
"Sayang...... Katakanlah sesuatu.....Supaya nak Harry dan keluarganya tahu jawabanmu....." Nyonya Agatsa membelai lembut rambut putrinya yang masih setia duduk menunduk disampingnya.
Margareth perlahan mendongakkan kepalanya menatap ibunya seolah meminta bantuan.
"Katakanlah saja apa yang ada dalam hatimu sayang, tidak usah ragu, mommy dan kakakmu Moranno akan selalu mendukungmu......" Ucap nyonya Agatsa lagi, ia melihat ada kebimbangan dimata putrinya itu.
Hati Harry sedikit was - was menunggu jawaban Margareth, wajahnya nampak tegang saat Margareth tiba - tiba mengarahkan pendangannya pada dirinya.
"Tuan Harry...... Masih bolehkah aku..... meminta sedikit waktu untuk memberi jawaban pada anda......" Akhirnya Margarerth membuka suaranya.
"Baiklah....... Aku mengerti, bukan perkara mudah bagimu untuk memutuskannya. Percayalah, aku masih bisa menunggu....... Aku sangat berharap kau bisa menerima lamaranku....." Harry berusaha mengulas senyumnya pada wanita yang duduk berseberangan dengannya itu.
" Kami sebagai orang tua hanya bisa merestui apabila kalian berdua sudah sama - sama setuju untuk menikah, jadi kalian pikirkanlah dengan baik dan matang sebelum kalian memutuskannya, bagaimana nyonya besar?" Ucap nyonyà Naomi dengan sikapnya yang bersahaja.
"Anda benar nyonya Naomi..... saya juga sependapat dengan anda......Diminum dulu tehnya." Sahut nyonya Agatsa. Mereka kembali meneguk tehnya masing - masing untuk mengusir ketegangan yang ada.
***
"Mom..... bolehkah malam ini aku tidur bersama mommy......" Margareth berdiri disamping pintu masuk menunggu persetujuan ibunya.
"Tidak biasanya kau seperti itu, apa kau merasa takut tidur sendiri malam ini, hmmm?" Nyonya Agatsa tersenyum dengan raut wajah menggoda.
""Ahh mommy..... pleasee..... aku kangen mommy, dua hari lagi aku akan pulang ketempat tugasku lagi mom.... jadi aku ingin mengobrol sambil tiduran dengan mommy......." Ucap Margareth dengan wajahnya yang dibuat manja.
"Baiklah...... ayo masuk..... mommy juga sebenarnya ingin kau tidur bersama mommy......" Nyonya Agatsa masuk lebih dulu lalu disusul Margareth yang menutup dan mengunci pintu kamar ibunya dari belakang.
Margareth masuk kedalam selimut ibunya dan ikut berbaring disamping nyonya Agatsa.
"Mom..... aku kangen pelukan mommy sebelum aku tidur......" Margareth memiringkan tubuhnya lalu merapatkan tubuhnya menghadap ibunya sambil mengerjap - ngerjapkan matanya.
"Makanya...... menikahlah cepat, supaya ada suamimu yang akan selalu memberimu pelukkan sayang." Kata nyonya Agatsa yang memeluk putrinya dengan kasih sayang.
"Ahh mommy......masa hanya mau dipeluk, Margareth harus menikah dulu......" keluhnya masih dengan suara manjanya.
__ADS_1
"Ya iyalah sayang..... masa mau dipeluk aja, tapi tidak mau dinikahi, yang benar saja kau Margareth....."
"Stop mom.....jangan diteruskan, pembahasannya gak jelas." Ucap Margareth dengan wajah manyunnya.
"Oke...... oke...... kita ganti topik sekarang......" Nyonya Margareth bergeser membenarkan posisinya berbaring sambil masih memeluk putrinya.
"Margareth...... kenapa kau masih menunda waktu menerima lamaran tuan Harry?" Tanya nyonya Agatsa menatap wajah putrinya yang sedang memejamkan matanya.
"Katanya ganti topik, kok mommy malah masih membahas menerima lamaran segala sih mom?" Margareth kembali mengeluh namun matanya masih dibiarkannya terpejam.
"Sayang mommy serius, mommy ingin membahas ini denganmu, kau harus jujur, kemukakan alasanmu pada mommy, apa kau tidak menyukai pria itu?"
"Mommy lihat kau dan tuan Harry serasi, kalian berdua sudah sama - sama dewasa, usia kalian pun sama - sama dua puluh sembilan tahun, usia yang sangat pantas bila kalian memutuskan untuk menikah."
"Tuan Harry juga seorang pekerja keras, buktinya kerjasama perusahaannya dengan kakakmu Moranno berjalan baik, dan sudah hampir rampung."
"Apa yang membuatmu ragu sayang?" Nyonya Agatsa masih membelai rambut putrinya dengan lembut.
"Entahlah mom...... aku sendiri merasa bingung? Apa aku menyukainya atau tidak....." Margareth masih memejamkan matanya, wajahnya ia telusupkan pada leher ibunya. Nyonya Agatsa mencium pucuk rambut putrinya yang wangi.
"Mommy merasa dia pria yang baik, keluarganya juga kita kenal baik, bahkan Yurina sepupunya sudah menjadi kakak iparmu. Tapi semuanya tergantung hatimu sayang, kau harus memeriksa hatimu dengan benar, bila kau belhm bisa menerimanya, jangan dipaksakan....."
"Apakah kau masih mengingat pria dalam masa lalu mu dulu?"
Pertanyaan nyonya Agatsa yang tidak terduga itu membuat Margareth membuka matanya, hatinya tiba - tiba terasa ditusuk dengan pisau yang begitu tajam, terasa perih dan menyakitkan. Margareth kembali memejamkan matanya, ia berusaha membuang ingatan masa lalu yang selama ini sudah ia kubur dalam - dalam.
"Sayang...... apa kau sudah tertidur......?" Tanya nyonya Agatsa saat tidak mendengar jawaban Margaret yang ada dalam pelukannya.
"Belum mom..... tapi Margareth sudah sangat mengantuk......." Jawabnya beralasan.
"Baiklah..... kita lanjutkan besok lagi, kau tidurlah..... mommy juga sudah mengantuk......" Nyonya Agatsa kembali mencium pucuk rambut Margareth dan mengeratkan pelukannya pada tubuh putrinya itu.
Margareth merasakan hembusan napas ibunya yang sudah berirama, menandakan dirinya sudah terlelap dalam mimpi.
__ADS_1
Kembali bayang - bayang masa lalu itu melintas. Sekuat apapun Margareth berusaha menghapus dan melupakannya, bayang - bayang itu selalu hadir mengganggunya.
***
" Woow.....Aku tak percaya...... kalau kebun mawar seluas ini kakak buat untukku......ini indah sekali......" Margaret menatap kagum kebun bunga mawar yang menghampar luas dihadapannya.
Seluas mata memandang, hanya terlihat warna - warni mawar yang memanjakan mata. Mawar - mawar yang bermekaran itu menampakkan kemolekannya, berbaris rapi sesuai warnanya.
"Iya adik ipar...... itu benar, pertama kali aku diajak kakakmu kemari, aku pun sangat kagum melihat kebun mawar seluas ini. dan ini semua kakakmu budidayakan untuk dirimu adik ipar....." Yurina turut berdiri ditengah - tengah hamparan luas kebun mawar itu.
"Ini kali yang kedua aku kemari.... dan aku masih saja terpesona akan keindahan kebun mawar ini adik ipar..."
Kedua wanita itu merentangkan kedua tangannya sambil menghirup udara segar yang membawa aroma mawar itu kesegala penjuru. Sinar matahari pagi menampakkan sinar keemasannya, baru saja menampakkan wajahnya dibalik punggung bukit.
"Bagaimana...... kau menyukainya?" Tanya Moranno yang tengah berdiri bersama Harry dibelakang Yurina dan Margareth.
"Iyaaaa.... aku sangat menyukainya kak..... iniii..... sungguh sangat luar biasa......Terima kasih kak....." Senyum Margareth mengembang, wajahnya terlihat begitu bahagia menyaksikan kebun mawar yang diperuntukkan baginya.
"Aku senang bila kau menyukainya Margareth..... Aku hanya mewujudkan mimpimu memiliki kebun bunga mawar saat kita masih kanak - kanak dulu." Ucap Moranno menatap kebun mawar yang sudah ia kelola beberapa tahun yang lalu.
"Sekali lagi terima kasih banyak kak..... kau memang kakakku yang terbaik....." Margareth tidak henti - hentinya tersenyum, wajah cantiknya terlihat begitu berbinar.
"Kalau begitu..... sebagai balasan terima kasihmu, bolehkah aku meminjam kakak iparmu yang kau pepetin terus sejak tadi?" Ucap Moranno dengan wajahnya yang dibuat jenaka.
"Oh..... berarti kakak tidak rela kalau aku selalu menempel dekat dengan kakak ipar?" Senyum Margareth berubah manyun.
"Sebenarnya tidak masalah.....tapi aku juga mau menikmati joging berdua saja dengan isteriku. Kau temani saja tuan Harry. Kalian berdua cocok. Karena sama - sama memiliki hobby mendekati dan menempel pada isteriku."
"Maksud kak Moranno?" Tanya Margareth bingung.
"Tanyakan saja tuan Harry langsung, bagaimana dia selalu saja ingin menggendong isteriku. Aku sarankan, kau harus segera menerima lamarannya, kalau tidak, dia akan selalu menggangguku untuk mendekati isteriku....." Kata Moranno seenaknya, tanggannya meraih tangan Yurina untuk segera membawanya pergi. Yurina ternganga karena tidak menduga suaminya bisa berkata seperti itu.
"Suamiku, kenapa kau bilang begitu.....Nanti adik ipar salah paham." Sela Yurina merasa tak suka ucapan Moranno.
__ADS_1
"Adik ipar.... kak Harry..... jangan dengarkan perkataannya, dia hanya bercanda saja....." Teriak Yurina sambil mengikuti langkah Moranno yang menyeret tangannya untuk mengikuti suaminya.
Margareth dan Harry masih terpaku ditempat mereka masing - masing berdiri mendengar ucapan Moranno.