JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 6 "Sebenarnya.... Kau telah di pecat"


__ADS_3

Yurina terperangah, kamar mandi itu penuh dengan kelopak - kelopak bunga mawar berwarna putih segar.


Dengan perlahan, disentuhnya kelopak - kelopak mawar itu dengan jarinya, dihirupnya wanginya, hatinya terasa menghangat dan damai.


Perlahan dia naik ke pemandian air hangat yang bertaburan kelopak - kelopak mawar, dan merendamkan tubuhnya disana.


Tubuhnya yang lelah kini terasa segar kembali setelah lama berendam di bathup.


Sensasi aroma kelopak - kelopak mawar itu begitu menghanyutkan imajinasinya hingga ia lupa bila sudah begitu lama ia berada di dalam kamar mandi.


Tok... tok.. tok...


"Apa kau baik - baik saja..." Tanya Moranno dari luar pintu kamar mandi.


"Iya, aku baik - baik saja..." jawabnya cepat.


Yurina yang baru menyadari ia sudah sangat lama di kamar mandi segera menyelesaikan aktifitas mandinya, dan menggunakan handuk kimononya.


Saat ia membuka pintu, terlihat Moranno sedang bersandar di headboard tempat tidur sambil menatap layar ponselnya.


Yurina agak ragu keluar dari kamar mandi, Moranno yang menyadarinya menatap ke arahnya.


"Mengapa kau masih berdiri disitu, kemarilah..."


"Pakaianku... aku tidak sempat membawanya kemari." Kata Yurina agak ragu.


"Aku tau.... Aku sudah menyiapkannya untukmu ," Katanya lagi sambil menyerahkan paper bag pada Yurina yang ia letakan diatas meja rias.


Yurina segera menyambarnya dan bergegas masuk ke kamar mandi kembali.


"Astaga, kalau dia sendiri yang pergi membelikan semua atribut ini, mau taruh dimana wajahku ini." Yurina berkata pada dirinya sendiri.


"Tapi... Bagaimana dia bisa tau ukuranku...?" sambil menggunakan pakaiannya satu persatu.


"Ceklek..." pintu kamar mandi kembali terbuka.


"Kau sudah selesai, duduklah disini." Moranno menggeser kursi didepan meja rias disisi tempat tidur.


Yurina hanya menurut tanpa mengeluarkan suaranya dan merasa sedikit canggung.


Moranno lalu menyisir rambut Yurina dengan perlahan - lahan dan mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambut panjangnya yang basah.


""Biarkan saya melakukannya sendiri tuan..."


"Tidak, aku saja yang melakukannya..." katanya sambil tetap meneruskan kegiatannya mengeringkan rambut isterinya. Ia tampak sangat biasa melakukannya.


"Apa kau ingat tentang yang ku katakan, bila kau salah memanggilku, aku akan memberikanmu hukuman."


"Ma... maafkan saya...." kata Yurina takut.


"Baiklah.... untuk malam ini...."


"Mulai besok kalau kau salah, aku tidak segan - segan menghukummu." Kata Moranno yang sudah menyelesaikan mengeringkan rambut isterinya sambil meletakan hairdryer ke tempatnya.


"Ba... Baik...." Kata gadis itu masih takut.


"Sekarang segera naiklah ke tempat tidur, dan beristirahatlah." Ujar Moranno.


"Apa..... disini....?"


""Iya, dimana lagi..."


Yurina tak bisa berkata lagi, ia hanya terdiam disisi tempat tidur. Kejadian bèberapa waktu lalu kembali terlintas dikepalanya, itu membuatnya masih terasa takut pada pria yang telah menjadi suaminya itu.


"Apa kau ingin aku yang pindah tidur ditempat lain?"


"Tidak.... Bukan begitu maksudku..." Kata Yurina yang terlihat gugup.


"Lalu...." Tanya Moranno sambil memandang Yurina yang terlihat bingung dan gugup.

__ADS_1


"Maksduku.... Bolehkah aku tidur di sofa itu saja." sambil menunjuk sofa yang berada di depan jendela kaca.


"Tidak boleh... "


"Ku ingatkan lagi...",


"Kau adalah isteri ku sekarang."


"Tak boleh pisah tempat tidur."


"Apa kau mengerti..." Tegas Moranno.


"I... Iya... aku mengerti..."


"Ayo, cepat naik." Kata Moranno mendesak.


Yurina langsung membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan perlahan dan hati - hati.


"Jangan terlalu dipinggir, nanti kau terjatuh...."


"Dalam tubuhmu ada anakku yang harus kau jaga baik-baik keselamatannya."


"Apa kau takut aku menerkammu?"


"Atau mungkin kau mau aku menerkammu, hmmm?"


"Ti... Tidak..." Yurina langsung menggeser tubuhnya agak ke tengah ranjang.


Moranno lalu mengambil selimut, lalu menyelimuti tubuh Yurina dengan perlahan, dan ia pun turut berbaring di samping isterinya dan ikut masuk ke dalam selimut sambil memejamkan matanya.


Yurina pun berusaha memejamkan matanya, tapi ia tetap tidak bisa tidur.


Ini adalah pengalaman pertamanya tidur satu tempat tisur dengan seorang pria. Walaupun pria disebelahnya adalah suaminya yang telah menikahinya, tetap saja membuatnya gelisah sepanjang malam.


Moranno pun yang berbaring disebelah Yurina tidak bisa tertidur pula. Ia memejamkan matanya supaya bisa terlelap namun tetap saja tidak bisa. Seperti halnya Yurina, ini pun pengalaman pertama baginya tidur satu tempat tidur dengan wanita. Ia berusaha mengatur napasnya supaya terlihat seperti sudah tertidur. Aroma mawar yang keluar dari tubuh Yurina membuat jantungnya memacu tak beraturan, menambah pikiran aneh bermunculan dikepalanya.


Menjelang pagi, akhirnya keduanya baru bisa terlelap.


***


Spontan ia membuka selimutnya untuk segera melompat turun, namun tangannya terlanggar mata Moranno yang masih tertidur pulas.


"Aakkhhh..."


"Apa yang kau lakukan." Kata Moranno sambil mengusap - usap mata kirinya yang terasa sakit.


"Ma... Maafkan aku... aku tak sengaja, aku hanya ingin cepat bersiap karena sudah terlambat." Kata Yurina menjelaskan, sambil berusaha membantu mengusap mata Moranno yang sakit karena ulahnya.


"Memangnya kau mau bersiap kemana?" Tanya Moranno ingin tahu.


"Aku... Aku mau berkerja, ibu Sari pasti mencariku karena aku sudah sangat terlambat." Kata Yurina dengan wajah khawatirnya sambil tetap membantu mengusap mata kiri Moranno


"Apa...." Wajah Moranno keheranan, lalu ia segera menyadari sesuatu.


"Apa kau sadar kita ada dimana sekarang, kita ada jauh di pinggiran kota." Moranno mulai menjelaskan.


"Bila kau ingin berangkat bekerja butuh waktu kurang lebih tiga jam perjalanan." Tambahnya lagi.


"Kalau begitu, kapan kira - kira kita kembali?" Tanya Yurina lagi.


"Masih lima hari lagi?"


"Apa....?"


"Mengapa lama sekali." Kata Yurina dengan wajah yang masih terlihat khawatir.


"Yaa... kita kan... harus istirahat..." Jawab Moranno sekenanya saja.


Gadis itu terdiam, seolah - olah memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Mengapa, ada sesuatu yang kau pikirkan?" Tanya Moranno ingin tahu.


"Bila selama itu, aku takut... takut dipecat." Jawab Yurina jujur.


"Lagi pula, aku belum meminta ijin pada ibu Sari." Kata Yurina lagi, masih dengan wajah khawatirnya.


Mendengar perkataan Yurina, Moranno ingin tertawa, namun sekuat tenaga ia menahanya.


"Mengapa kau takut sekali dipecat?" Tanya Moranno lagi ingin tahu.


"Aku... takut tidak bisa membiayai hidupku."


"Aku dan sahabatku Lisa, kami sangat sulit mendapatkan pekerjaan karena keterbatasan pendidikan kami, itu sebabnya kami harus sungguh - sungguh berkerja." Katanya dengan penuh perasaan.


Mendengar apa yang dikatakan wanita yang ada di sampingnya, Moranno yang tadinya ingin tertawa pada awalnya, kemudian merasa tersentuh hatinya.


Ia mungkin tidak pernah mengalami kesulitan ekonomi seperti yang di alami wanita yang sudah menjadi isterinya ini, tapi ia dapat turut merasakannya lewat cerita sang isteri.


Ditambah ia telah membaca laporan semua tentang isterinya itu yang ia terima dari asisten Rudi. Jadi apa yang disampaikan isterinya dapat ia pahami.


Setelah sejenak mereka saling terdiam, Moranno kembali berbicara.


"Sebenarnya.... kau telah di pecat."


"Apa.... ?"


"Dari mana tuan tahu saya di pecat?" Tanya Yurina menyelidik.


"Apa pelanggaran yang telah saya lakukan?"


"Ya, tentu saja saya tau..."


"Dan dari sumber yang terpercaya." Kata Moranno.


"Iya, tapi apa yang saya lakukan sampai saya dipecat." Suara Yurina mulai bergetar.


"Karena telah menikah denganku." Jawab Moranno sambil menatap wajah Yurina.


"Apakah menikah itu suatu pelanggaran dalam aturan perusahaan." Tanya Yurina ingin memastikan.


"Tidak." Jawab Moranno singkat.


"Lalu mengapa?" Tanya gadis itu lagi tidak


mengerti.


"Karena orang yang memecatmu adalah CEO sekaligus Pemilik Agatsa Properti Grup."


"Siapa itu CEO sekaligus Pemilik Agatsa Properti Grup, dia adalah suami mu."


"Siapa itu suamimu, dia adalah pria yang duduk disampingmu sekarang."


Moranno menjelaskan secara panjang lebar, lalu menggeser posisi duduknya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Isterinya.


"Bukankah suamimu ini sudah memperingatkanmu, bila kau tidak memanggilku dengan sebutan suamiku. Aku akan menghukummu..."


Yurina memundurkan tubuhnya dengan wajah takutnya hingga terbaring di tempat tidur.


Sehingga Moranno ada diatasnya.


"Hukumannya.... Berikan aku satu kecupan." Kata Moranno menatap wajah isterinya yang ada dibawahnya.


Krrriiiiuùuukkkk......


Perut Yurina tiba - tiba berbunyi....


"Kau lapar...." Tanya Moranno.


"Iyaa...." Jawab Yurina yang merasa suara perutnya itu membantunya.

__ADS_1


***


__ADS_2