JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 39 "Iya, aku terbangun dan yang lainnya ikut terbangun"


__ADS_3

"Mengapa kau mengatakan semuanya itu?" Tanya Moranno sambil membimbing isterinya naik ketempat tidur lalu menyelimutinya dengan selimut.


"Aku.... Aku takut kau berubah suatu saat nanti." Kata Yurina memandang wajah Moranno.


"Lalu...?" Tanya Moranno juga memandang wajah Yurina.


"Bila itu terjadi.... Aku tidak tidak tahu apa yang bisa terjadi padaku...." Kata Yurina dengan suara pelannya.


"Apa kau takut kehilanganku, hmmm?" Tanya Moranno dengan semakin mendekatkan wajahnya dengan Yurina. Yurina hanya menganggukan kepalanya perlahan.


"Apa itu artinya kau sudah membuka hatimu untukku?" Tanya Moranno lagi.


"Akuuu... akuuu...." Kata Yurina tersendat.


"Apa kau sudah tidak takut lagi padaku?"


Yurina lalu memalingkan wajahnya kearah lain, tak sanggup membalas tatapan Moranno. Moranno menyentuh wajah Yurina dengan tangannya, dan mengarahkan wajah isterinya kembali padanya.


"Katakan padaku, kalau kau juga sudah mencintaiku seperti aku mencintaimu." Tanya Moranno dengan wajah seriusnya.


"Aku...."


"Katakan, aku mau mendengarnya langsung dari bibirmu."


"Apa itu harus diucapkan?"


"Tidak harus. Bisa diungkapkan dengan bahasa tubuh." Kata Moranno sambil tersenyum menggoda.


"Apa maksudmu?" Tanya Yurina tak mengerti.


"Kau itu sebentar lagi menjadi ibu anak-anakku, pura-pura tidak mengerti maksudku. Apa aku perlu mengajarimu, hmmm?"Moranno jadi gemes dengan sikap Yurina.


"Mengajari apa?" Tanya Yurina yang mulai curiga. Ia mulai siaga.


"Baiklah.... Aku akan mempraktekkan ungkapan cinta dengan bahasa tubuh." Kata Moranno semakin mendekatkan wajahnya kewajah Yurina.


Jantung Yurina tiba-tiba berdetak lebih cepat, ia merasakan beberapa bagian tubuhnya merinding saat tubuh Moranno menempel untuk memeluk tubuhnya. Yurina diam terpaku.


"Kenapa tubuhmu dingin seperti ini?" Tanya Moranno saat merasakan tubuh isterinya begitu dingin.

__ADS_1


"Apa kau tidak enak badan? Atau AC nya terlalu dingin?" Katanya beruntun.


"Tidak, aku baik-baik saja." Kata Yurina berusaha menenangkan detak jantungnya yang semakin tidak beraturan. Yurina merasa bingung pada dìrinya sendiri. Sepanjang hari ia merindukan Moranno, menginginkan suaminya itu ada didekatnya, tapi pada saat dalam pelukan Moranno ia bahkan tak sanggup bergerak sedikitpun.


"Apa kau masih merasakan trauma itu?"


"Aku... " Yurina tak bisa melanjutkan kata-katanya.


"Baiklah.... Kau tidurlah, aku juga akan beristirahat." Moranno lalu melepaskan pelukannya dari tubuh Yurina dan memperbaiki posisi berbaringnya disamping isterinya itu.


Yurina merasa tak enak melihat suaminya melepaskan pelukannya. Ia bisa melihat wajah kecewa Moranno yang ia sembunyikan supaya dirinya tak melihatnya.


"Maafkan aku, aku tak bermaksud membuatmu kecewa."


"Aku tak mengapa, tidurlah.... ini sudah terlalu larut malam, kita berdua harus beristirahat, bayi kita juga harus memiliki waktu yang cukup untuk istirahat dari ibunya." Kata Moranno tetap mempertahankan senyumnya diwajahnya.


"Terima kasih untuk semua pengertianmu pada orang yang sepertiku yang bukan siapa-siapa ini" Kata Yurina masih memandang kearah Moranno


"Kata siapa kau bukan siapa-siapa. Tolong jangan pernah katakan itu lagi. Bagiku, dirimu sangat berarti, kau isteriku, ibu dari anak-anakku kelak, dan kau adalah wanita yang paling aku inginkan. Apa kau masih ragu padaku?" Kata Moranno bersungguh-sungguh terlihat dari sorot matanya yang menatap Yurina dengan dalam.


"Tidak, maafkan aku telah menyinggung perasaanmu."


"Hmmm..." Moranno hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum dibibirnya lalu memejamkan matanya.


dirinya. Wajah Moranno yang ramahpun hanya sedikit menunjukan senyumnya pada siapapun, termasuk Yurina.


Moranno tetap terlihat tampan sekalipun saat tertidur seperti itu. Hati Yurina kembali berdebar, tanpa disadari ia sangat mengagumi pria yang sudah menjadi suaminya itu. Semua sikap, perlakuan dan perkataan Moranno sangat menyentuh hatinya begitu dalam.


"Terima kasih telah bersedia menjadi suamiku, aku wanita yang sangat beruntung karena memilikimu. Aku mencintaimu, ayah dari anak-anakku." Kata Yurina dengan suara lirihnya.


Yurina lalu merapatkan dirinya ketubuh Moranno. Tangannya dengan lembut menyentuh wajah Moranno yang sedang terlelap.


"Wajah suamiku begitu tampan, pahatan Sang Pencipta yang begitu sempurna."


"Selamat tidur..... suamiku." Kata Yurina lagi dengan lirih. Perlahan Yurina mengangkat wajahnya mendekat wajah Moranno. Diciumnya kening Moranno dengan penuh perasaan, lalu beralih kebibir suaminya dengan sedikit ragu.


Tangan Moranno tiba-tiba memeluk tubuh istrinya itu dan menekan tengkuk Yurina sehingga ciumannya menjadi dalam. Yurina terkesiap, tubuhnya menimpa tubuh Moranno dibawahnya, detak jantungnya kembali tak beraturan. Setelah sekian detik Moranno melepaskan tangannya saat merasakan Yurina sulit bernapas akibat ulahnya.


"Apa yang kau lakukan. Kau terbangun?" Kata Yurina sedikit ngos-ngosan.

__ADS_1


"Iya, aku terbangun, bahkan yang lainnya ikut terbangun." Kata Moranno setengah berbisik.


"Yang lainnya? siapa?" Kata Yurina sambil kepalanya menoleh kesana-kemari untuk menemukan sesuatu yang dimaksud Moranno.


"Sungguh kau tidak tahu?" Tanya Moranno dengan wajah seriusnya.


"Hmmm." Jawab Yurina dengan wajah ikut serius.


"Apakah kau tidak merasakan sesuatu dibawah sana yang tersentuh oleh tubuhmu, hmmm?" Kata Moranno lagi masih dengan wajah seriusnya.


Yurina sedikit berkonsentrasi dengan apa yang dikatakan Moranno padanya, lalu wajahnya tiba-tiba menegang dan memerah.


"Apa maksudmu yang itu?" Kata Yurina dengan wajah tegangnya dan masih dengan mimik wajah seriusnya.


"Iya. Dan kau harus bertanggung jawab untuk menidurkannya kembali." Kata Moranno masih dengan wajah seriusnya.


"Tapi... Aku tidak tahu caranya." Kilah Yurina.


"Dan kali ini aku pun tak mau tau, apapun caranya kau harus bisa menidurkannya." Moranno semakin mengeratkan pelukannya.


"Lepaskan aku, perutku tertekan, aku sulit bernapas." Yurina terlihat sedikit berkeringat dan ngos-ngosan.


Tanpa berbicara Moranno merenggangkan pelukannya. Yurina dengan susah payah berusaha bangkit dari tibuh Moranno. Dengan sigap Moranno membantu Yurina untuk bangkit dan membaringkannya disisinya dengan perlahan, lalu menyelimuti Yurina dengan selimut.


Bukannya berbaring kembali ditempatnya, Moranno bahkan ikut masuk dalam selimut Yurina dan bergelut disana.


"Apa yang kau lakukan? Bukankah kau lelah sepanjang hari ini sudah berkerja? Segeralah tidur."


"Walau aku lelah tak akan bisa tertidur sebelum yang kau bangunkan itu tertidur. Ku ingatkan sekali lagi, kau harus menidurkannya bagaimanapun caranya. Apa kau ingin melihat amukannya? Kata Moranno berbisik ditelinga Yurina.


Yurina merinding mendengarkan kata-kata Moranno juga sentuhan bibirnya ditelingannya saat Moranno berbicara hingga menyentuh daun telinganya. Yurina tak dapat bergerak, ia seolah-olah terhipnotis pada setiap kalimat dan sentuhan suaminya itu.


"Aku tahu kau masih takut dan trauma pada masalalu kita. Aku akan menghapus ingatanmu itu malam ini." Kata Moranno masih berbisik ditelinga Yurina.


Yurina masih terdiam mematung, hanya detak jantungnya berdetak semakin cepat tak beraturan. Moranno yang memahami ketegangan Yurina memeluk isterinya itu dan berusaha membuatnya merasa nyaman.


"Aku sudah mendengar semua ungkapan isi hatimu. Terima kasih kau juga mencintaiku, dan aku tidak bertepuk sebelah tangan."


"Kau mendengarnya? semuanya?" Wajah Yurina semakin memerah karena merasa malu.

__ADS_1


"Iya, semuanya. Kau tak perlu merasa malu."


Moranno mulai menyentuh daun telinga Yurina dengan bibirnya.


__ADS_2