
Suasana didepan rumah sakit Agatsa Hospital, nampak sangat ramai. Belasan polisi sedang mengamankan area rumah sakit. Puluhan wartawan media sedang meliput berita.
Mobil yang dikemudikan pak Karso agak tersendat - sendat saat memasuki area rumah sakit. Beberapa wartawan media yang menyadari akan plat nomor milik keluarga Agatsa segera mengerumuni mobil yang ditumpangi Yurina.
"Nyonya.... Nyonya muda... tolong buka pintunya..."Seru beberapa wartawan sambil menggedor - gedor pintu dan kaca mobil.
"Mohon maaf teman - teman media, biarkan mobilnya lewat dahulu. Beri waktu dulu pada keluarga Agatsa untuk menangani keadaan darurat mereka." Jelas seorang polisi. Wartawan media yang mendengar himbauan polisi tersebut segera memberi jalan.
Mobil mewah keluarga Agatsa itu lalu kembali bergerak perlahan memasuki area parkir rumah sakit Agatsa Hospital.
Dokter Rosalie yang melihat dan juga mengenali plat nomor keluarga Agatsa mendekati asisten Rudi.
Dari mobil yang telah terparkir rapi diparkiran khusus milik keluarga Agatsa, pak Karso keluar untuk membukakan pintu mobil bagi majikannya.
"Pak Karso, mengapa anda membawa nyonya muda kemari? Ini sangat tidak baik untuk kesehatannya. Nyonya muda tinggal menunggu hari untuk melahirkan." Ucap dokter Rosalie pelan dan terlihat khawatir.
"Maafkan saya dokter. Para pelayan sudah memperingatkan nyonya muda untuk tidak kemari. Namun nyonya muda tak berhenti menangis, ia memaksa untuk melihat sendiri keadaan tuan Moranno. Itu sebabnya saya terpaksa membawa nyonya muda kemari." Jelas pak Karso tak kalah pelan.
"Baiklah kalian semua harus siaga akan kemungkinan - kemungkinan yang bisa saja terjadi saat nyonya muda melihat keadaan tuan Moranno yang sebenarnya." Jelas dokter Rosalie memandang kearah pak Karso dan juga asisten Rudi dan pengawal yang menyertainya.
Pak Karso segera membuka pintu mobil dan mempersilahkan Yurina keluar. Mata Yurina terlihat sembab. Tapi ia tidak memperdulikannya.
Asisten Rudi yang telah menunggu sedari tadi dirumah sakit dengan beberapa pengawal khusus memberi hormat saat Yurina turun dari mobilnya.
"Nyonya muda...." Sapa asisten Rudi dengan sikap hormatnya.
"Antarkan aku ketempat suamiku dirawat." Kata Yurina berusaha mengendalikan dirinya.
"Baik nyonya muda."
Pak Karso segera menurunkan kursi roda dari bagasi mobil. Yurina lalu didorong oleh beberapa pengawal dengan bibi Nur melangkah disisinya.
"Percepatlah mendorong kursi rodaku." Ujar Yurina tak sabar.
"Baik nyonya muda." Dua pengawal yang mendorong kursi roda Yurina mempercepat langkah mereka.
Yurina kembali menangis, hatinya begitu khawatir memikirkan keadaan suaminya.
Beberapa pengawal yang mendorong kursi rodanya, dan yang menyertainya, juga bibi Nur, Pak Karso dan asisten Rudi, hanya melangkah dalam diam mendengar tangisan majikan mereka.
Seorangpun tak berani mengeluarkan satu patah katapun. Mereka sangat memahami apa yang dirasakan sang majikan. Masing- masing dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
Sesampainya didepan ruang tindakan, Yurina memaksa masuk.
"Buka pintunya, biarkan aku masuk menemui suamiku."
"Maafkan kami nyonya, siapapun dilarang masuk saat para dokter dan perawat sedang melakukan tindakan pada tuan Moranno." Jelas dua pengawal yang ditugaskan asisten Rudi menjaga ruang tindakan Moranno.
"Tapi aku isterinya, aku harus selalu menemaninya." Yurina tetap bersikeras.
"Tapi dokter sudah berpesan demikian nyonya, maafkan kami." Dua pengawal penjaga itu tetap mematuhi pesan dokter.
Sementara Yurina masih berdebat untuk bisa masuk dengan pengawal jaga khusus Moranno. Ruang tindakan yang bersebelahan dengan ruang tindakan Moranno terbuka lebar.
Seorang dokter yang mengenakan baju dinasnya keluar dan memandang kearah Yurina dan semua yang hadir didekat ruang tindakan Moranno.
"Keluarga Pak Kasan??" Tanya dokter tersebut.
"Masih menuju kemari dokter. Saya asisten Rudi, dengan saya saja dokter."Sahut asisten Rudi cepat, dan segera menghampiri dokter tersebut.
"Maafkan kami asisten Rudi, Pak Kasan, supir tuan Moranno tidak tertolong, kami sudah berusaha semampu kami." Ucap sang dokter.
"Innalilahi waa innarojiuuuunnnn." Kata asisten Rudi dan para pengawal yang ada disana bersamaan.
"Tidaaaakkk... ituuuu tidaaakkk mungkin terjadi...!!."Suara teriakan dan tangisan seorang wanita dan seorang anak laki - laki tiba - tiba meledak dibelakang mereka.
Bibi Nur segera memeluk wanita itu dan anak laki - lakinya yang ternyata adalah isteri dan anak dari pak Kasan yang baru saja tiba.
"Yang sabar ya bu, yang ikhlas...."Ucap bibi Nur turut menangis.
Yurina perlahan bangkit dari kursi rodanya. Perasaannya yang sudah teramat khawatir pada Moranno membuat ia menangis sejadi - jadinya dan turut memeluk isteri pak Kasan dan anak laki - lakinya dari belakang.
Beberapa saat lamanya mereka larut dalam tangisan pilu. Hingga akhirnya para perawat membawa keluar kereta pasien.
Isteri pak Kasan mendekati kereta pasien, dimana suaminya terbaring kaku. Perlahan dibukanya penutup wajah suaminya. Wajah pak Kasan terlihat pucat dan masih ada noda darah disana.
Isteri pak Kasan memeluk tubuh kaku suaminya sambil menangis, demikian pula anak laki - lakinya.
Yurina yang melihatnya kembali tak bisa menahan rasa sedihnya, kembali ia memeluk isteri dan anak pak Kasan dari belakang dan turut menangis bersama ibu dan anak itu.
"Nyonya muda, ibu Mira dan nak Raffi, kami mohon maaf. Kami harus segera membawa jenazah pak Kasan untuk dimandikan." Ucap salah satu perawat.
"Iqhtifar bu Mira, kita harus sabar dan ikhlas menerima semuanya ini. Supaya pak Kasan dapat beristirahat dengan tenang." Hibur bibi Nur yang tak kalah sedih.
__ADS_1
Walau terasa sangat berat, ibu Mira akhirnya mau melepaskan pelukannya dari tubuh pak Kasan, demikian pula dengan putranya.
Perawat menutup kembali wajah pak Kasan dengan kain putih dan segera mendorong kereta menuju ruang pemandian jenazah.
Ibu Mira dan Raffi bergegas mengikuti para perawat dari belakang.
Ruang tindakan Moranno tiba - tiba terbuka, seorang dokter keluar.
"Dokter, bagaimana suami saya." Tanya Yurina dengan perasaan tegang bercampur khawatir yang teramat sangat.
"Nyonya muda... Tuan Moranno masih dalam masa kritis, bisa saja terjadi hal - hal diluar dugaan kita, mari kita sama - sama berdoa, semoga keajaiban bisa terjadi. Kami membutuhkan persetujuan nyonya besar, atau nyonya muda untuk menandatangani berkas persetujuan operasi. Operasi ini harus dengan segera dilakukan, tidak bisa menunggu lama."
"Lakukan apa saja yang terbaik buat suami saya dok, yang penting suami saya dapat terselamatkan. Saya yang akan menandatanganinya." Ucap Yurina bergetar menahan tangisnya.
"Baik, terima kasih nyonya muda. Memang tugas kami untuk melakukan yang terbaik bagi pasien kami." Dokter itu memberi hormat pada Yurina dan kembali masuk keruang tindakan dan menutupnya dengan rapat.
Yurina sudah tak sanggup berkata - kata lagi. Kepalanya kembali berdenyut. Tubuhnya melemas. Perutnya terasa sangat sakit karena banyak menangis. Sebelum ia sempat terjatuh, para pengawal sudah menangkapnya.
"Nyonya muda, anda baik - baik saja?" Ucap asisten Rudi nampak khawatir.
"Perutku.... Perutku sakit sekali...." Rintih Yurina sambil memegang perutnya yang terasa sakit.
"Cepat, panggil dokter Rosalie." Perintah dokter yang menangani pak Kasan.
"Ambilkan minum untuk nyonya muda." Perintah sang dokter lagi sambil membantu Yurina duduk kembali dikursi rodanya.
Bibi Nur segera memberikan sebotol air mineral pada Yurina, yang ia bawa dari rumah.
Yurina segera meminumnya.
"Bagaimana perasaan nyonya muda sekarang?" Tanya sang dokter lagi.
"Kepalaku agak mendingan, tapi perutku masih terasa sakit dok." Sahut Yurina dan masih memegang perutnya.
"Bawa nyonya muda keruang pemeriksaan."
Dua pengawal bergegas mendorong kursi roda mengikuti dokter menuju ruang pemeriksaan diikuti bibi Nur, asisten Rudi, dan pak Karso.
Tak lama dokter Rosalie tiba. Dengan cepat pemeriksaan terhadap Yurina dilakukan.
"Nyonya muda, sudah terjadi konstraksi pada kandungan anda. Bayi - bayi ini bisa saja lahir sebelum waktu yang pernah saya sebutkan dulu. Ini terjadi karena nyonya muda mengalami stres. Nyonya muda, usahakanlah diri anda untuk mengendalikan diri. Percayakan pada dokter yang menangani Tuan Moranno. Dan yang terpenting kita banyak berdoa buat tuan Moranno, supaya ia bisa melewati masa kritisnya."
__ADS_1
"Ingat nyonya muda, kesehatan anda sangat menentukan kelancaran persalinan anda nantinya. Pikirkanlah bayi yang ada dalam kandungan anda nyonya muda, saya mohon." Ucap dokter Rosalie berusaha menasehati.