
*PER**INGATAN* !!! AREA DEWASA !!!
+21 TAHUN !!!
Harry melepaskan pelukannya pada pinggang Margareth. Ia menghadapkan tubuh isterinya itu padanya, menatap wajah dokter cantik yang sudah menjadi isterinya itu.
Margareth yang melihat tatapan Harry menghentikan tawanya.
"Apakah kau tidak suka pada ucapanku tadi?" Tanya Margareth yang merasa khawatir bila Harry marah pada perkataannya.
Harry menggeleng. " Apakah kau bersungguh - sungguh dengan ucapanmu. Bahwa dihatimu ada diriku yang menjadi raja cinta dihatimu??" Tegas Harry. Margareth tidak berani membalas tatapan Harry, ia mengalihkan pandangannya pada deburan ombak laut yang dihasilkan lintasan kapal pesiar yang mereka tumpangi.
"Katakan padaku..... Apa dihatimu itu sudah ada diriku. Sampai saat ini aku masih tetap menunggumu membuka hatimu untuk diriku ada disana...... Hanya akau saja, suamimu......." Harry kembali menegaskan perkataannya, ia tidak melepaskan tatapannya dari wajah Margareth yang sedang memalingkan wajahnya kearah lain.
"Kau..... kau...... apakah kau masih mengingat kesalahanku itu? Sehingga kini kau menanyakan pertanyaan serupa itu padaku?" Wajah Margareth membias sedih.
"Jujur saja..... aku masih mengingatnya......" Suara Harry terdengar parau.
"Lalu kenapa kau menikahiku??" Tanya Margareth dengan nada kesedihan penuh tekanan, ia berusaha keras menahan air matanya yang akan terjatuh, ada kemarahan disana saat mengingat perjuangannya selama empat minggu terakhir sebelum melangsungkan pernikahan dan ditambah lagi malam pengantin kelabunya tanpa suasana romantis seperti kebanyakan pasangan pengantin lainnya.
__ADS_1
"KARENA aku MENCINTAIMU..... seperti aku mencintai diriku sendiri." Harry berdiri dibelakang Margareth dan meletakan tangannya diatas kedua punggung tangan Margareth yang memegang pagar balkon stainless, wanita itu hanya berdiri terpaku melihat lautan lepas didepannya
Selama empat minggu, setelah pertemuan kita dirumah sakit itu dengan dokter Randuasa, sesuai perkataanku, aku memang tidak menghubungimu sama sekali. Aku merasa sangat tersiksa dan menderita dengan tindakan yang kuambil itu. Selama ini, akulah yang mengejarmu, aku yang berusaha membuat dirimu jatuh cinta padaku dengan caraku. Namin saat aku menghentikan kontakku padamu, aku semakin memikirkanmu setiap saat. Itulah sebabnya, aku mengirimkan beberapa orang untuk mengikuti dan mengawasimu kemanapun engkau pergi. Aku tahu dari orang - orangku yang mengikutimu, saat dirimu memberi tamparan pada dokter Randiasa yang sebenarnya mau menolongmu." Margareth masih berdiam diri mendengar penuturan suaminya itu. Ia berusaha menemukan kejujuran pada setiap kalimat yang diucapkan Harry.
"Aku juga mengetahui saat kau sakit waktu itu, kau pingsan dan diangkat orang - orangku. Aku lalu meminta dokter Mories untuk mengirim seorang suster yang merawat dan menemanimu saat sakit, tapi aku tidak bisa muncul dihadapanmu, itu yang membuatku merasa semakin tertekan. Saat kau ada dibandara Singapura, aku tahu kau ada disana. Maafkan aku, aku sengaja tidak menemui disaat itu. Aku berharap kau tetap bertahan, aku takut dirimu menyerah." Harry menjedah ucapannya, ia menghirup udara disekitarnya sebanyak - banyaknya untuk memenuhi paru - parunya yang seakan kekurangan oksigen, lalu kembali mengeluarkannya perlahan. Margareth masih setia mendengarkan penuturan Harry yang berdiri dibelakannya sambil mengusap lembut kedua punggung tangannya.
"Malam hari, sebelum pemberkatan nikah kita berlangsung, aku tidak bisa tidur. Aku merasa khawatir bila kau tidak hadir dihari pernikahan kita. Itulah sebabnya aku tertidur pulas dimalam pertama setelah kita menikah, karena aku merasa sangat bahagia, kita berdua sama - sama bisa melewati itu semua, dan aku bisa menikah denganmu. Saat aku mengatakan berangkat berkerja, sebenarnya aku menemui sahabatku dan langsung mensurvey tempat ini untuk bulan madu kita."
"Kau kan bisa menghubungi sahabatmu lewat telepon, tidak perlu datang langsung ke kapal pesiar ini dan meninggalkanku seorang diri....." Ucap Margareth seolah tidak percaya.
"Itu benar. Aku sudah memesan satu kabin ini tiga bulan yang lalu untuk kita, namun aku baru berani mengkonfirmasinya setelah kita menikah kemarin. Kau bisa bayangkan, sahabatku berulang - ulang menanyakan tentang keseriusanku untuk ikut berlayar sampai mereka harus menunda dua hari menunggu kita selesai menikah. Untung saja para tamu lainnya mau menerima alasan mereka. Itulah sebabnya aku kemari untuk memastikan diriku ikut bersamamu."
Margareth membalikkan tubuhnya, sehingga keduanya saling berhadapan dengan menyisakan jarak diantara keduanya.
"Tapi..... caramu itu sangat kejam, kau membuatku juga menderita.....hampir saja aku menyerah, aku berpikir kau tidak mencintaiku lagi. Aku sudah terbiasa mendapat pesan dan juga telepon darimu. Saat itu kau hentikan, aku merasa ada yang hilang dalan diriku. Ternyata aku...... aku merindukanmu......" Margareth langsung memeluk Harry erat, rasa malu telah ia buang jauh - jauh. Selama ini, dirinya yang selalu merasa gengsi mengungkapkan perasaannya, kini semuanya sudah menjadi berbeda. Semua yang sudah ia alami membuat dirinya takut kehilangan pria yang kini sudah menjadi pria terpenting dalam hidupnya.
Harry tidak menduga mendapat pelukan hangat dari Margareth, harapan yang selama ini hanya menjadi sebuah impian akhirnya jadi kenyataan, dirinya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.
Harry turut memeluk isterinya itu. Rasa bahagianya tidak bisa ia uangkapkan dengan kata - kata. Bibirnya langsung menyambar bibir Margareth, saat isterinya itu menengadahkan wajahnya memandang kearahnya. Margareth yang sudah terbuai rindu yang selama ini ia pendam tanpa ragu membalas sentuhan - sentuhan yang dilancarkan Harry.
__ADS_1
Merasa ada balasan yang seimbang Harry membawa tubuh isterinya itu dalam gendongannya meninggalkan balkon. Margareth memeluk leher suaminya erat, sedetikpun ia tidak ingin melepaskan sentuhan suaminya yang membuat dirinya semakin dimabuk asmara.
Margareth dapat merasakan empuknya pembaringan dimana ia dibaringkan, ternyata Harry sudah memberikan sentuhan dekorasi yang bernuansa keromantisan dikamar mereka berada sekarang. Malam itu keduanya lalui tanpa menyia -.nyiakan sedetikpun hasrat yang terkandung didalam dada.
Margareth terbangun pagi itu dengan tubuh yang masih terasa begitu lelah. Ia segera membersihkan dirinya dikamar mandi.
Ia segera membuat sarapan pagi seperti biasanya, memanggang roti.
"Kau sedang apa sayang??" Harry tiba - tiba memeluk dari belakang mengagetkan Margareth.
"Aku mencari susu yang biasa kuminum, sepertinya kau lupa menyiapkannya tuan......." Margareth membuka satu - persatu tempat penyimpanan bahan makanan yang ada di set kitchen didekatnya.
Harry serta merta menempelkan jari telunjuknya dibibir Margareth membuat Margareth terpaku menatap wajah suaminya itu.
"Sudah suamimu ini katakan, jangan panggil tuan lagi dong sayang....." Ucap Harry protes.
"Honey......!!?? " Margareth terbelalak, matanya begitu membola, saat melihat tubuh atletis suaminya yang terbuka. Ia segera berlari ketempat tidur mengambil selimut tebal dan langsung menyelimuti tubuh suaminya itu. Wajahnya begitu merona membuat suaminya merasa aneh pada sikapnya.
"Aku tidak kedingainan sayang....." Harry kembali memprotes sikap Margareth. Ia melepaskan selimut yang menghalangi dirinya bergerak dengan leluasa.
__ADS_1
"Jangan....!!! Aku....... malu melihatnya......." Suara Margareth memelan sambil membalikkan tubuhnya.