
"Suster, dokter Rosalie sudah datang?" Tanya Moranno pada suster petugas.
"Iya tuan. Sekarang sedang memeriksakan pasien didalam. Silahkan ditunggu tuan." Ucapnya menjelaskan.
"Baiklah." Moranno kembali kekursinya.
Beberapa menit kemudian, terdengar suster petugas memanggil nama pasien selanjutnya.
"Nyonya Yurina Moranno Agatsa." Panggil sang suster petugas dengan suara nyaring.
Semua pasang mata pengunjung yang masih menunnggu giliran tertuju pada Yurina dan Moranno yang sedang berdiri dan melangkah menuju ruang pemeriksaan dokter Rosalie.
Mungkin karena nama belakang Yurina yang disebutkan, mungkin juga karena perut Yurina yang begitu besar dari ibu-ibu hamil yang juga sedang menunggu antrian mereka.
"Selamat malam dokter." Sapa Yurina saat memasuki ruangan.
"Selamat malam nyonya muda dan tuan Moranno." dokter Rosalie balas menyapa saat melihat Yurina dan Moranno yang menyusul dibelakangnya.
"Silahkan duduk." Kata dokter Rosalie lagi.
"Terima kaaih dokter." Ucap Yurina dan Moranno bersamaan lalu duduk pada kursi yang ada didepan meja dokter Rosalie.
"Bagaimana dengan keadaan pasien dokter yang kritis itu?" Tanya Moranno pada dokter Rosalie saat ia mengingat sebelumnya sahabatnya itu sedang menangani pasiennya.
"Pasienku itu.... Dia meninggal dunia."Ucap dokter Rosalie terlihat sedih.
"Kami turut berdukacita." Ucap Moranno dan Yurina bersamaan.
"Pasienku yang meninggal dunia itu isteri dari tuan Hartawan." Jelas dokter Rosalie.
"Benarkah? Aku tidak mengangka, mereka baru dua tahun ini menikah. Bagaimana dengan bayi mereka?" Tanya Moranno yang terkejut.
"Bayi mereka sudah lebih baik dari saat ia baru dilahirkan."" Kata dokter Rosalie masih terlihat sedih.
Moranno segera meraih ponselnya menelpon seseorang.
"Hallo tuan...." Suara sesorang dari seberang sambungan telepon.
"Asisten Rudy, tolong pesankan karangan bunga turut berdukacita kealamat kediaman tuan Hartawan, isterinya baru saja meninggal dunia." Perintah Moranno.
"Baik tuan, segera akan saya pesan dan kirimkan."
"Terima kasih." Moranno memutuskan sambungan teleponnya lalu menyimpan ponselnya kembali.
"Bagaimana, apakah kita bisa mulai pemeriksaannya?" Tanya dokter Rosalie pada Yurina dan Moranno yang ada dihadapannya.
"Iya dok, kita mulai sekarang." Yurina lalu berdiri dari duduknya. Moranno dengan sigap untuk membantunya.
__ADS_1
Yurina membaringkan tubuhnya perlahan diranjang pasien. Dokter Rosalie mulai membalur jeli dibagian perut Yurina.
"Apa yang nyonya muda sering rasakan sekarang?" Tanya dokter Rosalie sambil terus membalur jeli.
"Akhir-akhir ini saya rasakan bayi-bayi ini lebih sering bergerak didalam sana dari biasanya, mereka sangat aktif. Sering saya kesulitan bernafas saat mereka bergerak kearah dada saya. Juga saat akan berjalan rasanya sangat berat sekali dokter."
Sambil mendengarkan penjelasan Yurina, dokter Rosalie mulai menggeser transduser diatas perut Yurina.
Perut Yurina turut bergerak kian bergelombang kesana kemari saat transduser terus bergulir.
"Mereka memang sangat aktif sekali nyonya muda." Ucap dokter Rosalie dengan senyumnya.
"Iya dokter, rupanya itu yang sedang mereka lakukan." Sahut Yurina kagum melihat kedua bayi kembarnya yang terlihat dari layar monitor.
Moranno pun ikut memperhatikan ulah para bayinya. Senyumnya terus mengembang. Perasaan bahagia dihatinya tak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata saat melihatnya.
"Tuan dan nyonya, keaktifan mereka ini menandakan bahwa mereka sangat sehat didalam kandungan ibunya. Lihatlah wajah bayi yang satu ini terlihat sangat jelas, mata, telinga, hidung, mulut juga sudah sempurna." Ucap dokter Rosalie sambil menunjuk layar menggunakan sinar merah.
"Rambut-rambut kepala juga alis... bulu mata sudah bisa terlihat. Leher, tulang belakang, semuanya terbentuk dengan baik. Jantung, hati, paru-paru.... usus juga berfungsi dengan baik. Jari-jari tangan, jari-jari kaki semuanya lengkap."
"Berat badan mereka sudah dua koma sembilan kilo gram, panjangnya lima puluh satu centi meter. Pantas saja anda merasa sering merasa sesak napas nyonya." Ucap dokter Rosalie masih tersenyum lebar.
"Tapi ini masih normal tuan dan nyonya. Untuk jenis kelamin apa mau saya katakan?"Tanya dokter Rosalie sambil menatap kearah Yurina yang sedang berbaring lalu beralih pada Moranno yang berdiri disisi tempat tidur Yurina berbaring.
"Biar jadi kejutan saja dok, saat mereka lahir nanti. Ia kan sayang?" Sahut Moranno.
"Iya dok..." Yurina menyetujui.
Dokter Rosalie lalu membersihkan jeli diperut Yurina menggunakan tissue, lalu melanjutkan penjelasannya.
"Untuk perkiraan melahirkan sekitar empat belas hari lagi. Bisa lebih, juga bisa kurang dari empat belas hari. Diharapkan nyonya muda sudah mengurangi banyak kegiatan, harus lebih banyak beristirahat. Berolah raga masih boleh dilakukan. Dan itu memang sangat disarankan supaya ibunya punya energi saat bersalin nanti. Dan untuk tuan Moranno, harus lebih siaga, karena bisa saja tiba-tiba nyonya muda akan bersalin diwaktu yang tidak terduga." Jelas dokter Rosalie panjang lebar.
"Berolah raga yang bagaimana itu dok?" Tanya Moranno pura-pura tak tahu dengan wajah seriusnya.
"Yang jelas bukan berolahraga ngejym, melompat, atau sepak bola. Kalau renang, jalan santai pagi atau disore hari itu masih boleh." Sahut dokter Rosalie gemes.
"Kalau olah raga ditempat tidur?" Tanya Moranno lagi sengaja membuat dokter Rosalie terjebak oleh pertanyaannya.
"Olah Raga ditempat tidur??" Dokter Rosalie balik bertanya.
"Iya, olah raga ditempat tidur. Kau itu dokter kandungan, masa tidak tahu ada olah raga ditempat tidur?" Kata Moranno menjadi-jadi.
"Aku memang dokter, tapi tidak ada pelajaran olah raga ditempat tidur." Ucap dokter Rosalie ketus, ia mulai tahu bahwa sahabatnya itu mau menjebaknya dengan pertanyaan-pertannyaan anehnya.
Moranno hampir tertawa melihat respon dokter Rosalie, namun ia tetap mempertahankan wajah seriusnya.
"Itu... Kegiatan yang dilakukan oleh pasangan suami isteri diatas ranjang kalau hanya berdua saja." Ucap Moranno masih menggiring opini dokter Rosalie sambil memberi isyarat dengan kedua tangannya yang saling mematuk.
__ADS_1
"Kalau itu, kau tanyakan saja isterimu, apakah dia menyetujuinya atau tidak." Ucap dokter Rosalie berusaha berbicara dengan tenang.
"Setuju atau tidaknya isteriku tergantung penjelasanmu, kau kan dokter kandungannya?" Ucap Moranno masih bersikukuh.
"Kau itu.... Hanya kau saja suami pasien yang terlalu pulgar bila bertanya. Aku tahu kau sengaja kan bertanya seperti itu untuk meledekku terus, karena aku belum menikah." Tuduh dokter Rosalie yang tampak kesal.
Yurina mencubit pinggang Moranno membuat pria itu mengaduh kesakitan.
"Sayang, cubitanmu itu menyakitiku." Ucapnya meringis kesakitan sambil mengusap pinggangnya dengan tangannya.
"Sudahlah suamiku, dokter kan sudah menjelaskan, bila olah raga renang dan jalan santai masih bisa aku lakukan, dokter juga sedang sibuk, masih banyak ibu-ibu hamil diluar menunggu giliran pemeriksaan." Yurina berusaha menyudahi pertanyaan- pertanyaan suaminya.
"Iya, wajar saja kita bertanya pada dokter sayang, supaya kita mengerti apa yang masih bisa kita lakukan dan apa yang sudah tidak boleh kita lakukan disaat usia kandunganmu sekarang." Ucap Moranno mempertahankan alasannya.
Ueekkk... Ueekkk.... Ueekkk...
Yurina, Moranno, dokter Rosalie sama-sama mengarahkan pandangan merek kearah pintu, dimana berasal datangnya suara tangisan bayi yang menangis kencang.
"Dokter, pengasuh bayi Rosalia membawanya kemari, ia bingung mendiamkan bayi Rosalia yang terus menangis." Jelas suster jaga.
Bayi Rosalia masih terus menangis kencang, wajahnya yang memerah hampir membiru. Pengasuh yang menggendongnya terlihat panik.
"Maafkan saya dokter, saya tidak tahu harus berbuat apa, bayi Rosalia terus menangis hingga seperti ini kondisinya, saya sangat khawatir. Tuan Hartawan sedang sibuk mengurus nyonya dokter. Jadi saya berinisiatif langsung membawanya menemui dokter, karena dokter lebih banyak mengetahui kondisi bayi Rosalia." Ucap sang pengasuh masih terlihat panik.
"Baiklah. Sini saya gendong dulu ." Kata dokter Rosalie mengulurkan kedua tangannya. Pengasuh bayi lalu menyerahkan bayi Rosalia dalam gendongannya pada dokter Rosalie.
"Sayang.... cup... cup... cup sayang...." Dokter Rosalie terus menimang-nimang bayi Rosalia dalam gendongannya. Bayi itu masih terus menangis dalam gendongan dokter Rosalie.
Beberapa menit berlalu, suara tangis bayi Rosalia mulai memelan, matanya yang bulat memandang wajah dokter Rosalie.
Mata bayi mungil itu terus menatap wajah dokter Rosalie, bibir mungilnya mengeluarkan suara yang belum jelas. Ia seolah-olah mengenali siapa yang menggendongnya. Lama-kelamaan, suara tangisnya itupun berhenti, rupanya bayi itu sudah tertidur.
"Apakah itu bayi tuan Hartawan?" Tanya Moranno sesaat setelah bayi itu tertidur.
"Iya benar, ini bayi mereka. Sepertinya ia merasakan apa yang sedang terjadi pada ibunya." Sahut dokter Rosalie masih menggendong bayi Rosalia.
"Kasihan sekali, dia masih sangat kecil tapi harus kehilangan ibunya." Kata Yurina yang turut merasakan apa yang dirasakan bayi Rosalia. Matanya sedikit berkaca-kaca melihat wajah bayi Rosalia yang tertidur pulas dalam gendongan dokter Rosalia.
Moranno mengelus punggung Yurina, ia mengetahui bahwa isterinya itu pasti mengingat akan masa lalunya saat ia masih bayi diserahkan di panti asuhan.
"Kita turut mendoakan yang terbaik buat bayi Rosalia dan orang tuanya. Kau jangan terlalu bersedih sayang. Ingat, kau sedang mengandung. Sayang, ayo kita pulang." Kata Moranno pada Yurina.
"Hmmm" Yurina menganggukkan kepalanya. Ia turun dari ranjang pasien dibantu Moranno.
"Kami permisi dulu dok." Pamit Moranno pada dokter Rosalie yang masih menggendong bayi Rosalia.
"Baiklah... Kalian hati-hati dijalan. Untuk pertanyaanmu tadi. Kalian masih boleh melakukannya, tapi dilihat keadaan nyonya muda, bila tidak memungkinkan, jangan dipaksakan, karena bisa memicu waktu bersalin bisa lebih cepat sebelum waktunya." Jelasnya.
__ADS_1
"Terima kasih, aku mengerti." Ucap Moranno sambil mengedipkan sebelah matanya kearah Yurina yang ia gandeng. Wajah Yurina nampak memerah, ia merasa suaminya itu memang terkadang nampak usil.
***