JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 96 "Saya khawatir dia demam."


__ADS_3

Pintu ruangan Moranno tiba - tiba diketuk dari luar. Yurina segera menghapus air matanya menggunakan tissue yang ada di atas nakas.


Tidak lupa, ia juga membersihkan air matanya yang sempat tertumpah diwajah Moranno yang masih terlihat seperti orang tertidur.


"Masuklah...." Kata Yurina sambil menatap kearah pintu yang masih diketuk.


"Selamat malam nyonya.... Apa anda yang membunyikan bel panggilan?" Kata pria berbaju dokter sambil memasuki ruangan bersama seorang suster.


"Iya, saya dokter Rogen. Tubuh suami saya terasa hangat. Saya khawatir dia demam." Kata Yurina.


Dokter Rogen segera mendekati Moranno yang sedang terbaring diranjang pasien.


Ia mulai memeriksa suhu tubuh Moranno menggunakan tangannya, lalu menggunakan alat stetoskop untuk mendengarkan suara organ - organ didalam tubuh Moranno.


"Bagaimana dok...." Tanya Yurina memandang wajah dokter Rogen.


"Tuan Moranno memang agak demam nyonya. ini diakibatkan beberapa luka pasca kecelakaan itu dan juga luka operasi yang membengkak pada tubuhnya. Tapi bila luka - luka itu sembuh, tuan tidak demam lagi." Jelas dokter Rogen.


"Kapan kesadaran suami saya bisa kembali dokter...." Tanya Yurina lagi.


"Kami sedang berusaha sebaik mungkin nyonya.... Kami akan lebih sering memeriksa keadaan tuan, juga memberikannya obat - obatan lewat infus. Kita berdoa saja, tetaplah punya harapan dan semangat nyonya, itulah dukungan yang sangat tuan Moranno harapkan untuk saat sekarang ini."


Yurina mengangguk - anggukkan kepalanya mendengar penjelasan dokter Rogen. Ia sudah tidak bisa bertanya lagi, apalagi berpikir lebih jauh tentang sakit suaminya itu.


Ya, untuk sekarang ini ia hanya bisa berdoa saja kepada Tuhan seperti yang telah dikatakan dokter Rogen, dan mempercayakan dokter dalam menangani penyakit suaminya itu.


"Saya akan melanjutkan pemeriksaan pada tian Moranno nyonya."Kata dokter Rogen saat melihat Yurina sedang memikirkan sesuatu.


"I... Iya dokter... Silahkan dilanjutkan. Apakah saya masih boleh disini?" Tanya Yurina.


"Tentu saja nyonya...." Dokter Rogen lalu mulai memeriksa beberapa luka Moranno yang ada dibagian tubuhnya.


Memang benar luka - luka itu sedang membengkak. Suster yang mendampingi dokter Rogen segera membersihkan luka Moranno dengan cairan anti septik, setelah itu ia mengoleskan obat luka yang telah ia siapkan.


Beberapa luka lainnya pun dilakukan hal yang sama, sampai semuanya selesai diobati.


Yurina hanya memperhatikan apa yang dilakukan dokter Rogen dan suster dari tempat duduknya.

__ADS_1


Dokter Rogen meminta jarum suntik baru pada suster yang mendampinginya itu. Ia lalu menyuntikkan obat yang telah ia sediakan pada bagian tubuh Moranno.


Dan pada bagian tubuh Moranno yang lain dokter Rogen menyuntikkan juga obat menggunakan jarum suntik yang baru pula.


Terakhir, dokter kembali menyuntikkan obat menggunakan jarum suntik yang baru pada infus Moranno.


Yurina menahan napasnya setiap melihat dokter beberapa kali mengeluarkan jarum suntiknya untuk disuntikkan pada tubuh Moranno.


Ia membayangkan bila dirinya yang diposisi Moranno pasti sangat menyakitkan mengalami hal itu.


"Nyonya... kami sudah selesai." Kata dokter Rogen setelah membereskan peralatan medisnya.


"Untuk sementara waktu, tubuh tuan Moranno belum boleh digerakkan secara bebas nyonya. Tulang - tulangnya memang tidak ada yang patah, namun tulang belakang tuan sempat ada yang bergeser dan membengkok, itu sebabnya kemaren dilakukan operasi untuk mengembalikannya seperti semula." Kata dokter Rogen memberi penjelasan.


"Iya dok, saya mengerti.... Terima kasih banyak dok." Sahut Yurina.


"Kalau bagitu, kami permisi dulu nyonya...."


"Baik dokter dan suster. Silahkan..."


Dokter Rogen dan suster yang bersamanya memberi hormat terlebih dahulu, lalu membawa peralatan medis mereka meninggalkan ruang rawat Moranno.


Mengingat apa yang dipesan dokter Rogen, Yurina mengurungkan niatnya untuk memeluk tubuh Moranno kembali seperti di saat ia datang.


Yurina hanya bisa memandangi suaminya dari dekat. Wajah Moranno nampak pucat dan tanpa ekspresi disana.


Terlihat seperti sedang tertidur lelap. Yurina bangkit dari duduknya mendekati wajah suaminya itu.


Disentuhnya rambut kepala Moranno dengan satu tangannya, lalu diusapnya dengan sangat hati - hati.


Air matanya kembali menetes tak mampu terbendung.


Leher Moranno dipasang alat penyangga supaya tidak terjadi pergerakan mulai leher hingga tulang belakangnya.


Ventilator oksigen bergelayut menyambung menuju hidungnya.


Yurina memperhatikan pada monitor mesin pendeteksi detak jantung, terlihat masih stabil.

__ADS_1


Masih banyak peralatan - peralatan medis lainnya yang dipasang pada tubuh Moranno.


Air mata Yurina tak bisa berhenti mengalir melihat semuanya itu. Ia hanya bisa membayangkan betapa beratnya kesakitan yang harus ditanggung oleh Moranno suaminya itu akibat musibah kecelakaan itu.


Terdengar suara tangisan bayi, Yurina buru - buru menyeka air matanya. Dipandangnya sejenak wajah Moranno.


"Suamiku, aku akan mengurus kedua putra kita dulu. Kau beristirahatlah.... cepatlah sembuh, supaya kau bisa melihat mereka yang sangat menggemaskan...." Ucap Yurina masih berlinang air mata.


Dikecupnya kening Moranno dengan penuh perasaan dan sedikit lama. Lalu ia melepaskannya dan beranjak hati - hati keluar dari ruang rawat Moranno dan menutupnya kembali dengan rapat.


Sebelum masuk ke ruang rawat bayinya, Yurina kembali mengusap air matanya menggunakan tissue ditangannya lalu membuangnya ditempat sampah disudut ruang tamu.


"Bibi.... Mengapa mereka menangis?" Tanya Yurina saat sudah berada didalam ruang rawat dirinya dan bayinya.


"Mereka sama - sama buang air kecil nyonya, tapi saya sudah menggantinya. Jadi mereka sudah tertidur lagi nyonya." Jelas bibi Nur.


"Maafkan saya bibi, tadi agak lama." Kata Yurina pada bibi Nur.


"Iya, tidak mengapa nyonya. Tadi saya mau menyusul nyonya, takut terjadi apa - apa pada nyonya, tapi keburu bayi Billy dan bayi Willy menangis."


"Tadi saya.... keruang rawat suami saya bibi..." Yurina tidak bisa meneruskan kata - katanya, air matanya kembali mengalir.


Bibi Nur mendekati Yurina, diusapnya punggung Yurina yang berguncang menahan isak tangisnya.


"Yang sabar ya nyonya.... "Ucap bibi Nur dengan lembut berusaha menguatkan majikannya itu.


"Tapi.... Ini sangat tidak mudah bibi, saya selalu berusaha menghibur diri bahwa Moranno akan baik - baik saja. Tapi saat saya melihat kondisinya.... banyaknya alat - alat medis yang menempel pada tubuhnya, saya sadar bahwa Moranno tidak sedang baik - baik saja." Tangis Yurina pecah seketika.


Ruangan itu tiba - tiba saja menjadi riuh akibat suara tangis Yurina yang meledak.


Kedua bayi yang sedang tertidur langsung mengeliat - geliat merasa terganggu oleh ulah ibu mereka.


"Tenangkanlah diri anda nyonya, lihat bayi - bayi anda terbangun." Ujar bibi Nur sambil menuju ranjang kedua bayi kembar itu.


Yurina berusaha mengendalikan dirinya, didekapnya mulutnya supaya tidak mengeluarkan suara berisik.


Bayi kembar itu tertidur kembali dengan pulas setelah suasana ruangan terasa tenang kembali.

__ADS_1


"Saya mengerti ini sangat berat bagi nyonya. Tapi nyonya harus tetap kuat. Jangan pernah putus asa ya nyonya. Banyak - banyak lah berdoa, percayalah... nyonya pasti mampu melewati ini semua." Ucap bibi Nur berusaha memberi kekuatan.


__ADS_2