JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 85 "Tolong dok, lakukan yang terbaik buat suami saya."


__ADS_3

Tok...


Tok...


Tok....


Yurina dan bibi Nur sama - sama menatap kearah pintu yang diketuk dari luar. Keduanya saling berpandangan sejenak.


"Buka lah bibi Nur?" Kata Yurina yang masih berbaring diranjang pasien.


Bibi Nur bergegas menuju pintu dan membukanya perlahan.


"Silahkan masuk dokter." Kata bibi Nur mempersilahkan.


Doktet Rosalie masuk diikuti seorang dokter pria bersamanya.


"Selamat malam nyonya muda." Sapa dokter Rosalie dan dokter pria yang berdiri disebelabnya, keduanya tidak lupa memberi hormat pada Yurina.


"Selamat malam dokter." Yurina membalas sapaan kedua dokter tersebut sambil menyunggingkan senyuman.


"Bagaimana keadaan anda nyonya, apa perut anda masih terasa sakit?" Tanya dokter Rosalie.


"Sudah mulai berkurang dokter. Juga bayi yang ada dalam kandungan saya sudah lebih tenang, mereka hanya sesekali saja bergerak." Ucap Yurina sambil mengusap perutnya yang ditutupi selimut.


"Syukurlah kalau begitu. Jadi, tolong nyonya muda usahakan tetap tenang, supaya kondisi nyonya dan kandungan nyonya juga tetap stabil dan sehat."


"Iya dokter... Terima kasih atas nasihat - nasihat dokter."


"Sama - sama nyonya muda." Ucap dokter Rosalie seraya tersenyum, hatinya merasa lega, karena kondisi Yurina bisa membaik dalam suasana yang masih panik bagi para dokter dirumah sakit itu.


"Nyonya muda, perkenalkan ini dokter Rogen, beliau kepala team dokter yang menangani tuan Moranno. Kedatangannya kemari bertemu nyonya muda adalah untuk minta persetujuan tindakan operasi pada tuan Moranno. Kami sudah menghubungi nyonya Agatsa lewat telepon dirumahnya, namun keadaan nyonya besar belum memungkinkan untuk diajak berbincang mengenai masalah ini. Sedangkan tindakan operasi pada tuan Moranno harus segera dilakukan supaya tidak terjadi hal - hal yang tidak kita inginkan."

__ADS_1


"Jadi saya membawa dokter Rogen untuk menemui anda nyonya muda. Bila disetujui, nyonya muda diharapkan menandatangani berkas yang dokter Rogen bawa ini, selanjutnya pihak team dokter yang dipimpin dokter Rogen akan segera melakukan operasi."


"Apa operasi ini sangat beresiko terhadap keselamatan suamiku. Berapa persen kemungkinan keberhasilannya." Tanya Yurina dengan wajah seriusnya.


"Dokter Rogen, silahkan sampaikan kemungkinan - kemungkinan yang akan terjadi pada nyonya muda." Pinta dokter Rosalue pada dokter Rogen.


"Bila lambat dioperasi lima menit saja dari sekarang. Kemungkinan nyawa tuan Moranno sudah tidak tertolong lagi, karena kondisi tuan Moranno sudah bertambah kritis, ia banyak kehilangan darah. Dan bila dioperasipun kemungkinan berhasil juga hanya satu persen nyonya muda." Jelas dokter Rogen.


Yurina spontan menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat mendengar penjelasan dokter Rogen. Hatinya kembali terpukul, sekritis itukah suaminya, untuk kemungkinan ia bisa hidup hanya satu persen pikirnya gundah.


Tangis Yurina kembali meledak, rasanya ia sangat tidak sanggup menghadapi hal yang seberat itu. Tubuhnya berguncang - guncang diranjang pasien berusaha menahan isaknya.


"Nyonya muda, tenangkan diri anda nyonya, ingatlah kondisi anda, kandungan anda, juga tuan Miranno yang membutuhkan dukungan anda nyonya muda." Peluk bibi Nur berusaha menenangkan majikannya itu.


"Nyonya muda, masih ada harapan, walau hanya satu persen, jangan sia - siakan kesempatan berharga ini. Nyonya muda harus kuat. Maafkan saya mengatakan ini. Kondisi tuan Moranno memaksa kita untuk tidak membuang - buang waktu nyonya muda. Saya harap anda sabar, tenang dan tetap kuat nyonya muda. Anda saja yang bisa diandalkan tuan Moranno saat ini. Kami para dokter hanya bisa melakukan apa yang menjadi tugas kami untuk menyelamatkan nyawa pasien."


Yurina menyeka air matanya dengan kasar, seolah - olah isyarat yang ia lakukan untuk menghempaskan segala beban yang dirasanya terlampau berat.


"Bibi, tolong bantu aku untuk duduk." Pinta Yurina pada bibi Nur dengan suara bergetar, masih berusaha menahan tangisnya yang tidak bisa ia tahan.


Dengan sudut yang diatur dokter Rosalie pada ranjangnya, membuat Yurina pada posisi duduk tanpa harus dibantu duduk.


"Terima kasih dokter Rosalie. Mana berkas yang harus saya tanda tangani?" Kata Yurina.


" Ini nyonya muda." Dokter Rogen lalu menyerahkan berkas yang dibawanya, ia lalu menunjukan dimana saja Yurina harus bertanda tangan.


Yurina lalu melakukan apa yang telah diarahkan oleh dokter Rogen, setelah selesai bertanda tangan ia menatap kearah kedua dokter dihadapannya itu secara bergantian dengan wajah sembabnya.


"Tolong dok, lakukan yang terbaik buat suami saya. Harapan saya, walau hanya satu persen, operasi ini dapat berhasil." Hanya itu yang sanggup ia katakan pada kedua dokter itu, ia benar - benar hampir merasa tak sanggup untuk memikirkan kemungkinan - kemungkinan buruk yang akan menimpa suaminya itu.


"Kami akan berusaha sebaik mungkin nyonya muda, semuanya kita serahkan pada Tuhan sang Pencifta yang memiliki kehendak dan kuasa dalam hidup kita. tetaplah berdoa dan berharap akan pertolongan Tuhan." Ucap dokter Rogen.

__ADS_1


"Saya mohon permisi dulu nyonya, karena waktunya sudah sangat mendesak." Pamit dokter Rogen, dengan tidak lupa memberi hormat.


"Iya dokter." Sahut Yurina dengan suara yang terdengar lemah.


"Nyonya muda, apakah nyonya akan pulang, atau menginap di rumah sakit ini?" Tanya dokter Rosalie yang masih berdiri disisi dekat tempat tidur Yurina.


"Saya mohon dok, ijinkanlah saya untuk menginap disini saja dokter. Saya tidak akan bisa pulang dengan tenang sebelum mengetahui keadaan suami saya." Ucap Yurina memohon.


" Baiklah nyonya muda, jika itu yang nyonya inginkan. Nyonya muda boleh menginap dirumah sakit ini. Tapi bukan disini tempatnya. Nyonya menginap diruang inap khusus keluarga Agatsa, saat nyonya pernah dirawat pertama kali."


"Sebentar nyonya muda, saya coba menghubungi pihak yang bertugas, apakah ruangannya sudah siap."


Dokter Rosalie meraih ponselnya yang berada dalam saku baju dinasnya, lalu mencari nomor tujuan.


"Hallo sus... Apakah ruangan inap khusus keluarga Agatsa sudah siap?" Tanya dokter Rosalie saat teleponnya diangkat seseorang diseberang sambungan telepon.


"Sudah dokter, sudah boleh digunakan sekarang." Sahut suster petugas diujung sambungan telepon.


"Baiklah... Terima kasih sus..." Dokyer Rosalie lalu menutup sambungan teleponnya.


"Nyonya muda, anda sudah bisa masuk keruangan inap khusus keluarga Agatsa. Saya mohon, segeralah beristirat, usahakan nyonya tidak banyak berpikir yang bisa mengakibatkan nyonya menjadi stress, karena itu sangat tidak baik untuk kesehatan nyonya muda, juga kandungan nyonya.


"Saya mohon pamit dulu, masih ada pasien yang harus saya tangani lagi. Nanti pengawal yang berada diluar akan mengantarkan nyonya muda dan bibi Nur kesana."


"Terima kasih banyak dokter Rosalie."


"Iya nyonya muda. Sama - sama." Doker Rosalie membungkukkan rubuhnya memberi hormat lalu bergegas keluar.


"Bibi, tolong panggilkan pengawal yang ada diluar, kita akan segera keruangan khusus keluarga Agatsa.


"Baik nyonya muda." Bibi Nur segera melangkah keluar ruangan. Tak lama ia kembali dengan dua pengawal yang membantunya memapah Yurina turun dari tempat tidur untuk duduk dikursi roda.

__ADS_1


Mereka lalu mendorong kursi roda Yurina, sementara bibi Nur membawa tas tenteng yang dibawanya sebelumnya.


Sepanjang perjalanan menuju ruangan khusus keluarga Agatsa. Beberapa kali mereka berpapasan dengan dokter maupun perawat. Mereka yang sudah mengenali Yurina sebagai nyonya muda Agatsa selalu membungkuk memberi hormat.


__ADS_2