
Yurina sudah menyelesaikan makan malamnya seorang diri dan kembali kekamarnya, ia memeriksa ponselnya, tapi tak ada satu pesanpun yang masuk disana.
Pasti suaminya itu sangat sibuk pikirnya. Yurina lalu kembali membuka buku yang telah ia bawa dari perpustakaan milik suaminya. Ia mulai membaca halaman demi halaman, namun terkadang konsentrasinya teralihkan dengan wajah Moranno yang sering tiba-tiba muncul dalam pikirannya.
Yurina berusaha dengan keras menyibukan dirinya dengan mempelajari semua buku-buku yang ia bawa siang tadi. Hingga akhirnya tak terasa ia tertidur dengan posisi yang terduduk ditempat tidur dengan masih bersandar pada sandaran tempat tidurnya.
Waktu, menunjukan pukul sebelas malam, Moranno membuka pintu kamar yang tertutup rapat dan tak terkunci. Moranno buru-buru masuk saat melihat Yurina yang tertidur dengan posisi terduduk. Ia mengangkat tubuh Yurina untuk membenarkan posisi berbaringnya supaya lebih rileks dan nyaman. Namun tubuh itu sudah jauh lebih berat dari biasanya, dan hampir-hampir saja tak sanggup ia mengangkatnya, apalagi dengan rasa yang begitu lelah setelah pulang berkerja.
Tangan Yurina tiba-tiba memeluk leher suaminya yang sedang mengangkatnya dengan begitu erat hingga membuat Moranno tak sengaja terjatuh berama Yurina diatas tempat tidur. Dengan repleks Moranno menahan tubuhnya dengan salah satu tangannya supaya tubuhnya tidak menimpa Yurina.
"Hampir saja." Ujar Moranno sambil melepaskan tangan Yurina yang masih memeluknya.
"Aku merindukanmu" Kata Yurina dengan matanya yang masih terpejam dan semakin erat memeluk leher Moranno. Sejenak Moranno menatap wajah Yurina yang hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya. Moranno lalu mendaratkan kecupannya dengan lembut dikening Yurina.
"Lepaskan dulu sebentar ya sayang, suamimu ini belum mandi, masih bau dan terasa lengket semua." Kata Moranno sambil melepaskan tangan Yurina yang memeluk lehernya dengan perlahan supaya Yurina tidak terbangun dari tidurnya. Moranno membenarkan posisi berbaring Yurina, lalu menyelimutinya dengan selimut. Setelah itu Moranno segera masuk kekamar mandi.
Yurina perlahan membuka matanya saat terdengar pintu kamar mandi tertutup. Ia mendengar suara gemericik air dikamar mandi. Yurina tersenyum-senyum seorang diri teringat aksinya pura-pura tertidur hanya ingin memeluk suaminya itu, rasa rindunya membuat ia bisa melakukan semuanya itu, bila terang-terangan tentu saja ia masih merasa malu.
Tak lama berselang terdengar pintu kamar mandi terbuka. Yurina buru-buru memejamkan matanya kembali, seolah- olah sedang tertidur. Moranno mengenakan baju tidurnya yang ia ambil sendiri dilemari pakaian lalu mendekati tempat tidur. Dengan hati-hati Moranno naik ketempat tidur dan membaringkan tubuhnya di sebelah Yurina.
Dipandangnya wajah Yurina yang tertidur dengan tenang. Pandangannya beralih pada perut Yurina yang semakin hari semakin terlihat membesar. Perlahan tangan Moranno menyentuh perut Yurina yang membelendung dari dalam selimut, dengan lembut diusapnya perlahan-lahan.
Tak ada gerakan didalam sana. Moranno membayangkan dua bayi kembar dalam perut isterinya itu mungkin juga sedang tertidur seperti ibunya.
"Seperti apa rupanya mereka saat hadir didunia? Pasti wajahnya mirip denganku." Ucap Moranno lirih.
"Atau mirip dengan ibunya." Ucapnya lagi sambil tersenyum dan masih terus mengelus perut Yurina dengan lembut.
Kriukkk.... kriuukkk....
Tangan Moranno spontan terhenti mendengar bunyi dari dalam perut isterinya itu. Mata Yurina pun terbuka lebar, wajahnya terlihat malu saat suaminya menangkap basah suara perutnya.
__ADS_1
"Apa kau lapar?" Tanya Moranno memandang wajah isterinya yang pura-pura baru terbangun. Yurina menganggukan kepalanya.
"Apakah kau tadi tidak makan malam? Tanya Moranno khawatir.
"Aku sudah makan malam sebelum tidur, tapi sekarang lapar lagi." Jawab Yurina.
"Ayo kita kedapur, aku akan membantumu bangkit." Kata Moranno sambil membantu isterinya itu bangkit dari tempat tidurnya.
"Pelan-pelan, pinggangku terasa sakit." Ujar Yurina berusaha bangkit dan bertumpu pada tubuh Moranno.
"Apa sakit sekali?"
"Tidak, hanya terasa ngilu saat akan bangkit setelah berbaring."
"Sudah berapa lama kau mengalami ini? Apa kita kedokter saja besok?"
"Sudah satu bulan terakhir ini. Menurut buku yang aku baca, ini masih normal dialami oleh wanita yang sedang mengandung, dokter Rosalie juga mengatakan seperti itu juga kan saat kita memeriksa kandungan beberapa wakti lalu. Apa kau ingat?"
"Iya aku mengingatnya. Tapi aku khawatir saja." Kata Moranno memandang wajah isterinya yang sudah berdiri didepannya.
Yurina melihat kearah perutnya sendiri lalu menatap wajah suaminya.
"Sepertinya itu bukan suara perutku? Kata Yurina.
Moranno tersenyum melihat tingkah Yurkna.
"Iya, itu suara perutku, aku juga lapar tadi lupa makan malam." Kata Moranno seraya memegang perutnya yang terasa lapar.
" Maafkan aku yang tidak memperhatikanmu, malah tertidur duluan." Kata Yurina yang merasa tidak enak pada suaminya itu.
"Tak usah minta maaf, bukan salahmu. Aku yang menyuruhmu tak usah menungguku."
__ADS_1
Moranno lalu menggandeng tangan Yurina keluar kamar menuju kedapur.
"Mau makan apa?" Tanya Yurina saat mereka sudah tiba didapur.
"Yang ada saja, supaya kau tidak terlalu lelah."
Yurina lalu memanaskan sup diatas kompor. Beberapa menit kemudian ia lalu menyajikannya didalam mangkuk untuk suaminya dan untuk dirinya.
Moranno turut membantu Yurina membawa mangkuk-mangkuk ke meja makan. Keduanya duduk berhadapan dimeja makan dan menikmatinya dengan hening.
Selesai makan Moranno segera berdiri mengambil alih untuk membereskan peralatan makan yang mereka gunakan.
"Duduklah, biarkan aku yang membereskan semuanya ini."
"Tapi kau juga lelah seharian berkerja."
"Tak mengapa, aku masih bisa melakukannya."
Moranno lalu membawa semua peralatan makan diatas meja, dan membersihkan semuanya menggunakan air mengalir di kran wastafel. Yurina memandang kearah Moranno dari tempat duduknya dimeja makan. Ia sangat bersyukur dan merasa beruntung memiliki suami seperti Moranno yang bersikap sangat baik dan memperhatikannya dan juga bayi yang ada didalam kandungannya. Yurina dapat melihat ketulusan hati Moranno yang sungguh-sungguh bertanggung jawab padanya dan juga bayinya, diam -diam Yurina berharap Moranno bisa tetap seperti itu padanya, tidak pernah berubah.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Moranno sambil mendekati Yurina yang masih memandangnya.
"Ah, ti... tidak." Jawab Yurina sedikit tergagap.
"Kalau begitu ayo kita kembali kekamar. Aku sangat lelah." Kata Moranno sambil membantu Yurina untuk bangkit dari duduknya.
Keduanya lalu berjalan bersisian menuju kamar mereka.
"Terima kasih...." Kata Yurina yang berjalan disisi suaminya.
"Untuk apa?" Tanya Moranno sambil menggandeng bahu isterinya yang berjalan disisnya.
__ADS_1
"Untuk semuanya. Semua perhatianmu, semua pengertianmu, semua dukunganmu, semua tanggung jawabmu. Dan semuanya ini masih seperti mimpi bagiku. Aku bukan siapa-siapa dan kau pasti tau semuanya itu. Tapi kau mau menerimaku masuk dalam hidupmu hanya karena ada bayimu dalam tubuhku."
Moranno meraih gagang pintu kamar lalu keduanya masuk dan menutup rapat pintu.