JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 193 "Aku takut akan terlambat datang dipemberkatan nikahku."


__ADS_3

Setelah beberapa lama mencoba satu demi satu gaun pengantin, Margareth akhirnya menjatuhkan pada tiga gaun pilihan yang sangat ia sukai.


"Kau akan mengenakan ketiga gaun itu semuanya sayang??" Tanya nyonya Agatsa melihat ke wajah putrinya.


"Entahlah mom, tapi aku menyukai ketiganya....." Sahut Margareth dengan wajah ceria. Untuk sesaat nyonya Agatsa melihat senyum putrinya yang dulu telah kembali, hatinya sedikit merasa lega.


"Nanti..... jas untuk pengantin laki - lakinya akan disesuaikan selaras dengan ketiga gaun ini ya cie....." Ucap Yurina pada sang pemilik butik.


"Iya nyonya muda kami akan segera mempersiapkannya." Sahut pemilik butik menyanggupi.


"Kakak ipar..... Apakah tuan Harry menyetujui pilihanku ini?" Margareth menatap Yurina dengan perasaan was - was.


"Tidak perlu khawatir adik ipar..... kak Harry pasti menyukai pilihanmu, dia kan mencintaimu....??" Wajah Margareth merona merah mendengar ucapan Yurina yang begitu indah terdengar ditelinganya.


"Dulu.... saat kakak ipar menikah dengan kak Moranno, apakah kakak ipar yang memilihkan gaun dan jas pengantinnya??" Tanya Margareth penasaran. Yurina mendadak kaget, ia tidak menduga Margareth akan menanyakan pertanyaan itu padanya. Ia menatap wajah ibu mertuanya yang pura - pura melihat kearah lain.


"Saat itu..... gaun pengantin.... juga jas pengantin, yang memilihkannya adalah asisten Rudi dan sekretaris Fhani." Sahut Yurina pelan dan hati - hati, ia takut salah bicara, mengingat pernikahannya dengan Moranno dahulu karena adanya suatu insiden.


Margareth tiba - tiba tergelak, membuat Yurina dan nyonya Agatsa saling berpandangan heran melihat tingkahnya.


"Sebenarnya...... aku ingin seperti pasangan lainnya kakak ipar. Bersama calon suami memilih gaun pengantin dan jas pengantin berdua, jadi sama - sama bisa melihat, dan sama - sama merasa cocok. Tapi, setelah mendengar bagaimana kakak ipar dan kak Moranno.... Aku merasa lebih beruntung dari pada kakak ipar dan kak Moranno, masih bisa menentukan sendiri gaun pengantinku." Ucapnya berusaha menahan tawa. Sementara Yurina dan nyonya Agatsa sama - sama merasa bingung, apakah harus ikut tertawa bersama Margareth atau hanya terdiam saja.


Karena antara ibu mertua dan menantu, sangat mengingat saat - saat persiapan pernikahan itu yang dipenuhi ketegangan setiap detik. Pasalnya, nyonya Agatsa sangat menentang pernikahan antara Yurina dan Moranno.pada saat itu.


"Iya adik ipar,...... itu sebanya kau tidak perlu khawatir..... pria yang akan menikahimu pasti akan selalu mengatakan pilihanmu pasti yang terbaik, iya kan mommy?" Ucap Yurina sambil tersenyum menatap kearah ibu mertuanya. berusaha mengusir kecanggungan yang sempat hadir diantara mereka.


"Iya sayang...... kakak iparmu benar....." Sahut nyonya Agatsa yang tidak tahu harus menjawab apa.


"Bagaimana kalau kita makan siang dulu, mommy kok merasa sangat lapar ya....." Ucap nyonya Agatsa berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Iya mommy..... Margareth terlalu keasikan..... jadi lupa waktu, jam makan siang sudah hampir lewat, wajar saja mommy lapar.... Margareth juga lapar mom....." Sahut Margareth sambil melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangannya, yang sudah menunjukan jam tiga sore.


"Cie Mexan kami permisi dulu ya..... untuk gaun - gaun yang sudah dipilih Margaret juga jas pengantin prianya, tolong dipersiapkan. Untuk beberapa hari kedepan Harry akan datang kemari untuk memfitting jas pengantinnya." Ucap nyonya Agatsa pada sang pemilik butik.


"Baik nyonya besar, saya akan menyiapkan semuanya sesuai permintaan." Sahutnya ramah.


"Terima kasih cie......"


""Sama - sama....." Pemilik butik itu mengantarkan ketiga tamunya itu hingga kepintu keluar, lalu membungkuk hormat bersama beberapa pegawainya melepaskan kepergian tamu - tamunya itu.

__ADS_1


"Mau makan dimana mom?" Tanya Margareth sambil mengemudikan mobil ibunya itu.


"Restoran yang terdekat saja......" Sahut nyonya Agatsa yang nampak sudah amat kelaparan. Margareth yang menyadari hal itu sedikit terkekeh.


"Maafkan Margareth ya mom.... kelamaan milih gaun pengantinnya tadi...." Ucap Margareth sambil membelokkan kemudi memasuki area restoran yang ada dihadapannya.


"Tidak apa - apa sayang..... Sekali -.kali kelaparan tidak masalah, yang terpenting kau puas pada pilihanmu untuk gaun - gaun pengantin itu."


"Ma kasih mom..... mommy memang yang terbaik.... kakak ipar juga....." Ucap Margareth sambil menatap kearah ibunya dan beralih pada Yurina.


"Sama - sama sayang....." Sahut nyonya Agatsa sambil tersenyum.


"Iya..... sama - sama.adik ipar....." Sahut Yurina ikut tersenyum.


Margareth lalu mematikan mesin mobil, dan ketiganya keluar bersamaan untuk memasuki restoran itu.


Seorang pelayan datang menghampiri meja mereka dan memberi tiga buku menu makanan. Setelah nyonya Agatsa, Yurina, dan Margareth selesai menuliskan pesanan mereka, pelayan itu bergegas pergi untuk menyiapkan sesuai pesanan.


...•••...


Hari pernikahan itu akhirnya tiba. Pagi - pagi sekali Margareth sudah bangun dan mempersiapkan dirinya, walaupun pemberkatan nikahnya dilakukan jam tiga sore digereja.


Margareth masih terlihat gelisah, Harry masih belum mengubunginya hingga hari pernikahan mereka tiba. Kesedihan dihati Margareth tentulah ada. Mungkin ini sebuah hukuman dari calon suaminya itu pikirnya.


Walau Margareth merasa tidak yakin, apakah Harry akan datang menjadi pengantin prianya atau tidak, ia tetap bertekad untuk mempersiapkan dirinya sebaik - baiknya sebagai pengantin perempuan dalam pernikahan hari itu. Ia tidak mau lari dari masalah itu, dia harus menghadapinya, apapun yang akan terjadi.


Ketukan pintu kamarnya terdengar beberapa kali. Margareth bergegas bangun dari tempat tidurnya menuju pintu.


"Kau sudah bangun sepagi ini sayang?" Nyonya Agatsa yang datang kekamar putrinya pagi itu merasa sedih melihat wajah putrinya, tapi ia berusaha menyembunyikan perasaannya itu.


"Iya mom...... ayo, masuklah mom....." Margareth menggandeng tangan ibunya dan menutup pintu dengan rapat.


"Kau sepertinya kurang tidur semalam sayang....." Nyonya Agatsa merapikan anak - anak rambut yang menutupi sebagian wajah Margareth yang duduk bersamanya ditepi pembaringan putrinya itu.


"Apakah kau masih memikirkan Harry dan pernikahanmu hari ini?" Margareth mengangguk lemah menjawab pertanyaan ibunya itu.


"Mommy..... Apakah tuan Harry akan datang pada pernikahan kami hari ini?" Tanya Margareth dengan wajah lesunya.


"Harry pasti datang sayang..... Percayalah......" Margareth memandang wajah ibunya lama, berusaha menemukan kebenaran dari perkataan ibunya yang berusaha meyakinkannya.

__ADS_1


"Aku percaya mommy......" Ucap Margareth pelan, dan hampir tidak terdengar. Hanya itu yang bisa ia ucapkan ditengah perasaan hatinya yang sebenarnya menolak untuk percaya.


Butiran bening jatuh begitu saja dipipinya, membuat nyonya Agatsa turut merasakan kesedihan yang dialami putrinya itu. Ia hanya bisa berharap, masa - masa yang memberatkan bagi putrinya itu bisa cepat berlalu. Dirinya sangat tidak tega melihat kesedihan diwajah Margareth, yang seharusnya terlihat bahagia dihari pernikahannya.


"Sayang..... kau tidurlah lagi sejenak, wajahmu terlihat sangat lelah." Bujuk nyonya Agatsa.


"Tidak mommy, aku sudah tidak bisa tidur lagi, sebelum hari ini berlalu, aku takut akan terlambat datang dipemberkatan nikahku." Nyonya Agatsa semakin sedih mendengar perkataan putri kesayangannya itu, namun ia berusaha tegar menahan semuanya itu dihadapan Margareth.


"Kalau begitu, kau berbaringlah..... supaya tubuhmu tidak lelah menunggu hingga jam tiga sore nanti sayang....." Nyonya Agatsa kembali membujuk.


"Tapi mom....." Margareth berusaha menolak, dari sorot matanya terlihat ada ketakutan dsana.


"Jangan takut sayang.... mommy ada disini, kau tidak akan ketiduran, dan kau tidak akan terlambat sampai digerja nanti..... percayalah pada mommy sayang...."


Margareth akhirnya menganggukan kepalanya.


"Bolehkah aku berbaring dipangkuan mommy?" Nyonya Agatsa balas mengangguk. Margareth lalu meletakan kepalanya dipangkuan ibunya lalu memejamkan matanya dan berusaha terlelap.


Nyonya Agatsa mengusap rambut kepala Margareth lembut dan penuh dengan kasih sayang.


"Maafkan mommy sayang, kau harus membayar dan menerima semuanya ini hingga hari pernikahanmu." Ucap nyonya Agatsa didalam hatinya dengan perasaan sedih.


...•••...


♡♡♡


Terima kasih buat para readers setia novel JAGA HATIMU UNTUKKU yang sebentar lagi akan TAMAT. Yukz, mampir di novel 'HANARIA Wanita Sejuta Rasaku'. Mengisahkan tentang seorang wanita tangguh, dan pekerja keras, ulet, sehingga menjadi kesayangan pemilik perusahaan yang memperkerjakannya, jangan ditanya untuk pria - pria muda. Cucu kembar dari keluarga Agatsa pun ikut mengharapkan cintanya.


#HANARIA Wanita Sejuta Rasaku


Karya :


#Nama pena : Dewi Payang


#FB Indah Sosilawati


#IG Indah Sosilawati


♡♡♡

__ADS_1



__ADS_2