JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 32 "Serius sekali... aku tak dihiraukan"


__ADS_3

Tok...


Tok...


Tok....


"Masuklah..."


"Kau sudah kembali?" Tanya Moranno saat melihat Yurina mendekatinya.


"Iya...."


"Tunggulah sampai aku selesai berkerja, nanti kita akan pulang bersama." Kata Moranno.


"Baiklah." Yurina lalu duduk disofa tamu dan mulai membaca buku yang ia ambil dirak buku. Yurina mulai tenggelam dalam bacaannya, halaman demi halaman ia buka dan pelajari.


Sementara Moranno dan asisten Rudi sibuk melakukan pekerjaannya, sesekali ia memperhatikan Yurina yang tengah pokus pada bukunya. Sampai akhirnya pekerjaan Moranno dan asisten Rudi selesai.


Setelah asisten Rudi keluar dari ruangannya, Moranno mendekati Yurina yang masih tenggelam dengan bukunya. Sejenak Moranno memperhatikan sampul buku yang dibaca isterinya itu, lalu beralih memandang wajah isterinya yamg belum menyadari kehadirannya.


"Serius sekali.... Aku tak dihiraukan." Kata Moranno mengoda isterinya.


"Ah, iya... maafkan aku. Apakah pekerjaanmu sudah selesai?"


"Hmmm." Moranno hanya mengangguk memandang wajah Yurina.


"Sebentar ya, kuselesaikan dulu, tanggung masih dua halaman." Kata Yurina sambil beralih kebukunya. Moranno mengambil posisi duduk disamping isterinya, lalu ikut membaca apa yang dibaca isterinya itu.


"Ibu hamil bacaanya kok berat begitu. Konstruksi beton, tiang pancang, tulangan."


"Biar anaknya pintar sejak dalam kandungan." Seloroh Yurina.


"Buku dengan halaman setebal itu bisa selesai dalam dua jam?"


"Iya, aku hanya mengulang saja, untuk mengingat yang pernah ku pelajari, supaya tidak lupa walau sedang cuti."


"Good... Nanti bila bayi-bayi kita telah lahir, kau boleh melanjutkan kuliahmu."


"Terima kasih."


"Ayo, waktunya kita pulang."


Moranno lalu menenteng paper bag yang dibawa Yurina, sementara tangan satunya lagi menggandeng tangan isterinya itu.


"Kalian sudah selesai?" Tanya Moranno pada asisten Rudi dan sekretaris Fhani.


"Sudah tuan." Kata keduanya bersamaan.


"Baiklah, kalian boleh pulang, besok kita lanjutkan lagi."


"Baik tuan." Keduanya berdiri memberi hormat.


Moranno hanya sedikit menganggukkan kepalanya sedangkan Yurina memberikan senyuman kepada pegawai suaminya. Keduanya berlalu memasuki lift pribadi Moranno.


Pak Kasan yang melihat kedua majikannya itu datang mendekat lalu membukakan pintu mobil dan mempersilahkan masuk ke dalam mobil dan segera menutupnya kembali.


Pak Kasan yang bergegas masuk dan duduk dibelakang kemudi segera menghidupkan mesin dan perlahan menjalankan mobil. Lalu lintas sore itu tampak begitu ramai seperti biasanya. Lalu lalang berbagai macam kendaraan begitu padat, sehingga perjalanan mereka tersendat-sendat.


"Pak Kasan, kita singgah di pusat perbelanjaan yang ada didepan ya?" Kata Moranno pada sopirnya.


"Baik tuan." Pak Kasan lalu membelokan mobilnya memasuki area pusat perbelanjaan yang dimaksud tuannya.


Setelah mobil terparkir dengan rapi, pak Kasan segera keluar dan membuka pintu untuk kedua majikannya itu.

__ADS_1


"Tunggu, pakai ini dulu." Kata Moranno sambil mengenakan kacamata cokelat gelap dan topi pada kepala Yurina. Yurina hanya bisa menurut. Moranno pun juga mengenakan kacamata dan topi yang sama.


"Kenapa kita mengenakan ini? Tanya Yurina heran.


"Ini tempat umum, aku tak ingin kita terganggu karena orang mengenali kita melalui pemberitaan - pemberitaan lalu itu.


"Kapan kau menyiapkan semuanya ini?"


"Tadi, saat kau bertemu bu Sari. Aku kan suami siaga." Jawab Moranno sambil menyunggingkan senyumnya.


"Terima kasih." Kata Yurina membalas senyum Moranno.


"Ayo." Moranno segera membantu Yurina keluar dari mobil.


Keduanya lalu meninggalkan pak Kasan yang menunggu dimobil.


Suasanan pusat perbelanjaan tampak ramai, Moranno menggenggam tangan Yurina dengan erat.


Moranno tampak tertegun saat matanya tak sengaja melihat seorang wanita paruh baya yang sangat dikenalnya sedang bercengkrama dengan seorang gadis di restoran yang mereka lewati.


Moranno membawa Yurina memasuki salah satu butik langganan keluarganya.


"Untuk apa kita kesini?" Tanya Yurina sesaat setelah mereka berada didalam butik.


"Berbelanja keperluan ibu hamil." Jawab Moranno, sambil melepaskan kacamatanya.


"Tuan Moranno, selamat datang kembali dibutik kami. Ada yang bisa kami bantu?" Seorang wanita cantik dan seksi berkulit putih menghampiri Moranno dan Yurina sambil mengulurkan tangannya.


Moranno lalu menerima uluran tangan wanita itu dengan menyunggingkan senyumnya.


"Ini isteriku." Kata Moranno memperkenalkan Yurina yang berdiri disampingnya.


"Yurina." Kata Yurina sambil mengulurkan tangĂ nnya.


" Terima kasih, saya juga nona." Kata Yurina sambil melepaskan jabatan tangan mereka.


"Nona Lilianan, isteri saya sedang mengandung, kami memerlukan beberapa pakaian ibu hamil." ucap Moranno menyampaikan maksudnya pada pemilik butik tersebut.


"Selamat ya buat tuan dan nyonya. Mari saya antar untuk melihat-lihat." Liliana lalu membawa kedua tamunya menuju khusus pakaian ibu hamil.


Yurina dan Moranno mengikuti Liliana dari belakang.


"Baju ini sepertinya sangat cocok untuk nyonya." Liliana mengambil salah satu pakaian dan memperlihatkannya pada Yurina.


"Dan ini juga." Kata Liliana lagi sambil mengambil beberapa pakaian yang tergantung dengan tangannya.


"Boleh saya coba?" Tanya Yurina pada Liliana.


"Tentu saja nyonya, disebelah sini ruang gantinya." Liliana menunjukan satu ruangan ganti disudut tempat ia berdiri.


Yurina lalu masuk membawa beberapa pakaian yang telah dipilihkan untuknya. Ia mulai mengenakannya satu persatu, semua terasa nyaman ditubuhnya, dan terlihat mewah juga. Mata Yurina tiba-tiba terbelalak saat melihat label harga di salah satu pakaian yang baru saja ia lepas dari tubuhnya.


"Membeli satu baju saja ditempat ini, aku bisa membeli berpuluh-puluh lembar di tempat biasa aku berbelanja." batin Yurina.


Setelah merapikan semua baju-baju itu Yurina keluar dari ruang ganti mendekati Moranno dan Liliana yang sedang berbicang sambil menunggu dirinya.


Yurina lalu menyerahkan semua pakaian yang ia bawa ditangannya pada Liliana.


"Bagaimana nyonya, apakah anda menyukainya? Tanya Liliana pada Yurina.


"Iya saya menyukainya, tapi saya akan memperlihatkannya dulu pada suami saya untuk mendapat persetujuannya." Kata Yurina sambil membuka galeri ponselnya dan memperlihatkannya pada Moranno. Yurina membawa Moranno sedikit menjauh dari Liliana.


Moranno lalu memperhatikan satu-persatu hasil jepretan isterinya itu.

__ADS_1


"Bagus, cocok untukmu."


"Tapi harganya selangit. Kita cari ditempat lain saja." Bisik Yurina pada Moranno takut terdengar oleh Liliana.


"Apa kau pikir aku tak sanggup membayarnya, hmmm?" Kata Moranno yang ikut berbisik.


"Bukan itu maksudku."


"Lalu?"


"Iya, aku hanya ingin kita berhemat saja, tak perlu membeli barang-barang semahal ini."


"Aku mengerti maksudmu, dan aku hargai semua prinsipmu itu. Tapi aku ini suamimu, aku tak ingin menjadi suami yang pelit pada isterinya, dan akupun melakukan semuanya ini bukan untuk menunjukan kemampuanku. Aku hanya ingin kau bahagia juga anak-anak kita yang kau kandung. Buatlah aku juga bahagia karena bisa melakukannya untukmu." Kata Moranno sambil menatap wajah Yurina.


Yurina dapat melihat kesungguhan ucapan kata-kata Moranno dari tatapannya.


"Baiklah." Kata Yurina akhirnya menyetujui.


"Nona Liliana, semua yang isteri saya tadi coba, semuanya saya beli." Kata Moranno pada Liliana.


"Baik tuan."


"Tolong semuanya dibawa kekasir." Kata Liliana pada salah satu pegawainya.


"Sepertinya kau juga membutuhkan ini." Kata Moranno sambil mengambil satu set pakaian dalam wanita yang tergantung disisi tempat ia berdiri.


Mata Yurina terbelalak, ia segera merampas apa yang dipegang suaminya itu.


"Kenapa? Bukan kah itu cocok dengan ukuranmu?" Kata Moranno yang terheran melihat sikap Yurina yang merebut secara tiba-tiba satu set pakaian dalam yang ia pegang.


"Bagaimana kau bisa tahu?" Kata Yurina setengah berbisik.


"Iya tahulah, aku kan melihatnya, sekarang semuanya terlihat membesar."Kata Motanno tanpa sadar.


Yurina segera membekap mulut suaminya itu dengan kedua tangannya, wajahnyapun merona merah.


"Apa maksudmu kau melihatnya?" Tanya Yurina dengan wajah semakin merona.


Moranno akhirnya tersadar dengan ucapannya, saat melihat Liliana sang pemilik butik tersenyum-senyum melihat tingkah laku kedua pasangan suami isteri itu.


"Tidak apa-apa nyonya, tuan Moranno ternyata sangat memahami anda, sungguh suami idaman, anda sangat beruntung nyonya." Puji Liliana.


Moranno mengedipkan matanya pada Yurina saat mendapatkan dukungan dari Liliana. Yurina pun segera melepaskan kedua tangannya yang sedang membekap mulut suaminya itu.


"Karena kau telah mendukungku, aku membeli dua lusin set pakaian dalam dari butikmu ini untuk isteriku." Kata Moranno pada Liliana


"Baik tuan, kami akan segera mengemasinya." Kata Liliana dengan senyumannya. Ia lalu memanggil pegawainya untuk mengemasi set pakaian dalam sesuai pesanan Moranno.


"Itu terlalu banyak, tak mungkin aku menggunakannya sebanyak itu." Kata Yurina dengan wajahnya yang masih merona merah.


Moranno pura-pura tidak mendengar.


"Apa masih ada yang kau perlukan?"


"Tidak. Ini sudah lebih dari cukup." Kata Yurina dengan wajah yang terkesan tak nyaman, karena baru kali ini ia dibelanjakan sebanyak itu.


Moranno hanya tersenyum melihat tingkah isterinya itu. Keduanya lalu pergi kearah kasir untuk menyelesaikan pembayaran apa yang mereka beli.


Kasir lalu memberikan struk pembayaran, Moranno menahan tangan Yurina yang hendak menyerahkan kartunya pada kasir. Moranno segera memberikan kartunya, setelah selesai diproses oleh kasir keduanya lalu menghampiri Liliana yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Terima kasih tuan dan nyonya yang telah berkunjung dan berbelanja di butik kami. Kami menunggu kunjungan tuan dan nyonya selanjutnya. Barang-barang belanjaan akan diantar pegawai kami ke mobil anda tuan."


"Terima kasih." Kata Moranno dan Yurina bersamaan. Keduanya pun berlalu.

__ADS_1


__ADS_2