
"Huekkk...... Hueekkk.... Huekkkk....." Moranno beberapa kali memuntahkan sup yang disuap oleh Margareth adiknya.
"Cukup.... aku sudah tidak sanggup lagi...." Kata Moranno terlihat lemas dan mengeluarkan keringat dingin.
"Kakak..... Kau harus berusaha memakan makananmu, supaya kondisi tubuhmu cepat pulih." Ujar Margaret berusaha membujuk.
"Iya, aku sudah berusaha..... tapi lambungku tidak bisa menerimanya, setiap suapan yang masuk, rasanya perutku begitu bergejolak." Keluh Moranno dengan wajah lemasnya.
"Baiklah.... kakak minum air hangat ini saja dulu.... hal ini memang wajar terjadi karena masih dalam tahap penyesuaian. Tetapi harus selalu dilatih supaya lambung kakak kembali terbiasa menerima makanan." Jelas Margareth.
Moranno meminum perlahan air hangat yang disodorkan kemulutnya. Ia hanya mampu menghabiskan setengah saja dari isinya.
"BRAKKK......"
Moranno dan Margareth begitu terkejut mendengar pintu didorong dengan paksa dari luar oleh seseorang.
Seseorang yang berdiri diambang pintu yang hendak masuk pun tidak kalah terkejut melihat siapa yang sedang bersama Moranno didalam ruangan.
"Kau..... Bagaimana kau bisa ada disini??" Ucap nyonya Agatsa tak menduga akan bertemu Margareth.
Margareth yang masih terkejut menggenggam erat gelas ditangannya yang hampir saja terhempas kelantai.
"Huuhhhh.... Dasar mommy... bikin kaget saja, kalau mau masuk itu ketuk pintu dulu. Jangan main dobrak - dobrak saja. Disini ada orang sakit....!" Ucap Margareth setetengah berteriak yang begitu kesal karena kagetnya.
"Bagaimana kau bisa ada disini?.... Siapa yang mengijinkanmu datang kemari?!" Ucap nyonya Agatsa mengulang pertanyaannya tanpa memperdulikan hardikan Margareth.
"Aku tidak memerlukan ijinmu nyonya besar. Aku kemari karena kakak ipar yang menjemputku untuk kak Moranno." Sahut Margareth berusaha mengendalikan diri.
"Kakak ipar??" Nyonya Agatsa bertanya karena bingung siapa yang dimaksud Margareth.
Margareth tersenyum sinis melihat ibunya yang terlihat bingung.
"Jangan bilang mommy lupa kalau kak Moranno sudah memiliki isteri. Atau mungkin mommy tidak pernah mengakui kakak ipar sebagai menantu mommy seperti yang pernah dilakukan mommy padaku?" Kata Margareth dengan nada yang dibuat setenang mungkin.
"Yurina??" Tanya nyonya Agatsa memastikan.
"Siapa lagi? Memangnya isteri kak Moranno lebih dari satu?" Sahut Margareth seenaknya.
"Margarerh..... Jaga mulutmu, kau tahu kakakmu ini bukan laki - laki pecinta banyak wanita...." Moranno yang hanya menjadi pendengar sedari tadi kini angkat bicara dengan suara lemahnya.
__ADS_1
"Maafkan aku kakak.... Pertanyaan mommy membuatku tidak sengaja berkata demikian." Ucap Margareth merasa tak enak pada Moranno.
"Jadi wanita itu yang membawamu kemari. Dia masih saja melakukan itu, sering tidak meminta ijin dan persetujuan dariku." Ucap nyonya Agatsa yang nampak kesal.
"Kalau kakak ipar harus selalu meminta ijin pada mommy dalam keadaan darurat, kak Moranno tentu saja sudah tidak ada disini bersama kita." Kata Margareth ketus.
"Sekarang dia ada dimana? Kalau ia perduli pada suaaminya.... mengapa dia tidak ada disini saat suaminya sadarkan diri." Ucap nyonya Agatsa menimpali.
"Justru kakak iparlah yang membuat kak Moranno sadarkan diri. Ia baru saja pergi dari sini untuk menyusui bayi - bayinya." Jelas Margareth.
Nyonya Agatsa terdiam mendengar ucapan Margaret sambil menatap wajah Moranno yang hanya berdiam ditempat tidurnya.
"Ternyata mommy tidak berubah.... Nyonya besar yang kolot.... egois..... merasa diri paling benar..... hebat.... m........" Belum selesai Margareth mengatai ibunya, nyonya Agatsa segera mengusirnya.
"Cukup.... Hentikan mulut combermu.... pergi dari sini.... kau juga tidak berubah setelah menjadi seorang dokter....." Balas nyonya Agatsa membuat Margareth segera pergi meninggalkan ruangan itu.
"Mom.... sudahlah..... Jangan marah - marah terus, kepalaku jadi pusing mendengarkan pertengkaran kalian. Bukannya disambut baik malah mommy mengusir Margarerh." Ucap Moranno dengan wajah lelah dan tak berdaya.
"Maafkan mommy putraku.... Entahlah, mommy selalu emosi melihat adikmu itu, tidak punya sopan santun pada orang tua setiap kali bertemu." Ucapnya sambil mendekati Moranno diranjang pembaringannya.
"Apa ini?? Margareth belum membersihkan muntahanmu? Anak itu.....!" Nyonya Agatsa kembali kesal.
Nyonya Agatsa berusaha membersihkan muntahan Moranno seorang diri.
Namun karena terlalu banyak dan bau membuat nyonya Agatsa termuntah - muntah pula.
"Mom.... Mommy tak perlu membersihkannya, biar perawat saja nanti." Ucap Moranno merasa kasihan.
Nyonya Agatsa lalu menekan bel panggilan. Tak lama seorang perawat datang dan membersihkan muntahan Moranno dan juga nyonya Agatsa.
Setelah selesai membersihkan semuanya perawat itu kembali pamit meninggalkan ruang rawat Moranno.
Nyonya Agatsa kembali mendekati Moranno.
"Bagaimana keadaanmu Moranno..... Mommy.... Mommy senang sekali kau sudah sadar kembali. Mommy sangat takut kehilanganmu sayang." Ucap nyonya Agatsa dengan mata berkaca - kaca.
"Seperti yang mommy liat....." Kata Moranno menatap wajah ibunya.
"Begitu mengetahui kau sadarkan diri, mommy langsung kemari Moranno. Mommy sangat senang sekali sayang melihat kau sudah sadarkan diri." Ucap Nyonya Agatsa, air matanya menetes begitu saja dipipinya.
__ADS_1
"Terima kasih mommy, aku tahu mommy sudah mendoakanku siang dan malam untuk kesembuhanku." Moranno mengusap air mata ibunya .
Nyonya Agatsa begitu terharu mendapat perlakuan dari putranya itu.
***
"Dokter Rogen.... Apakah suami saya hari ini sudah boleh pulang kerumah? Bagaiman kalau kami melakukan perawatan dari rumah saja. Kebetulan ada dokter Margareth yang bisa mengawasi kondisi suami saya. Juga, sewaktu - waktu nanti, dokter Rogen bisa mengeceknya dirumah kami. Harapan saya bila dirumah, suami saya bisa segera pulih dokter. " Kata Yurina saat dokter Rogen baru saja selesai melakukan pemeriksaan pada Moranno pagi itu.
"Sebenarnya tuan Moranno masih harus ada disini nyonya muda. Namun seperti perkataan nyonya muda, ada baiknya kita coba supaya kondisi tuan Moranno segera pulih bila dikelilingi orang - orang yang dia cintai." Sahut dokter Rogen setelah menimbang perkataan Yurina.
"Setelah ini nanti, saya akan membuat catatan, apa saja yang harus dilakukan dalam perawatan tuan Moranno selama dirumah nanti dan segera saya akan memberikannya pada anda dan dokter Margareth." Kata dokter Rogen mengakhiri ucapannya.
"Iya dokter, terima kasih banyak." Sahut Yurina merasa senang.
"Iya, sama - sama nyonya muda. Nanti ada perawat yang akan datang kemari untuk membantu membereskan semua peralatan medis ini. Saya permisi dulu nyonya muda." Dokter Rogen membungkuk memberi hormat seperti biasa lalu meninggalkan tempat itu.
"Baik dokter...." Yurina segera mendekati Moranno yang masih terbaring ditempat tidurnya.
"Suamiku.... Bagaimana keadaanmu pagi ini?" Tanya Yurina saat sudah berada disisi pembaringan Moranno.
"Baik sayang..... Apa lagi sepagi ini aku sudah melihat dirimu sayang...." Goda Moranno dengan suara yang masih terdengar lemah.
Yurina tertawa kecil mendengar ucapan Moranno padanya, suaminya itu selalu saja bisa membuat hatinya bahagia dengan ucapan yang keluar dari mulutnya.
Seorang perawat masuk membawakan sarapan untuk Moranno, lalu meletakkannya diatas nakas, dan kembali keluar setelah berpamitan dengan Yurina dan Moranno.
Yurina meraih mangkuk sarapan Moranno dan menyuapinya.
Terlihat Moranno dengan susah payah menelan suapan demi suapan yang diberikan Yurina.
Tak lama Moranno terlihat akan memuntahkan kembali apa yang telah ia telan. Dengan cepat Yurina memberikan Moranno air hangat untuk diminumnya.
"Apa kau baik - baik saja suamiku?" Tanya Yurina nampak khawatir.
"Aku.... baik - baik saja sayang. Hanya saja, setiap kali aku makan rasanya perutku ini tidak bisa menerimanya." Sahut Moranno sambil memegang perutnya yang nampak sakit.
Yurina mengusap rambut kepala Moranno, sambil memandang wajah suaminya itu yang nampak masih terlihat pucat.
"Hari ini kau sudah boleh pulang kerumah suamiku. Tadi aku sudah bicara dengan dokter Rogen." Kata Yurina
__ADS_1