JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 122 " Kalian terlihat seperti ibu dan anak"


__ADS_3

Margareth berjalan gontai memasuki lift. Pikirannya masih memikirkan apa yang dikatakan Yurina saat mereka ditaman.


Pintu lift terbuka saat Margaret tiba dilantai tiga. Ia keluar dengan wajah lesu.


Matanya tak sengaja menangkap pigura berukuran raksasa dengan fhoto kelurga didalamnya yang terpasang didinding. Ya, posisinya masih ditempat yang dulu, saat pertama kali dipasang.


Margareth menatap pigura itu, diperhatikannya wajah - wajah di dalam pigura itu satu - persatu.


Wajah - wajah itu begitu ia rindukan. Perasaan kosong pada bagian hatinya kini terasa terisi kembali saat memandang wajah - wajah yang pernah mengisi hari - harinya dimasa lampau.


Setelah cukup puas, Margareth menuju kamarnya. Langkahnya terhenti saat melewati kamar ibunya.


Sedetik kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju kamarnya yang berada disebelah kamar ibunya.


Margareth berdiri tepat didepan daun pintu kamarnya. Hatinya begitu berdebar saat menatap daun pintu itu.


Perlahan ditempelkannya telapak tangan kirinya menyentuh gambar telapak tangan yang ada didaun pintu itu.


"Ceklekkk....." Suara pintu terbuka, hati Margarerh tambah berdebar. Ternyata ibunya tidak mengganti passwood dari pintu kamarnya selama ini seperti apa yang sempat ia perkirakan.


Margareth melangkah masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu itu kembali dengan rapat.


Semakin masuk kedalam, hatinya semakin tambah berdebar.


Ia menatap berkeliling, pandangannya menyapu semua isi ruangan dalam kamarnya dari sudut kesudut.


"Kak Moranno benar, semuanya masih seperti yang dulu, tertata sama persis seperti saat aku meninggalkan rumah ini." Gumamnya.


Margareth menatap fhoto dalam pigura yang terpajang dimeja belajarnya, saat hari ulang tahun dirinya dan Moranno kakanya yang diapit oleh kedua orang tua mereka. Terlihat sangat bahagia, masa - masa itu telintas begitu saja di benaknya.


Disentuhnya wajah - wajah itu satu - persatu. Dadanya tiba - tiba terasa begitu sesak. Sesuatu yang begitu besar seperti gunung membuatnya hampir sulit untuk bernapas.


Ia terduduk dikursi meja belajar dengan lunglai sambil memeluk pigura itu dalam dekapannya.


Isaknya tiba - tiba pecah. Air matanya berlinang begitu saja tanpa ia bisa menahannya lagi.


Tubuhnya berguncang - guncang melepaskan tangisnya yang telah ia tahan selama ini.


Untuk beberpa waktu lamanya Margareth larut dalam tangisnya itu.


Sepasang tangan tiba - tiba memeluknya dari belakang.


Margareth langsung menghentikan tangisnya serta merta berbalik untuk melihat siapa yang melakukan itu padanya.


Wajah Margareth begitu terkejut, tubuhnya terasa kaku saat melihat siapa yang berdiri dihadapannya.


Wanita paruh baya itu mengembangkan kedua tangannya pada Margareth. Margareth nampak ragu menatapnya.

__ADS_1


"Apakah kau tidak merindukan pelukan mommy mu?"


Suara itu membuat Margareth langsung menghambur kedalam pelukan wanita yang berdiri dihadapannya.


Margareth mendekap ibunya begitu erat sambil menangis sejadi - jadinya.


Nyonya Agatsa membalas dekapan erat Margareth sambil membelai punggung putrinya itu lembut.


Keduanya larut dalam susana haru. Tak sepatah pun kata - kata keluar dari mulut mereka. Hanya tangis Margareth yang terdengar hingar bingar didalam kamar itu.


Setelah sekian lamanya keduanya larut dalam perasaannya masing - masing, akhirnya tangis Margareth mulai mereda.


Margareth melonggarkan dekapannya sambil memandang wajah ibunya yang tak kalah sembabnya dengan wajah dirinya.


"Maafkan mommy sayang....." Ucap nyonya Agatsa lirih.


"Tidak mommy, akulah yang salah. Aku terlalu keras kepala." Margareth kembali memeluk ibunya dengan erat.


"Aku merindukan mommy......" Ucap Margareth mendekap ibunya lagi.


"Iya sayang, mommy juga sangat merindukanmu." Nyonya Agatsa turut mendekap erat tubuh putrinya itu.


"Mommy selalu menunggumu untuk pulang sayang. Mommy selalu memeriksa kamar ini seolah - olah engkau ada didalamnya. Sekarang kau telah kembali, mommy tidak dapat melukiskan perasaan bahagia mommy yang begitu besar."


"Iya mom, ini semua salahku, aku terlalu malu untuk pulang. Diam - diam aku menunggu mommy memanggilku pulang." Ucapnya dengan suara bergetar.


"Sayang.... Mari kita lupakan semua masa lalu yang menhakitkan itu. Kita buka lembaran baru. Anggap saja yang telah terjadi itu adalah pelajaran yang berharga bagi kita sayang."


Margareth dan nyonya Agatsa makin mengeratkan pelukan mereka, seolah - olah keduanya tak ingin lagi melepaskan satu sama lainnya.


***


Pagi itu, Yurina terheran - heran melihat perubahan sikap antara nyonya Agatsa dan Margareth. Keduanya terlihat kompak dimeja makan dan saling melayani satu sama lain.


"Mom.... Aku ambilkan sayurnya lagi ya..." Ucap Margareth pada nyonya Agatsa.


"Iya sayang....." Nyonya Agatsa menyetujui.


Yurina memperhatikan keduanya dengan diam - diam tanpa berani berkomentar.


"Tambah lagi mom.... "Kata Margareth saat melihat makanan dalam piring ibunya telah habis.


"Cukup sayang.... Mommy sudah kenyang. Sekarang sudah waktunya mommy berangkat kekantor." Kata nyonya Agatsa buru - buru meminum jusnya.


Margareth meraih tangan ibunya dan menciumnya. Sementara Yurina berdiri sambil membungkuk hormat pada sang mertuanya itu seperti biasa yang dilakukannya.


Setelah nyonya Agatsa pergi, Yurina dan Margareth kembali melanjutkan sarapan pagi mereka.

__ADS_1


"Adik ipar....." Panggil Yurina saat keduanya baru saja menyelesaikan sarapan pagi mereka.


"Iya.... Ada apa kakak ipar?" Sahur Margaret sambil meminum jusnya.


"Aku melihat dirimu dan nyonya besar nampak berbeda pagi ini, kalian terlihat seperti ibu dan anak, sangat akrab." Ucap Yurina mengatakan apa yang dilihatnya.


"Iya kakak ipar.... Semalam aku sudah berbaikan dengan mommy seperti saran kakak ipar." Sahut Margareth sambil mengingat kejadian semalam.


"Syukurlah..... Aku turut bahagia mendengarnya adik ipar." Ucap Yurina lagi dengan wajahnya yang berbinar.


"Iya kakak ipar.... Aku bahagia sekali. Ternyata selama ini aku sudah salah faham dengan mommy. Ternyata mommy sangat menyayangiku seperti dikatakan kakak ipar dan juga kak Moranno."


"Yahh.... Seandainya aku menyadari sejak dahulu, kesalah fahaman ini tentu tidak akan berlarut - larut sehingga menjadi selama ini kakak ipar."


"Itu tidak masalah adik ipar. Yang terpenting sekarang adalah kau sudah berbaikan dengan nyonya besar. Bukankah itu kabar yang sangat membahagiakan dalan keluarga kita." Kata Yurina sambil menghabiskan jus dalam gelasnya yang masih tersisa sedikit.


"Suamiku pasti sangat senang mendengar kabar baik ini adik ipar." Ujar Yurina bersemangat.


"Benar kakak ipar......" Kata Margareth terputus.


Ponsel Yurina tiba - tiba berbunyi. Yurina segera meraih ponselnya dan melihat nama asisten Rudi tertera dilayar.


"Hallo asisten Rudi...." Kata Yurina saat mengangkat ponselnya, sambil memberi isyarat pada Margareth untuk melanjutkan pembicaraan setelah ia menelpon.


"Selamat pagi nyonya muda. Maafkan saya mengganggu anda...." Suara asisten Rudi dari seberang sana.


"Ada apa asisten Rudi?" Tanya Yurina tenang.


"Keadaan dikantor sedang kacau nyonya muda. Anda bisa melihatnya dilayar televisi sekarang. Para wartawan itu sedang menayangkan siaran langsungnya didepan kantor properti Grup." Jelas asisten Rudi.


"Baik, aku akan melihatnya sekarang." Yurina segera berdiri hendak bergegas keruang keluarga.


"Apa yang terjadi kakak ipar?" Tanya Margareth saat melihat wajah Yurina yang begitu khawatir.


"Ikutlah denganku adik ipar...." Kata Yurina dengan langkah tergesa - gesa.


Margareth ikut berdiri dan turut melangkah tergesa - gesa dibelakang Yurina.


Yurina meraih remot yang terletak diatas meja ruang kelurga dan segera menghidupkannya.


Saat beberapa saluran televisi berhasil dipindahkan berkali - kali, akhirnya Yurina menemukan siaran langsung dari televisi swasta yang menayangkan yang dimaksud asisten Rudi ditelepon.


Yurina dan Margareth terperangah menyaksikan apa yang telah ditayangkan dilayar televisi swasta tersebut.


Keadaan terlihat begitu kacau, hingga pihak security terlihat hampir kewalahan.


Beberapa personel dari kepolisian sudah diturunkan untuk membantu keamanan didepan kantor properti Agatsa Grup.

__ADS_1


__ADS_2