JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 93 "Selamat atas kelahiran cucu - cucu anda"


__ADS_3

Pintu terbuka lebar. Dokter Rosalie keluar dari ruangan tempat bersalin Yurina. Senyum mengembang diwajahnya.


Nyonya Morgan mendekati dokter Rosalie sambil menarik tangan nyonya Agatsa yang terkesan enggan mendekat.


"Ayo nyonya besar, apakah anda tidak ingin melihat cucu anda? Saya saja sangat penasaran."


"Hmmm... Baiklah....".Nyonya Agatsa akhirnya terpaksa ikut karena merasa tak nyaman dengan nyonya Morgan yang terus menarik tangannya.


"Nyonya besar.... Selamat atas kelahiran cucu - cucu anda." Ucap dokter Rosalie tersenyum kearah nyonya Agatsa.


"Iyaaa..... Terima kasih.... Dokter Rosalie." Sahut nyonya Agatsa agak ragu dan sedikit merasa tidak nyaman karena sebelumnya ia sempat berdebat dengan dokter Rosalie.


"Maafkanlah sikap saya sebelumnya pada anda nyonya besar?" Kata dokter Rosalie yang nampak canggung menyampaikan permohonan maafnya.


"Saya juga minta maaf pada anda dokter Rosalie, atas semua perkataan saya yang tidak menyenangkan anda."


"Iyaaaa... nyonya besar......tidak masalah."


Suasana nampak begitu canggung antara nyonya Agatsa dan dokter Rosalie. Nyonya Morgan segera menyela pembicaraan keduannya supaya kecanggungan itu cepat berakhir.


"Dokter, apakah sekarang kami sudah boleh bertemu dengan nyonya muda dan bayi - bayinya?"


"Tentu saja nyonya Morgan. Mari saya antar."


Dokter Rosalie lebih dulu masuk dan diikuti oleh nyonya Agatsa dan nyonya Morgan didepannya.


Didalam nampak Yurina sedang duduk sambil menyusui salah satu bayinya. Sementara bayi yang satunya lagi masih dibersihkan suster.


"Nyonya besar.....Nyonya Morgan...." Sapa Yurina memberi hormat dengan posisi duduk saat kedua wanita paruh baya itu mendekatinya.


"Berikan padaku." Kata nyonya Agatsa, saat suster telah selesai membersihkan bayi Yurina.


Nyonya Agatsa tak berkedip menatap bayi mungil yang sudah ada dalam gendonganya. Kulitnya yang masih terlihat memerah, dengan mata yang sedikit menyipit karena belum terbiasa melihat cahaya.


Nyonya Agatsa mendekatkan bayi mungil itu kewajahnya lalu menciumnya dengan lembut. Aroma bayi lalu terhirup oleh hidungnya


Hooeekk...


Hooeekk..


Hooeekk..


Bayi mungil itu tiba tiba menangis membuat nyonya Agatsa yang menggendongnya jadi kebingungan.


"Suster....." panggil nyonya Agatsa

__ADS_1


"Sepertinya bayinya ingin menyusui nyonya besar...." Ucap suster sambil menerima bayi mungil itu dari tangan nyonya Agatsa.


Yurina lalu memberikan bayi yang telah ia susui pada suster yang satunya lagi, lalu menerima bayi mungilnya yang sedang menangis.


"Ayo sayang, kau pasti hauskan... mommy akan menyusuimu...." Kata Yurin sambil menerim bayi mungilnya yang masih menangis.


Bayi itu nampak mencari - cari dengan mulutnya, hingga akhirnya ia menemukan yang ia cari.


Yurina nampak sedikit geli, bayi mungilnya yang satu ini lebih kuat menyusui dibandingkan kembarannya. nampaknya ia sangat haus.


Yurina berusaha menahan rasa gelinya, pengalaman pertamanya menyusui mengingatkannya pada sentuhan pertama Moranno padanya.


Suasana hati Yurina tiba - tiba memburuk. Ingatannya pada Moranno menbuat air matanya menetes begitu saja tanpa bisa terbendung.


Bayi yang sedang menyusui itupun tiba - tiba ikut menangis begitu kencang.


Nyonya Morgan dan nyonya Agatsa yang sedang mengamati bayi satunya yang sedang tertidur pulas dikejutkan dengan tangis bayi yang sedang disusui Yurina.


"Apa yang membuat anda sedih nyonya muda...." Kata nyonya Morgan seraya mendekati Yurina saat melihatnya menangis.


Yurina hanya menggelengkan kepalanya dan mengusap air matanya dengan satu tangannya.


Dengan belaian kasih sayang nyonya Morgan membelai rambut oanjang milik Yurina yang terurai untuk menenangkan hatinya.


"Tenanglah dan sabarlah nyonya muda, saya mengerti apa yang sedang anda rasakan."


Yurina menghentikan tangisnya, ia berusaha menguasai dirinya sambil menimang dan membujuk bayinya supaya tidak menangis lagi.


Sementara nyonya Agatsa hanya memperhatikan menantunya itu dari tempat duduknya sambil sesekali memandang bayi mungil didepannya yang sedang tertidur pulas.


Setelah sekian lama ditimang dan dibujuk, akhirnya bayi mungil itu mau menyusui lagi.


Isapan bayi itu terasa lemah karena habis menangis. Namun ia tetap mengisap pada dada ibunya.


Nyonya Agatsa yang melihatnya, kembali menyunggingkan senyumnya.


"Bayi anda sangat menggemaskan nyonya muda." Katanya lagi sambil memperhatikan sang bayi yang mulai menyusui.


"Nyonya muda..... Anda sangat beruntung, bisa menyusui bayi anda. Saya tidak pernah merasakan moment menyusui seperti anda." Kata nyonya Agatsa sambil melepaskan belaian tangannya dari rambut Yurina.


Yurina mengalihkan wajahnya kearah nyonya Agatsa yang tiba - tiba nampak murung.


"Apakah nona Gandis tidak menyusui anda semasa bayi nyonya?" Tanya Yurina.


"Tidak...." Sahut nyonya Morgan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Seperti permintaan saya dahulu, saya masih berharap anda masih mengijinkan saya menganggap bayi - bayi anda adalah seperti cucu saya sendiri nyonya muda." Kata nyonya Agatsa mengalihkan topik pembicaraan sambil berusaha tersenyum kembali.


"Iya nyonya, saya tidak keberatan. Saya bahkan sangat senang sekali, itu artinya bayi - bayi saya juga dicintai oleh nyonya Morgan."


"Terima kasih nyonya muda.... Bayi anda nampaknya juga sudah terridur. Bagaimana kalau saya bantu meletakannya di ranjang bayi, supaya anda bisa beristirahat."


Yurina menganggukkan kepalanya. Dengan hati - hati nyonya Morgan mengambil bayi yang telah tertidur itu dari tangan Yurina, lalu dibawanya dan diletakkan diranjang bayi yang kosong.


"Nyonya muda, saya permisi dulu. Anda beristirahatlah yang cukup, jaga kesehatan anda, jangan bersedih, ingatlah bayi - bayi mungil itu sangat membutuhkan ibu mereka." Katanya menasehati.


"Terima kasih banyak nyonya, saya akan berusaha mengingat apa yang anda katakan."


Selesai berbicara nyonya Morgan menghampiri sejenak dua ranjang bayi, diusapnya wajah kedua bayi itu bergantian dengan sentuhan yang lembut. Hatinya begitu terpikat oleh kedua bayi mungil itu.


"Yurina..... aku juga permisi. Beristirahatlah...."


Yurina terkesiap mendengar suara lembut nyonya Agatsa padanya untuk pertama kalinya.


"I... Iyaaa.... Terima kasih nyonya besar...." Ucap Yurina tiba - tiba tergagap.


Yurina memandang dua wanita setengah baya yang terlihat masih cantik itu meninggalkan ruangannya hingga menghilang dibalik pintu.


"Nyonya muda, apakah anda sudah menyiapkan nama bayi - bayi anda ini? Karena kami akan membuat surat keterangan kelahiran." Tanya seorang suster.


"Sudah sus, nanti saya akan memberikannya pada anda."


"Baiklah nyonya muda. Nanti saya akan kembali lagi kemari setelah anda selesai beristirahat."


"Iya sus, tolong panggil bibi Nur untuk kemari."


"Iya nyonya muda." Suster itipun keluar dan tak lupa memberi hormat.


Tak lama bibi Nur masuk langsung menghampiri Yurina diranjangnya.


"Nyonya muda, anda memanggil saya...." Kata bibi Nir sambil memberi hormat pada Yurina.


"Bibi Nur, dimana bibi menyimpan amplop putih dan kertas nama bayi itu bi." Tanya Yurina.


"Sebentar nyonya muda, akan saya ambilkan." Bibi Nur beranjak menuju salah satu lemari pakaian diruangan itu lalu mengambil benda yang diminta Yurina.


"Ini nyonya muda.... yang anda minta." Kata bibi Nur sambil menyerahkan amplop dan kertas putih pada Yurina.


"Terima kasih bibi. Apakah bibi sudah makan siang?"


"Sudah nyonya muda."

__ADS_1


"Kalau begitu bibi istirahat saja dulu, bibi pasti lelah. Nanti saya akan panggil bibi lagi bila ada yang saya perlukan."


"Baik nyonya.muda." Bibi Nur lalu beranjak menuju ranjang dua bayi yang sedang lelap tertidur.


__ADS_2