JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 67 "Saya yakin dokter."


__ADS_3

"Siapa yang tidak kenal dengan tuan Moranno, pengusaha muda yang banyak meraih prestasi dinegeri ini. Juga nyonya muda yang adalah isteri dari tuan Moranno." Kata dokter Dilanova memuji.


Yurina tersenyum mendengar ucapan sang dokter, ternyata dirinya dikenal karena Moranno suaminya. Sedangkan Moranno hanya menyunggingkan sedikit senyum dibibirnya.


"Anda terlalu berlebihan dokter." Kata Moranno sambil memandang kearah dokter.


"Oya, ada keperluan apa tuan Moranno ingin bertemu saya?" Tanya dokter Dilanova memandang kearah Moranno.


"Oh, itu isteri saya dokter. Dia yang ingin bertemu dokter. Ayo sayang, sampaikan maksud kedatangan kita." Kata Moranno pada dokter Dilanova lalu beralih pada Yurina.


"Begini dokter, saya ingin bertanya tentang ibu Selia dan bayinya yang bernama Putri, saya dengar dari suster yang bertugas di layanan informasi bahwa dokter Dilanova yang menangani mereka.


"Iya benar nyonya. Sebenarnya ada hubungan apa nyonya muda dengan ibu Selia dan bayinya?"


"Beberapa hari yang lalu saya menjadi korban penculikan, salah satu pria yang menculik saya itu, saya tidak tau namanya, dia membantu saya untuk melarikan diri. Sebelumnya pria itu meminta saya untuk menolong isteri dan putrinya yang sedang dirawat dirumah sakit pemerintah. Juga ia mengakui pada saya, bahwa ia melakukan perbuatan penculikkan itu karena membutuhkan biaya untuk isteri dan bayinya. Itu sebabnya saya datang kemari menemui dokter untuk mengetahui kebenaran apa yang telah dikatakan pria yang menculik saya itu." Jelas Yurina panjang lebar.


"Iya, saya juga mengetahui berita tentang penculikan nyonya muda lewat televisi, syukurlah nyonya muda telah pulang dengan selamat. Apakah luka-luka lebam diwajah nyonya itu akibat penculikan itu?"


"Ini.... Iya benar dokter." Jawab Yurina sambil menyentuh wajahnya yang masih terdapat beberapa luka lebam.


"Saya turut prihatin atas apa yang telah menimpa nyonya muda." Ucap dokter Dilanova sambil memperhatikan wajah Yurina dihadapannya.


"Iya, terima kasih dokter."


"Apakah pria yang nyonya maksud adalah pria di photo KTP ini nyonya muda?" Tanya dokter Dilanova sambil mengambil poto coppy dari salah satu berkas pasien yang ada diatas mejanya dan menunjukkannya pada Yurina.


"Iya benar, ini orangnya dokter." Kata Yurina sesaat setelah ia memperhatikan wajah pria yang ada dalam photo coppy KTP yang ditunjukkan oleh dokter Dilanova.


"Saya tidak menyangka kalau salah seorang dari penculik itu adalah Pak Gustaf, suami dari ibu Selia. Ditelevisi memang dikabarkan para penculik sudah ditangkap, namun wajah mereka ditutup topeng kain agar tidak dikenali, juga namanya hanya disebutkan inisial saja. Memang sudah empat hari ini Pak Gustaf tidak datang berkunjung kemari menemui isteri dan anaknya. Ternyata ia tersangkut kasus penculikkan nyonya muda. Biasanya ia selalu ada menemani isterinya barang dua sampai tiga jam setiap harinya selama dua bulan ini. Memang dari bagian administrasi ada memberikan tagihan pada pak Gustaf mengenai biaya perawatan isteri dan anaknya. Saya pikir dia sedang bekerja keras diluar karena dalam waktu empat hari ini tidak kemari dan ponselnya juga tidak bisa dihubungi." Ungkap dokter Dilanova pada Yurina.


"Kalau saya boleh tahu, kenapa ibu Selia dan anaknya bisa dirawat selama itu dirumah sakit ini dok? Apa penyakit yang mereka derita?" Tanya Yurina ingin tahu.


"Ibu Selia berusia empat puluh tahun saat ia mengandung, ini adalah kehamilan pertamanya. Saat mengandung, dirahimnya sudah ada kista. Kehamilannya ini sangat beresiko, dokter-dokter sebelum saya pernah mengingatkan ibu Selia akan hal itu. Namun ibu Selia bersikeras untuk tetap mempertahankan kehamilannya, karena menurutnya bahwa kehamilannya ini sudah sangat ia nantikan bertahun-tahun lamanya bersama suaminya. Sehingga saat persalinan, baik ibu maupun bayinya hampir-hampir tidak tertolong. Untuk ibu Selia, rahimnya sudah diangkat demi keselamatannya, dan itu atas persetujuan ibu Selia sendiri dan juga suaminya. Dan untuk bayi mereka sedang dirawat secara intensif diruang khusus." Jelas sang dokter.


"Bolehkah saya dan suami saya melihat dan bertemu dengan mereka dokter."


"Boleh nyonya muda. Mari, ikutlah dengan saya." Dokter Dilanova lalu berdiri dan melangkah keluar dari ruang kerjanya diikuti Moranno yang mendorong kursi roda Yurina.


Setelah melewati beberapa belokkan di lorong rumah sakit, mereka tiba diruang perawatan ibu Selia. Dokter Dilanova menekan gagang pintu lalu mendorong pintu dengan pelan hingga terbuka lebar. Didalam ruangan terlihat tiga ranjang pasien yang hanya dibatasi dengan kain gorden berwarna hijau.


Dokter Dilanova melangkah masuk diikuti Moranno dan Yurina yang duduk dikursi roda. Sebelumnya mereka meninggalkan alas kaki didepan pintu masuk.


Ranjang pasien yang ditempati ibu Selia berada diujung ruangan dekat jendela kaca, sehingga mereka melewati dua ranjang pasien yang masih ada penghuninya.


"Selamat siang ibu Selia, bagaimana keadaan anda hari ini?" Sapa dokter Dilanova pada ibu Selia yang masih terbaring diranjang pasien.


"Sudah terasa lebih baik dokter, hanya saja masih sulit melakukan kegiatan seorang diri. Apakah suami saya sudah kembali dokter?" Tanya ibu Selia menatap wajah dokter Dilanova.


Moranno, Yurina dan dokter Dilanova saling berpandangan saat mendengar pertanyaan ibu Selia.


"Suami ibu Selia.... belum kembali. Perkenalkan ini tuan Moranno dan ini isterinya. Mereka sengaja datang kemari untuk menjenguk keadaan ibu."


"Salam kenal kembali dari saya tuan dan nyonya. Terima kasih telah bersedia berkunjung melihat keadaan saya disini. Apakah tuan dan nyonya mengenal suami saya, sudah beberapa hari ini dia tidak datang kemari. Padahal, terakhir kali ia bertemu saya, ia mengatakan akan mencari biaya perawatan saya dan bayi kami, Tapi dia tidak kembali dalam empat hari ini. Saya khawatir, takut terjadi sesuatu yang tidak baik padanya." Ujar ibu selia dengan suara lemahnya dan terlihat sedih juga khawatir.


"Kami mengenal pak Gustaf suami ibu, saat saya bertemu dengannya, ia terlihat baik dan selamat. Atas permintaannya, maka saya ditemani suami saya datang mengunjungi ibu Selia dan bayi ibu. Ia akan kembali bila pekerjaannya sudah selesai. Pesannya, ibu harus semangat untuk sembuh, demikian juga bayi ibu." Ucap Yurina berusaha menguatkan.


"Syukurlah nyonya, saya lega mendengarnya. Saya memang begitu khawatir, karena tidak pernah suami saya pergi begitu lama seperti sekarang ini apalagi tanpa kabar. Ditambah lagi saya bermimpi buruk beberapa malam terakhir. Tapi saya merasa lega setelah mendengar kabar dari nyonya mengenai suami saya. Semoga saja pekerjaannya cepat selesai dan bisa kembali berkumpul bersama kami keluarganya."Ujar ibu Selia berusaha tersenyum dan menyeka bulir air matanya yang sempat mengalir disudut-sudut matanya.


Yurina ikut tersentuh mendengar ucapan ibu Selia, ia meremas tangan Moranno yang sedang menggenggam tanggannya, Moranno menoleh sejenak kearah Yurina yang masih duduk dikursi roda lalu mengusap tangan Yurina dengan lembut.


"Nyonya, maafkan saya bila salah bertanya. Kenapa diwajah nyonya terdapat beberapa luka lebam, apa yang terjadi pada nyonya?" Tanya ibu Selia yang memperhatikan wajah Yurina.


"Oh ini.... Ini akibat pemukulan saat saya menjadi korban penculikan beberapa hari lalu bu?" Jawab Yurina singkat.


"Keterlaluan.... Pelaku penculikan itu begitu tega menculik seorang wanita hamil, apalagi sampai memukul seperti ini. Apa mereka sudah tertangkap nyonya?" Kata ibu Selia merasa tak suka pada sikap pelaku penculikan.

__ADS_1


"Iya bu, mereka sudah ada dikantor kepolisian."


"Ya... Mereka memang sepatutnya mempertanggung jawabkan tindakkan yang telah mereka lakukan. Apakah nyonya baik-baik saja, juga kandungan nyonya?" Tanya ibu Selia lagi.


Yurina, Moranno dan juga dokter Dilanova kembali berpandangan diantara mereka mendengar ucapan ibu Selia.


"Iya, syukurlah... Saya dan juga kandungan saya baik-baik saja bu." Ucap Yurina sambil tersenyum


"Ibu Selia kami permisi dulu. Masih ada urusan yang akan kami urus." Pamit Yurina.


"Baiklah terima kasih banyak ya nyonya dan tuan sudah datang menjenguk saya. Semoga segala urusan tuan dan nyonya berjalan lancar."


"Amin. Terima kasih doanya ya ibu. Tetap semangat untuk sembuh ya ibu Selia." Ujar Yurina memberi semangat.


"Iya nyonya terima kasih."


Ibu Selia memandang kepergian kedua tamunya bersama dokter Dilanova dari ranjang pasiennya. Ia merasa kasihan melihat keadaan Yurina yang sedang hamil besar dan mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari para penculiknya.


Moranno terus setia mendorong Yurina yang duduk di atas kursi rodanya sambil mengikuti langkah dokter Dilanova yang berjalan didepan mereka.


Beberapa dokter dan perawat yang berpapasan dengan mereka dilorong rumah sakit memberi senyuman dan memberi hormat saat mengenal Moranno.


Beberapa menit kemudian mereka tiba diruang perawatan bayi. Petugas didepan ruang perawatan mengambil pakaian khusus berwarna hijau dan mengenakannya pada dokter Dilanova, Yurina dan Moranno. Setelah selesai mengenakan pakaian khusus lengkap dengan penutup kepala dan masker, mereka baru dipersilahkan masuk.


Dalam ruangan yang telah diatur suhunya untuk para bayi, Moranno dan Yurina mengikuti langkah dokter Dilanova yang melewati beberapa bayi yang terbaring didalam ranjang bayi yang telah dilengkapi identitas si bayi.


Mata Yurina tak berkedip melihat para bayi yang sedang tertidur pulas, begitupun dengan Moranno yang masih setia mendorong Yurina yang duduk dikursi rodanya.


Diujung ruangan, dokter Dilanova membuka pintu yang menghubungkan keruangan khusus perawatan bayi.


Diruang khusus itu ada empat box bayi yang juga telah bertuliskan identitas si bayi.


Dokter Dilanova mendekati box nomor dua, memperhatikannya sejenak lalu mulai berbicara.


"Ini Putri bayi dari ibu Selia dan pak Gustaf. Bayi ini keadaannya mulai normal. Sekarang dari hasil pemeriksaan yang kita lihat dimemo ini, beratnya sudah tiga kilo delapan ons selama dua bulan disini. Saat lahir bayi Putri ini beratnya hanya satu kilo tujuh ons. Kulitnya yang menguning sekarang sudah terlihat memerah. Jantungnya juga sudah berdetak normal. Alat pencernaannya juga sudah berfungsi baik." Jelas dokter Dilanova saat melihat hasil memo pemeriksaan dan juga fisik sang bayi.


"Jadi berapa biaya perawatan mereka yang belum diselesaikan selama dirawat disini dokter?" Tanya Yurina memandang kearah dokter Dilanova.


"Bagaimana kalau kita bicarakan ini diruangan saya saja tuan dan nyonya." Ujar dokter Dilanova meminta persetujuan kedua tamunya.


"Baiklah dokter, kami setuju." Jawab Yurina mewakili suaminya.


Mereka lalu keluar dari ruangan itu. Para petugas segera membantu membuka pakaian khusus beserta penutup kepala dan masker yang mereka kenakan. Setelahnya mereka kembali menuju ruang kerja dokter Dilanova.


"Silahkan duduk tuan Moranno dan nyonya." Ujar dokter Dilanova pada kedua tamunya, sesaat setelah mereka berada dalam ruangannya.


"Mobon tunggu sebentar, saya akan menelpon pada bagian administrasi yang mengurus biaya perawatan ibu Selia dan bayinya."


"Baik dokter."


Dokter Dilanova lalu meraih gagang telepon disudut mejanya dan menekan nomor tujuan. Tak lama ada jawaban dari seberang telepon.


"Hallo, bagian administrasi rumah sakit pemerintah disini, ada yang bisa kami bantu?"


"Saya dokter Dilanova, tolong kirimkan ke e-mail saya total biaya dari perawatan ibu Selia dan bayinya bernama Putri sekarang ya, saya tunggu."


"Baik dokter saya kirimkan sekarang."


"Terima kasih." Dokter Dilanova menutup teleponnya. Tak lama berselang, data yang ia minta telah terkirim ke e-mailnya. Ia segera membukanya dan membacanya terlebih dahulu.


Setelah selesai membacanya, dokter Dilanova memutar sedikit layar monitor didepannya kearah Yurina dan Moranno yang duduk didepan mejanya, lalu mulai menjelaskan apa yang tertera di layar monitornya.


"Sampai pada hari ini, biaya perawatan ibu Selia sekian. Biaya perawatan bayi mereka bernama Putri sekian. Totalnya sekian. Dan baru dibayar pak Gustaf sekian. Jadi yang belum dibayar adalah sekian tuan dan nyonya." Jelas dokter Dilanova.


Setelah mendengar penjelasan dokter Dilanova, Yurina memandang kearah Moranno yang duduk disebelahnya.

__ADS_1


"Bolehkah aku membantu orang yang telah membantuku suamiku? Apalagi ia sudah memohon bantuanku. Dan apa yang pria itu katakan tentang isteri dan anaknya adalah benar. Kau juga sudah melihatnya bersamaku suamiku." Kata Yurina meminta ijin pada Moranno.


"Lakukan saja apa yang kau pandang baik sayang." Ucap Moranno memberi dukungan.


"Aku akan membantu menggunakan rupiah yang kau berikan direkeningku setiap bulannya itu suamiku."


"Apakah cukup nilainya sayang?" Tanya Moranno memastikan pada isterinya itu.


"Iya cukup suamiku." Jawab Yurina pada suaminya. Ia lalu beralih memandang kearah dokter Dilanova yang sedari tadi mendengar percakapan mereka.


"Dokter, bolehkah saya meminta nomor rekening pembayarannya?" Kata Yurina pada dokter Dilanova.


"Boleh nyonya muda. Tapi apakah anda yakin melakukannya? Bukankah pria itu telah turut menculik anda yang sedang mengandung sehingga menyebabkan keadaan anda seperti sekarang ini." Kata sang dokter ragu.


"Saya yakin dokter. Apalagi pria itu sempat mengatakan alasannya melakukan semua itu karena ia membutuhkan biaya perawatan isteri dan anaknya. Sekarang dia ada dikantor polisi, entah kapan ia bisa keluar dari sana. Mungkin saja Tuhan ijinkan ini terjadi supaya ia menemukan jalannya mendapatkan pertolongan membiayai perawatan isteri dan anaknya, dan saya hanya sebagai alatNya."


Dokter Dilanova terpana mendengar penuturan Yurina, ia tidak menyangka wanita hamil didepannya itu dapat berpikir seperti itu.


"Anda sangat luar biasa nyonya. Musibah yang telah menimpa anda, malah anda jadikan cara bagaimana bisa menolong orang yang membutuhkan. Kita bisa melihat dan mendengar sendiri bagaimana reaksi isteri pak Gustaf saat mendengar cerita penculikan anda, ia pun setuju bila pelaku mempertanggung jawabkan tindakan yang telah dilakukan para penculik nyonya itu. Tapi saya melihat anda memiliki pemikiran yang berbeda nyonya. Anda mampu menjaga hati anda untuk tidak berpikir buruk pada orang yang berbuat jahat pada anda. Anda sungguh luar biasa nyonya, saya kagum pada anda." Ucap dokter Dilanova penuh kekaguman.


"Anda terlalu berlebihan dokter, saya hanya berusaha melakukan apa yang saya anggap baik dan melakukan sebisa saya saja. Berapa nomor rekeningnya dokter?" Ucap Yurina berusaha tidak tersanjung mendengar ucapan dokter Dilanova.


"Ini nomor rekeningnya nyonya." Dokter Dilanova lalu menyodorkan kertas yang bertuliskan nomor rekening pembayaran rumah sakit pemerintah pada Yurina.


Yurina lalu dengan cepat meraih kertas yang diberikan dokter Dilanova lalu segera mengetik diponselnya.


Tak lama terdengar nada peringatan notifikasi masuk diponsel Yurina. Yurina segera membuka ponselnya. Sementara itu, telepon disudut meja dokter Dilanova turut berdering.


"Hallo." Kata dokter Dilanova mengangkat telepon dimejanya.


"Dokter, ada sejumlah transferan uang masuk kerekening rumah sakit pemerintah untuk pembayaran biaya perawatan ibu Selia dan bayinya yang bernama Putri atas nama Yurina Agatsa. Tapi ini lebih besar dari yang harus dibayar dokter."


"Baiklah, teruskan padaku. Kebetulan nyonya muda Agatsa masih ada diruangan saya, supaya saya bisa mengkonfirmasinya."


"Baik dokter."


Begitu telepon ditutup, terdengar suara notifikasi diponsel dokter Dilanova. Wajah dokter Dilanova terlihat kaget saat melihat nilai yang tertera diponselnya yang telah dikirim pihak administrasi rumah sakit.


"Nyonya muda, apa anda tidak salah transfer? Nilainya lebih besar dari yang harus dibayar hingga hari ini nyonya? Ini bahkan dua kali lipat nilainya." Ucap dokter Dilanova masih dengan wajah kagetnya.


"Tidak dokter. Saya memang mengirimnya sesuai nilai yang tertera disana. Anggap saja lebihnya sebagai deposit untuk perawatan ibu Selia dan bayinya yang masih terus berjalan hingga mereka sembuh nanti. Bila nanti masih ada yang dibutuhkan dokter bisa menghubungi saya, ini nomor ponsel saya.." Kata Yurina sambil menulis dikertas yang di sodorkan dokter Dilanova sebelumnya.


Belum selesai rasa kaget yang dirasakan dokter Dilanova, kembali ia dikejutkan pernyataan Yurina yang siap memberikan bantuan bila masih ada yang dibutuhkan dalam perawatan ibu Selia dan bayinya.


"Anda memang sungguh luar biasa nyonya. Anda sangat dermawan." Kata dokter Dilanova yang tidak dapat berkata-kata dalam mengungkapkan rasa kagetnya.


"Dokter, saya hanya orang biasa saja. Kalaupun ada orang yang layak disebut dermawan, dia adalah suami saya. Semua rupiah yang saya berikan untuk membantu ibu Selia dan bayinya ini, itu semua adalah milik suami saya, saya hanya perantara saja." Ujar Yurina lagi dengan sikap tenangnya sambil menoleh kearah Moranno yang duduk disebelahnya dan menggenggam tangan suaminya dengan erat.


Moranno yang mendengar dirinya disebut tiba-tiba menjadi salah tingkah, namun ia pun berusaha tenang dan balas menggenggam tangan Yurina.


"Iya, tuan dan nyonya adalah orang-orang yang baik yang pernah saya kenal. Saya hanya sering mendengar kabar tentang tuan Moranno, selain berprestasi juga sering membantu orang-orang yang sedang mengalami kesusahan. Tapi sekarang, saya telah menyaksikannya sendiri dihari ini dengan mata dan kepala saya sendiri. Ternyata tuan Moranno juga memiliki seorang isteri yang dermawan sama seperti tuan Moranno. Tuan dan nyonya sungguh pasangan suami-isteri yang serasi, sungguh saya sangat kagum." Ucap dokter Dilanova tak berhenti memuji.


Moranno dan Yurina hanya mampu tersenyum mendengar ucapan dokter Dilanova pada mereka.


"Ah dokter selalu menyanjung kami dari tadi. Sebenarnya kami tidak layak untuk menerima sanjungan dokter. Hanya Sang Pencifta kami yang layak menerimanya dokter." Ucap Yurina tetap rendah hati.


"Nyonya apakah saya boleh menyampaikan yentang bantuan anda ini pada ibu Selia?"


"Saya rasa tidak perlu dokter. Dan mengenai suaminya yang masih berurusan dengan polisi, saya rasa tunggu sampai ibu Selia sembuh dan telah siap mendengar kabar tentang suaminya. Dan saya percaya dokter lebih mengetahui kapan waktu yang tepat menyampaikan hal itu."


"Baik, saya mengerti nyonya." Ujar dokter Dilanova sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Sepertinya kami harus buru-buru pamit dokter. Masih ada yang harus kami selesaikan dikantor polisi hari ini." Ucap Yurina menutup pertemuan mereka.


"Baiklah. Semoga apa yang telah dilakukan tuan dan nyonya pada ibu Selia dan bayinya akan membuat tuan dan nyonya semakin diberkati dalam menjalani kehidupan ini."

__ADS_1


"Amin. Terima kasih dokter atas doanya buat kami." Moranno berdiri dari duduknya lalu mendorong Yurina yang duduk dikursi roda keluar dari ruang kerja dokter Dilanova.


__ADS_2