JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 185 "Tentu saja calon menantu mommy....?"


__ADS_3

Margareth memarkirkan mobilnya digarasi rumahnya. Kepalanya sedikit terasa pusing. Ia bergegas mengambil anak kunci rumahnya, namun kepalanya terasa semakin sakit, matanya terasa berkunang - kunang. Setelahnya Margareth tidak ingat apa - apa lagi.


Pagi itu Margareth terbangun, ia merasa heran karena dirinya sedang berada ditempat tidurnya. Ia melihat dirinya masih mengenakan jas dokternya. Namun kepalanya masih begitu terasa sakit. Ia ingat, bahwa sore kemarin, saat pulang berkerja, kepalanya juga sakit seperti sekarang ini, setelah itu dirinya tidak ingat lagi.


Pintu kamarnya tiba - tiba didorong dari luar perlahan. Margareth terkejut, bagaimana mungkin ada orang lain didalam rumahnya selain dirinya.


Saat melihat wajah seorang suster yang dikenalnya muncul didepan pintu kamarnya yang sudah terbuka lebar, akhirnya hati Margareth menjadi lega.


"Selamat pagi dokter......" Sapa suster itu dengan senyum ramahnya sambil memegang nampan dikedua tangannya.


"Selamat pagi juga suster......Bagaimana suster bisa ada disini?" Margareth balas menyapa sambil turut tersenyum ramah dari pembaringannya.


"Dokter Mories Mandarta yang menelpon saya kemarin sore, meminta saya untuk menemani dokter yang sedang sakit katanya." Ucap suster itu sambil meletakkan nampan diatas meja belajar Margareth.


"Mungkin suster tahu siapa ya membawa saya kekamar, seingat saya....saya sempat tidak sadarkan diri sebelum memasuki rumah ini." Ucap Margareth sambil mengingat - ingat apa yang telah terjadi padanya.


"Saya tidak melihat siapapun dokter, saat saya tiba dirumah ini, dokter sudah tertidur ditempat tidur ini." Jelasnya lagi.


Margareth berpikir sejenak, ia bertanya - tanya, siapa orang yang telah mengangkatnya ketempat tidur. Jelas bukan wanita, karena tubuhnya, walaupun langsing tapi cukup berisi.


"Jangan - jangan.....dokter Randiasa....."Gumam Margareth, hatinya tiba - tiba menjadi kesal saat memikirkan dokter Randiasa yang membantunya.


"Dokter Margareth, anda baik - baik saja?" Tanya suster Hera yang sedari tadi memperhatikannya. Wajahnya nampak khawatir karena melihat Margareth menggerutu seorang diri dengan suara yang tidak jelas.


"Saya...... saya baik - baik saja suster?" Ucap Margareth sambil tersenyum tipis. Ia kembali sadar bila ada suster Hera yang bersamanya dikamar tidurnya.


"Syukurlah kalau begitu, ini sarapannya dokter. Saya sengaja membuat sup ini untuk dokter, karena sepertinya dokter mulai kemarin belum makan sesuatu, sehingga pingsan." Ucap suster Hera sambil menyuapi Margareth.


"Saya makan sendiri saja ya sus...." Pinta Margareth, ia merasa kurang nyaman dilayani.


"Dokter yakin bisa melakukannya seorang diri?" Tanya dokter Hera masih memegang mangkuk sup ditangannya.


"Saya masih punya cukup tenaga untuk menyuapi diri saya sendiri sus......" Sahut Margareth meyakinkan.


"Baiklah kalau begitu dok....." Suster Hera lalu menyerahkan mangkuk berisi sup hangat ditangannya pada Margareth.


Margareth memperbaiki posisi duduknya ditepi tempat tidur, lalu menerima mangkuk sup yang diberikan suster Hera padanya.


Sedikit demi sedikit, Margareth mulai menyuapi dirinya sendiri. Suster Hera memperhatikannya dari tempat ia berdiri.


"Dokter, saya tinggal dulu sebentar ya? Untuk mengambil vitamin yang tertinggal dimeja makan." Pamit suster Hera.

__ADS_1


"Iya suster..... " Ucap Margareth sambil tetap menyendok sup kemulutnya.


"Jangan lupa sarapan juga ya, lihat saja bahan - bahan yang ada dilemari pendingin, disudut dapur. Olah apa saja yang suster inginkan disana...." Tambah Margareth lagi.


"Iya dokter..... terima kasih." Sahut suster Hera sambil berlalu.


Setelah menghabiskan sarapan paginya, Margareth turun dari tempat tidurnya. Ia menuju kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket, karena sepanjang hari kemarin setelah pulang berkerja ia langsung tertidur karena pingsan.


Margareth menyalakan kran air hangatnya. Dibawah guyuran shower, Margareth menikmati mandi paginya.


Tubuhnya terasa lebih segar dari sebelumnya setelah mandi. Ia mengenakan baju kerjanya yang bersih dari lemari pakaiannya. Sementara yang ia gunakan sebelumnya, telah ia masukan ke mesin cuci.


"Tok.... tok.... tok....." Terdengar suara ketukan pintu, Margareth menoleh sejenak, ia kembali teringat bahwa dirinya tidak sendiri, ada suster Hera yang menemaninya sejak semalam.


"Masuklah suster....." Ucapnya sambil mematut diri didepan cermin pakaiannya.


Suster Hera masuk. Wajahnya nampak heran melihat Margareth sudah terlihat rapi.


"Dokter mau kemana?" Tanya suster Hera saat berada didekat Margareth.


"Kerumah sakit sus....." Ucap Margareth masih mematut diri didepan cermin sambil merapikan pakaiannya yang masih belum terlihat rapi menurutnya.


"Untuk apa?" Tanya suster Hera lagi.


"Memangnya apa yang akan saya lakukan dirumah sakit apabila tidak berkerja suster Hera?" Sahut Margareth masih menatap suster Hera yang berdiri tidak jauh darinya.


"Ohh.... Saya pikir dokter Margareth ingin berobat, itulah sebabnya saya bertanya......" Ucap suster Hera kembali tersenyum.


"Tadi pagi dokter Mories menelpon dan berpesan pada saya bahwa, dokter Margareth hari ini diminta beristirahat saja dirumah barang sehari. Untuk pekerjaan dirumah sakit, ada dokter Randiasa yang akan menghendel sementara saat dokter Margaret tidak dirumah sakit." Jelas suster Hera.


"Tapi sus.... saya baik - baik saja.....suster bisa lihat sendirikan kondisi saya?" Ucap Margareth sambil mengembangkan kedua tangannya dan berputar - putar didepan suster Hera.


"Iya, dokter Margareth memang terlihat baik - baik saja. Tapi coba perhatikan wajah anda baik - baik dicermin dokter. Anda masih terlihat pucat." Margareth segera melihat wajahnya dicermin pakaiannya tempat ia mematut diri sebelumnya, wajahnya memang terlihat pucat.


Ia segera menuju cermin riasnya dan duduk disana. Wajah itu memang tampak pucat dan tidak bercahaya. Margareth menyentuh wajahnya dengan jari - jemarinya pelan.


Suster Hera mendekati Margareth dan memberikannya dua butir vitamin dan segelas air putih diatas nampan.


"Minumlah vitamin ini dokter. Supaya anda berselera makan." Ucap suster Hera sekali lagi. Margareth langsung mengambil dua vitamin itu dari atas nampan dan segera memasukan kedalam mulutnya. Ia mengambil gelas dan meneguk isinya hingga habis.


"Terima kasih suster......" Ucap Margareth tersenyum tipis pada suster Hera yang telah rela membantunya.

__ADS_1


"Sama - sama dokter. Dokter silahkan beristirahat. Bila ada yang diperlukan panggil saja saya, saya ada diruang tamu anda dokter." Setelah berkata demikian, suster Hera segera keluar membawa nampan berisi mangkuk sup yang kosong dan dua gelas kosong menuju dapur dan membersihkannya disana.


Margareth masih duduk dan memperhatikan wajahnya dicermin meja riasnya, saat satu nada panggilan diponselnya mengejutkannya.


Dengan sedikit malas, Margareth meraih ponselnya tanpa melihat siapa yang menelpon.


"Hallo......" Ucap Maegareth sesaat setelah ia mengangkat telepon dan belum terdengar suara dari seberang sana.


"Kau sudah bangun sayang?" Ucap suara hangat seorang wanita yang sangat dikenal Margareth.


"Sudah mom..... Tidak biasanya mommy menelponku pagi - pagi seperti ini?" Tanya Margareth sambil menatap wajahnya dari pantulan cermin riasnya.


"Tentu saja.... Biasanya kau pagi - pagi begini pasti sibuk bersiap - siap untuk berkerja bukan? Jadi mommy tidak mungkin mengganggumu dijam - jam seperti ini hanya untuk meneleponmu. Bagaimana keadaanmu, apakah kesehatanmu sudah membaik? Siapa yang menemanimu disana sayang?" Tanya nyonya Agatsa.


Margareth mengernyitkan keningnya, bagaimana ibunya bisa tahu kalau sekarang dirinya sedang sakit. Seingatnya, ia belum sempat memberi tahu keluarganya.


"Siapa yang memberi tahu mommy kalau Margareth sakit?" Tanya Margareth penasaran.


"Tentu saja calon menantu mommy, memang siapa lagi yang lebih perhatian padamu selain dari pada dirinya?" Sahut nyonya Agatsa bernada senang.


"Tuan Harry maksud mommy??" Tanya Margareth memastikan.


"Iya sayang..... Apakah kau punya calon suami pria yang lain selain dari Harry. Dan kenapa kau sampai sekarang masih memanggilnya tuan? Kurang dari tiga minggu lagi kalian akan menikah bukan?"


Margareth sedikit terlonjak kaget mengetahui bahwa Harry yang memberi tahu keadaannya pada sang ibu. Lalu mengapa selama 9 hari ini laki - laki itu sama sekali tidak menghubunginya. Sungguh sulit dipercaya, pikir Margareth.


"Margareth......? Margareth.......? Apakah kau masih disana?" Panggil nyonya Agatsa berulang - ulang dari seberang telepon.


♡♡♡


Terima kasih buat para readers setia novel JAGA HATIMU UNTUKKU yang sebentar lagi akan TAMAT. Yukz, mampir di novel 'HANARIA Wanita Sejuta Rasaku'. Mengisahkan tentang seorang wanita tangguh, dan pekerja keras, ulet, sehingga menjadi kesayangan pemilik perusahaan yang memperkerjakannya, jangan ditanya untuk pria - pria muda. Cucu kembar dari keluarga Agatsa pun ikut mengharapkan cintanya.


#HANARIA Wanita Sejuta Rasaku


Karya :


#Nama pena : Dewi Payang


#FB Indah Sosilawati


#IG Indah Sosilawati

__ADS_1


♡♡♡



__ADS_2