
Wajah Harry kembali menegang saat Moranno dan Margareth sudah berdiri dihadapannya. Demikian juga halnya dengan Margareth.
"Tuan Harry...... " Moranno menatap wajah Harry yang berdiri bersisian dengan bapak Pendeta dihadapannya.
Saya mewakili keluarga Agatsa, mempercayakan adik perempuan saya Margareth Agatsa untuk kau jaga seumur hidupmu, tidak akan pernah menduakannya, apalagi meninggalkannya. Bila kau ingin hidupmu bahagia, bahagiakanlah adikku." Ucap Moranno masih menatap wajah Harry yang juga sedang menatapnya.
"Dengan sepenuh hatiku, aku akan berusaha melakukan apa yang anda katakan itu tuan Moranno." Harry lalu memberikan sebuket bunga mawar berwarna putih yang telah ia siapkan pada Margareth dengan menekuk kaki kirinya sehingga posisinya sedikit berjongkok dihadapan Margareth, sambil memperlihatkan senyum tipisnya.
Margareth melihat Harry dihadapannya yang melakukan hal itu padanya, dirinya masih merasa tegang. Ia menatap sejenak kearah Moranno disampingnya, Moranno mengangguk memberi isyarat pada adiknya itu sambil tersenyum tipis.
Margareth balas tersenyum, lalu mengalihkan wajahnya menatap kembali pada Harry dihadapannya dan mengulurkan kedua tangannya menerima sebuket mawar putih yang telah disodorkan Harry padanya.
"Terima kasih....... tuan Harry" Ucap Margareth dengan wajah bahagia sambil mencium sebuket mawar putih segar ditangannya itu.
Harry kembali tersenyum saat melihat Margareth menyukai sebuket mawar putih pemberiannya. Ia kembali berdiri tegak dari posisi berjongkoknya, lalu menekuk tangan kanannya memberi isyarat pada Margareth untuk menggandeng lengannya.
Walau sedikit ragu, Margareth tetap meraih lengan Harry dan menggandengnya. Hawa hangat dari sentuhan tangannya dilengan Harry langsung menyebar keseluruh tubuhnya mengikuti aliran - aliran darahnya. Hal itu membuat hatinya kian berdebar, detak jantungnya semakin cepat berdetak tidak beraturan.
Margareth mengikuti langkah kaki Harry yang membawanya menuju altar khusus untuk pemberkatan nikah kudus.
Sementara lagu pujian dikumandangkan secara bersama oleh segenap yang hadir, Margareth dan Harry telah berdiri tegak dihadapan seluruh jemaat, yang pada hari itu sedang menjadi pusat perhatian.
Setelah pujian dinyanyikan, bapak Pendeta menyampaikan pesan - pesan Firman pada kedua mempelai untuk memasuki bahtera rumah tangga baru mereka.
Kedua pengantin itu, dipersilahkan menyematkan cincin pernikaham dijari manis pasangannya masing - masing, sambil mengucapkan janji pernikahan.
"Dihadapan Tuhan dan jemaat-Nya, saya..... Harry Gunzerb mengambil engkau Margareth Agatsa untuk menjadi isteriku yang sah. Selalu berjanji setia, dalam duka dan suka, sakit dan sehat, kekurangan dan kelimpahan, untung dan malang. Menerima kekurangan maupun kelebihanmu. Saling menghormati, menghargai dan menjaga sampai maut memisahkan kita."Ucap Harry dengan suara yang terdengar begitu lantang dan penuh semangat.
__ADS_1
"Dihadapan Tuhan dan jemaat-Nya, saya..... Margareth Agatsa menerima engkau Harry Gunzerb untuk menjadi suamiku yang sah. Selalu berjanji setia, dalam duka dan suka, sakit dan sehat, kekurangan dan kelimpahan, untung dan malang. Menerima kekurangan maupun kelebihanmu. Saling menghormati, menghargai dan menjaga sampai maut memisahkan kita."Ucap Margareth dengan suara yang tidak kalah lantang dan bersemangat.
Setelahnya mereka berdua sama - sama membubuhkan tanda tangan disurat nikah masing - masing dengan Moranno sebagai saksi mempelai perempuan, dan tuan Morgan sebagai saksi mempelai laki - laki, yang turut serta membubuhkan tanda tangan disurat nikah itu.
"Tuan Harry silahkan membuka kerudung mempelai wanita dihadapanmu, apakah benar..... mempelai wanita itu adalah pengantin wanitamu??" Ucap bapak Pendeta sedikit menggoda sambil tersenyum lebar.
Harry menatap sejenak wajah Margareth yamg masih tertutup kerudung tipis berwarna putih. Tidak bisa dipungkiri, hatinya jadi berdebar untuk melihat wajah pengantin wanitanya yang juga sedang mentapnya dibalik kerudung tipisnya.
Dengan perlahan, disentuhnya ujung kerudung tipis yang masih menutupi wajah Margareth dengan kedua tangannya. Dan dengan sangat hati - hati disingkapkannya kerudung itu ke belakang sanggul rambut Margareth dan merapikannya dengan sentuhan lembutnya.
"Tuan Harry apakah benar wanita yang berdiri dihadapanmu itu adalah wanita yang memang kau pilih menjadi isterimu?? Bila ya.... kau boleh memberikan ciuman pertamamu pada keningnya." Ucap sang Pendeta mempersilahkan.
Harry kembali menatap wajah Margareth yang terlihat kikuk menerima tatapannya. Perlahan Harry mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Margareth yang nampak tersipu. Dengan penuh perasaan, bibirnya mendaratkan kecupan lembut nan singkat, namun itu begitu membekas dihatinya, begitu juga dengan Margareth yang sempat memejamkan matanya merasakan sentuhan bibir Harry dikeningnya.
Tepuk tangan terdengar meriah dari seluruh jemaat yang sudah menyaksikan upacara pernikahan kudus, antara Harry Gunzerb sebagai memepelai laki - laki, dengan Margareth Agatsa sebagai mempelai perempuan dihari itu.
Dari gedung gereja itu mereka menuju hotel yang sudah dipesan untuk resepsi Pernikahan Harry dan Margareth. Ada banyak tamu undangan yang berdatangan untuk memberi ucapan selamat atas pernikahan kedua pasangan pengantin yang sedang berbahagia dimalam itu.
Gigi Harry dan Margareth serasa mengering karena selalu memberi senyuman pada setiap tamu tanpa henti - hentinya dipesta itu.
"Dokter Margareth..... tuan Harry..... Selamat atas pernikahan anda berdua..... semoga selalu diberkati." Ucap dokter Mories pada kedua pasangan pengantin itu dengan senyum hangatnya. Isterinya yang juga hadir bersamanya turut mengucapkan ucapan yang sama pada kedua pasangan pengantin itu.
"Dokter Margareth, anda beruntung memiliki suami yang sangat mencintai anda, demikian juga sebaliknya. Hampir setiap saat tuan Harry menelpon saya saat anda sakit, itu sebabnya saya mengirimkan suster Hera menemani anda dirumah." Ucap dokter Mories terbuka.
Margareth menatap Harry sejenak, lalu kembali menatap kearah dokter Mories. Harry pura - pura memasang wajah tidak mengert akani apa yang sedang dibicarakan antara dokter Mories dan Margareth.
"Kenapa dokter tidak mengatakannya pada saya waktu itu?" Ucap Margareth dengan wajah penuh tanya.
__ADS_1
"Tuan Harry yang melarangnya. Yang penting, sekarang dokter dan tuan Harry sudah bersama, hati saya turut senang dan ikut berbahagia atas pernikahan kalian. Sekali lagi selamat buat anda berdua......" Ucap dokter Mories dengan senyum lebarnya.
"Terima kasih banyak tuan Mories dan nyonya, sudah berkenan hadir dalam pesta pernikahan kami." Sahut Margareth dengan sikap hormat pada sang pemimpin rumah sakit dimana dirinya pernah berkerja selama belasan tahun.
"Saya juga berterima kasih tuan Mories, anda sudah banyak membantu saya selama ini dalam menjaga calon isteri saya. Juga anda nyonya..... maafkan saya yang sering mengganggu dengan menelpon suami anda untuk urusan pribadi saya disaat anda sedang bersama tuan Mories." Ucap Harry tulus.
"Sama - sama tuan Harry, dokter Margareth sudah kami anggap seperti putri kami sendiri, terlepas dari dia adalah salah satu dokter terbaik dirumah sakit kami, iya kan sayang??" Sahut dokter Mories tetap dengan senyumnya.
"Iya sayang..... kau benar....." Ucap nyonya Mories dengan senyum hangatnya. Ia memeluk Margareth dan menciumnya sebagai ucapan selamat. Keduanya berlalu karena ada banyak yang mengantri untuk memberi ucapan selamat dibelakang mereka.
...•••...
♡♡♡
Terima kasih buat para readers setia novel JAGA HATIMU UNTUKKU yang sebentar lagi akan TAMAT. Yukz, mampir di novel 'HANARIA Wanita Sejuta Rasaku'. Mengisahkan tentang seorang wanita tangguh, dan pekerja keras, ulet, sehingga menjadi kesayangan pemilik perusahaan yang memperkerjakannya, jangan ditanya untuk pria - pria muda. Cucu kembar dari keluarga Agatsa pun ikut mengharapkan cintanya.
#HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Karya :
#Nama pena : Dewi Payang
#FB Indah Sosilawati
#IG Indah Sosilawati
♡♡♡
__ADS_1