
Moranno memeluk Yurina yang berbaring dan membelakanginya.
"Suamiku.....Tadi kau mengatakan kalau kita liburan bersama, tapi aku tidak melihat nyonya besar dan juga adik ipar disini?" Tanya Yurina pada suaminya itu.
"Mommy menemani Margaret berbelanja dulu, besok baru kemari. karena Margarerth akan langsung kembali saat kita selesai liburan dari sini sayang."
"Kenapa kau dan nyonya besar tidak meminta adik ipar untuk berkerja di rumah sakit yang ada dikota ini atau rumah sakit Agatsa Hospital saja, apalagi rumah sakit itu milik keluarga Agatsa."
"Itu sudah kami lakukan sayang, tapi Margareth tidak mau. Ia masih betah ditempat kerjanya yang lama. Selain itu juga ia mengatakan ingin membantu masyarakat yang kurang mampu disana."
"Aku jadi teringat.... saat berkunjung kekota adik ipar.... awalnya, jalan yang kami lalui nampak begitu bersih, rapi dan asri..... tapi setelah beberapa menit berlalu, nampak gersang, kotor.... juga banyak sampah terlihat dibuang sembarangan dipinggir jalan." Jelas Yurina.
"Kapan kau kesana?" Tanya Moranno saat mendengar penuturan Yurina.
"Saat kau masih koma." Sahut Yurina.
"Jadi kau sendiri yang menjemput Margareth kemari? Itu kan jauh sekali sayang? Bagaimana bila terjadi sesuatu padamu saat itu?" Ucap Moranno nampak khawatir.
"Apa boleh buat.... semuanya demi kau sembuh suamiku.....Lagi pula, semua keberangkatanku saat itu telah dipersiapkan oleh asisten Rudi hingga aku kembali. Dan tidak terjadi masalah juga. Sekarang kau sembuh dan kita ada disini." Jelas Yurina.
"Terima kasih sayang....." Ucap Moranno sambil mencium rambut Yurina.
"Kau wangi sekali sayang....." Kata Moranno lagi sambil mengendus - endus punggung Yurina yang belum menggunakan pakaiannya dan masih bersembunyi didalam selimutnya.
"Tentu saja.....tadi aku berendam lama sekali dikamar mandi. Itu kelopak - kelopak mawar, apakah kau yang menyiapkan semuanya itu suamiku?" Tanya Yurina sambil memegang tangan Moranno yang memeluknya.
"Bukan aku..... Tapi para pelayan, aku yang meminta mereka menyiapkannya..... Apakah kau suka?" Tanya Moranno lagi sambil mengendus aroma tubuh Yurina.
"Iyaaa......Aku sangat suka, terima kasih suamiku, aku jadi teringat saat kita baru menikah dulu, kau juga melakukan hal yang sama waktu itu....." Ucap Yurina sambil membalikkan tubuhnya kearah Moranno.
"Iya sama - sama sayang..... Tapi waktu itu aku juga ingat kalau kita tidak sempat berbulan madu kan?" Ucap Moranno sambil mendekatkan wajahnya kewajah Yurina.
"Sekarang waktunya kita mengganti bulan madu kita yang tertunda itu...." Napas hangat Moranno begitu terasa diwajah Yurina yang hanya bisa terpaku memandang wajah suaminya yang begitu dekat dengan wajahnya.
Tangan Moranno mulai meraba - raba dengan nakal ketubuh Yurina yang ada dibalik selimut.
Yurina memejamkan matanya, merasakan sentuhan - sentuhan jemari Moranno yang membuat detak jantungnya mulai berpacu. Remasan - remasan lembut hingga mulai beringas membuat mata Yurina yang terpejam tiba - tiba terbuka lebar.
"Aawwwww.....Suamiku.....kau menyakitiku......" Ucap Yurina dengan wajah meringis. Tangannya memegang tangan Moranno yang sedang meremas gunung kembarnya.
"Kenapa sayang..... " Sahut Moranno bingung sambil melepaskan remasannya.
__ADS_1
"Apakah kau tidak merasakankan kalau benda yang kau remas itu begitu keras suamiku.....?"
"Iyaaa, aku merasakamnya, itu sebabnya aku meremasnya lebih kencang, karena tidak terasa kenyal seperti biasanya sayang....." Ucap Moranno sekenanya saja.
"Sedari pagi aku belum menyusui bayi Billy dan juga bayi Willy, dan aku juga belum memompanya, jadi sekarang isinya penuh hingga kencang seperti ini." kata Yurina menunjukkan dot alami para bayinya pada Moranno.
"Apa itu terasa sangat sakit?" Kata Moranno sambil memperhatikan dua gunung dihadapannya.
"Tentu saja sangat sakit, tersentuh sedikit saja sakit, apa lagi diremas." Jelas Yurina.
"Lalu bagimana? Bayi Billy dan bayi Willy masih dalam perjalanan..... Apakah boleh bila aku yang bantu menyusui....." Ucap Moranno menggoda isterinya itu.
"Tidak boleh..... dokter Rosalie bilang ASI khusus untuk bayi, bukan untuk daddynya. Tolong cepat ambilkan wadahnya didapur suamiku." Pinta Yurina dengan wajah seriusnya tanpa merespon godaan Moranno.
Moranno lalu pergi melakukan apa yang dikatakan Yurina, tak lama ia kembali lagi membawa beberapa wadah ditangannya yang diminta isterinya itu.
"Menjauhlah, aku ingin memompa ASIku dulu." Kata Yurina sambil membalikkan tubuhnya.
"Aku disini saja, bukankah aku sudah biasa melihatnya." Kata Moranno tidak mau pergi sambil memandang punggung Yurina yang putih mulus.
Yurina mulai memompa ASInya sedikit demi sedikit, ia telihat agak kesulitan karena alat memompa masih diperjalanan bersama bibi Nur dan para bayinya, ditambah lagi dirinya harus memegang wadah seorang diri.
"Suamiku..... " Panggil Yurina pada Moranno yang sedang berbaring diranjang dan masih memandang Isterinya itu dari belakang.
"Kemarilah, bantu aku memompa ASIku....." Pinta Yurina.
Tanpa menunggu panggilan untuk kedua kalinya, Moranno segera mendekati Yurina yang memanggilnya.
"Aku yang memeras?" Tanya Moranno bersemangat.
"Tidak, kau pegang wadahnya saja suamiku." Ujar Yurina sambil memberikan wadah yang ia pegang kepada Moranno.
Moranno lalu memegang wadah yang diberikan Yurina lalu memposisikan dibawah pucuk dada Yurina.
Tatapan Moranno tidak lepas dari pucuk dada Yurina yang mengeluarkan ASInya. Sementara tangannya masih setia memegang wadah untuk menampung ASI isterinya itu, halusinasinya mulai berkerja didalam kepalanya.
"Apa yang kau pikirkan suamiku?" Tanya Yurina yang melihat Moranno menatap gunung kembarnya tanpa berkedip.
"Tidak ada....." Jawab Moranno singkat, namun pandangan matanya tidak pernah lepas dari gunung kembar yang seolah memanggil - manggil dan menggoda darah kelelakiannya. Jakunnya terlihat mulai naik - turun. Sementara Yurina masih memompa ASInya sambil meringis kesakitan.
"Ambilkan wadah yang satunya lagi suamiku....." Pinta Yurina lagi saat wadah yang dipegang Moranno sudah hampir penuh.
__ADS_1
Moranno segera membawa wadah yang berisi ASI Yurina dan menutupnya dengan rapat dan ia meletakkannya diatas nakas, lalu mengambil satu wadah lagi dan kembali memasangnya ditempatnya semula.
Yurina kembali memompa ASInya, wajahnya kembali meringis kesakitan.
"Apakah masih terasa sakit sayang?" Tanya Moranno saat melihat wajah Yurina masih meringis kesakitan. Ia merasa kasihan pada isterinya itu.
"Tentu saja..... Bila *********** masih keras seperti ini, itu masih terasa sakit." Sahut Yurina dengan tangannya yang masih terus memeras mengeluarkan ASInya.
"Bagaimana kalau aku membantumu memerasnya..... tenang saja..... aku akan melakukannya pelan - pelan dan sangat hati - hati." Kata Moranno menawarkan bantuan.
"Baiklah......." Kata Yurina yang tangannya sudah terasa lelah.
"Peganglah ini....." Moranno menyerahkan wadah ditangannya kembali pada Yurina.
Setelah Yurina memegang wadah dengan baik, Moranno mulai memeras dengan hati - hati.
"Apakah seperti ini sakit sayang.....?" Tanya Moranno.
"Tidak.....lebih kencangkan sedikit supaya ASInya bisa keluar lebih banyak....." Ucap Yurina.
Moranno melakukan seperti apa yang dikatakan Yurina, dalam waktu singkat wadah yang dipegang Yurina sudah penuh.
"Cukup suamiku.... Letakkan juga yang ini diatas nakas, lalu ambil wadah yang baru lagi.
Moranno segera beranjak menuju nakas untuk meletakan wadah berisi ASI dan mengambil wadah yang baru lalu kembali menghampiri Yurina yang masih duduk ditempat tidur.
Moranno kembali melakukan kegiatannya seperti sebelumnya. Yurina memperhatikan wajah Moranno yang begitu pokus pada apa yang sedang ia lakukan, hingga tak menunggu lama, wadah itu kembali penuh.
"Apa perlu wadah lagi sayang?" Tanya Moranno sambil membawa dan kembali meletakkan wadah yang sudah penuh di atas nakas.
"Sudah cukup..... sudah tidak sekencang tadi, jadi sudah tidak sakit lagi..... Tolong simpan ASInya dilemari pendingin supaya awet suamiku.
"Pantas saja bayi - bayi kita semuanya begitu gembul dan sehat, ASI mommy nya sebanyak ini." Ucap Moranno sambil berlalu menuju dapur membawa wadah - wadah ASI ditangannya.
***
♡♡♡Pemberitahuan untuk para pembaca tersayangku "JAGA HATIMU UNTUKKU", ceritanya sebentar lagi akan tamat. Author sudah membuat kisah kelanjutan untuk para penerus keluarga Agatsa di novel selanjutnya yang berjudul "HANARIA Wanita Sejuta Rasaku". Novel ini berkisah tentang seorang wanita mandiri, penuh perjuangan, yang akhirnya bersatu dengan salah satu penerus keluarga Agatsa. Yukz.... ikuti ceritanya....
Terima kasih untuk semua Pembaca tersayangku, kalian memberiku semangat untuk terus menulis karyaku. Doaku, semoga semua Pembaca tersayangku selalu diberikan kesehatan, umur yang panjang, kebahagiaan dalam keluarga, dan rejeki yang berlimpah - limpah.
Selamat menunaikan ibadah puasanya bagi yang menjalankan.
__ADS_1
Salam sehat, dan tetap semangat. 👍👍🙏🙏👍👍 God Bless♡♡♡