
Yurina tiba - tiba berhenti didepan pintu, membuat Moranno pun turut menghentikan langkahnya.
"Ada apa sayang?" Moranno menatap wajah Yurina yang berdiri ragu disampingnya.
"Aku....aku hanya sedikit gugup suamiku? Bagaimana kalau besok saja kita datang kemari?" Yurina mengambil napas dalam berusaha tenang untuk meredakan debaran jantungnya.
Moranno menatap wajah Yurina yang terlihat tegang. Dengan lembut ia mengelus lalu mencium punggung tangan isterinya itu.
"Sayang...... Sudah dua hari ini mereka disini.... menantimu untuk bertemu dengan mereka.... dan aku juga sudah turun tangan mendekor sendiri ruang pestanya..... Percayalah sayang..... semuanya akan baik - baik saja." Moranno menguatkan isterinya itu. Yurina menatap Wajah Moranno yang memberi kekuatan lewat senyumnya.
Moranno menekukkan sikunya, Yurina yang mengerti maksud Moranno segera menggandeng lengan Moranno yang berdiri disisinya.
Dua pelayan yang berdiri didepan pintu segera membuka pintu dengan lebar lalu membungkuk hormat dan mempersilahkan kedua majikannya itu masuk.
Perlihatkan senyummu sayang, jangan dengan wajah tegang seperti itu. Kau tidak sedang menemui seorang musuh kan..... tapi keluargamu....." Ledek Moranno membuat Yurina terpaksa memaksakan senyumnya.
Dengan gaun malam berwarna merah maron, Yurina nampak cantik dan anggun. Ia melangkah disisi Moranno yang mengenakan kemeja berwarna senada dengan isterinya itu.
Yurina menatap ruangan pesta keluarga yang telah dipersiapkan Moranno, ia merasa kagum pada selera dekorasi suaminya itu.
"Suamiku..... tidakkah semuanya ini terlalu berlebihan. Bukankah yang hadir hanya keluarga terdekat kita saja." Kata Yurina sedikit berbisik pada Moranno.
"Untuk wanita yang istimewa dalam hidupku, istriku..... ibu dari anak - anakku..... akan aku lakukan yang terbaik." Ucap Moranno sambil terus melangkah bersama Yurina kedalam ruangan.
Semua pasang mata yang telah menunggu tertuju pada sepasang suami isteri yang baru saja memasuki ruangan pesta.
Suasana tegang dalam ruang pesta keluarga itu menghinggapi semua yang hadir, kecuali Moranno.
Moranno membawa Yurina menghampiri seorang wanita lanjut dengan rambut putih yang menghiasi kepalanya. Wanita tua itu tidak melepaskan sedikitpun pandangannya dari Yurina yang masuk dari arah pintu hingga berdiri tepat dihadapannya bersama Moranno.
"Sayang......" Panggil.Moranno setengah berbisik sambil memberi isyarat supaya isterinya itu menyapa wanita tua dihadapannya itu.
Tubuh Yurina seakan terasa kaku, entah kemana kekuatan dan keberaniannya itu pergi saat berhadapan langsung dengan nyonya Naomi. Lidahnya terasa kelu tak mampu berbicara.
__ADS_1
"Nyonya muda keluarga Agatsa......" Sapa nyonya Naomi, pandangannya menatap lekat pada Yurina yang berdiri dihadapannya bersama Moranno suaminya. Semua keluarga yang hadir pun turut menatap kearah Yurina dan nyonya Naomi, dan menanti reapon dari sang nyonya muda itu.
"Apakah hanya seperti itu...... panggilan buat cucumu..... mana panggilan sayangmu untuk cucumu yang baru kau temukan..... nenek......" Ucap Yurina tersendat - sendat dengan suara bergetar. Air mata yang berusaha ia tahan tak urung jatuh begitu saja.
"Kau..... kau..... memanggilku nenek......" Nyonya Naomi nampak terkejut dan tanpa sadar melangkahkan kakinya maju dari tempat ia berdiri. Yurina pun melakukan hal yang sama, tanpa sadar ia melepaskan tangannya dari lengan Moranno melangkah maju untuk memeluk neneknya.
"Apakah kau sudah bisa memaafkan nenekmu yang jahat ini?" Ucap nyonya Naomi disela air matanya yang terus mengalir. rasa haru, bahagia bercampur jadi satu karena bisa memeluk cucu yang ia cari selama ini.
Yurina hanya mengangguk sambil memeluk erat tubuh nyonya Naomi.
Nyonya Morgan mendekati nyonya Naomi dan Yurina yang masih berpelukan erat. Disentuhnya punggung Yurina dengan lembut.
"Putriku...... Apakah kau hanya ingin berlama - lama memeluk nenekmu saja?" Ucap nyonya Morgan.
Yurina melonggarkan pelukannya dari nyonya Naomi, ia menatap wajah nyonya Morgan yang sudah meneteskan air matanya. Tangis Yurina langsung tumpah begitu saja dalam pelukan ibunya itu.
"Pantas saja..... pantas saja aku merasa nyaman saat berdekatan dengan anda nyonya..... ternyata anda adalah ibuku......." Ucap Yurina sesenggukkan. Nyonya Morgan ikut terisak pilu.
"Sayang..... aku juga ingin memeluk putriku....." Terdengar suara berat seorang pria yang sudah berdiri di belakang nyonya Morgan.
"Iya sayang....." Dengan cepat nyonya Morgan memberi ruang pada tuan Morgan suaminya untuk menggantikan posisinya.
Yurina menatap sedikit ragu kearah tuan Morgan yang langsung ingin memeluknya, ia beralih sejenak memandang pada Moranno yang berdiri didekatnya.
Bagi Yurina, sekalipun tuan Morgan adalah ayahnya, tapi ia baru mengetahuinya sekarang, dan ia nampak kikuk.
Moranno yang memahami pandangan Yurina memberi isyarat dengan anggukan kepalanya.
Dengan hati - hati Yurina mendekati tuan Morgan, ia memeluk pria paruh baya itu perlahan. Tuan Morgan langsung membalas pelukkan putrinya itu begitu erat dengan sepenuh hatinya.
"Putriku..... maafkan papa sayang, karena papa sehingga engkau dipisahkan nenekmu dari kami....." Suara tuan Morgan nampak bergetar menahan tangisnya.
" Jangan menyalahkan diri papa.... ini bukan salah papa....... semuanya karena kehendak Sang Takdir..... Tuhan sudah menyiapkan bunda Marissa untuk merawatku bersama anak - anak panti yang lain." Kata Yurina menghibur ayahnya.
__ADS_1
Yurina dapat merasakan ketulusan ayahnya itu. Selain Moranno, pelukan tuan Morgan terasa begitu hangat dan nyaman.
Nyonya Morgan turut memeluk dari belakang tubuh suami dan putrinya itu yang masih berpelukan melepaskan rasa rindu.
Setelah sekian lama larut dalam rasa haru. tuan dan nyonya Morgan akhirnya melepaskan pelukan mereka dari Yurina.
"Nyonya besar...... Terima kasih banyak karena anda telah menerima putri kami menjadi menantu dalam keluarga Agatsa." Kata tuan Morgan pada nyonya Agatsa yang sejak tadi hanya berdiam diri sambil menyaksikan pertemuan haru antara Yurina dan keluarganya. Nyonya Agatsa sedikit menyeka buliran air mata disudut - sudut matanya, karena semua yang hadir turut merasakan suasana haru termasuk dirinya.
"Sebenarnya...... saya tidak menerima Yurina putri anda menjadi menantu saya dirumah keluarga Agatsa." Ucap nyonya Agatsa terdengar lantang membuat tuan Morgan merasa tertusuk.
Semua yang hadir menatap kearah nyonya Agatsa dengan pandangan tak percaya pada apa yang mereka dengar, mereka tidak menduga nyonya yang terhormat itu mampu berbicara demikian.
Yurina hanya menundukkan kepalanya. Moranno mendekati Yurina dan menyandarkan tubuh Yurina padanya.
"Apa maksud anda nyonya besar?" Tanya nyonya Naomi dengan raut tidak mengerti.
"Seperti anda memandang menantu anda tuan Morgan dimasa lalu, demikian juga saya memandang Yurina. Bagi saya dia bukan wanita yang pantas menjadi isteri Moranno apalagi menjadi menantu didalam keluarga Agatsa."
"Saya berusaha membuatnya tidak betah berada dirumah kami, sekalipun saya tahu dia sedang mengandung, saya tetap ingin dia melakukan pekerjaan rumah seperti yang dilakukan para pelayan kami. Bagi saya itu pantas buat dia yang tidak jelas asal - usulnya."
"Namun Moranno selalu saja membelanya, sehingga membuat kami selalu bertengkar bila membahasnya."
****
♡♡♡Pemberitahuan untuk para pembaca tersayangku "JAGA HATIMU UNTUKKU", ceritanya sebentar lagi akan tamat. Author sudah membuat kisah kelanjutan untuk para penerus keluarga Agatsa di novel selanjutnya yang berjudul "HANARIA Wanita Sejuta Rasaku". Novel ini berkisah tentang seorang wanita mandiri, penuh perjuangan, yang akhirnya bersatu dengan salah satu penerus keluarga Agatsa. Yukz.... ikuti ceritanya....
Terima kasih untuk semua Pembaca tersayangku, kalian memberiku semangat untuk terus menulis karyaku. Doaku, semoga semua Pembaca tersayangku selalu diberikan kesehatan, umur yang panjang, kebahagiaan dalam keluarga, dan rejeki yang berlimpah - limpah.
Selamat hari raya Idul Fitri. Semoga dihari yang Fitiri ini, kita semua selalu diberikan keberkahan, baik didunia maupun diakhirat.
Salam sehat, dan tetap semangat. 👍👍🙏🙏👍👍 God Bless♡♡♡
__ADS_1