JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 82 "Tenangkan diri anda nyonya muda..."


__ADS_3

Dikamarnya, Yurina meraih amplop putih yang tertutup rapi diatas meja kaca, yang bersandar di vas bunga.


Tertera tulisan diamplop bagian depan : Buat Isteriku yang kucintai dan bayi kembar kami.


Yurina mencium amplop itu dengan penuh perasaan. Lalu dibacanya kembali, lagi dan lagi. Tulisan tangan Moranno terlihat sangat rapi.


Dibawanya amplop putih itu ditempat tidur. Lalu dibacanya lagi dan lagi sambil tersenyum - senyum seorang diri.


Yurina sudah membayangkan betapa bahagianya dirinya saat bayi kembarnya bersama Moranno lahir nanti. Tentu saja rumah mereka nanti akan sangat ramai dihiasi dengan tangisan dan tawa para bayi kembar itu.


Yurina merasa tidak sabar menanti saat - saat bahagia itu.


Yurina sempat memikirkan beberapa nama untuk kedua bayi kembarnya itu.


Ia dan Moranno memang belum pernah membicarakan nama kedua bayi kembar mereka.


Yurina mengambil pensil alisnya dimeja riasnya lalu mulai menulis dikertas nama bayi kembar laki - laki, nama bayi kembar perempuan, dan nama bayi kembar laki - laki dan perempuan.


Ia membaca ulang nama - nama bayi yang telah ia tulis sambil tersenyum bahagia.


Yurina memikirkan bahwa ia akan memberitahukan nama - nama bayi kembar yang telah ia pilih pada Moranno, saat suaminya itu telah pulang dari berkerja.


Ia merasa sangat tidak sabar menunggu suaminya itu.


Setelah menyimpan kertas dan pensil alisnya didalam laci meja rias, dengan cepat diraihnya ponselnya, lalu mulai mencari beberapa artikel tentang persalinan ibu hamil.


Yurina mulai membaca beberapa artikel yang sudah ia temukan.


Bagaimana mempersiapkan diri menghadapi persalinan, cara merawat bayi yang baru lahir, cara menyusui secara eksklusif dan lainnya seputar persalinan dan ibu menyusui.


Keasikannya membaca, membuat dirinya tak terasa tertidur dengan pulas.


Sore harinya, Yurina baru terbangun. Perutnya berbunyi karena telah melewatkan makan siangnya. Bayi didalam sana terus bergerak - gerak tidak seperti biasanya. Nampak lebih aktif sehingga membuat bagian - bagian perut Yurina terasa sakit.


"Maafkan mommy ya sayang, mommy terlalu pulas tidur siangnya sehingga membuat kalian kelaparan." Ucap Yurina sambil mengusap perutnya untuk menenangkan para bayinya.


Namun bayi - bayi itu tak mau tenang. Mereka masih bergerak begitu aktif satu sama lain, membuat Yurina berdiam sejenak ditempat duduknya menahan rasa sakit diperutnya.


"Babby - babby mommy... Ingat ya pesan daddy kalian tadi pagi, harus jadi anak yang pintar, jangan nakal. Mommy ingin berjalan tapi tidak bisa karena pergerakkan kalian yang begitu aktif sehingga membuat perut mommy sakit." Yurina terus berbicara pada bayi kembarnya sambil mengusap perutnya pada bagian yang bergerak - gerak dengan tangannya.


Beberapa menit lamanya, ucapan Yurina tidak mempan. Bayi - bayinya masih terus bergerak.


"Ayo, katakan pada mommy, apa yang sedang kalian lakukan didalam, permainan apa yang kalian mainkan sayang? Mommy juga ingin tahu?" Ucap Yurina lagi mengajak bayi - bayi didalam sana berbicara.


Perlahan pergerakan mereka mulai melemah, lalu menjadi tenang.


"Kalian memang anak yang baik dan pintar." Ucap Yurina dan menghentikan usapan pada perutnya.


Yurina segera kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Keluar dari kamar mandi Yurina duduk dimeja riasnya setelah berpakaian. Terdengar suara ketukan pintu.


Tok...


Tok...


Tok...

__ADS_1


Yurina bangkit dari kursi riasnya. Dengan tubuh beratnya, Yurina melangkah meliuk - liuk menuju pintu yang masih diketuk dari luar.


"Iya bibi Nani, ada apa?" Kata Yurina saat dilihatnya bibi Nani berdiri didepan pintu.


"Waktunya makan malam nyonya muda. Semua sudah saya siapkan diatas meja makan. Nyonya besar juga sudah bersiap." Katanya sambil memberi hormat.


"Iya bi, terima kasih. Kebetulan perutku juga terasa lapar."


Yurina lalu menutup pintu kamarnya dengan rapat. Ia melangkah lambat mengikuti bibi Nani dari belakang.


"Selamat malam nyonya besar." Sapa Yurina sambil memberi hormat, saat melihat mertuanya yang telah duduk dikursinya.


"Duduklah...." Sahut nyonya Agatsa dan mempersilahkan menantunya itu duduk.


Yurina menarik kursi ditempat biasa ia duduk. Yurina nampak kikuk, karena mertuanya terus mengawasinya dengan wajah datarnya.


"Kudengar, kau telah melewati makan siangmu? Apa kesibukkanmu hari ini hingga lupa waktu makan siangmu? Apa kau tidak tahu, asupan yang kurang akan mempengaruhi perkembangan bayi - bayimu. Mereka tidak bisa makan sendiri. Jadi kau sebagai ibu mereka jangan sampai berbuat teledor seperti itu lagi."


"Iya.... Maafkan saya nyonya besar. Saya berusaha tidak mengulangi kesalahan yang sama. Siang tadi saya sedang asik membaca beberapa artikel tentang persalinan dan ibu menyusui. Sehingga waktu makan siang saya tertidur." Sahut Yurina sopan sambil menundukkan sedikit kepalanya.


"Aku mengerti.... Bibi Nani hidangkanlah makan malamnya." Perintah nyonya Agatsa. Bibi Nani mulai melayani kedua majikannya itu untuk makan.


Kedua wanita itu makan dalam keheningan, tidak satu orang pun diantara keduanya yang membuka percakapan lagi. Suasana kecanggungan sangat terasa sekali.


Suara deringan telepon terdengar menggema memecah keheningan suasana makan malam antara mertua dan menantu itu.


Bibi Nani tergopoh - gopoh menghampiri meja telepon yang ada disudut ruang makan. Tangannya segera meraih gagang telepon.


"Hallo.... kediaman keluarga Agatsa disini." Kata bibi Nani saat mengangkat telepon.


Terdengar suara seseorang dari seberang sambungan telepon.


Nyonya Agatsa dan Yurina yang sedari tadi telah memperhatikan tingkah bibi Nani pun ikut merasa tegang dan saling berpandangan satu sama lain.


Baik Yurina maupun nyonya Agatsa menghentikan kegiatan makan malam mereka yang belum selesai.


"Bibi Nani.... Siapa yang menelpon?" Tanya nyonya Agatsa tidak sabar mengetahui apa yang menyebabkan kepala pelayannya bersikap seperti itu.


"Kantor polisi nyonya besar...." Kata bibi Nani, tangannya masih memegang gagang telepon dengan gemetar.


" Kantor polisi??" Nyonya Agatsa segera berdiri dan bergegas menghampiri bibi Nani yang masih gemetar.


Sementara Yurina segera menegug jus buahnya untuk meredakan rasa tegangnya.


"Kenapa kantor polisi menelpon?" Tanya nyonya Agatsa memburu.


"Tuan Moranno nyonya besar.... tuan Moranno....." Belum sempat bibi Nani meneruskan ucapannya, Yurina menjatuhkan gelas ditangannya saat mendengar nama Moranno disebutkan.


Pecahan gelas berserakan dilantai. Kontan saja ketegangan yang terjadi membuat ketiga wanita itu sama - sama terkejut oleh ulah Yurina.


Mata nyonya Agatsa mendelik marah melihat kearah Yurina menantunya.


"Ma..... Maafkan saya nyonya besar....." Kata Yurina gugup bercampur takut karena sudah memecahkan gelas jusnya dengan tidak sengaja.


Nyonya Agatsa segera merampas paksa gagang telepon yang masih dipegang bibi Nani.


"Hallo.... Saya nyonya Agatsa.... Apa yang terjadi??" Tanya nyonya Agatsa.

__ADS_1


Terdengar suara dari seberang sambungan telepon memberi keterangan. Wajah nyonya Agatsa kembali menjadi tegang dan kaku.


"Itu.... Itu tidak mungkin..... putraku Moranno...." Beberapa detik kemudian, nyonya Agatsa nampak lemas.


"Toloonggg....!!"Teriak bibi Nani sambil mendekap tubuh nyonya Agatsa dengan erat supaya tidak terjatuh.


Yurina segera beranjak dari tempat duduknya hendak turut membantu. Para pelayan segera berhamburan datang untuk menolong.


Mereka mengangkat tubuh nyonya Agatsa ke Sofa yang ada diruang keluarga tidak jauh dari ruang makan. Nyonya Agatsa pingsan.


"Bibi Nur tolong segera telepon dokter Herman sekarang." Pinta bibi Nani yang terlihat panik.


Bibi Nur segera menghubungi dokter Herman menggunakan telepon yang ada diruang keluarga.


Sementara pelayan yang lain mengambil kotak obat dan menyerahkan pada bibi Nani.


"Apa yang terjadi bibi Nani? Apa yang dikatakan oleh pihak kantor polisi? Sehingga nyonya besar kondisinya menjadi seperti ini? Tanya Yurina beruntun disela - sela kepanikan seisi ruangan itu.


"Tuan..... Tuan Moranno nyonya muda...." Ujar bibi Nani nampak ragu melanjutkan ucapannya. Yurina dan semua pelayan memandang wajah bibi Nani penuh tanya.


"Cepat katakan bibi... Ada apa dengan suamiku?" Ucap Yurina setengah berteriak tanpa sadar karena tak sabar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Tuan.... tuan.... kecelakaan...."Ucap bibi Nani gugup dan nampak khawatir diwajahnya.


"Kecelakaan....."Sekujur tubuh Yurina langsung terasa lemas, kepalanya tiba - tiba berdenyut. Hampir saja tubuhnya roboh, untung saja para pelayan segera menahan tubuhnya dan mendudukkannya disofa.


Seorang pelayan segera mengambil segelas air putih dan memberikannya minum.


Kesadaran Yurina yang hampir hilang segera kembali.


"Dimana suamiku sekarang bibi...."Tanya Yurina yang tangisnya langsung meledak.


Bibi Nur segera memeluk Yurina yang terlihat sangat rapuh. Perutnya juga tiba - tiba turut bergerak dengan hebat karena Yurina yang sesenggukkan.


"Tenangkan diri anda nyonya muda...." Ujar bibi Nur sambil membelai punggung Yurina yang masih menangis dalam pelukannya.


"Bagaimana aku bisa tenang bibi.... Suamiku.... Suamiku...." Yurina terus menangis.


"Iya nyonya muda, saya mengerti.... Kita semua pun juga ikut merasakan kesedihan dan kepanikan. Tapi nyonya muda sedang mengandung. Kasian bayi - bayi anda nyonya... Mereka turut merasakan kepanikan yang nyonya muda rasakan. Tolong tenangkan diri anda nyonya muda." Bibi Nur berusaha menenangkan majikannya itu.


"Aku tidak bisa tenang bibi Nur sebelum melihat suamiku. Bibi Nani dimana suamiku sekarang?" Tanya Yurina lagi pada bibi Nani sambil menangis.


"Tuan sudah dibawa kerumah sakit Agatsa Hospital nyonya muda. Sebaiknya nyonya muda menunggu kabar dari rumah saja. Keadaan nyonya terlihat tidak baik sekarang." Sahut bibi Nani yang merasa kasihan melihat kondisi nyonya mudanya itu.


"Aku tidak bisa menunggu bibi, aku harus melihat suamiku, aku harus segera mengetahui keadaannya. Cepat antarkan aku kesana." Desak Yurina.


"Bibi Nani benar nyonya, keadaan anda sekarang kurang baik, beristirahat saja dulu dikamar nyonya." Bibi Nur turut menasehati.


"Aku tak bisa beristirahat bibi, aku harus bertemu suamiku sekarang. Aku harus menemuinya sekarang juga." Yurina tetap memaksa sambil berusaha berdiri.


"Pak Karso, tolong siapkan mobil dan kursi roda nyonya muda sekarang." Perinta bibi Nani.


Pak Karso segera bergegas melakukkan apa yang dikatakan bibi Nani.


"Bibi Nur tolong temani nyonya muda bersama pak Karso. Aku akan menunggu nyonya besar sampai dokter Herman tiba."


"Baiklah bi Nani...." Bibi Nur lalu memapah Yurina yang sedang melangkah menuju lift menuju lantai bawah.

__ADS_1


Yurina masih terus menangis didalam mobil sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.


Bibi Nur tidak henti - hentinya meminta nyonya mudanya itu menenangkan diri. Sementara perut Yurina semakin bergejolak, bayi - bayi itu sepertinya turut merasakan apa yang dirasakan ibu mereka.


__ADS_2