebelum kemari, saya dan suami saya telah lebih dulu kerumah sakit untuk mengecek kebenaran dari apa yang dikatakan pria penculik yang membantu saya itu. Isterinya bernama ibu Selia dan bayinya bernama Putri. Mereka ditangani Dokter Dilanova. Dokter Dilanova lah yang memberitahu saya bahwa nama pria itu adalah pak Gustaf dari photo coppy KTP yang dokter Dilanova ambil pada berkas pasien. Bila diperlukan, Bapak boleh datang langsung ke rumah sakit pemerintah untuk mengetahui kebenaran apa yang saya sampaikan ini. Jadi, tujuan saya hanya ingin menyampaikan tentang keadaan isteri dan bayinya pada pak Gustaf." Jelas Yurina secara terperinci.


"Baiklah. Nyonya boleh bertemu. Nanti petugas penjaga akan membawa nyonya untuk bertemu pak Gustaf." Kata sang polisi menyetujui.


"Terima kasih pak."


Setelah selesai, Moranno membawa Yurina keluar dari ruang pemeriksaan bersama pengacara mereka mengikuti petugas yang mengantar mereka untuk bertemu pak Gustaf.


Tak lama menunggu, seorang petugas kepolisian membawa seorang pria berpakaian tahanan, yang wajahnya terlihat babak belur ketempat dimana Moranno, Yurina dan pengacaranya sedang duduk menunggu.


"Sayang, benarkah itu pria yang kau maksud. Apakah kau mengenalnya dengan wajahnya yang seperti itu?" Ucap Moranno berbisik pada Yurina, saat pria penculik dan petugas sedang melangkah menunju kearah mereka.


"Iya, aku mengenalinya. Wajahnya babak belur begitu karena dihajar teman-temannya saat mereka berhasil menangkap kami yang berusaha melarikan diri." Yurina balas berbisik.


Pria penculik lalu duduk dikursi yang telah disediakan petugas yang berhadapan dengan Moranno, Yurina dan pengacaranya duduk dengan pembatas meja dihadapan mereka.

__ADS_1


Sementara petugas polisi yang mengantarkannya berdiri dibelakang pria penculik itu.


Pak Gustaf, tak berani menatap Moranno, Yurina dan pengacaranya saat duduk berhadapan, ia hanya menundukkan kepalanya.


"Pak Gustaf... " Sapa Yurina membuka pembicaraan.


"Iya nyonya." Jawabnya masih dalam sikap menunduk.


"Bagaimana keadaan anda pak Gustaf? Apakah anda baik-baik saja?" Tanya Yurina yang merasa prihatin melihat pria dihadapannya itu.


"Seperti yang nyonya lihat. Demikianlah keadaan saya." Ucapnya singkat tanpa semangat. Moranno dan sang pengacara hanya menjadi pendengar sambil memperhatikan pria yang ada dihadapan mereka.


"Saya sudah bertemu dengan isteri dan bayi pak Gustaf di rumah sakit pemerintah." Ujar Yurina melanjutkan.


"Benarkah??" Pria itu langsung mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk. Terlihat ada rasa keingin tahuan diwajahnya yang babak belur itu.


"Bagaimana?.... Bagaimana keadaan isteri dan bayi saya nyonya??" Ucapnya dengan semangat yang datang tiba-tiba begitu mendengar apa yang disampaikan Yurina.


"Mereka.... Baik-baik saja. Hanya saja... isteri anda mencari keberadaan anda. Selama empat hari ini anda tidak pernah datang dan tanpa kabar. Isteri anda sangat mengkhawatirkan anda pak Gustaf." Jelas Yurina dengan hati-hati sambil memperhatikan wajah pria dihadapannya itu.


Pak Gustaf terlihat melemas, wajah babak belurnya menggambarkan kesedihan dan penyesalan yang amat mendalam.


"Saya menyesal nyonya atas keputusan saya yang mengambil pekerjaan yang sangat beresiko ini. Sehingga saya terpisahkan dari keluarga saya. Disini, saya harus mempertanggung jawabkan apa yang telah saya lakukan." Ucapnya sedih dan penuh penyesalan.


Yurina menyodorkan tissue, saat ia melihat air mata mengalir disudut - sudut mata pak Gustaf. Hati Yurina turut merasa perih. Bagaimanapun juga pria penculik itu pasti sangat dibutuhkan kehadirannya oleh isteri dan bayinya, terlebih kondisi sang isteri yang masih lemah, sangat membutuhkan suaminya untuk membantu setiap keperluannya.


"Saya tidak tahu harus bagaimana nyonya. Dengan adanya saya ditempat ini, bagaimana saya harus membiayai perawatan mereka."Ucap pria itu lagi sambil menghapus air mata yang tak tertahankan dengan menggunakan tissue pemberian Yurina. Wajahnya kembali menunduk dalam.

__ADS_1


"Saya telah melunasi biaya perawatan rumah sakit isteri dan bayi anda pak Gustaf." Kata Yurina pelan.


Pak Gustaf kembali mengangkat wajahnya memandang kearah Yurina dihadapannya. Tatapannya begitu lekat seolah-olah tak percaya akan apa yang ia dengar.


"Anda melakukannya nyonya??" Tanya pak Gustaf untuk meyakinkan dirinya sendiri.


"Iya. Saya sudah melunasinya." Ucap Yurina mengulangi ucapannya masih dengan suara pelan.


"Untuk saya, seseorang yang telah melakukan penculikan pada anda nyonya?? Ucap pak Gustaf masih tak percaya.


"Bukan untuk anda pak Gustaf. Tapi untuk isteri dan bayi anda. Dan ini semua demi rasa kemanusiaan." Jelas Yurina masih dengan suara pelannya.


Pak Gustaf kembali menundukkan kepalanya, ia merasa sangat malu atas apa yang telah ia lakukan.


"Iya, saya mengerti nyonya. Saya memang tidak layak menerima belas kasihan anda nyonya." Ucapnya lirih dan maaih tertunduk.


"Saya percaya, pada dasarnya pak Gustaf adalah orang yang baik. Buktinya pak Gustaf sudah berusaha menolong saya. Harapan saya, semua yang terjadi ini kiranya dapat menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi pak Gustaf, dan ambillah hikmah dari kejadian ini. Pilihan ada ditangan kita masing-masing, kitalah yang memutuskan sikap apa yang harus kita ambil. Sekalipun keadaan memaksa untuk kita memilih pekerjaan yang salah, tetaplah berdiri pada sikap hati yang benar, putuskanlah yang benar. Karena apa yang kita putuskan hari ini, akan menentukan menjadi seorang yang seperti apa kita dimasa depan. Memang hidup itu tidak mudah, yang kita sunguh-sungguh butuhkan tidak ada pada kita. Tapi, selalu ada pertolongan dari Sang Pencifta, cepat atau lambat. Karena sang Pencifta punya waktuNya sendiri, punya cara-Nya sendiri untuk menolong, contohnya seperti yang terjadi pada kita sekarang ini." Jelas Yurina.


"Terima kasih banyak nyonya. Saya akan berusaha memperbaiki diri dan menjadi seorang pribadi yang lebih baik lagi." Ucap pak Gustaf dengan penuh tekad.


"Baiklah. Sepertinya waktunya sudah habis pak Gustaf. Hiduplah dengan baik, dengan berkelakuan baik disini semoga bapak bisa cepat keluar dari sini dan kembali berkumpul dengan keluarga pak Gustaf." Kata Yurina mengakhiri kata-katanya, saat petugas memberi isyarat bahwa waktu sudah habis.


" Sekali lagi terima kasih banyak nyonya atas semuanya."


"Iya. Sama-sama pak Gustaf."


Petugas penjaga lalu membawa pak Gustaf kembali ke sel tahanannya. Moranno, Yurina dan juga pengacaranya hanya bisa memandang kepergian pak Gustaf dengan pakaian tahanannya.

__ADS_1


__ADS_2