
Pagi itu Moranno dan Yurina, juga nyonya Agatsa ikut melayat kerumah duka.
"Saya dan keluarga turut berdukacita atas berpulangnya isteri tuan Hartawan. Kiranya isteri tuan mendapat tempat yang terbaik disisi Tuhan Yang Maha Kuasa." Ucap Moranno pada perwira polisi itu.
"Amin. Terima kasih tuan Moranno, anda sekeluarga berkenan untuk datang kekediaman saya. Juga atas doa yang telah tuan sampaikan." Sahut tuan Hartawan masih dalam suasana kesedihan hatinya.
Selain mereka, nampak keluarga besar tuan Hartawan hadir, juga rekan - rekan sejawatnya, juga para tetangga dan warga lainnya. Semuanya sedang mempersiapkan pemakaman dihari itu.
Dihalaman rumah mewah itu ada banyak kiriman karangan bunga turut berdukacita.
Setelah berbincang-bincang beberapa saat lamanya mengenai sebab meninggalnya istri tuan Hartawan, Moranno berpamitan dengan sang tuan rumah dan keluarga besarnya.
"Sekali lagi kami berterima kasih atas kedatangan tuan Moranno dan nyonya, juga nyonya besar kerumah duka ini." Ucap tuan Hartawan saat melepas kepergian Moranno dan keluarganya.
"Iya tuan Hartawan, sama - sama. Tetaplah semangat, hidup masih harus terus berjalan." Kata Moranno memberi semangat pada orang yang telah banyak membantunya dalam kasus penculikan Yurina isterinya.
Kendaraan yang dikemudikan oleh pak Kasan dengan perlahan meninggalkan rumah tuan Hartawan.
Suasana tampak hening didalam mobil, masing-masing larut dalam pikirannya.
"Sayang, aku antar langsung pulang ya?" Ucap Moranno memecah keheningan yang ada.
"Tapi aku ingin sekali makan lagi bakso buatan ibu Selia. Bolehkah kita mampir kesana dulu sebelum pulang." Sahut Yurina.
"Baiklah, kita akan kesana dulu sayang."Ucap Moranno menuruti keinginan Yurina sambil menggenggam tangan isterinya itu yang duduk disisinyà.
"Pak Kasan, tolong putar balik. Kita ke warung bakso ibu Selia, lokasinya berada setelah rumah sakit Pemerintah.
"Baik tuan." Pak Kasan lalu memelankan laju kendaraan yang ia kemudikan. Dengan memperhatikan rambu-rambu lalu lintas, pak Kasan membelokkan arah saat berada pada putaran yang ada didepannya.
Setelah beberapa menit melaju dijalan raya, kendaraan yang dikemudikan pak Kasan akhirnya melambat, memasuki deretan kawasan ruko.
Pak Kasan memarkirkan mobil majikannya itu disisi kiri halaman ruko.
"Disinikah tempatnya." Tanya Yurina yang baru turun dari mobil dibantu oleh Moranno.
"Iya sayang. Mommy, apa mommy ingin ikut masuk kedalam?" Tanya Moranno, saat ibunya ikut keluar dari pintu depan.
"Tentu saja, mommy juga ingin melihat usaha ibu Selia yang dibantu Yurina isterimu dengan menggunakan rupiahmu." Ucap nyonya Agatsa dengan wajah acuh lalu melangkah lebih dulu ke bangunan ruko yang terbuka lebar.
Moranno dan Yurina hanya bisa saling pandang melihat sikap nyonya Agatsa. Moranno tak menyangka ibunya akan masuk bersama mereka, setahunya ibunya hanya masuk ke resoran - restoran mahal.
"Ayo sayang kita masuk." Ajak Moranno sambil menggandeng tangan Yurina.
"Pak Kasan, ikutlah masuk dengan kami." Panggil Moranno saat melihat pak Kasan masih berdiri disisi mobil.
"Iya, terima kasih tuan. Saya menunggu disini saja." Sahut pak Kasan sungkan.
"Ayolah pak Kasan, kita masuk sama-sama saja." Yurina turut mengajak.
" Baiklah nyonya muda." Pak Kasan lalu melangkah membuntuti kedua majikannya dari belakang.
"Selamat siang tuan dan nyonya. Selamat datang diwarung sederhana saya ini. Suatu kehormatan bagi saya, saat tuan dan nyonya berkenan mampir diwarung saya yang sederhana ini." Sambut ibu Selia ramah dan tampak terlihat kaget akan kedatangan tamu istimewa hari itu.
Walau hanya pernah sekali bertemu, ibu Selia masih sangat ingat wajah Moranno dan Yurina, juga nyonya Agatsa yang sering ia lihat dilayar televisi dengan nama besar keluarganya.
"Terima kasih ibu Selia. Isteri saya sangat ingin menikmati hidangan bakso buatan ibu Selia. Ini ibu saya, dan ini pak Kasan." Ucap Moranno sambil tersenyum pada ibu Selia dan masih menggandeng tangan Yurina.
"Selamat datang nyonya besar diwarung saya yang sangat sederhana ini." Ucap ibu Selia dengan sikap hormatnya sambil membungkukkan sedikit tubuhnya. Ia meniru cara orang- orang yang pernah ia lihat ditelivisi saat berhadapan dengan nyonya Agatsa.
"Hmmm..." Nyonya Agatsa hanya menganggukkan kepalanya sambil mengitari pandangannya menyapu seluruh ruangan.
"Kalau begitu silahkan duduk dulu tuan Moranno dan nyonya, juga nyonya besar, pak Kasan. Maafkan saya, tempat ini terlampau sederhana buat tuan-tuan dan nyonya-nyonya." Ucap ibu Selia yang khawatir para tamu istimewanya merasa tak nyaman akan suasana warungnya.
"Tidak mengapa ibu Selia, tempat ini sudah cukup nyaman buat kami." Ucap Yurina sambil menuju salah satu meja kosong diruangan itu diikuti Moranno, nyonya Agatsa dan pak Kasan.
"Untuk hidangan bakso, tuan-tuan dan nyonya-nyonya ingin memesan bakso biasa, bakso urat, atau bakso dengan kikil?" Tanya ibu Selia pada keempat tamunya.
"Bakso biasa saja." Ucap Yurina cepat.
"Saya sama dengan isteri saya bu..." Moranno ikut memesan.
"Nyonya besar, anda memesan apa?" Tanya ibu Selia memandang pada nyonya Agatsa.
__ADS_1
"Saya... ingin coba yang ibu sebutkan yang terakhir tadi." Kata nyonya Agatsa dengan suara datarnya.
"Bakso dengan kikil nyonya besar." Jelas ibu Selia.
"Iya itu. Saya coba pesan itu saja."Sahutnya sambil duduk tenang dikursinya.
"Anda pesan apa pak Kasan?" Tanya ibu Selia pada pak Kasan.
"Saya coba bakso uratnya bu..." Sahut pak Kasan.
"Minumnya ada es jeruk, es teh dan beraneka macam jus. pesan minum apa tuan dan nyonya?" Tanya Ibu selia lagi.
"Saya teh hangat saja bu?" Sahut Yurina.
"Saya teh hangat juga, jangan terlalu manis ya bu." Ucap Moranno.
"Saya jus alpukat ya bu." Ucap nyonya Agatsa.
"Kalau pak Kasan?" Tanya ibu Selia pada pak Kasan yang duduk disudut meja.
"Teh es bu." Sahut pak Kasan.
"Ditunggu sebentar ya tuan dan nyonya-nyonya, saya akan menyiapkannya sebentar."
Ibu Selia segera membuat pesanan keempat tamunya dibantu oleh dua orang pegawainya.
Suasana nampak lengang, pengunjung belum ada yang datang selain mereka berempat.
Yurina memandang mengitari seluruh sudut ruangan yang nampak bersih dan tertata rapi. Ruko lantai bawah dimana mereka duduk, tersedia dua puluh meja dengan diisi enam kursi masing - masing meja nampak terlihat cukup luas untuk ukuran warung biasa, ditambah tempat menyediakan sajian yang dibatasi kaca transparan.
Meja kasir disudut kanan masuk dijaga seorang pegawai.
Beberapa menit berlalu, nampak ibu Selia dan dua pegawainya mengantarkan pesanan keempat tamu mereka.
Aroma bakso segera tercium.
"Silahkan dinikmati hidangannya tuan dan nyonya... Semoga suka...." Ucap ibu Selia ramah sambil meletakkan mangkuk bakso dihadapan para tamu sesuai pesanan mereka masing - masing.
"Sepertinya masih sepi ya bu pengunjungnya?" Tanya Yurina sambil memandang ke arah ibu Selia yang masih sibuk meletakkan hidangan diatas meja tamunya.
"Iya nyonya, nanti sebentar lagi bila jam makan siang tiba, bèberapa pegawai rumah sakit, dan pegawai- pegawai lainnya yang bekerja disekitar sini baru datang mampir kemari nyonya." Jelas ibu Selia.
"Oh begitu...." Ucap Yurina manggut-manggut.
"Putri dimana bu? Dari tadi saya tidak melihatnya." Tanya Yurina lagi.
"Putri sedang diasuh seorang pegawai saya dilantai atas nyonya, nanti selepas makan siang, saya akan bergantian mengasuhnya." Jelas ibu Selia.
"Silahkan dinikmati hidangannya tuan... dan nyonya..." Ucap ibu Selia kembali mempersilahkan.
" Iya bu terima kasih." Yurina mulai menyuap hidangan bakso dihadapannya yang nampak lezat.
" Hati-hati sayang, masih panas sekali itu." Ucap Moranno yang memperhatikan Yurina isterinya.
"Yang panas-panas seperti ini sangat enak disantap suamiku." Ucap Yurina menyuap kemulutnya.
"Iya, tapi harus hati-hati, nanti bibirmu bisa melepuh. Bagaimana aku bisa menciummu nanti." Ucap Moranno tanpa memperhatikan orang disekitarnya.
"Kalian berdua.... Jaga sikap. Disini masih ada mommy dan pak Kasan." Tegur nyonya Agatsa dengan suara datarnya sambil menikmati isi mangkuk dihadapannya.
Yurina memelototkan matanya pada Moranno, sementara suaminya itu hanya acuh mendengar ucapan ibunya.
"Iya, maafkan kami nyonya besar." Ucap Yurina sedikit menundukan wajahnya saat berbicara pada mertuanya itu. Sementara pak Kasan yang berada disudut meja pura - pura tak mendengar perkataan para majikannya itu.
Yurina melihat Moranno menikmati makanan dihadapannya seperti tidak terjadi apa - apa. Yurina pun lalu kembali pokus menikmati makanan yang ada dihadapannya.
"Aku ingin tambah lagi suamiku, tapi seperti pesanan mommy." Bisik Yurina pada Moranno yang duduk disebelahnya sambil melirik kearah nyonya Agatsa yang sedang menikmati baksonya.
" Ibu Selia, tambah satu mangkuk lagi ya, tapi bakso dengan kikil." Kata Moranno setengah berteriak memandang kearah ibu Selia yang berada diruang penyajian.
"Baik tuan." Sahut ibu Selia dari ruang penyajian.
"Pak Kasan mau tambah lagi?" Kata Moranno menawarkan.
__ADS_1
" Cukup tuan, saya sudah kenyang. Baksonya enak sekali. Saya bisa mengajak keluarga saya kemari untuk mencicipinya." Ucap pak Kasan yang baru selesai menyantap baksonya.
"Mommy ingin tambah lagi?" Tanya Moranno beralih pada ibunya.
" Cukup." Sahut nyonya Agatsa singkat, lalu menikmati segelas jus alpukatnya.
Pesanan Yurina yang kedua sudah tiba.
"Ini nyonya, silahkan dinikmati." Kata ibu Selia meletakkan mangkuk dihadapan Yurina.
"Terima kasih bu Selia." Kata Yurina memandang kearah ibu Selia yang berdiri disis meja. Setelah itu ibu Selia beranjak kembali ke ruang penyajian.
"Kau tidak tambah suamiku?" Tanya Yurina pada Moranno.
"Cukup sayang, aku sudah kenyang kau makanlah." Sahut Moranno.
"Ini enak, kau harus mencobanya suamiku.".Kata Yurina sambil menyuapkan sesendok kemulut Moranno.
"Iya, ini enak juga." Kata Moranno sambil mengunyah suapan yang diberikan Yurina padanya.
"Lagi??" Ucap Yurina sambil mengarahkan kembali satu suapan kearah Moranno.
"Cukup sayang, aku sudah mencobanya, kau makanlah saja ya." Kata Moranno sambil meraih gelas teh hangat didepannya lalu mulai meminumnya perlahan.
Yurina lalu mulai menyuap dirinya sendiri, menikmati suapan demi suapan isi mangkuknya yang begitu membuatnya berselera makan siang itu.
Para pengunjung mulai berdatangan. Benar saja, terlihat beberapa pria dan wanita mengenakan seragam kerja rumah sakit Pemerintah, dan beberapa seragam kerja lainnya.
Meja-meja yang tadinya kosong kini sudah terisi penuh, bahkan ada beberapa tenda didepan ruko pun terisi oleh pengunjung.
Ibu Selia dan dua pegawainya melayani semua pesanan para pengunjung dengan ramah.
Yurina yang baru saja menghabiskan isi mangkuknya memandang kearah Moranno.
"Sayang, kau sudah selesai makan?" Tanya Moranno.
"Iya... Tapi... Aku masih ingin.... Dibungkus saja. Aku malu makan disini, yang bakso urat ya." Ucap Yurina malu dengan berbisik ditelinga Moranno agar tidak terdengar oleh mertuanya dan pak Kasan.
Moranno menahannya senyumnya saat mendengar bisikan isterinya. Ia tahu bahwa isterinya itu sedang baik selera makannya.
"Baiklah, kau tunggu disini sebentar ya sayang, aku akan memesannya kesana. Ibu Selia terlihat sangat sibuk." Kata Moranno beranjak menuju ruang saji dimana ibu Selia tengah sibuk.
"Ibu Selia, pesan satu lagi ya, bakso urat tapi taruh dikotak makanan saja, nanti tempatnya dikembalikan oleh pak Kasan. Saya menunggu didepan ya." Kata Moranno.
"Baik tuan, segera saya buatkan." Sahut ibu Selia sambil meracik semua pesanan.
"Mommy, pak Kasan kita kemobil sekarang, supaya pengunjung yang lain bisa masuk." Kata Moranno sambil menggandeng Yurina menuju kasir dipintu depan masuk bagian kanan. Nyonya Agatsa dan pak Kasan mengikuti mereka dari belakang.
Suasana warung bakso ibu Selia siang itu memang tampak penuh sesak. Semua meja sudah tidak ada yang kosong.
"Berapa semuanya?" Tanya Moranno pada kasir yang bertugas.
"Pesan ibu Selia, untuk tuan dan nyonya, semuanya gratis. Anggap ini ucapan selamat datang." Sahut kasir dengan ramah.
"Tidak nona, kami sudah mendapat yang gratis saat syukuran pembukaan warung bakso ini." Tolak Moranno.
"Tapi tuan...." Kasir menghentikan ucapannya saat ibu Selia datang menghampiri dengan kotak makanan ditangannya.
"Ada apa?" Tanya ibu Selia pada pegawai kasirnya yang sedang berbicara.
"Ini bu, saya menyampaikan bahwa tuan Moranno tidak perlu membayar, anggap ini ucapan selamat datang seperti pesanan ibu tadi pada saya." Sahut sang kasir.
"Iya tuan, itu benar." Ucap ibu Selia membenarkan.
" Tapi bu, inikan usaha ibu. Lagi pula kami sudah mendapatkan yang gratis saat syukuran pembukaan warung bakso ibu ini."
"Iya tuan, anda benar. Tapi semua usaha ini juga berasal dari tuan dan nyonya, saya tidak akan pernah bisa membalasnya. Kunjungan berikutnya saya berjanji, tuan dan nyonya boleh membayarnya, saya mohon tuan." Ucap ibu Selia bersungguh - sungguh.
"Baiklah.... Terima kasih banyak ibu Selia." Ucap Moranno memberi senyuman pada ibu Selia.
Ibu Selia lalu menyerahkan kotak makanan ditangannya pada Moranno.
Setelah menerima kotak makanan dari ibu Selia, Moranno lalu berpamitan diikuti Yurina, nyonya Agatsa, dan pak Kasan.
__ADS_1