
"Sayang, kok larinya kencang amat, mamah tertinggal jadinya." Kata dokter Rosalie sedikit terengah - engah saat didekat anak kecil itu.
"Mamah... dedek...." Ucapnya sambil meraih tangan dua bayi gembul itu.
Yurina hanya tersenyum melihat tingkahnya dengan pipi yang amat chubby.
"Rosa suka adik - adik bayi?....." Tanya dokter Rosalie sambil berjongkok didekat kereta - kereta bayi.
"Hmmm... ." Ia mengangguk menatap dokter Rosalie. Lalu kembali beralih pada dua bayi kembar itu. Ia mulai memainkan kedua tangannya didepan wajahnya.
"Tiiii.... luk... baaaa...."
"Tiii.....luk.....baaaa...." Ucapnya bersemangat memainkan mimik wajah dan kedua tangan kecilnya.
Bayi Billy dan bayi Willy tertawa kegirangan. Kedua bayi kembar itu terlihat sangat menyukai anak perempuan yang bermain dengan mereka.
Suara cadelnya, tingkah lucunya membuat Yurina, dokter Rosalie dan bibi Nur tertawa geli.
"Selamat pagi nyonya muda dan bibi Nur...." Sapa dokter Rosalie memberi senyuman sambil bangkit berdiri.
"Selamat pagi juga dokter...." Sahut Yurina dan bibi Nur membalas senyuman dokter Rosalie.
"Anak perempuan ini sangat lucu dan menggemaskan, siapa namanya?" Tanya Yurina sambil memperhatikan anak perempuan yang sedang bermain dengan kedua putranya.
"Rosalia...." Sahut dokter Rosalie singkat dan ikut memperhatikan tingkah polah Rosalia.
"Anak tuan Hartawan.... yang dibawa pengasuhnya menemui dokter karena menangis pada hari ibunya meninggal?" Tanya Yurina dengan mata membulat.
"Iya, bayi yang menangis waktu itu." Ucapnya lirih.
"Bagaimana.... bagaimana bisa Rosalia memanggil dokter mamah, apakah dokter sudah menikah dengan tuan Hartawan?" Yurina agak ragu bertanya, namun rasa penasarannya membuat dirinya terpaksa blak - blakan bertanya.
"Tidak nyonya muda. Rosalia sejak lahir hanya bertemu beberapa kali saja dengan ibunya. Sepeninggal ibunya, saat Rosalia sakit, ataupun sedang rewel.... pengasuhnya, juga nenek kakeknya sering mengantarkannya pada saya. Mungkin karena itu ia mengira bahwa saya adalah ibunya." Jelasnya.
"Nona Rosalia, waktunya sarapan pagi..." Ucap pengasuhnya sambil membawa kotak makanan.
"Gakkk....." Sahut gadis mungil itu menolak karena asik bermain dengan bayi Billy dan bayi Willy.
Sang pengasuh memandang kearah dokter Rosalie seolah meminta bantuan.
Dokter Rosalie yang memahami maksud pandangan sang pengasuh mendekati Rosalia yang masih asik dengan kegiatan mainnya.
__ADS_1
"Rosalia sayang.... Sarapan dulu ya nak.... " Bujuk dokter Rosalie lembut.
"Gakkk mamah, Loca... agi... ain... dedek" Bantahnya dengan suara cadel yang menggemaskan.
"Adik - adik bayi mau suntik dulu supaya tambah sehat. Jadi, kalau sehat bisa main lagi dengan kakak Rosa ya. Terus... mamah mau kerja, suntik banyak adik bayi... Jadi kakak Rosa harus sarapan dulu ditemani kakak Rara.... Mau ya sayang." Bujuk dokter Rosalie lagi.
"Hmmm.... Mamah njiii...." Ucapnya sambil memajukan jari kelingkingnya pada dokter Rosalie.
"Iya, mamah janji. Rosalia boleh main sama baaanyak adik bayi." Sahut dokter Yurina mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Rosalia yang begitu mungil.
Rosalia lalu meraih tangan gembul bayi Billy dan bayi Willy, menciumnya dengan mulutnya berulang - ulang. Kedua bayi itu tertawa senang diperlakukan seperti itu, kaki - kaki gembul mereka pun ikut bergerak - gerak seolah - olah ingin melompat didalam keretanya.
"Bye...byeee... dedekkkk.... Bye.... byeeee mamahhhh...... Bye.... byeeee......" Gadis mungil itu melambaikan tangannya sambil berlalu menggandeng tangan pengasuhnya.
"Rosalia adalah anak yang menyenangkan, lucu dan menggemaskan. Dokter Rosalie sangat cocok jadi ibunya." Ucap Yurina sambil melirik kearah dokter Rosalie, ingin mengetahui responnya.
"Nyonya muda, ayo kita segera masuk, sebelum yang lain datang mengantri." Ujar dokter Rosalie pura - pura tidak mendengar perkataan Yurina.
"Baik dokter....." Yurina tersenyum simpul, ia tahu dokter Rosalie berusaha menghindar.
***
Tidak ada tangisan, saat bayi Billy menerima suntikan dibagian tubuhnya, matanya hanya membola menatap dokter Rosalie saat jarum tajam itu menusuk paha gembulnya.
Kedua bayi kembar itu membuat dokter Rosalie sangat kagum.
"Nyonya muda, kedua bayi kembar anda sangat hebat, mereka tidak sedikitpun menangis apalagi meringis, hanya matanya saja yang membulat merasakan jarum suntik." Ucap dokter Rosalie dengan senyumnya.
Yurina ikut tersenyum mendengar ucapan dokter Rosalie.
"Tadinya saya khawatir mereka akan menangis dok. Apakah nantinya mereka akan demam dok?"
"Biasanya demam nyonya, tapi ada juga sebagian anak yang tidak mengalami demam." Sahut dokter Rosalie sambil mengusap kapas pada bagian yang terkena suntikkan.
"Berat badan bayi Billy sudah mencapa enam kilo tiga ons, dan bayi Willy enam kilo empat ons." Kata dokter Rosalie sambil melihat dibuku berwarna pink milik kedua bayi kembar itu.
" Pantas saja mereka sudah terasa berat digendong dok..." Sahut Yurina sambil memperhatikan dokter Rosalie yang masih pokus pada buku pink dihadapannya.
"Untuk panjang badan selalu bertambah dua senti setiap bulannya, lingkar kepala bertama nol koma 6 senti setiap bulannya. Mereka berdua terbilang bayi yang tumbuh dengan baik dan sangat sehat nyonya muda."
"Tiga bulan lagi nyonya muda harus kembali lagi untuk vaksin yang keenam bulan." Ucap dokter Rosalie sambil menutup buku pink dihadapannya.
__ADS_1
"Baik doker. Dokter.... ada yang ingin saya tanyakan pada anda dokter. Mohon dijawab dengan jujur." Ucap Yurina tiba - tiba serius.
Dokter Rosalie merapikan duduknya, ia merasakan ada sesuatu yang sangat penting sehingga Yurina berkata demikian.
"Apa dokter Rosalie mengetahui dimana keberadaan nona Margareth?" Tanya Yurina menatap serius kewajah dokter Rosalie yang tiba - tiba berubah.
Dokter Rosalie terperangah, perubahan wajahnya terekam jelas dimata Yurina.
"Untuk apa nyonya muda menanyakan nona Margareth?" Tanyanya menyelidik.
"Ketiga dokter dari luar negeri itu sudah pulang kenegaranya masing - masing, namun belum ada perubahan pada tuan Moranno. Bukan berarti saya meragukan kemampuan mereka. Saya percaya, semuanya butuh proses."
"Tetapi sebagai istri, saya harus berusaha dengan cara apapun untuk membantu suami saya agar sembuh."
"Bukankah nona Margareth juga adalah seorang dokter?" Tanya Yurina diakhir penuturannya.
"Anda benar nyonya muda. Bagaimana saya bisa lupa kalau nona Margaret adalah juga seorang dokter, bahkan dia adalah dokter saraf." Dokter Rosalie langsung bersemangat saat Yurina mengingatkannya tentang sahabatnya itu.
Yurina pun tidak kalah bersemangat saat mendengar ucapan dokter Rosalie.
"Tapi saya sedikit ragu nyonya muda, selama ini dia tidak pernah mau kembali kekeluarganya. Bayangkan saja, waktu tuan Moranno menikah, dia sama sekali tidak berkenan datang, keras kepalanya mewarisi nyonya besar." Ucapnya tak sadar.
"Apa anda memiliki nomor ponselnya dokter?" Tanya Yurina.
"Iya, tapi nona Margareth sangat selektif, ia tidak pernah mau mengangkat nomor yang tidak dikenalnya nyonya muda." Jelas dokter Rosalie.
"Begini saja...." Dokter Rosalie lalu menuliskan sesuatu dikertas, setelah selesai ia memberikannya pada Yurina.
"Jauh sekali tempatnya dokter." Ucap Yurina saat membaca alamat yang tertulis dikertas.
"Sebaiknya nyonya muda langsung menemui nona Margarerh, mungkin saja ia bisa bersimpati. Saya juga sudah menuliskan nomor ponselnya dikertas itu."
"Mengapa nona Margareth bisa menjadi sedingin itu dokter." Tanya Yurina ingin tahu.
"Maafkan saya nyonya muda, saya tidak bisa mengatakan apapun mengenai privasi keluarga Agatsa."
"Baik, saya mengerti dokter. Terima kasih untuk informasi ini, secepatnya saya akan menemui nona Margareth."
"Saya permisi dulu, saya ingin membawa bayi - bayi saya menemui daddynya." Pamit Yurina.
"Baik nyonya muda." Dokter Rosalie berdiri untuk memberi hormat pada Yurina seperti biasanya.
__ADS_1
***
♡♡♡ Terima kasih buat para pembaca yang berkenan meninggalkan like dan komennya ♡♡♡