JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 42 "Jangan mendekat, aku tak mau kau sentuh"


__ADS_3

Ponsel nyonya Agatsa tiba-tiba berdering, pada layar tertera nama putranya, diraihnya dan langsung menggeser pada layar untuk menerima.


"Hallo, ada apa?" Tanya nyonya Agatsa datar menerima panggilan telepon putranya.


"Bagaimana kabar mommy siang ini, apa sudah lebih baik?" Tanya Moranno dari sambungan telepon.


"Baik, sèperti yang kau lihat saat kekamar mommy tadi pagi."


"Mommy harus banyak beristirahat untuk pemulihan, kan mommy baru sembuh dari sakit."


"Terima kasih, kau masih mau memperhatikan mommymu ini." Kata nyonya Agatsa terharu mendapat perhatian putranya.


"Tentu saja mommy, aku sayang pada mommy, harapanku mommy selalu sehat dan bahagia. Jadi sekarang mommy harus kembali kekamar untuk istirahat, nanti makan siang ada bibi Nur yang mengantarkannya kekamar mommy."


"Masih ada yang mommy kerjakan, setelah itu mommy kembali kekamar." Ujar nyonya Agatsa.


"Mommy, mommy itu kan baru sembuh, masih dalam tahap pemulihan, jadi tidak ada hal yang harus mommy kerjakan yang lebih penting dari kesehatan mommy."


"Iya mommy mengerti, tapi apa yang mommy lakukan ini bukan pekerjaan berat."


"Tentu saja yang mommy lakukan itu pekerjaan berat, mengawasi Yurina mengerjakan pekerjaan dapur yang seharusnya dikerjakan oleh bibi Nur dan para pelayan lainnya."


Nyonya Agatsa terkesiap mendengar perkataan putranya dari sambungan telepon. Bagaimana putranya bisa mengetahui apa yang ia lakukan pikirnya, sambil melihat keseluruh sudut ruangan, mungkin saja ada terpasang kamera yang ia tak ketahui.


"Apa maksudmu Moranno? Kau menuduh mommymu sendiri memperlakukan isterimu sebagai pelayan?"


"Apa yang mommy katakan barusan, adalah pengakuan secara langsung mommy."


"Moranno apa maksudmu? Baru saja kau menanyakan keadaan mommy, mengatakan menyayangi mommy, dan mengharapkan kesehatan dan kebahagiaan mommy. Tapi dengan begitu singkatnya kau menuduh mommy memperlakukan isterimu sebagai pelayan dirumah ini." Suara nyonya Agatsa meninggi, membuat Yurina, bibi Nur dan para pelayan wanita lainnya mau tidak mau menoleh kearahnya. Wajah nyonya Agatsa menegang dan memerah.


"Mommy maafkan aku, aku tidak bermaksud menyinggung perasaan mommy, tapi tolong izinkan Yurina untuk makan siang dulu, ini sudah terlalu siang mommy, Yurina sedang mengandung, ia belum makan sejak pagi, aku takut dia jatuh sakit mom."


"Mommy sudah tahu, kau hanya mengkhawatirkan perempuan itu saja. Siapa suruh dia bangun kesiangan, dasar perempuan pemalas, bangun sesuka hatinya saja, apa perempuan seperti itu layak kau khawatirkan melebihi mommymu Moranno, ibu yang melahirkanmu." Suara nyonya Agatsa bergetar memperlihatkan kemarahannya, lalu menutup telpon begitu saja dari putranya itu.

__ADS_1


Bibi Nur dan para pelayan wanita yang berdiri disisi meja makan tidak berani bergerak apalagi mengeluarkan suara.


"Kau... Kau perempuan pembawa dampak buruk dalam rumah ini dan keluargaku. Semua orang dirumah ini sudah berani menentangku termasuk putraku hanya untuk membela perempuan sepertimu." Kata nyonya Agatsa dengan tatapan bencinya pada Yurina dan berusaha berdiri dari duduknya. Tiba-tiba tubuhnya oleng saat ia berhasil berdiri, kedua tangannya bertumpu pada meja supaya tidak terjatuh.


Dengan sigap bibi Nur menghampiri dan memapah nyonya Agatsa.


"Cepat, bawa kemari kursi roda nyonya besar." Kata bibi Nur panik.


Dengan cepat para pelayan wanita mendekatkan kursi roda majikannya, lalu mereka secara bersama membantu nyonya Agatsa untuk duduk dikursi rodanya.


"Nyonya besar, saya akan mengantarkan anda kekamar untuk beristirahat." Kata bibi Nur.


"Saya juga akan membantu." Kata Yurina sambil mendekat.


"Jangan mendekat, aku tak mau kau sentuh. Hanya karena perempuan sepertimu aku dan putraku bertengkar."


"Ayo bi Nur, antarkan aku segera kekamarku." Kata nyonya Agatsa memandang kedepan tanpa melihat sedikitpun kearah Yurina.


"Baik nyonya besar. Saya permisi nyonya muda." Kata bibi Yurina, lalu mendorong kursi roda majikannya dengan perlahan dan hati-hati.


Hati Yurina begitu sedih melihat sikap mertuanya pada dirinya, ia sangat bingung harus bagaimana menghadapi ibu dari suaminya itu. Kebencian mertuanya sangat terlihat dari sikapnya setiap kali mereka bertemu. Yurina merasa tidak ada sedikitpun apa yang ada pada dirinya membuat mertuanya bisa menyukainya, apalagi rasa bangga memiliki menantu sepertinya, ah sungguh angan yang terlalu jauh untuk digapai, sangat mustahil.


Yurina hanya bisa berharap ada suatu keajaiban bisa terjadi pada hubungannya dengan mertuanya itu, walaupun itu hanya sebatas impian dan sangat mustahil bisa terjadi, tapi ia tetap berharap keajaiban itu bisa terjadi suatu hari nanti. Yurina menghapus air matanya yang sempat jatuh dipipinya dengan kedua tangannya.


Kepala Yurina tiba-tiba terasa pusing dan berdenyut, tubuhnya limbung, dengan cepat kedua tangannya memegang dinding yang ada disisi kanannya supaya tidak terjatuh.


"Nyonya, nyonya tidak apa-apa?" Kata ketiga pelayan wanita itu yang sudah membantu menyanggah tubuh Yurina supaya tidak terjatuh.


"Saya, saya tidak apa-apa, hanya terasa pusing dan pandangan saya sedikit berkunang-kunang." Kata Yurina sambil mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.


"Kami bantu membawa nyonya untuk duduk disofa itu ya nyonya." Kata para pelayan wanita itu dan memapah Yurina menuju sofa yang tak jauh dari tempat ia berdiri.


"Sekarang, nyonya berbaring disofa ini sejenak, saya akan mengambilkan makanan untuk nyonya." Kata bibi Sun salah seorang dari ketiga pelayan wanita itu dengan terburu-buru.

__ADS_1


"Nyonya, saya panggilkan dokter Herman ya kemari untuk memeriksakan keadaan nyonya?" Kata bibi Nani minta persetujuan.


"Ah, tidak perlu bi, sebentar juga baikan, saya hanya merasa lapar saja dan sedikit lelah." Ujar Yurina sambil mengatur pernapasannya.


"Ini nyonya makanannya sudah siap, silahkan duduk dulu, saya bantu nyonya untuk makan ya?" Kata bibi Sun membawa sepiring makan siang untuk Yurina.


"Terima kasih bi Sun, saya masih bisa makan sendiri. Tolong buatkan saya susu ibu hamil yang hangat ya, ada ditempat biasa."


"Baik nyonya." Bibi Sun segera kedapur membuatkan segelas susu yang diminta nyonyanya.


Yurina dengan cepat menghabiskan makan siangnya.


Huueeekkk...


Huueeekkk...


Huueèekkk...


"Nyonya, apa yang terjadi pada anda nyonya?" Kata bibi Nani panik.


"Perutku tiba-tiba terasa mual bi...." Kata Yurina dengan wajah pucatnya. Ia masih terus memuntahkan apa yang telah masuk kedalam perutnya.


"Bibi Sun tolong segera bawa susunya kemari."Teriak bibi nani panik.


"Ini susunya, segera diminum nyonya." Bibi Sun membantu Yurina untuk meminum susunya.


" Cukup bi, perutku semakin mual." Yurina hanya meminum setengah saja dari gelas susunya.


"Bi Salu tolong telepon dokter Herman." Kata bibi Nani masih panik.


"Baik bi Nani." Bi salu bergegas menuju meja telepon.


"Nyonya, kami bantu untuk kekamar anda ya?" Kata bi Nani berusaha memapah Yurina untuk berdiri dibantu bibi Sun. Kedua pelayan itu hampir kewalahan, karena bobot tubuh Yurina bertambah membuat ia lebih berat.

__ADS_1


Bibi Salu yang baru selesai menelpon dokter Herman buru-buru membantu saat melihat kedua rekannya tampak kewalahan.


"Sebentar lagi dokter Herman akan datang kemari." Kata bibi Salu. Ketiga pelayan itu membantu Yurina melangkah dengan perlahan menuju kamarnya.


__ADS_2