
Tangan Yurina meraba-raba pada sisi tempat tidur dengan mata yang masih terpejam, tubuhnya masih terasa lelah. Mata Yurina langsung terbuka lebar saat tangannya tak menemukan Moranno berbaring disebelahnya. Buru-buru ia kekamar mandi tapi tak ada Moranno disana, hanya terlihat lantai kamar mandi yang masih belum mengering.
Yurina keluar kamar mandi dan melihat kearah jam dinding.
"Astaga.... sudah jam sepuluh. Ternyata aku bangun kesiangan, uuhhh... memalukan sekali." Yurina menggerutu pada dirinya sendiri. Dengan cepat ia masuk kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Kriuukkk...
Kriuuukk...
"Maafkan mommy ya sayang, sudah membiarkan kalian kelaparan. Sabar ya sayangnya mommy." Kata Yurina sambil memgelus-elus perutnya yang sudah berbunyi meminta diisi.
Tok...
Tok....
Tok...
Yurina bergegas menuju kepintu dan melihat siapa yang datang.
"Selamat pagi nyonya." Kata bibi Nur yang berada didepan pintu.
"Pagi juga bi.... Ada apa bi?" Kata Yurina yang masih menggunakan handuk kimononya.
"Maafkan saya nyonya, tadi tuan memerintahkan pada saya untuk memanggil nyonya sarapan bila sudah jam sepuluh pagi. Kata tuan nyonya masih kelelahan.
"Ahh, iya bi...." Wajah Yurina bersemu merah, jangan-jangan bibi Nur mengetahui kegiatan ia dan suaminya semalam pikirnya.
"Tuan sudah berangkat bi?"
"Iya nyonya, tadi pagi-pagi sekali."
"Sarapannya saya antar kekamar saja kah nyonya?" Kata bibi Nur lagi.
"Tidak usah bi, sebentar lagi saya kesana."
"Baik nyonya. Saya permisi dulu." Kata bibi Yurina sambil menundukan sedikit tubuhnya memberi hormat lalu pergi.
Yurina lalu masuk kembali kekamarnya dan menutup pintu dengan rapat untuk berganti pakaian.
Beberapa menit kemudian Yurina kembali keluar dari kamarnya menuju dapur untuk sarapan pagi yang sebenarnya sudah terlambat.
"Kau baru bangun?" Kata nyonya Agatsa saat berpapasan dengan Yurina didekat dapur.
__ADS_1
"Ahh iya nyonya, maafkan saya. Bagaimana keadaan nyonya, apakah sudah lebih baik hari ini? Kata Yurina dengan sopan dan menunjukan sikap hormatnya dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Tak perlu sok perhatian padaku, menanyakan keadaanku pula. Suamimu saja sudah berangkat berkerja pagi-pagi sekali, dan kau baru saja terbangun di jam segini. Isteri macam apa dirimu. Apa kau tidak tahu tanggung jawabmu sebagai isteri. Sudah sangat beruntung Moranno mau menikahimu dan membawamu tinggal dirumah ini. Bila tidak kau pasti jadi gelandangan diluar sana. Jangan - jangan anak dalam kandunganmu itu bukan anak dari putraku, kau sengaja mengambil keuntungan dari putraku atas insiden yang terjadi itu." Kata nyonya Agatsa dengan ucapan sinisnya.
"Maafkan saya nyonya besar atas keterlambatan saya bangun di pagi ini, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tapi mengenai anak dalam kandungan saya ini, ayahnya hanya tuan Moranno. Saya bukan wanita yang suka tidur dengan sembarang laki-laki. Saya bersedia kapan saja untuk test DNA bila apa yang saya ucapkan ini masih diragukan." Kata Yurina dengan mantap namun tetap dengan sikap hormatnya.
" Kau tampaknya sangat percaya diri sekali dalam ucapanmu. Aku terima tantanganmu itu, ini sangat menarik." Kata nyonya Agatsa tak mau kalah memberi tekanan pada menantunya itu.
"Maafkan saya nyonya, apa yang sudah saya ucapakan tadi bukanlah suatu tantangan, tapi kebersediaan diri saya kapan saja bila sewaktu-waktu test DNA itu diperlukan untuk dilakukan." Kata Yurina menjelaskan supaya mertuanya itu tak salah paham pada ucapannya.
"Bagiku itu tak ada bedanya." Kata nyonya Agatsa sinis. Yurina hanya terdiam dan tidak menjawab lagi, ia bisa merasakan dari setiap ucapan yang dikatakan sang ibu mertuanya masih sangat nampak ketidak sukaan pada dirinya.
"Bibi Nur, suruh wanita ini menyelesaikan semua pekerjaan dapur yang belum beres itu." Perintah nyonya Agatsa.
"Maafkan saya nyonya. Pesan tuan Moranno tadi pagi bahwa nyonya Yurina harus segera makan takut sakit karena nyonya Yurina sedang mengandung." Kata bibi Nur hati-hati.
"Siapa suruh dia terlambat bangun untuk sarapan, sekarang waktunya untuk berkerja." Kata nyonya Agatsa tak perduli.
"Tapi nyonya besar...."
"Tidak ada bantahan. Kenapa kehadiran wanita ini membawa dampak buruk dirumah ini. Bibi Nur, selama ini kau tak membantah perintahku. Kenapa hanya seorang cleaning service ini membuatmu berani membantahku!" Kata nyonya Agatsa emosi.
"Ampuni saya nyonya besar, saya hanya berusaha melakukan perintah tuan." Kata bibi Nur yang menjadi serba salah.
"Cukup bibi... Tidak ada penolakan." Kata nyonya Agatsa tegas.
"Tapi nyonya, nanti tuan marah dan akan menghukum saya." Kata bibi Nur masih merasa tidak enak pada para majikannya itu.
"Tidak bibi. Tugas kita saat ini adalah melakukan apa yang diperintahkan nyonya besar." Kata Yurina meyakinkan bibi Nur.
"Baguslah kalau kau sudah mengerti. Lakukanlah sekarang, aku akan mengawasimu." Kata nyonya Agatsa tegas.
"Tapi nyonya..." Bibi Nur hendak menyela.
"Sudahlah bibi, aku sudah biasa melakukannya." Kata Yurina lagi.
Yurina lalu mulai mengerjakan pekerjaan membereskan dapur yang masih terlihat berantakan dibeberapa tempat itu. Bibi Nur hanya bisa berdiri disamping meja sambil menundukan sedikit kepalanya merasa tak tega melihat Yurina melakukan semua tugasnya itu. Nyonya Agatsa duduk dimeja makan sambil menyesap teh hangatnya dan memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan menantunya itu.
Beberapa pelayan wanita yang biasa bertugas membantu bibi Nur membereskan dapur datang, dan mereka sempat terheran melihat nyonya muda mereka yang melakukan semua tugas yang biasa mereka lakukan. Namun saat mereka melihat ada nyonya Agatsa sedang duduk dimeja makan sambil memperhatikan setiap gerakan nyonya muda mereka, maka mengertilah mereka apa yang sedang terjadi.
Para pelayan wanita itu mendekati bibi Nur dan berdiri dibelakangnya sambil turut menundukan kepala mereka.
Kring...
__ADS_1
Kring...
Kring...
Bibi Nur segera melangkah kemeja telepon yang berada dekat meja makan.
"Halo selamat siang.... Kediaman keluarga Agatsa disini." Kata bibi Nur saat mengangkat telelpon.
"Nyonya Yurina sudah bangun?"Suara dari sambungan telepon.
"Sudah tuan."
"Apa dia sudah makan?"
"A... aaa... sebentar lagi tuan." Kata bibi Nur gugup sambil melihat kearah nyonya Agatsa.
"Apa nyonya ada disitu, katakan saya mau bicara."
"Baik tuan."
"Nyonya muda, tuan menelpon dan ingin berbicara pada anda." Kata bibi Nur mendekati Yurina yang tengah sibuk didapur. Yurina lalu melangkah menuju meja telepon dekat meja makan dimana nyonya Agtsa duduk sambil tetap memperhatikannya.
"Hallo...." Kata Yurina mengangkat telepon.
"Hallo isteriku.... Aku tadi menelponmu diponselmu, tapi kau tak mengangkatnya, jadi aku telpon kerumah."
"Oh... ponselku tertinggal dikamar tadi."
"Maafkan aku tadi pagi tidak pamit padamu, kau terlihat lelah jadi aku tak tega membangunkanmu. Apakah kau sudah makan?"
"Belum, aku baru saja bangun dan baru kedapur." Kata Yurina dengan suara tenangnya.
"Baiklah, sekarang segera makan, kau pasti lapar dan anak-anak kita yang kau kandung itu pasti juga lapar seperti ibunya."
"Iya, terima kasih." Jawab Yurina singkat.
"Apa hanya begitu saja, kiss nya mana?"
"Disini banyak orang, ada bibi Yurina, para pelayan.... nyonya besar juga." Kata Yurina memberitahu alasannya.
"Kau isteriku, itu hal yang biasa, siapa suruh mereka mau mendengarnya." Suara Moranno dari sambungan telepon.
"Baiklah.... Cup... Selamat berkerja kembali, jangan lupa makan siang. Atau kau ingin aku mengirimkanmu makan siang dari rumah?"
__ADS_1
"Tidak, terima kasih, kau istirahat saja yang cukup dirumah, aku makan siang dikantor saja. Cup..... Ingat, lekaslah makan untuk kesehatanmu dan juga anak-anak kita."
Yurina meletakkan gagang telepon ditempatnya, lalu kembali kedapur mengerjakan pekerjaan yang belum ia selesaikan.