JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 66 "Bagaimana? Tidak bisa tekunci."


__ADS_3

Keesokan harinya....


"Nyonya muda hari ini sudah boleh pulang. Luka - luka lebam jangan lupa diolesi salep. Harus banyak beristirahat dan juga berolah raga ringan untuk ibu hamil." Jelas dokter Rosalie pada Moranno dan Yurina yang bersiap pulang pagi itu.


"Terima kasih banyak ya dok." Ucap Yurina lalu berusaha bangkit dari pembaringannya dibantu Moranno.


"Iya nyonya muda. Tetap jaga kesehatan anda. Dan anda tuan Moranno, tetap menjadi suami yang siaga."


"Iya dokter.... Kau bisa lihat bagaimana aku mengurus isteriku selama disini. Apa kau tidak iri melihatnya? Hmmm? Menikahlah cepat, aku menunggu undanganmu." Sahut Moranno sekenanya saja pada sahabatnya itu.


"Hari ini aku tak ingin berdebat denganmu tuan MORANNO. Nanti kalian akan terlambat kekantor polisi. Lagi pula para pasienku sudah mengantri menungguku." Ucap dokter Rosalie yang berusaha tidak terpancing pada kata-kata Moranno.


Moranno tersenyum mendengar ucapan dokter Rosalie. Ia tahu bahwa sahabatnya itu sangat tidak suka ditanya tentang menikah.


"Sayang, naiklah dikursi roda ini, aku akan mendorongmu hingga kemobil, supaya kau tidak kelelahan berjalan." Kata Moranno sambil meraih kursi roda yang telah disiapkan oleh perawat.


Yurina lalu mendudukan dirinya dikursi roda dengan hati-hati.


"Kami pamit dok...." Ucap Moranno sambil mendorong kursi roda Yurina dengan perlahan.


"Iya.... Hati-hati dijalan tuan dan nyonya muda." Ucap dokter Rosalie melepas kepulangan Moranno dan Yurina.


Pak Kasan dan bibi Nani membantu mengangkat barang-barang milik Yurina dan Moranno menuju mobil.


"Pak Kasan dan bibi Nani, kalian pulanglah langsung kerumah dengan barang-barang itu. Saya dan nyonya akan ke kantor polisi lebih dahulu lalu pulang kerumah." Kata Moranno pada kedua bawahannya itu.


"Baik tuan." Kata Pak Kasan dan bibi Nani bersamaan. Pak Kasan lalu menjalankan mobil yang ia kendarai dengan perlahan meninggalkan rumah sakit.


Moranno Membuka pintu mobil lalu membantu Yurina masuk dan duduk disamping kemudi. Moranno sempat tertegun sejenak saat memasang sabuk pengaman pada tubuh Yurina.


"Kenapa? Tidak bisa terkunci?" Ujar Yurina seakan mengerti apa yang dipikirkan Moranno.


"Berikan padaku, aku bisa melakukannya." Yurina meraih pengunci sabuk pengaman ditangan Moranno, ia menurunkan sabuk pengaman yang melintang ditengah perutnya hingga dibawah perut dan satunya lagi digeser keatas perut dekat dada lalu mengumcinya.


"Bagaimana? bisa terkunci kan?" Kata Yurina sambil tersenyum memandang Moranno yang memperhatikan apa yang ia lakukan.


"Iya. Kau isteriku yang pintar." Ujar Moranno lalu mendaratkan ciumannya dikening Yurina dengan cepat. Yurina hanya membalas dengan senyuman.


Moranno segera menutup pintu mobil dengan hati-hati, dan memasukkan kursi roda Yurina kemobil bagian belakang dan menutupnya juga dengan rapat. Setelah itu ia masuk dan duduk disebelah Yurina dibelakang kemudi.


Perlahan mobil yang dikendarai Moranno dan Yurina meninggalkan rumah sakit Agatsa Hospital.


"Suamiku.... Bisakah kita singgah terlebih dahulu dirumah sakit pemerintah sebelum kekantor polisi?" Tanya Yurina sambil memandang Moranno yang sedang mengemudi.


"Untuk apa sayang?" Tanya Moranno melihat sepintas pada Yurina yang duduk disebelahnya lalu kembali pokus pada jalan didepannya.

__ADS_1


"Kau ingatkan aku pernah cerita kalau salah satu penculik itu membantuku untuk melarikan diri?"


"Iya, aku ingat sayang."


"Diaa sempat memohon padaku untuk membantu isteri dan putrinya yang sedang dirawat dirumah sakit pemerintah." Jelas Yurina dan masih memandang kearah Moranno.


"Oh, berarti pria penculik itu membantumu karena ada maksudnya sayang."


"Jangan bicara seperti itu suamiku. Pria itu sudah berterus terang padaku, bahwa dia melakukan semua itu karena membutuhkan biaya untuk isteri dan putrinya yang sedang dirawat dirumah sakit. Kumohon, antarkan aku kerumah sakit pemerintah untuk mengetahui kebenaran yang disampaikan pria itu." Pinta Yurina bersungguh-sungguh.


"Baiklah, aku akan mengantarkanmu kesana. Kebetulan rumah sakit pemerintah itu berada didekat kantor polisi yang akan kita tuju."


"Terima kasih suamiku." Ujar Yurina senang sambil mengalihkan pandangannya dari Moranno kejalan yang ada didepan.


" Hanya ucapan terima kasih? Hmmm?" Sela Moranno.


"Lalu, aku harus apa bila tidak mengatakan terima kasih?" Sahut Yurina kembali menoleh kearah Moranno yang masih pokus mengemudi.


"Berikan aku ciuman terima kaaih." Ucap Moranno tanpa menoleh kearah Yurina.


" Baiklah. Itu perkara mudah." Yurina lalu mencium pipi Moranno dengan cepat, lalu menggigit sedikit telinga suaminya itu.


"Aduh, apa yang kau lakukan?" Tanya Moranno kaget saat merasakan gigitan isterinya ditelinganya walau tak sakit.


"Kau bilang bonus? Kau tahu tidak telinga yang kau gigit itu telinga seorang CEO? Tidak ada yang berani menyentuh telinga CEO apalagi sampai menggigitnya."


"Iya, aku tahu. Itu sebabnya aku sengaja melakukannya. Seorang mantan cleaning service menggigit telinga sang CEO. Dikantor kau adalah CEO, tapi dimobil ini kau adalah supirku, dan dirumah kau adalah suamiku." Ujar Yurina dengan senyum menggodanya.


"Dari mana kau mendapatkan keberanian mengatakan hal itu padaku? hmmm?" Ucap Moranno merasa gemas pada Yurina.


"Entahlah... Tapi sepertinya... Semenjak aku tahu kau sangat menyayangiku." Ucap Yurina dan kembali mencium pipi Moranno dan menggigit telinganya lagi.


Moranno yang masih pokus pada kemudinya kembali terkaget akan apa yang dilakukan padanya. Ia lalu menghentikan mobilnya.


"Mengapa kau menghentikan mobilnya suamiku?"


"Kita sudah sampai dirumah sakit pemerintah."


"Benarkah?" Yurina lalu memperhatikan sekitarnya. Ternyata mereka sudah ada diparkiran rumah sakit.


"Iya, kau kan sibuk menggodaku dari tadi, jadi tidak menyadari kalau kita sudah sampai." Kata Moranno sambil menyunggingkan senyumnya lalu keluar dari mobil dan mengambil kursi roda untuk Yurina.


Yurina melepaskan sabuk pengamannya dan keluar dari mobil. Ia lalu duduk dikursi rodanya yang sudah didekatkan Moranno padanya.


Setelah menutup mobil dengan rapat dan menguncinya, Moranno lalu mendorong kursi roda Yurina menuju ruang informasi yang tak jauh dari area parkir.

__ADS_1


"Selamat Pagi tuan dan nyonya ada yang bisa saya bantu." Ujar seorang suster muda yang bertugas dilayanan informasi.


"Selamat pagi Sus. Apakah ada pasien yang bernama ibu Selia dan anaknya bernama Putri dirawat dirumah sakit ini?" Tanya Yurina yang telah berdiri dari kursi rodanya.


"Sebentar ya nyonya, saya periksa dulu." Petugas itu mengetik nama yang disebutkan oleh Yurina di keyboard dan melihat dilayar monitornya.


"Iya benar, pasien bernama ibu Selia dan bayinya bernama Putri sedang dirawat dirumah sakit ini. Apakah tuan dan nyonya adalah keluarga mereka?"


"Bukan. Saya adalah sahabat mereka. Berapa lama mereka sudah ada disini Sus?"


"Sudah dua bulan ini nyonya."


"Bolehkah saya bertemu dengan dokter yang menangani mereka?"


"Sebentar ya nyonya, saya coba telpon dulu keruangannya." Suster petugas segera meraih gagang telepon dimejanya. Tak lama terdengar ia sedang berbincang dengan seseorang dari sambungan telepon. Beberapa detik kemudian suster petugas itu menutup teleponnya dan meletakkan kembali gagang telepon ditempatnya.


"Tuan dan nyonya anda bisa bertemu dengan dokter Dilanova diruangannya. Nanti suster Ira akan mengantarkan tuan dan nyonya kesana."


"Baik terima kasih Sus." Ujar Yurina sambil tersenyum pada suster yang bertugas itu.


"Mari tuan dan nyonya, saya akan mengantarkan anda keruangan dokter Dilanova." Ujar suster Ira.


Moranno mendorong kursi roda Yurina mengikuti langkah suster Ira yang berjalan didepan mereka.


Setelah melewati dua belokan dirumah sakit pemerintah itu, mereka akhirnya tiba ditempat yang mereka tuju.


"Tunggu sebentar disini ya tuan dan nyonya. Saya akan masuk sebentar kedalam." Kata suster Ira, mempersilahkan Moranno dan Yurina menunggu diruang tunggu.


Moranno melirik arloji ditangannya. Ia lalu meraih ponselnya dan menelpon seseorang.


"Tuan Hartawan, saya mohon maaf. Saya minta diundur satu jam lagi, karena ada sedikit urusan dirumah sakit pemerintah."


"Baik tuan Moranno."


"Terima kasih." Moranno lalu menutup teleponnya.


"Tuan dan nyonya, mari silahkan masuk. Dokter Dilanova telah menunggu didalam." Ujar suster Ira yang baru keluar dari ruangan dokter Dilanova.


Moranno lalu mendorong kursi roda Yurina memasuki ruangan dokter Dilanova.


Tampak seorang wanita paruh baya duduk dibelakang meja kerjanya dengan jubah putihnya dan memakai kacamata. Saat melihat Moranno dan Yurina masuk, sang dokter segera berdiri dan memberi hormat.


"Selamat siang tuan Moranno dan nyonya muda. Silahkan duduk." Sapa sang dokter ramah. Yurina terheran-heran, karena ia belum merasa memperkenalkan diri bersama suaminya sejak dari ruang informasi.


" Selamat siang dok... Dokter mengenal kami?" Tanya Yurina saat telah berada didepan meja sang dokter. Sementara Moranno yang ada disebelah Yurina mengambil posis duduk.

__ADS_1


__ADS_2