
"Nyonya muda.....bangunlah......." Panggil bibi Nur sambil menggerak - gerakkan lengan Yurina pelan.
Yurina mengerjap - ngerjapkan matanya, sambil menghimpunkan kesadarannya.
"Ada apa bi.....?" Tanya Yurina setelah kesadarannya pulih sepenuhnya.
"Kembali dan tidurlah dikamar anda nyonya muda, sudah dua malam ini anda tidur disini. Biarkan saya saja yang menemani bayi Billy dan bayi Willy disini." Ucap bibi Nur.
Yurina tidak menjawab, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Sejenak pandangannya mengarah ke jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam. Lalu tanpa bicara ia bangkit dari kasur busanya, melangkah tergesa - gesa menuju pintu dan membukanya perlahan.
Mata bibi Nur hanya bisa mengekor langkah majikannya yang pergi begitu saja.
Saat membuka pintu kamar bayinya, pandangan Yurina langsung tertuju pada ruang kerja Moranno yang lampunya masih menyala. Hati Yurina tiba - tiba begitu sakit, entah apa yang sedang ia rasakan saat ini.
Rasa sesak didadanya membuat ia sulit bernapas. Bening air matanya menggenang disudut - sudut matanya. Yurina segera menyekanya sebelum air mata itu terjatuh dipipinya.
Ditutupnya kembali kamar bayi kembarnya dengan pelan dan rapat.
Ia kembali masuk dan duduk dikasur busanya. Bibi Nur merasa bingung akan sikap majikannya itu.
"Nyonya muda..... Kenapa anda kembali lagi, bukankah tadi anda sudah akan kekamar anda nyonya?" Tanya bibi Nur saat melihat nyonyanya itu kembali dengan wajah lesunya.
"Saya tidur disini saja bibi Nur...." Ucap Yurina lalu merebahkan tubuhnya begitu saja di kasur busa.
"Nanti tuan mencari anda bagaimana nyonya?" Tanya bibi Nur menatap wajah Yurina.
"Tuan masih sibuk bekerja diruang kerjanya bi.... Jadi saya disini saja dulu, sepi kalau sendiri dikamar." Sahut Yurina, ia berusaha menyembunyikan perasaannya, ia tidak ingin bibi Nur mengetahuinya.
Bibi Nur tidak melanjutkan lagi kata - katanya, ia kembali melanjutkan pekerjaannya membereskan kamar bayi itu sebelum beristirahat.
"Bibi....." Panggil Yurina lirih.
"Iya nyonya muda....." Sahut bibi Nur memandang kearah Yurina yang masih berbaring dikasur busanya.
"Dulu waktu bibi masih bersama mendiang suami bibi, pernahkan bibi diacukannya?" Tanya Yurina, pandangannya menerawang menatap langit - langit kamar bayi kembarnya.
__ADS_1
"Sepertinyaaa...... Seingat saya tidak pernah nyonya." Sahut bibi Nur sambil berpikir.
"Suami saya itu selalu meluangkan waktunya buat saya disela - sela kesibukannya sebagai seorang guru. Apa lagi saat kami sudah dikaruniai seorang putra, ia bertambah memperhatikan saya, juga putra kami Arta. Bila akhir pekan, libur kerjanya, digunakan untuk mengajak kami kekebun, atau ke tempat - tempat rekreasi seperti kebun binatang atau ke pantai, ya tempat - tempat seperti itulah nyonya. Karena di dusun tidak ada tempat seperti dikota ini." Ujar bibi Nur sambil tersenyum mengingat masa lalunya bersama mendiang suaminya dan putra sulungnya Arta.
"Bibi pasti sangat bahagia....." Ucap Yurina yang telah duduk ditempat tidurnya memandang wajah bibi Nur yang sedang berbicara.
"Jelas nyonya.... Tentu saja saya sangat bahagia, kenangan - kenangan itu akan selalu membuat saya tersenyum bila mengingatnya." Tambah bibi Nur lagi. Wajahnya menyiratkan betapa bahagianya kehidupan rumah tangganya kala itu.
Yurina mendesah pelan. Ia mengambil napas untuk mengisi rongga dadanya yang terasa pengap. Diam - diam ia membandingkan dirinya yang sekarang, yang tengah merana dengan bibi Nur yang terlihat selalu ceria saat berbicara tentang mendiang suaminya itu.
"Bibi.... Apakah rupa mendiang suami bibi itu sangat mirip dengan mas Arta?" Tanya Yurina yang berusaha melupakan perasaan sedihnya atas sikap acuh Moranno dua hari belakangan ini.
"Iya nyonya muda..... Bila ingin melihat mendiang suami saya saat itu, kita bisa melihatnya lewat putra saya Arta yang sekarang." Sahut bibi Nur.
"Usia mendiang suami saya saat sebelum meninggal, ya seusia Arta yang sekarang." Jelasnya.
"Sama seperti bayi kembar anda nyonya, mereka berdua juga mirip dengan tuan, saya yakin.... besarnya mereka kelak pasti sama seperti tuan....., tampan, tinggi, baik, pintar, kulit mereka juga bersih seperti tuan dan juga nyonya...." Ucap bibi Nur jujur.
"Apakah benar seperti itu bibi?" Tanya Yurina sambil berdiri untuk menghampiri ranjang kedua bayinya.
"Iya, bibi Nur benar.... hidung mereka berdua mancung dan lancip seperti daddy nya. Alis dan bulu matanya juga tebal seperti daddy nya.... " Kata Yurina sambil tersenyum. Setidaknya ia sedikit terhibur. Walau sebenarnya ia sudah melihat kemiripan kedua putranya itu dengan suaminya sejak mereka baru dilahirkan..
"Nyonya muda.... ini sudah begitu larut, tidurlah dahulu , saya khawatir nyonya nanti bisa sakit" Kata bibi Nur mengingatkan.
"Iya bibi.....Saya tidur disini saja dulu, nanti kalau tuan datang atau sudah menyelesaikan pekerjaan diruang kerjanya tolong saya dibangunkan ya bi...."
"Baik nyonya....."
Yurina lalu merebahkan tubuhnya kembali dikasur busanya.
Pikirannya melayang kepada Moranno, sikapnya yang tidak biasa dua hari ini membuat dada Yurina kembali sesak saat mengingatnya. Yurina kembali teringat pada masa - masa sebelum suaminya itu mengacukannya beberapa hari ini, sikap manis dan perhatian Moranno padanya sungguh sangat berbeda.
"Apakah sekarang kau sudah berubah suamiku? Atau..... tanpa aku sadari, akulah yang telah melakukan kesalahan, sehingga kau jadi bersikap seperti itu padaku suaniku?" Batin Yurina.
Pikiran Yurina yang berkelanan kemana - mana membuatnya lelah dan akhirnya tertidur begitu saja tanpa ia sadari.
__ADS_1
***
Yurina meraba - raba sekitar tempat ia berbaring menggunakan kedua tangannya, dengan matanya yang masih terpejam. Tapi sosok yang ia cari tidak ada. Yurina lalu segera duduk ditempat tidurnya membuat bibi Nur terkejut.
"Ada apa nyonya..... Apakah anda telah bermimpi buruk?" Tanya bibi Nur masih terkejut.
"Tidak bibi..... Jam berapa sekarang?" Tanya Yurina sambil melihat ke arah jam dinding.
"Hahh.....Sudah jam delapan..... Kenapa aku tidak dibangunkan bibi..... suamiku pasti sudah berangkat berkerja, dan aku belum menyiapkan pakaiannya." Ucap Yurina histeris.
Bibi Nur hanya melongo, bingung melihat majikannya yang kalang kabut bangkit dari tempat tidurnya.
"Nyonya muda.....Anda mau kemana?" Tanya bibi Nur cepat sebelum Yurina meninggalkan kamar itu.
"Ke kamar bi...." Sahut Yurina dengan langkah yang terburu - buru.
"Tadi tuan membawakan nyonya sarapan pagi, itu diletakan diatas meja."
Yurina berhenti didepan pintu, lalu berbalik mendekati bibi Nur.
"Tadi tuan kemari?" Tanya Yurina memastikan.
"Iya nyonya muda, tuan tadi kemari membawakan nyonya muda sarapan pagi. Tuan melarang saya membangunkan nyonya, katanya biarkan nyonya terbangun sendiri. Kalau nyonya sudah sarapan dan berpakaian rapi, tuan menunggu nyonya ditaman samping." Jelas bibi Nur sesuai pesan Moranno.
"Bayi Billy dan bayi Willy sudah berjemur?" Tanya Yurina saat melihat dua bayinya sudah rapi didalam keretanya masing - masing.
"Sudah nyonya muda, mereka juga sudah makan dan menyusui. Saya akan mengajak mereka berjalan - jalan ditaman bersama bibi Salu yang sebentar lagi akan kemari." Kata bibi Nur lagi.
Yurina lalu mengambil sarapannya diatas meja, terlihat ia sangat buru - buru menghabiskannya.
"Nyonya muda.... pelan - pelan saja, nanti anda bisa tersedak." Kata bibi Nur yang melihat Yurina yang menghabiskan sarapannya seperti ada orang yang mengejarnya.
"Bukankah tadi bibi mengatakan kalau suamiku itu sedang menungguku ditaman samping....." Kata Yurina sambil melangkah menuju pintu setelah menyelesaikan sarapannya dengan waktu yang sangat singkat.
Bibi Nur hanya bisa menggelengkan kepalanya karena bingung saat melihat majikannya itu yang sudah menghilang dibalik pintu kamar sebelum ia sempat menjawab perkataannya.
__ADS_1
***