
Malam itu, untuk kesekian kalinya, Margareth ikut tidur dikamar ibunya.
"Mom...... Apakah aku harus menikah secepat itu dengan tuan Harry?" Tanya Margareth berbaring disisi ibunya sambil menatap langit - langit kamar.
"Kenapa? Apa kau masih ragu pada perasaanmu sayang? Hmm?" Nyonya Agatsa balik bertanya, ia memiringkan tubuhnya menghadap putrinya yang berbaring disebelahnya.
"Entahlah mom.....Aku.... kurang mengerti....." Margareth meremas jari - jemarinya dibalik selimut.
"Sayang..... menurut mommy, Harry pria yang baik untukmu. Selain itu, usia kalian sudah sama - sama dewasa dan sudah pantas untuk menikah." Ucapnya sambil merapikan anak - anak rambut Margareth.
"Harry memiliki pembawaan yang tenang, dan ia bisa mengimbangi dirimu yang manja, keras kepala, pembangkang, tidak patuh, dan gengsian itu...."
"Ihh.... mommy..... kok ngomongnya gitu sih......" Margareth merengut melihat wajah ibunya.
"Itu 'kan kenyataannya....." Timpal nyonya Agatsa.
"Kan sama dengan mommy......"Balas Margareth tak terima.
"Kau itu ya.....Ya sudah, kita sama......" Nyonya Agatsa mengalah lalu memeluk putrinya itu dengan sayang.
"Kita kembali ketopik awal, oke....." Lanjut nyonya Agatsa sambil melepaskan pelukannya.
"Apa yang membuatmu tidak mengerti akan perasaanmu sayang? Apa bayang - bayang pria dalam masa lalu mu itu masih menjadi pertimbanganmu, hmm? Jujur pada mommy....." Nyonya Agatsa menatap lekat pada putrinya itu.
"Hmm.... tidak mom..... tapi....."
"Tapi apa?"
"Aku takut tuan Harry akan berlaku sama seperti dirinya......" Ucap Margareth sambil menerawang.
"Mommy rasa tunanganmu ini berbeda dari pria masa lalumu itu, yang hanya memanfaatkan dirimu....." Pungkas ibunya.
"Dia tidak seperti yang mommy katakan....." Sanggah Margareth.
"Sudahlah Margareth, kau tidak perlu membelanya..... dan mommy juga sudah tidak mau membahas tentang pria itu lagi....."
"Kau putri mommy satu - satunya Margareth, mommy sayang padamu..... mommy ingin yang terbaik buatmu...." Nyonya Agatsa kembali mengusap rambut putrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Kau sudah bertunangan dengan tuan Harry, pupuklah persaanmu padanya..... bukankah kau juga sudah mulai menyukainya?" Perkataan nyonya Agatsa membuat pipi Margareth yang mulus itu langsung merona.
"Apakah kau pikir mommy tidak tahu..... Bagaimana kau membolak - balik makananmu hingga terlihat menjijikkan karena pikiran kacaumu memikirkan tuan Harry yang tidak kau lihat dari makan siang hingga makan malam...." Tatap ibunya sambil mengulas senyum.
Wajah Margareth semakin merona.
"Dan bagaimana cara kau memperhatikan tuan Harry, memberikan bantal untuk alas kepalanya, dan menyelimutinya hingga kalian berdua tertangkap basah tadi pagi sedang berpelukan." Tutur nyonya Agatsa blak - blakkan membuat Margareth malu bukan kepalang.
"Ihh mommy......" Sungut Margareth, walau ia membenarkan perkataan ibunya itu didalam hatinya.
"Mommy sudah terlalu tua untuk melihat sandiwaramu itu sayang.... dari gelagatmu kami para orang tua sudah tahu bahwa tuan Harry tidak bertepuk sebelah tangan. Itulah sebabnya, kami putuskan kau harus menikah dengan tuan Harry dalam waktu dekat."
"Apa yang mommy katakan ini, bukan berarti mommy menyetujui apa yang telah terjadi tadi pagi Margareth. Awas saja, bila malam ini kau masih berani menyelinap kekamarnya diam - diam, mommy tidak akan segan - segan menghukummu....!!" Margareth sedikit merinding mendengar ancaman ibunya.
"Bila teko airnya belum terisi, isi sekarang sebelum mommy tidur. Supaya itu tidak menjadi alasan bagimu untuk keluar kamar lagi." Ucap ibunya sarkas.
"Terserah mommy saja..... yang jelas Margareth tidak seperti itu....." Sungut Margareth berusaha membela diri.
"Kami tidak berbuat yang bukan - bukan mom.... kami hanya ketiduran saja....." Jelas Margareth meyakinkan ibunya.
"Iya..... iya..... nggak percayaan banget sih mommy..." Sahut Margareth malas.
Nyonya Agatsa menaikkan selimutnya hingga keleher, dan segera memejamkan matanya.
Margareth menatap wajah ibunya sejenak, lalu membalikkan tubuhnya dan kembali menatap langit - langit kamar dengan tatapan menerawang. Ia mengangkat tangan kirinya sedikit keudara, diperhatikannya cincin berlian zircon persegi geometris berwarna putih itu.
Ia mengingat, saat Harry menyematkannya di jari manisnya beberapa jam yang lalu sambil berkata, "Bila berlian ini permata yang berharga, demikian juga dirimu berharga bagiku. Seputih warna permatanya, seputih itu hubungan kita." Perkataan penuh makna itu terngiang - ngiang ditelinga Margareth, membuat perasaannya terbuai dan berbunga - bunga, dirinya tersenyum - senyum sendiri membayangkannya.
...***...
"Apakah sudah tidak ada yang tertinggal?" Tanya nyonya Agatsa memastikan.
"Semuanya sudah dimobil mom....." Sahut Margareth. Ia mendekati ibunya dan memeluknya dengan erat.
"Aku pasti merindukan mommy....." Ucap Margareth dengan mata terpejam menikmati pelukan hangat ibunya.
"Mommy juga sayang, jangan lupa berkirim kabar. Ingat pesan mommy semalam." Ucap nyonya Agatsa nampak sedih.
__ADS_1
"Pasti mom..... terima kasih untuk semuanya..... aku sayang mommy....." Margareth memeluk erat, lalu melepaskan pelukannya perlahan dan mencium wajah ibunya yang suka mengatur dirinya itu.
Margareth beralih pada Moranno, sejenak ia menatap wajah saudara kembarnya itu dengan tatapan sedihnya.
"Kakak, kau harus menjaga dirimu juga kesehatanmu dengan baik, karena ada mommy, kakak ipar dan putra kembarmu yang harus kau lindungi ....." Pesan Margareth sambil memeluk erat Moranno.
"Tentu saja.... Kau juga Margareth, jaga dirimu baik - baik disana. Selain kami, juga ada tuan Harry yang akan merindukanmu...." Ucap Moranno sedikit menggoda adiknya itu supaya tidak terlalu bersedih dengan perpisahan mereka. Setidaknya, ia turut menghibur dirinya sendiri yang sebenarnya bersedih berpisah dengan adik kembarnya itu.
"Kakak bicara apa sih....." Ucap Margareth merona. Moranno terkekeh sambil menatap Harry yang tak berdiri jauh dari dirinya dan Margareth. Harry mengulas senyum saat mendengar perbincangan kedua saudara kembar itu.
Margareth beralih memeluk Yurina.
"Terima kasih sudah menjadi kakak iparku, banyak hal luar biasa yang kakak ipar lakukan dalam keluarga kami...." Ucapnya sambil memeluk erat.
"Sama - sama adik ipar, kau terlalu berlebihan.....aku melakukan semuanya karena aku mencintai keluarga kita, dan tentunya juga suamiku....." Ucap Yurina membalas pelukan erat Margareth sambil menatap wajah suaminya yang sedang menatap kearahnya juga.
Margareth melepaskan pelukannya dari Yurina dan beralih pada dua bayi kembar yang duduk dalam keretanya.
"Jangan lupa, kakak ipar harus memberikan adik lagi buat keponakan - keponakanku ini..... " Ucap Margareth sambil mencium kedua bayi itu satu persatu dengan gemas.
"Itu tergantung pada yang punya bibitnya adik ipar...." Sahut Yurina terkekeh.
"Tanpa kau minta, kami sudah buat planningnya Margareth, setelah kalian semua pulang dari sini kami akan menggunakan waktu sebaik - baiknya membuat adik bayi lagi untuk Billy dan Willy. Bukan hanya satu adik, kami sudah memprogramkan banyak adik - adik untuk Billy dan Willy yang akan lahir nantinya....." Ucap Moranno sekenanya sambil tertawa dan mengedipkan matanya pada Yurina.
"Kakak serius?" Margareth mendelikkan matanya.
"Rugilah kakak punya anak sedikit kalau hasilnya seperti ini......" Ucap Moranno berjongkok dan mencium dua putra gembulnya dengan gemas, membuat kedua bayi itu tertawa - tawa geli.
"Kalau mau program banyak anak, jangan lupakan bibi Nur dan bibi Salu yang pasti akan kerepotan mengasuh bayi - bayi kalian kelak.....ingat mereka sudah mulai tua sama seperti mommy......." Ucap nyonya Agatsa menyela, membuat Moranno menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Semua yang melihat hal itu terkekeh, tak sanggup menahan tawanya.
"Sudahlah..... terserah Moranno dan Yurina saja, mau punya anak berapa saja boleh, nanti bisa nenek bawa ke Singapura satu, terus yang lainnya bisa tinggal sama nenek dan kakek Morgan......Sekarang, Margareth harus segera berangkat, takut terlambat." Sambung nyonya Naomi yang masih menyisakan tawanya.
Margareth lalu mencium tangan sang nenek Naomi, beralih pada tuan dan nyonya Morgan untuk berpamitan. Ia masuk kedalam mobil dan duduk disebelah Harry yang mengemudi.
Setelah berpelukan dengan Yurina dan Moranno, nyonya Agatsa, nyonya Naomi, juga tuan dan nyonya Morgan menaiki mobil mereka masing - masing untuk mengantarkan Harry dan Margareth kebandara.
...***...
__ADS_1