JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 103 "Ibu Mira yakin mau berkerja disini?"


__ADS_3

"Selamat datang kembali diwarung saya nyonya muda." Sambut ibu Selia dengan sikap hormatnya pada Yurina.


"Terima kasih ibu Selia, saya kangen bakso buatan ibu." Ujar Yurina dengan senyum hangatnya.


"Wah, saya jadi sangat tersanjung nyonya muda. Sepertinya nyonya sudah melahirkan?" Kata ibu Selia yang tidak sengaja memperhatikan perut Yurina yang sudah tidak membuncit.


"Iya, sudah bu, mereka sedang dirumah." Sahut Yurina masih dengan senyumnya.


"Syukurlah kalau begitu. Oh ya, mau pesan bakso apa, juga minumannya? Tanya ibu Selia pada ketiga tamunya sambil menyerahkan daftar menu.


Yurina lalu menulis pesanannya.


"Ibu Mira, Pak Karso pesan apa?" Tanya Yurina pada keduanya.


"Saya ikut saja nyonya muda." Kata ibu Mira.


"Saya juga ikut saja nyonya muda." Kata pak Karso sambil senyum - senyum.


Yurina lalu menuliskan pesanan keduanya sesuai dengan pesanan dirinya.


"Ini ibu Selia." Kata Yurina sambil menyerahkan kertas pesanan.


"Ditunggu sebentar ya nyonya muda, juga bapak dan ibu." Kata ibu Selia sambil mengambil kertas pesanan yang telah ditulis Yurina.


"Sepertinya sepi pengunjungnya nyonya muda?" Kata ibu Mira mengedarkan pandangannya saat megetahui hanya mereka bertiga saja.


"Iya bu Mira, Ini masih jam kerja, nanti bila tiba jam makan siang, disini akan penuh sesak." Ujar Yurina.


"Nyonya sering kesini?" Tanya ibu Mira.


"Hari ini baru kedua kalinya bu. Pertama kali, waktu itu saya kemari dengan nyonya besar, Mendiang pak Kasan dan tuan Moranno." Ucap Yurina tiba - tiba sedih mengingat masa - masa itu.


Ibu Mira juga turut merasa sedih demikian pula halnya dengan pak Karso.


"Karena lezatnya bakso buatan ibu Selia ini, pada saat itu mendiang pak Kasan berniat mengajak ibu Mira dan Raffi suatu hari nanti." Kenang Yurina.


"Iya nyonya, ayah Raffi belum sempat mengajak kami kemari, dan dia sudah pergi...." Ucap ibu Mira semakin sedih.


"Permisi... Pesanan sudah datang...." Kata ibu Selia dan seorang pegawainya.


Yurina berusaha mengusir rasa sedihnya dengan menyunggingkan senyumnya, demikian juga ibu Mira dan pak Karso.


"Silahkan dimakan nyonya muda, ibu , dan juga bapak..." Kata ibu Selia mempersilahkan.


"Iya... terima kasih ibu Selia." Ucap Yurina.


Yurina, ibu Mira dan pak Karso tidak lupa membubuhkan saos tomat, kecap manis, sambel, dan sedikit toge sesuai selera lalu menikmati hidangan bakso yang terlihat menggugah selera dihadapan mereka.


"Bagaimana cita rasanya ibu Mira dan pak Karso?" Tanya Yurina ditengah - tengah keasikan ketiganya menikmati santapannya.

__ADS_1


"Nyonya muda benar, bakso ini lezat sekali..." Kata Pak Karso sambil menyuap sendok kemulutnya.


"Iya, lezat nyonya..." Kata ibu Mira terlihat kepedasan.


Sementara ketiganya sedang menikmati suapan demi suapan, pengunjung mulai berdatangan.


Rata - rata yang datang berkelompok. Hingga dalam waktu singkat meja - meja yang tadinya kosong kini semua sudah berpenghuni. Bahkan masih ada yang diluar yang belum mendapat tempat.


"Nyonya muda benar, ternyata pengunjungnya banyak sampai meluber keluar." Kata ibu Mira yang sudah menghabiskan isi mangkoknya.


"Apakah ibu Mira ingin tambah lagi?" Tanya Yurina.


"Cukup nyonya, saya sudah kenyang." Sahut ibu Mira.


"Pak Karso ingin tambah?" Tanya Yurina lagi pada pak Karso.


"Cukup nyonya muda, saya juga sudah kenyang." Sahut pak Karso.


"Nyonya muda, anda kan kenal baik dengan ibu pemilik warung bakso ini? Bisakah saya minta tolong pada nyonya muda supaya saya bisa berkerja ditempat ini. Saya lihat pengunjungnya sangat banyak, dan mereka tampak kewalahan melayani pengunjung yang datang." Ujar ibu Mira.


"Ibu Mira yakin mau berkerja disini?" Tanya Yurina memastikan.


"Iya, saya yakin nyonya, sekalian saya belajar. Karena kalau langsung membuka usaha sendiri, saya takut gagal nyonya muda." Sahut ibu Mira.


"Baiklah, ibu Mira mari ikut saya. Pak Karso tunggu dimobil duluan ya, supaya pengunjung yang baru datang bisa menempati meja ini."


Yurina lalu mengajak ibu Mira bertemu dengan ibu Selia yang terlihat sangat sibuk.


"Ibu Selia...." Sapa Yurina saat sudah berada didekat ibu Selia.


"Iya nyonya muda, ada yang bisa saya bantu?" Sahutnya dengan hormat.


"Mohon maaf mengganggu ibu Selia yang sangat sibuk. Bisakah kita mengobrol sebentar saja?" Tanya Yurina.


"Bisa... Bisa kok nyonya muda. Tolong lanjutkan ini ya, saya ada urusan sebentar." Kata ibu Selia pada seorang pegawainya yang ada didekatnya.


"Mari nyonya muda, kita mengobrolnya diatas saja. Disini terlalu ramai." Kata Ibu Selia sambil melangkah menaiki tangga kelantai atas diikuti Yurina dan ibu Mira.


"Silahkan duduk nyonya muda, dan juga ibu... kita melantai saja. Maaf agak berantakan." Kata ibu Selia sambil merapikan beberapa mainan anak kecil yang berhamburan.


"Tidak mengapa ibu Selia. Dimana Putri?" Tanya Yurina.


"Sedang tidur siang dikamar nyonya." Kata ibu Selia sambil menunjuk satu kamar yang sedang tertutup.


"Warung bakso ibu masih tetap ramai ya bu?" Kata Yurina membuka obrolan.


"Iya begitulah nyonya muda, syukurlah untuk rejeki yang diberikan Tuhan. Cukup untuk kebutuhan sehari - hari, dan saya sudah mulai bisa menabung sekarang. Ini semua, berkat bantuan nyonya muda pada saya." Ujar ibu Selia.


"Saya hanya sedikit membantu. Ini semua berkat keuletan ibu Selia sendiri bersama para pegawai ibu yang bisa berkerja sama dengan baik." Sahut Yurina yang merasa tidak terlalu berjasa.

__ADS_1


"Ibu selia, saya mau minta tolong pada ibu Selia." Kata Yurina melanjutkan.


"Katakan saja nyonya muda, kalau saya bisa, saya akan berusaha melakukannya." Kata ibu Selia sambil memandang wajah Yurina.


"Begini ibu Selia.... " Yurina menjedah ucapannya sambil mengambil napas.


Ibu Selia memperhatikan Yurina dengan serius.


"Lebih dari satu minggu yang lalu, suami saya kecelakaan bersama sopir pribadinya." Kata Yurina.


"Ya Tuhan...... Lalu bagaimana keadaan tuan Moranno nyonya muda?" Ibu Selia terkejut sambil menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya saat mendengar penuturan Yurina.


"Suami saya masih dirumah sakit dan hingga sekarang belum sadarkan diri. Dan sopir pribadinya meninggal dunia. Namanya mendiang pak Kasan yang pernah makan disini saat pertama kali kami mampir diwarung bakso ibu ini. Dan wanita yang bersama saya ini adalah ibu Mira, isteri dari mendiang pak Kasan."


"Iya saya masih ingat nyonya muda. Saya turut prihatin nyonya muda, dan turut berdukacita àtas meninggalnya suami ibu Mira....." Kata ibu Selia yang masih mendengarkan dengan seksama sambil memandang kedua wanita yang duduk melantai bersamanya.


"Iya terima kasih ibu Selia. Kata Yurina dan ibu Mira bersamaan.


"Karena ibu Mira sekarang yang menjadi tulang punggung keluarga, dan harus membesarkan putra mereka yang bernama Raffi, jadi ia membutuhkan pekerjaan."


"Tadi ibu Mira minta tolong pada saya, untuk menyampaikan permohonannya. Bila ibu Selia berkenan, sudilah kiranya menerima ibu Mira untuk berkerja diwarung bakso ibu ini." Ujar Yurina menyampaikan tujuannya.


"Kebetulan saya juga sedang butuh tambahan tenaga untuk warung bakso saya ini nyonya besar. Apalagi saya berencana menambah warung bakso saya ini hingga dilantai dua ini, karena dilantai satu sudah tidak cukup menampung pengunjung yang meluber."


"Paling saya akan meninggalkan dua kamar itu untuk kami beristirahat. Jadi bila ibu Mira ingin bergabung berkerja disini, saya dengan senang hati menerima ibu. Tapj gajinya tidak besar ibu Mira." Kata ibu Selia memandang kearah ibu Mira.


"Tidak mengapa ibu Selia. Sudah diterima bekerja diwarung ini saja saya sudah sangat senang dan bersyukur buu..." Kata ibu Mira bersemangat sambil tersenyum.


"Kalau ibu Mira sudah sepakat, besok pagi ibu Mira sudah bisa mulai bekerja diwarung bakso saya ini." Kata ibu Selia sambil tersenyum.


"Terima kasih banyak ya ibu Selia karena sudah menerima saya berkerja diwarung bakso ibu ini, besok pagi saya akan kemari untuk berkerja." Kata ibu Mira sangat bersemangat.


"Saya juga mengucapkan banyak terima kasih ya ibu Selia." Ucap Yurina dengan senyum manisnya.


"Iya, terima kasih kembali nyonya muda. Saya juga senang kalau bisa membantu."


"Kalau begitu, kami permisi dulu. Maaf sudah mengambil waktu ibu." Kata Yurina sambil berdiri.


"Iya nyonya muda, tidak apa- apa. Saya tidak merasa terganggu, apalagi dengan nyonya muda yang telah banyak berjasa pada keluarga saya."


Ketiganya lalu menuruni tangga. Ibu Selia membungkuk hormat saat Yurina dan ibu Mira pergi meninggalkannya.


Yurina mampir dikasir sejenak untuk membayar makan siang mereka.


"Pak Karso, setelah ini, kita kerumah sakit Agatsa Hospital untuk menengok suami saya." Kata Yurina saat sudah ada didalam mobi


"Baik nyonya muda." Pak Karso lalu mengemudikan mobil yang ia kendarai meninggalkan warung bakso milik ibu Selia.


"

__ADS_1


__ADS_2