
Sore itu Yurina baru terbangun dari tidur siangnya. Rasa lelah membuatnya tidur hingga sore hari. Bagaimana tidak lelah, ibu mertuanya tidak habis - habisnya mengurusi dirinya, menyuruh ia makan terus - menerus sepanjang pagi hingga siang hari.
Yurina mengerjap - ngerjapkan matanya. Menyapu seluruh ruangan dengan pandangan matanya. Hatinya begitu lega saat tidak terlihat ibu mertuanya dikamarnya.
Ia meraih ponsel diatas nakas. Tidak satupun telepon atau pesan yang masuk ke ponselnya dari Moranno. Rasa kesal menghinggapi hati Yurina.
Bagaimana mungkin suaminya yang sangat perhatian dan mencintainya itu tidak menelpon atau sekedar mengirim pesan untuknya.
Padahal menurutnya, Moranno sangat tahu kondisinya yang mual - mual bahkan muntah - muntah semalam.
Sungguh tidak bisa dipercaya. Niat hati Yurina yang ingin memberi kabar kehamilannya pada Moranno langsung diurungkannya, wajahnya menekuk.
Pintu tiba - tiba terbuka membuat Yurina kaget dibuatnya. Nyonya Agatsa yang muncul didepan pintu menatap kearahnya sambil melangkah masuk mendekati Yurina yang masih duduk diatas ranjangnya.
"Kau sudah bangun menantuku?" Ucap nyonya Agatsa dan duduk ditepi tempat tidur.
"Iya mom......" Sahut Yurina melihat kearah ibu mertuanya.
"Bagaimana perasaanmu sore ini?" Tanya nyonya Agatsa sambil memperhatikan wajah Yurina yang sudah tidak pucat lagi.
"Rasanya tubuhku lebih nyaman sekarang mom, dari pada sebelum aku tidur siang." Jelas Yurina.
"Syukurlah kalau begitu. Sekarang kau harus segera mandi, ini sudah sore. Kita bersiap - siap makan malam. Mommy sudah meminta bibi Nani menyiapkan air mandimu dibak mandi dengan air hangat sebelum kau terbangun tadi." Nyonya Agatsa melangkah menuju lemari, mengambil handuk kimono dan menyerahkannya pada Yurina.
Yurina tidak membantah, ia menerima handuk yang telah disodorkan ibu mertuanya padanya.
Dengan langkah gontai, ia masuk kekamar mandi. Wangi mawar langsung tercium olehnya saat pintu kamar mandi terbuka.
Kelopak - kelopak mawar putih sengaja ditebarkan didalam bak mandi Yurina.
Yurina sangat menyukai apa yang dilihatnya, ia segera masuk dan merendamkan dirinya di dalam bak mandi. Kelopak - kelopak mawar itu mengingatkannya pada awal pernikahan dirinya dan Moranno. Aroma wangi kelopak - kelopak mawar yang menyegarkan membuat perasaan hatinya begitu fress.
Diraihnya kelopak - kelopak mawar itu dan menaruhnya diatas telapak tangannya yang terangkat diudara. Dihirupnya wangi aromnya yang menyegarkan.
__ADS_1
Untuk beberapa saat lamanya Yurina menikmati ritual mandinya. Ia melupakan Moranno yang telah membuat dirinya kesal karena tidak ada kabar seharian ini.
Air bak mandi yang semula hangat, kini mulai terasa dingin. Yurina terpaksa harus menyudahi kegiatan mandinya dan segera bangkit dari bak mandi.
Kulit tubuhnya terasa dingin karena mandi terlalu lama. Segera diraihnya handuk kimono dan mengenakannya.
"Mom....mom.... momomomhhhh......." Suara - suara itu begitu terdengar jelas, saat Yurina membuka kamar mandinya.
"Wahhhh...... putra - putra mommy ada disini....." Wajah Yurina tersenyum sumringah saat melihat Billy dan Willy yang sudah rapi dan wangi. Seharian ini dirinya belum melihat kedua putra kembarnya itu.
"Mom....momommhh....momomh...mom...." Billy dan Willy menggapai - gapai kedua tangan mereka keudara mengarah pada Yurina seperti minta digendong.
"Maaf nyonya muda, nyonya besar melarang anda untuk untuk menggendong tuan muda Billy dan tuan muda Willy....." Kata bibi Nur saat melihat Yurina hendak meraih salah satu dari putra kembarnya itu.
"Kenapa?? Mereka putraku....." Ucap Yurina mengerutkan keningnya.
"Kata nyonya besar, nyonya muda sedang mengandung, jadi tidak boleh membawa beban berat. Tuan muda Billy dan tuan muda Willy terakhir ditimbang sudah 12 kilo gram nyonya." Jelas bibi Nur yang akhirnya membuat Yurina mengerti.
"Saya dan bibi Salu akan menunggu diluar bersama kedua tuan muda. Nyonya besar berpesan nyonya muda mengenakan gaun yang telah disiapkannya diatas tempat tidur. Karena ada tuan dan nyonya Morgan akan datang kemari untuk mengunjungi cucu - cucunya." Lanjut bibi Nur lagi menyampaikan pesan nyonya besarnya.
Bayi Billy menatap wajah ibunya girang, mulut mungilnya tidak berhenti berceloteh ia memegang hidung Yurina yang mencium pipi gembulnya.
Setelah dengan bayi Billy, Yurina beralih pada bayi Willy yang menarik - narik handuk kimono yang dikenakan ibunya. Ia seolah tidak sabar mendapatkan perhatian sang ibu.
Yurina mencium kedua pipi gembul bayi Willy secara bergantian membuat bayi itu tertawa - tawa kegirangan mendapat perlakukan sang ibu.
"Para kesayangan mommy..... mommy akan bersiap dulu ya...... " Yurina lalu membiarkan kedua bayi kembarnya dibawa oleh bibi Nur dan bibi Salu keluar dari kamarnya.
Sementara kedua bayi itu sepertinya belum puas bersama ibunya. Tangan gembul mereka terlihat menggapai - gapai dengan wajah yang hampir menangis karena dibawa menjauh dari sang ibu.
Yurina menggeleng - gelengkan kepalanya sambil tersenyum seorang diri melihat tingkah lucu bayi kembarnya itu.
Yurina segera meraih gaun malam berwarna lembayung yang telah disiapkan ibu mertuanya diatas tempat tidur. Setelah mengeringkan rambut basahnya menggunakan hairdryer, Yurina memoles wajahnya dengan make - up berwarna ringan dikulit wajahnya sehingga terlihat lebih fress.
__ADS_1
Bibi Nur, bibi Salu dan juga kedua bayi kembarnya tidak terlihat saat Yurina membuka pintu kamarnya.
Yurina bergegas menuju ruang makan, nampak sepi, tidak ada seorangpun disana. Makanan sudah tersaji rapi diatas meja makan.
Perut Yurina sudah menyanyikan lagu keroncongnya saat melihat makanan - makanan lezat itu.
Ia mendekati meja makan, perutnya semakin terasa lapar, tapi tidak ada seorangpun yang memunculkan batang hidungnya termasuk para pelayan.
Telinga Yurina tiba - tiba menangkap suara bayi - bayinya yang berceloteh. Yurina bergegas menuju datangnya suara.
Nampak keluarga besarnya sedang berkumpul diruang keluarga.
Nyonya Morgan sedang menggendong bayi Willy dipangkuannya sambil mengobrol dengan nyonya Agatsa. Sedangkan bayi Billy digendong oleh tuan Morgan sambil melihat - lihat pigura foto keluarga yang terpajang didinding.
" Hai Mama..... papa......" Sapa Yurina sambil berjalan mendekat.
"Hai juga sayang......" Tuan dan nyonya Morgan balas menyapa secara bersamaan.
Yurina menghampiri ayahnya serta merta mencium pipinya. Bayi Billy yang berada dalam gendongan sang kakek menatap wajah ibunya dengan tangannya yang mengapai gaun yang dikenakan Yurina.
"Ada apa sayang....." Yurina mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Billy yang gendut. Bayi Billy kembali berceloteh dengan suaranya yang menggemaskan.
"Bagaimana keadaanmu nak.....?"Tanya tuan Morgan menatap wajah putrinya.
"Sudah lebih baik pa....." Sahut Yurina menatap pada ayahnya sambil sesekali melihat Billy yang terus berceloteh tanpa henti.
"Syukurlah kalau begitu, papa lega mendengarnya." Ucap Tuan Morgan tersenyum hangat.
"Ayo kita menghampiri mama dan mommy mu....." Ajak tuan Morgan. Yurina lalu mengikuti langkah ayahnya yang sedang menggendong bayi Billy mendekati nyonya Morgan dan nyonya Agatsa yang sedang mengobrol.
"Mama......." Yurina mencium pipi ibunya dengan sayang, lalu duduk disebelah ibunya, bayi Willy sibuk memperhatikan mainan robotnya yang nampak menyeramkan. Sementara tuan Morgan membawa bayi Billy duduk disofa yang berseberangan dengan isterinya dan nyonya Agatsa.
"Mom..... kenapa sampai sekarang suamiku belum pulang? Apakah suamiku sudah mengabari mommy?" Tanya Yurina pada ibu mertuanya dengan wajah khawatir.
__ADS_1
"Jangan khawatir, Moranno sedang mommy suruh mandi uap dulu disalon langganan mommy supaya kau tidak mabuk lagi berada dekat suamimu itu." Wajah Yurina merona karena malu mendengar ucapan sang ibu mertua. Sementara ayah dan ibu Yurina senyum - senyum ditempat duduk mereka mendengar ucapan besan mereka.