
Walau Margareth berusaha tersenyum saat bertemu dengan para pasiennya, namun hatinya terasa begitu pilu. Harry sama sekali tidak menghubunginya, padahal tunangannya itu tahu bahwa dirinya sedang sakit, hati Margareth semakin ragu untuk meneruskan hubungan mereka kejenjang pernikahan.
Ia merasa Harry tidak jauh berbeda dengan dokter Randiasa, pria dimasa lalunya itu. Meninggalkan dirinya, saat hatinya mulai ia buka untuk menerima mereka.
Sejak sembuh dari sakitnya, Margareth sudah tidak mau menelpon ataupun mengirim pesan lagi pada Harry, walaupun demikian dirinya tetap berharap ada keajaiban. Bisa jadi Harry tiba - tiba menelponnya atau mengirim pesan singkat untuknya. Namun hasilnya nihil, setiap kali ia membuka ponselnya, dirinya harus menelan kekecewaan.
Hari itu, hari terakhir Margareth berkerja dirumah sakit, dimana ia sudah mengabdikan diri belasan tahun lamanya. Setelah berpamitan dengan pasien - pasiennya, Margareth juga tidak lupa berpamitan dengan teman - teman sejawatnya itu. Bahkan siang itu, semua ruangan kantin dipenuhi para rekan medisnya. Mereka bersantap siang bersama, bersenda gurau bersama, karena hari itu mereka akan berpisah dengan Margareth yang selama ini sudah menjadi bagian dari mereka. Kebersamaan itu membuat Margareth bisa melupakan sejenak kegundahan hatinya.
"Ingat.... jangan lupakan kami bila kau sudah pindah ke Singapura ikut bersama suamimu, berkunjunglah kemari sewaktu - waktu." Ucap salah seorang rekan dokternya sambil tersenyum ceria.
Margareth hanya bisa menjawab dengan senyuman yang dibuat ceria seperti rekannya itu. Mungkinkah ia akan ikut ke Singapura bersama Harry bila sekarang saja Harry tidak ada kabar beritanya, pikir Margareth disela - sela senyum cerianya.
"Dokter Margareth....." Dokter Mories yang menjadi kepala rumah sakit itu mengantarkan Margareth hingga keparkiran disore itu
"Iya dok......" Sahut Margareth sambil melihat kearah dokter Mories sebelum masuk kedalam mobilnya.
"Terima kasih banyak, atas dedikasi anda selama berkerja di rumah sakit ini dokter. Totalitas anda pada tanggung jawab yang anda emban selama ini sudah banyak menginspirasi para tenaga kesehatan ditempat ini. Selama anda ada disini, rumah sakit ini semakin maju dan semakin dipercaya oleh masyarakat." Ucap dokter Mories jujur sekaligus kagum pada rekannya, walau Margareth adalah juniornya.
"Sama - sama dokter. Saya juga berterima kasih atas semua kerjasama yang sudah terjalin diantara kita para tenaga medis dirumah sakit ini. Kerjasama itulah yang membuat kita maju dan dipercaya oleh masyarakat, bukan karena diri saya dok. Saya bukan apa - apanya tanpa team tenaga medis kita." Ucap Margareth sambil menyibak rambutnya yang diterpa angin sore.
"Anda sangat rendah hati dokter. Saya kagum pada anda, dokter yang berprestasi, ulet, dan pekerja keras. Wajar saja anda bisa mendapatkan calon suami yang baik seperti tuan Harry. Orang yang baik, akan dipertemukan juga dengan orang yang baik." Ucap dokter Mories dengan senyumnya.
"Saya dapat melihat, tuan Harry begitu mencintai anda dokter. Saya percaya dokter akan bahagia hidup bersamanya." Margareth kembali tersenyum saat mendengar ucapan dokter Mories tentang Harry.
"Terima kasih dokter, bila anda berpikir demikian, semoga saja ucapan dokter menjadi doa buat kami." Ucap Margareth kembali terasa pilu dihatinya mendengar nama Harry. Namum ia berusaha menyimpan rasa itu rapat seorang diri. Karena semua orang menganggap calon suaminya itu adalah orang yang baik, termasuk ibunya.
"Baiklah dokter saya permisi dulu." Pamit Margareth dengan senyumnya.
"Hati - hati dijalan dokter." Ucap dokter Mories sambil melambaikan tangannya. Margareth membunyikan klaksonnya lalu menjalankan mobilnya perlahan meninggal area parkir.
__ADS_1
Margareth menambah kecepatan mobilnya saat sudah ada dijalan raya, ia melajukan mobilnya lebih cepat dari biasanya seperti mengejar sesuatu.
Margareth tidak membelokan mobilnya kekomplek perumahannya. Mobilnya itu terus melaju menyusuri jalan raya kota yang terbilang lengang disore itu.
Setelah 30 menit berlalu, Margareth akhirnya tiba dibandara. Ia memarkirkan mobilnya diparkiran bandara.
Dengan langkah tergesa - gesa, Margareth melangkahkan kakinya cepat hingga terlihat seolah berlari - lari kecil sambil menyeret koper kecilnya memasuki bandara untuk check- in. Ya, Margareth memutuskan terbang ke Singapura malam itu juga untuk menjumpai Harry disana. Walau sebenarnya hatinya sangat berat melakukan hal itu, tapi ia ingin melihat sendiri, sesibuk apakah tuanangannya itu hingga tidak pernah sempat menghubunginya selama dua minggu belakangan ini.
Margareth menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi pesawat dibelakangnya. Ia menikmati perjalannya sambil membaca buku yang selalu ia bawa ditas kerjanya. Bila ia memiliki waktu luang, itulah hal yang sering ia lakukan untuk mengisi waktu senggangnya.
Setelah hampir dua jam berlalu, Pesawat yang ditumpangi Margarerh sudah tiba dibandara Singapura.
Margareth memesan travel lewat ponselnya untuk menuju hotel yang sudah ia pesan sehari sebelumnya.
Mata Margareth tidak sengaja menangkap bayangan seseorang yang tidak asing baginya. Dengan hati - hati, ia mengikuti langkah laki - laki itu yang terlihat melangkah dengan tergesa - gesa memasuki bandara.
Margareth menghentikan langkahnya saat melihat laki - laki yang ia ikuti itu menuju petugas check- in.
"Ya benar..... itu tuan Harry, mau kemana dia?" Gumam Margareth masih bersembunyi dibalik tong sampah besi.
"Sebaiknya, aku menemui tuan Harry saja dari pada main kucing - kucingan seperti ini." Ucap Margareth pada dirinya sendiri.
Ia segera berdiri dan melangkah menuju ruang check- ini. Tuan Harry yang ia lihat sebelumnya sudah tidak ada disana. Margareth menebarkan pandangannya keseluruh tempat, namun sosok Harry yang ia cari tidak ia lihat dimana - mana.
Margareth segera mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Ia segera mencari nama Harry dikontaknya. Begitu nama itu ditemukan, ia segera menelponnya, nomor ponsel Harry yang ia hubungi diluar jangkauan. Margareth kembali menelpon berulang - ulang kali. Namun tetap sama, nomor Harry masih diluar jangkauan.
Margareth terlihat lesu. ia menatap ponselnya yang sedari tadi tidak bisa menghubungi ponsel Harry.
Ditengah kelesuannya, ponsel Margareth tiba - tiba berbunyi. Margareth segera melihat layar ponselnya yang ia pikir Harry. Namun ia kembali kecewa, saat melihat bukan Harry yang menelponnya, melainkan dari agen travel yang ia pesan sebelumnya.
__ADS_1
Margareth menuju pintu keluar bandara setelah selesai menerima telepon, benar saja, mobil travel beserta sopirnya sudah menantinya.
Sepanjang jalan menuju hotel, Margareth larut dalam lamunannya. Sang sopir hanya sesekali melirik kearah Margareth yang duduk di jok belakang.
Begitu sampai dihotel, seorang petugas hotel segera mengantarkannya menuju kamar yang sudah ia pesan. Tubuh Margareth yang terasa lengket, memaksanya segera membersihkan diri dikamar mandi.
Sebelum naik ketempat tidurnya Margareth meraih ponselnya lagi dari dalam tasnya. Ia segera mencari nama seseorang yang ingin ia hubungi.
Tidak lama menunggu, panggilan teleponnya segera diangkat.
"Hallo cucu mantu nenek, apa kabarmu sayang?" Terdengar suara hangat nenek Harry dari seberang sana.
"Baik nek..... Nenek apa kabar? Sehat - sehat saja kan?" Sahut Margareth tidak kalah hangat.
...•••...
♡♡♡
Terima kasih buat para readers setia novel JAGA HATIMU UNTUKKU yang sebentar lagi akan TAMAT. Yukz, mampir di novel 'HANARIA Wanita Sejuta Rasaku'. Mengisahkan tentang seorang wanita tangguh, dan pekerja keras, ulet, sehingga menjadi kesayangan pemilik perusahaan yang memperkerjakannya, jangan ditanya untuk pria - pria muda. Cucu kembar dari keluarga Agatsa pun ikut mengharapkan cintanya.
#HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Karya :
#Nama pena : Dewi Payang
#FB Indah Sosilawati
#IG Indah Sosilawati
__ADS_1
♡♡♡