
"Aduh.....! kau suka sekali mencubitku....sayang." Wajah Morano meringis, cubitan Yurina serasa perih dilengannya.
"Ini tempat umum suamiku, suaramu tidak perlu sekeras tadi, bagaimana kalau ada orang yang mendengarnya....?" Ucap Yurina setengah berbisik sambil menggandeng lengan Moranno yang baru dicubitnya, keduanya menuju pintu keluar.
"Tuan Moranno..... Selamat malam...." Sapa seorang pria berjas hitam bersama seorang wanita disebelahnya sambil membungkuk hormat, saat berpapasan didekat pintu masuk.
"Selamat malam tuan Marison dan nyonya Marison...." Moranno turut menyapa dan membungkuk hormat diikuti Yurina disebelahnya.
"Anda sudah akan pulang tuan Moranno....?" Tanyanya sambil mengulas senyum diikuti isterinya.
"Iya tuan Morison..... Saya permisi dulu bersama isteri saya." Sahut Moranno seraya berpamitan sambil tersenyum pula bersama Yurina isterinya.
"Baiklah..... kalau begitu tuan....." Tuan Marison kembali membungkuk hormat bersama isterinya begitu pula dengan Moranno dan Yurina sebelum mereka berlalu meninggalkan tempat itu.
Moranno dan Yurina menuju mobil yang terpakir tidak jauh dari lobby hotel. Beberapa pelayan hotel yang melihat mereka pun membungkuk hormat.
"Suamiku..... Sepertinya kau mengenali suami Lisa yang seorang dokter itu?" Ucap Yurina sambil memasang sabuk pengamannya.
"Apakah terlihat seperti itu?" Tanya Moranno sambil menghidupkan mesin mobilnya lalu menjalankannya perlahan menuju pos jaga security.
"Iya..... aku melihatnya begitu. Lagi pula aku melihat sepertinya dokter Rosalie juga mengenal suami Lisa itu. Sampai - sampai ia terlihat khawatir, kalau - kalau kau berbuat sesuatu yang bisa mempermalukan suami Lisa. Tadi kudengar dokter Rosalie menyebutnya Randiasa, tanpa embel - embel dokter didepan namanya, sepertinya dokter Rosalie sangat mengenalnya." Ucap Yurina menatap sejenak kearah Moranno yang sedang mengemudi, lalu mengalihkan pandangannya kedepan menatap jalan yang nampak begitu ramai.
Bunyi klakson mobil dan sepeda motor yang sedang berlalu lintas dijalan raya itu terdengar saling bersahut - sahutan.
"Dokter Randiasa, suami Lisa sahabatmu itu..... dia adalah sahabat dokter Rosalie..... dan aku juga mengenalnya....." Ucap Moranno membuka mulutnya setelah ia berdiam diri sesaat lamanya.
Yurina yang mendengarnya hanya mengangguk - anggukkan kepalanya sambil tetap menatap lurus kedepan, memandang banyaknya sorot lampu kendaraan yang terkadang membuatnya silau saat menimpa retina matanya dari arah yang berlawanan.
"Dokter Randiasa itu.... dia sebenarnya sahabat Margareth juga..... dia..... pernah menjadi pria dimasa lalu Margareth." Yurina terperangah mendengar ucapan Moranno, ia menatap suaminya yang memegang kemudi dengan tetap pokus pada jalan didepannya.
"Memang ada beberapa alasan yang membuat Margareth pergi dari rumah untuk belajar mandiri waktu itu...." Ucap Moranno sambil menyetir.
"Dokter Randiasa, dia adalah salah satu alasan mengapa Margareth meninggalkan rumah dan kami keluarganya. Margareth ingin menunjukkan bahwa pilihannya untuk menikah dengan dokter Randiasa itu adalah pilihan yang paling tepat pada mommy....." Moranno kembali menjedah ucapannya sambil mengambil napas dalam dan kembali membuangnya dengan sedikit kasar.
__ADS_1
Yurina kembali menatap wajah Moranno, ia dapat melihat suaminya itu menyimpan kekesalan.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya....." Yurina bertanya hati - hati, ia masih menatap Moranno yang berkonsentrasi pada jalan didepannya.
"Hubungan mereka kandas ditengah jalan....." Ungkap Moranno singkat. Yurina sudah tidak berani bertanya lagi, ia menatap lalu - lintas didepannya yang penuh sesak dengan kendararaan - kedaraan yang begitu padat.
"Sejak awal, mommy memang tidak menyetujui hubungan mereka. Sama seperti hubungan kita sayang." Moranno melirik wajah Yurina sekilas yang juga sedang memandangnya lalu kembali menatap kedepan.
"Margareth sangat serius dengan hubungan mereka, sehingga ia siap meninggalkan segalanya, tapi.... Randiasa..... dia menyerah..... itu membuat Margareth sangat malu, dan tidak pernah mau kembali kerumah hingga kau menjemputnya." Lanjut Moranno. Tanggannya begitu kuat mencengkram setir kemudi. Yurina dapat melihat hal itu, namun ia hanya berdiam diri ditempat duduknya sambil sedikit menahan napasnya. Mungkin saja Moranno ikut merasa sakit akan nasib yang menimpa adiknya pada saat itu, pikir Yurina.
"Dokter Randiasa memilih untuk menyerah, pasti ada alasannya suamiku...." Ucap Yurina berusaha untuk tidak menyinggung perasaan suaminya itu.
"Iya, kau benar sayang..... sebenarnya, dokter Randiasa adalah pria yang baik...." Dari ucapan Moranno,Yurina bisa disimpulkan bahwa suaminya itu tetap berpikir positip tentang suami sahabatnya itu.
"Sayang...... Aku sungguh sangat bersyukur, memiliki isteri seperti dirimu." Tangan kiri Moranno meraih tangan Yurina yang ada dipangkuannya lalu menciumnya lembut. Yurina dapat merasakan hangatnya napas Moranno yang menyapu punggung tangannya.
"Mommy telah memperlakukanmu dengan sangat keras selama tahun awal pernikahan kita, aku takut kau tidak bisa bertahan..... Seperti Randiasa....." Moranno mengusap punggung tangan Yurina dipangkuannya, sementara tangan kanannya tetap memegang setir kemudi dan tetap pokus dengan jalan didepannya.
"Sampai akhirnya, mommy bisa menerimamu sebagai menantunya. Selama itu, ternyata kau bisa menjaga hatimu untuk bisa bertahan bersamaku....." Moranno menatap wajah Yurina sejenak, lalu kembali menatap jalan didepannya.
Moranno membunyikan klakson saat mobilnya sudah tiba didepan pagar rumah.
Security membukakan pagar, lalu membungkuk hormat saat mobil Moranno melintas dengan lambat didepan petugas jaga itu.
"Aku, mencintaimu sayang.... dengan segenap hatiku, jiwaku.... bahkan dengan semua yang ada padaku...." Ucap Moranno menatap lekat wajah Yurina yang mematung, sesaat setelah ia memarkirkan mobilnya didalam garasi.
Darah Yurina berdesir mendengar ucapan Moranno. Pria yang duduk disampingnya itu mencondongkan wajahnya hingga hidung keduanya saling bersentuhan.
Yurina menggerak - gerakkan tangan kanannya yang terasa kesemutan dipangkuan Moranno, karena lama tertekan dibawah tangan kiri suaminya itu.
Moranno yang merasakan sesuatu telah bereaksi akibat pergerakan tangan Yurina membuat napasnya sedikit memburu dan terasa panas menyapu wajah Yurina.
"Suamiku..... kita masih dimobil....." Yurina mengingatkan, sikap Moranno membuat dirinya mengerti apa yang diinginkan suaminya itu.
__ADS_1
"Butuh waktu lama bila kita harus naik keatas sayang...." Moranno segera memberikan sentuhannya yang masih terasa lembut dibibir pink Yurina.
"Nanti ada yang melihat kita disini bagaimana?" Yurina masih berusaha menahan tubuh Moranno yang mau merapat padanya.
"Remasan tanganmu membuatku tidak tahan menunggu lama, walau hanya naik kelantai atas sana sayang...." Suara Moranno terdengar seperti erangan.
Untuk sesaat, Yurina tidak memahami apa yang dikatakan Moranno, detik selanjutnya ia langsung menarik paksa tangan kanannya.
"Maafkan aku suamiku..... Tanganku tadi kesemutan..... aku tidak sengaja....." Ucap Yurina sambil memperbaiki posisi duduknya menatap wajah Moranno yang terlihat berkabut menahan sesuatu.
"Ayo, cepat kita kembali kekamar..... ini sudah larut malam, nanti bagaimana bila ada bibi Nani yang patroli memeriksa sekeliling rumah dan melihat adegan tidak senonoh disini...." Ucap Yurina membuka sabuk pengaman dirinya, lalu segera membantu membuka sabuk pengaman Moranno.
Moranno hanya berdiam diri ditempat duduknya, wajah tampannya terlihat sedikit kusut.
"Suamiku.... ayo....!!" Yurina memaksa Moranno untuk membuka pintu mobilnya. Dengan terpaksa Moranno menekan remote lalu keluar dari mobil dan bergegas keluar dari pintu disebelahnya dan membukakan pintu mobil untuk isterinya.Wajah Moranno nampak tak enak dipandang mata. Yurina mengerti suaminya itu sedang ngambek padanya.
Yurina segera menarik tangan Moranno meninggalkan garasi menuju pintu masuk. Suaminya itu hanya menurut, tidak membantah. Sepanjang perjalanan menuju kamar, keduanya tidak saling bicara.
"Sayang, bersihkan dirimu dikamar mandi sekarang...." Perintah Yurina, sambil menyodorkan handuk bersih yang diambilnya dari lemari.
"Tidak mau.... aku mau tidur....." Tolak Moranno sambil berlalu menuju tempat tidur mereka.
Yurina menarik tangan suaminya itu, tanpa permisi ia melepas jas yang dikenakan Moranno lalu meletakkannya diatas tempat tidur.
"Sayang..... apa yang kau lakukan.....?" Mata Moranno melihat tangan Yurina yang melepas kancing kemejanya satu persatu.
"Melepas semua pakaianmu suamiku....." Sahut Yurina masih pokus pada kegiatannya.
"Untuk apa?" Tanya Moranno curiga.
"Kau tidak mungkin mandi menggunakan semua pakaianmu ini 'kan suamiku?"
"Sayang..... aku sudah bilang tidak mau mandi, tapi mau tidur....." Ucap Moranno yang masih menyisakan rasa kesal dihatinya akan sikap isterinya saat digarasi.
__ADS_1