
Sesuai janji, pagi itu Yurina dan nyonya Agatsa berangkat menuju rumah sakit Agatsa Hospital.
Beberapa rangkaian test kesehatan dijalani Yurina hingga menjelang siang. Yurina melakukan semua yang diperintahkan dokter yang bertugas melakukan pemeriksaan test keaehatan pada dirinya.
"Bagaimana dokter..... Apa semua yang saya minta sudah dilakukan?" Kata nyonya Agatsa, saat mereka sudah duduk bersama didepan meja dokter.
"Sudah nyonya besar. Sesuai permintaan anda, saya sudah menyelesaikannya. Hasilnya sudah dapat anda terima tiga hari lagi dari sekarang nyonya besar." Jelas sang dokter.
"Terima kasih banyak dokter. Kalau begitu kami permisi dulu." Ucap nyonya Agatsa segera berdiri diikuti Yurina yang duduk didekatnya.
"Sama - sama nyonya besar......" Sang dokter pun ikut berdiri dan membungkuk hormat.
Yurina duduk disamping nyonya Agatsa yang sedang menyetir mobilnya. Keheningan begitu terasa, Yurina nampak begitu tegang. Ini kali pertama ia berpergian dengan nyonya Agatsa dan semobil dengan ibu mertuanya itu.
Sementara nyonya Agatsa yang menyetir disebelahnya terlihat tenang dan pokus pada jalan didepannya.
Saat puncak - puncak mansion mereka terlihat dari kejauhan, barulah hati Yurina merasa sedikit lega. Mobil yang mereka kendarai kini memasuki area mansion mewah itu dan berhenti di halamannya.
Bibi Nani tergopoh - gopoh datang menghampiri keduanya.
"Selamat siang nyonya besar dan nyonya muda." Sapa bibi Nani sambil membungkuk hormat saat kedua majikannya itu baru turun dari mobil.
"Selamat siang juga bibi....." Sahut keduanya bersamaan.
"Makan siang sudah siap nyonya besar.... dan nyonya muda..... Tuan Moranno dan nona Margareth sedang menunggu dimeja makan." Jelas bibi Nani.
"Iya bibi, kami akan segera kesana." Sahut nyonya Agatsa.
Bibi Nur lalu membawa tas nyonya Agatsa yang dijinjingnya.
"Tidak usah bibi, biarkan saya sendiri yang membawa tas saya, ini tidak berat." Kata Yurina menolak saat bibi Nur akan membawa tas tangan yang dibawanya.
Nyonya Agatsa menoleh kearah Yurina saat mendengar menantunya berkata demikian. Hanya dengan isyarat matanya, Yurina langsung merasa gugup.
"Baiklah bibi...." Yurina lalu menyerahkan tas tangannya pada bibi Nani lalu mengikuti langkah ibu mertuanya itu dari belakang.
__ADS_1
"Sayang..... Kau baru tiba.... lama sekali......" Ucap Moranno saat Yurina diduduk disisinya.
"Namanya juga banyak yang ditest..... Ya tentu lama..... Mommy pasti mengembalikan isterimu dengan selamat." Ucap nyonya Agatsa datar sambil duduk dikursinya.
"Memangnya test kesehatan apa saja yang dilakukan isteriku itu mom..... kok selama itu?" Tanya Moranno heran.
Nyonya Agatsa dan Margareth saling berpandangan sejenak membuat Moranno merasa ada keganjilan.
"Test kesehatan seperti yang biasa kita lakukan. Mommy hanya ingin isterimu juga mulai sekarang melakukannya sama seperti kita. Supaya bila ada sedikit saja penyakit yang menyerangnya, bisa dengan cepat ditangani." Jelas nyonya Agatsa.
"Tapi itukan hanya membutuhkan waktu dua jam saja mom..... sedangkani mommy dan Yurina sudah menghabiskan waktu lebih dari empat jam." Sahut Moranno yang merasakan ada sesuatu yang disembunyikan ibunya itu.
"Sudahlah Moranno..... Mommy tidak akan melakukan yang tidak baik pada isterimu..... Semuanya untuk kebaikan Yurina..... Kau tidak perlu curiga kalau mommy akan melakukan hal yang tidak baik padanya." Kata nyonya Agatsa yang mulai tak nyaman pada pertanyaan Moranno yang seolah menyudutkannya.
"Bukan itu maksudku mommy..... Aku hanya ingin tau test yang dilakukan isteriku dalam durasi waktu yang selama itu?" Moranno berusaha menjelaskan supaya ibunya tidak salah faham pada apa yang ia tanyakan.
Yurina menggenggam tangan Moranno yang duduk disinya menggunakan kursi roda, mengisyaratkan pada suaminya itu untuk menyudahi pertanyaannya.
"Suamiku..... Aku lapar......."Kata Yurina menatap wajah Moranno yang masih mau mengajukan pertanyaannya pada nyonya Agatsa.
"Ayo kita makan..... Mommy juga sangat lapar." Ucap nyonga Agatsa seraya mengambil beberapa menu makanan yang telah tersaji diatas meja masuk ke dalam piringnnya.
Yurina juga lalu mengambil beberapa menu makanan diatas meja dan memasukannya kedalam piring Moranno.
"Apakah kau mau aku menyuapimu?" Tanya Yurina sambil memegang piring Moranno ditangannya.
"Aku sudah bisa sendiri sayang, pelan - pelan.... Kau makanlah, bukankah kau juga lapar, hmmm....." Sahut Moranno sambil mengambil piring ditangan Yurina dan meletakkannya dihadapannya.
Yurina hanya tersenyum, lalu meraih piring kosong dihadapannya dan memasukkan beberapa menu makanan dari atas meja kedalam piringnya.
Seperti biasanya, suasana makan siang keluarga Agatsa terasa tenang dan senyap, hanya suara dentingan sendok dan garpu juga pisau pemotong daging yang terdengar dimeja makan.
Masing - masing sibuk pada piringnya, hanya Yurina yang sesekali menambah menu untuk suaminya itu.
"Cukup sayang, aku sudah cukup kenyang." Tolak Moranno saat Yurina menambah lagi beberapa menu makanan dipiringnya.
__ADS_1
"Ini sedikit saja, kau harus menghabiskannya suamiku, supaya kondisi tubuhmu cepat pulih....." Kata Yurina membujuk suaminya itu.
"Iya sayang.... Tapi kan....." Moranno berusaha untuk menolak karena ia merasa tidak sanggup melanjutkan untuk menghabiskan makanannya.
"Ayo makan saja yang pelan, aku akan menyuapimu suamiku....." Yurina masih memaksa.
Margareth berusaha menahan senyumnya melihat wajah Moranno yang nampak terpaksa membuka mulutnya dan mengunyah dengan malas.
Sementara nyonya Agatsa masih dengan wajah datarnya meneruskan makan siangnya yang belum selesai, berusaha tidak terganggu akan apa yang dilakukan Yurina dan putranya itu.
Setelah beberapa menit berlalu, Moranno akhirnya berhasil menghabiskan isi piringnya.
Yurina lalu memberikan gelas jus pada Moranno lalu segera dihabiskannya.
"Sayang, kau boleh melihat bayi - bayi kita lebih dulu.... Aku masih ingin berbincang dengan mommy dan Margareth. Nanti Margareth yang akan mengantarkanku." Kata Moranno, setelah Yurina membersihkan sisa - sisa makanan pada sudut - sudut bibirnya menggunakan tissue.
"Baiklah.... Aku duluan ya suamiku....." Kata Yurina pada suaminya itu.
"Tunggu sebentar kakak ipar....."Panggil Margareth yang baru saja menyelesaikan makan siangnya.
Yurina kembali duduk sejenak sambil memandang kearah Margareth yang memanggilnya.
"Kakak Moranno sudah sembuh, hanya tinggal pemulihan saja. Sepertinya, untuk beberpa hari kedepan aku akan kembali ke kota dimana aku berkerja. Aku sudah meninggalkan pekerjaanku beberapa bulan ini. Dokter yang menggantikan aku agak kesulitan karena banyaknya pasien yang dirawat yang harus ia tangani sendiri. Aku mohon diijinkan....." Ucap Margareth meminta ijin pada mereka semua yang ada dimeja makan itu.
"Adik ipar, aku pribadi sangat berterima kasih padamu. Kehadiranmu disini sangat membantu, khusunya kesembuhan suamiku. Harapanku..... Semoga apa yang kau lakukan dalam tugasmu sebagai dokter disana juga dapat membantu dan meringankan beban para pasien." Ucap Yurina pada adik iparnya itu.
"Iya Kakak ipar.... Terima kasih juga untuk doa dan harapan kakak ipar untukku." Ucapnya membalas senyuman Yurina.
Sementara Moranno dan nyonya Agatsa tak mengeluarkan sepatah katapun saat mendengar percakapan Yurina dan Margarerh.
"Baiklah saya permisi dulu adik ipar.... nyonya besar....." Kata Yurina sambil membungkuk hormat.
Ketiganya memandang Yurina yang pergi meninggalkan meja makan dengan langkah tenangnya.
***
__ADS_1