JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 81 "Sakit sekalinya bagaimana bi?"


__ADS_3

"Mom, mulai hari ini aku akan mengunjungi beberapa anak cabang perusahaan kita. Juga mengunjungi beberapa proyek yang sedang berjalan. Yurina akan melahirkan minggu depan. Jadi aku akan mengambil cuti setelah semuanya telah aku kunjungi." Kata Moranno setelah menyelesaikan sarapan pagi mereka.


"Baiklah, mommy juga mau berangkat, sudah ada janji dengan kolega kita. Untuk kamar bayi, mommy sudah meminta bibi Nur membereskannya seperti pernintaanmu Moranno."


"Iya, terima kasih banyak mom..."


Moranno meraih tangan ibunya dan menciumnya. Sementara Yurina yang berdiri disisi Moranno menundukkan sedikit kepalanya memberi hormat. Selama ini Yurina tidak berani menyentuh mertuanya sebelum mendapat ijin dari mertuanya itu.


Ibu Moranno lalu masuk kemobilnya dan mengemudikannya seorang diri.


"Sayang, aku berangkat dulu. Kau jangan terlalu lelah ya, jaga kesehatanmu, juga para bayi kita."


"Iya, kau juga suamiku."


Moranno berjongkok dihadapan Yurina, mengusap sejenak perut Yurina yang tepat berada didepan wajahnya.


Sentuhan tangan Moranno membuat pergerakan dalam perut Yurina. Moranno tersenyum melihatnya lalu mencium perut isterinya sambil tetap mengusapnya.


"Hallo para babby daddy, kalian harus jadi anak yang baik dan pintar ya hari ini. Jangan nakal, temani mommy kalian. Daddy akan berkerja dulu."


Bayi - bayi didalam perut Yurina terus bergerak seolah memberi respon pada ayahnya.


Moranno kembali mencuim perut Yurina sebelum dia kembali berdiri.


Yurina hanya tersenyum menyaksikan apa yang dilakukan Moranno.


"Sayang, tadi malam, aku ada menuliskan sesuatu buatmu dan bayi - bayi kita. Aku menaruhnya dimeja kaca dekat vas bunga di kamar tidur kita. Kau boleh membukanya saat mereka lahir."


" Apa yang kau tulis suamiku....?" Tanya Yurina penasaran.


"Rahasia...." Sahutnya sambil mencium pipi isterinya.


"Baiklah, aku akan membukanya saat bayi - bayi kita lahir."


"Kau memang isteri yang patuh, penurut, baik, pintar... Aku mencintaimu sayang." Ucap Moranno, lalu memberi pelukan pada Yurina, Yurina pun membalas pelukkan hangat suaminya itu.


"Baiklah, aku berangkat dulu sayang." Moranno melepaskan pelukan mereka lalu memberi kecupan hangat dikening Yurina.


Pak Kasan membuka pintu mobil, dan mempersilahkan Moranno untuk masuk lalu menutupnya kembali.


Pak Kasan memberi hormat pada Yurina dan dibalas dengan isyarat anggukkan kepala oleh Yurina.


Setelah duduk dibelakang kemudi, pak Kasan mulai menjalankan mobil yang ia kemudikan dengan perlahan.


Yurina masih berdiri ditempatnya hingga mobil yang ditumpangi suaminya itu sudah tak terlihat. Security menutup kembali pagar dengan rapat.

__ADS_1


Yurina berjalan - jalan sejenak menikmati suasana pagi ditaman, aroma beraneka ragam bunga ditaman membuatnya merasa lebih rileks.


Bibi Asri nampak sibuk menyiram tanaman bunga. Tugas itu dilakukannya dengan setia setiap pagi dan sore. Yurina duduk sejenak dikursi taman untuk beristirahat sambil menikmati suasana pagi yang cerah.


Setelah beberapa menit, Yurina kembali berjalan menyusuri kebun sayur yang nampak subur menghijau.


Nampak bibi Sun dan bibi Salu sedang memetik sayuran dengan keranjang ditangan kiri mereka.


Dari kejauhan, nampak beberapa pelayan sedang membersihkan dan menguras kolam renang yang biasa digunakan Moranno berolah raga renang.


Setelah dirasa cukup berjalan - jalan pagi dan menghirup udara segar, Yurina kembali memasuki rumah besar itu. Ia menggunakan lift menuju lantai dua dimana kamarnya berada.


Sebelum memasuki kamarnya, Yurina melihat pintu kamar disebelah kamar tidur mereka yang biasanya tertutup kini terbuka lebar.


Yurina melangkahkan kakinya mendekati pintu yang terbuka lebar.


"Bibi Nur, kau disini?" Kata Yurina saat melihat bibi Nur yang berada didalam.


"Iya nyonya muda. Saya diminta nyonya besar untuk merapikan kamar ini. Tuan Moranno ingin disini kamar bayi - bayi nya nanti saat mereka telah lahir. Tuan ingin kamar para bayinya berdekatan dengan kamar tidur tuan dan nyonya muda, itu sebabnya nyonya besar meminta saya mempersiapkan kamar ini nyonya muda." Jelas bibi Nur.


"Oh begitu.... Terima kasih banyak ya bibi Nur..."


"Iya nyonya muda...."


"Bibi...." Yurina mendudukkan dirinya pada kursi sofa yang ada didalam kamar bayi tersebut.


"Duduklah disini sebentar. Aku ingin bertanya sesuatu." Kata Yurina sambil memberi isyarat dengan tangannya.


"Iya nyonya muda, apa yang ingin anda tanyakan?" Sahut bibi Nur sambil mendekat dan duduk disofa berdekatan dengan Yurina.


"Bibi pernah melahirkan, mungkin bibi masih ingat bagaimana rasanya saat melahirkan. Apakah sangat sakit bibi?" Tanya Yurina dengan wajah serius.


" Iya nyonya muda sangat sakit sekali." Sahut bibi Nur dengan wajah ikut serius.


"Sakit sekalinya bagaimana bi?" Ucap Yurina dengan wajah bertambah serius.


"Iya sangat sakit, tidak bisa diungkapkan rasanya pada saat itu nyonya muda."


Yurina terdiam sejenak, wajahnya nampak takut mendengar ucapan bibi Nur. Terbayang dikepalanya saat masa - masa kesakitan itu menimpa dirinya, Yurina cepat - cepat membuang rasa takutnya. Ia mengambil napas berulang - ulang untuk menenangkan dirinya dari rasa takutnya itu


"Nyonya muda.... Nyonya muda... Apakah anda baik - baik saja?" Tanya bibi Nur nampak khawatir.


"Iya bibi Nur, saya.... Saya baik - baik saja." Yurina segera terjaga dari pikirannya.


"Lalu bagaimana cara mengatasi rasa sakit itu bibi?"

__ADS_1


"Rasa sakit itu tidak bisa diatasi nyonya muda, ia akan hilang bila nyonya muda sudah melahirkan bayi - bayi nyonya."


Bagaimana kita bisa tahu kapan kita benar - benar akan melahirkan bi?"


"Menurut dokter, kapan nyonya muda akan melahirkan?" Bibi Nur balik bertanya.


"Menurut dokter Rosalie empat belas hari lagi. Bisa lebih, dan bisa juga kurang dari empat belas hari. itu bisa karena faktor ibu hamil yang lelah, bisa juga karena faktor lainnya. Itu kata dokter saat kami kesana. Bila hari ini, berarti sudah tinggal sembilan hari lagi bi." Jelas Yurina.


"Kalau dari keterangan itu berarti nyonya harus rileks, jangan stress dan tetap bahagia. Melahirkan memang sakit nyonya. Kata bidan dikampung saya waktu saya melahirkan putra saya, jangan pokus pada rasa sakitnya tapi pokuslah pada kebahagiaan saat bayi saya bisa lahir dengan selamat. Nah, dengan berpikir seperti itu, kita pasti semangat dan mampu melewati semua prosesnya nyonya muda."


"Iya bibi, sepertinya perkataan bibi itu benar. Ceritakan padaku bi, bagaimana proses yang bibi Nur alami, supaya aku mengerti dan tidak menduga - duga saja. Jadi aku bisa siap menghadapinya." Pinta Yurina, masih memandang kearah bibi Nur dengan wajah seriusnya.


"Awalnya perut terasa mules nyonya muda. Mulesnya bukan karena ingin buang air besar."


"Akhir - akhir ini saya terkadang merasa mules dimalam hari bi, tapi saat ke toilet tidak ingin buang air besar. Setelah itu mulesnya hilang, tidak muncul - muncul lagi."


"Nah, itu salah satu tandanya nyonya muda, tapi itu sepertinya masih lama. Bila mulesnya hanya berjarak jam, itu tandanya sudah mulai mendekat." Ucap bibi Nur sambil mengingat pengalamannya.


"Biasanya bila mulesnya berjarak dua jam, nanti akan menjadi satu jam, setengah jam, persepuluh menit, permenit, hingga perdetik, nah saat itulah waktunya bersalin nyonya muda."


" Selain itu, bila kita melahirkannya dirumah sakit atau di tempat bidan, nanti ada perawat, atau bidan, atau dokter yang akan memeriksa kapan kita benar - benar akan melahirkan nyonya muda."


"Apakah mendiang suami bibi dulu menemani bibi juga diruang bersalin?"


"Iya nyonya muda, dia selalu didekat saya, mengusap - usap perut saya saat terjadi kontraksi. Juga menghibur dan memberi kata - kata semangat pada saya. Bahkan dia melihat saat anak saya lahir."


Yurina memperhatikan setiap penuturan bibi Nur dengan penuh minat.


" Tuan Moranno juga berjanji akan menemani saya bi." Kata Yurina.


" Saya percaya itu nyonya muda. Sangat terlihat, bila tuan Moranno sangat menyayangi dan mencintai nyonya muda. Jadi nyonya muda tidak perlu khawatir. Nyonya pasti akan melahirkan dengan selamat juga kelahiran bayi - bayi nyonya dan tuan akan membawa kebahagian dirumah ini, dikeluarga Agatsa." Ucap bibi Nur sambil tersenyum lebar memandang Yurina.


"Terima kasih bibi untuk doanya. Terima kasih juga sudah berbagi pengalaman denganku. Aku sedikit lega mendengar cerita bibi. Jujur, aku memang merasa takut menghadapi proses persalinan nanti bi." Ucap Yurina berusaha tersenyum.


"Iya, saya sangat memahami apa yang nyonya muda rasakan. Dulu juga saya takut menghadapi proses lahiran anak saya, tapi saat mendengar apa yang dikatakan bidan, jangan pokus pada sakitnya, tapi pokuslah pada kebahagiaan saat anak kita hadir dalam keluarga kita, ditambah mendiang suami yang menemani saya selama proses lahiran, membuat saya semangat dan sanggup melewatinya nyonya muda.


" Iya bibi, saya juga akan mengingat apa yang telah bibi sampaikan hari ini. Saya yakin, saya pasti bisa." Ucap Yurina yakin.


"Iya nyonya muda, nyonya pasti bisa." Bibi Nur turut meyakinkan dan memberi semangat.


"Baiklah bi, saya kekamar dulu. Bibi silahkan melanjutkan pekerjaan bbi."


"Iya nyonya muda. Apakah perlu saya antar kekamar?"


"Tidak bi. Terima kasih."

__ADS_1


Yurina lalu bangkit dari duduknya, ia melangkah keluar dari ruangan kamar bayi.


Bibi Nur memperhatikan Yurina yang berjalan keluar sambil meliuk - meliuk karena berat badannya hingga menghilang dibalik pintu yang terbuka lebar.


__ADS_2