JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 158 "Berani - beraninya kalian menjadikanku bahan tertawaan....."


__ADS_3

Margareth tertawa terpingkal - pingkal setelah mendengar cerita Harry.


"Kau pasti melebih - lebihkan dari kejadian yang sebenarnya......" Ucap Margareth tak percaya, ia masih tertawa sambil memegang perutnya.


"Kakakku tidak mungkin berbuat konyol seperti itu, itu sama sekali bukan dirinya....." Tambahnya lagi masih tertawa.


Tanpa mereka sadari, dua pasang telinga telah mendengarkan semua percakapan mereka.


"Bila perkataanmu itu benar...... Aku tidak bisa bayangkan...... reaksi para pegawainya saat melihat CEO mereka yang berwibawa itu, membawa cap bibir kakak ipar kemana - mana seharian itu......" Margareth terus tertawa.


"Itu cerita yang sebenarnya, kau boleh menanyakannya pada asisten Rudi, saksi yang masih hidup....." Harry masih terkekeh.


"Tidak perlu bertanya pada asisten Rudi..... tanyakan padaku saja, yang juga masih hidup dan ada disini mendengar semua perbincangan kalian yang konyol itu......." Wajah Moranno memerah menahan rasa malu.


Darah Margareth dan Harry terasa tertumpah karena kagetnya, keduanya tidak menyangka bahwa orang yang sedang mereka tertawakan sedang berdiri dibelakang mereka sambil berkacak pinggang.


Margareth menyikut pelan kearah Harry, Harry menoleh kearah Margareth memberi isyarat. Beberapa detik kemudian, keduanya dengan sigap berdiri dan berlari kencang menjauhi Moranno dan Yurina yang berdiri dibelakang mereka.


Moranno yang sudah memprediksi keduanya akan melakukan hal itu tidak tinggal diam. Kecepatan larinya yang sudah terlatih sejak menjadi salah satu atlet lari cepat saat masih SMU, masih ia asah sampai sekarang. Tidak sulit baginya meringkus kedua manusia lawan jenis itu yang sudah menjadikan dirinya bahan tertawaan mereka.


"Sakit kak......" Keluh Margareth.sambil memegang telinganya.


"Maafkan saya tuan Moranno....." Harry meringis kesakitan.


"Berani - beraninya kalian menjadikanku bahan tertawaan....." Tangan Moranno masih menjewer telinga Harry dan Margareth. Keduanya terpakasa mengikuti kemana kaki Moranno melangkah.


"Ampun kak.... tolong lepaskan..... itu semua salah tuan Harry, aku hanya menjadi pendengar." Margareth meringis, telinganya begitu terasa sakit.


"Walau kau hanya jadi pendengar..... tapi kaulah yang tertawa lebih keras Margareth...... Kau senang mendengar lelucon tuan Harry tentang diriku kan??" Wajah Moranno masih begitu emosi. Sementara Harry tidak berani bersuara, ia tahu Moranno sangat marah pada dirinya yang sengaja menceritakan kisahnya.


"Suamiku..... lepaskan..... kasian adik ipar dan kak Harry.....daun telinga mereka nanti bisa terluka....." Yurina merasa kasihan melihat daun telinga Margaret dam Harry yang sudah memerah.


"Ini tidak sebanding dengan apa yang telah mereka berdua lakukan sayang...... mereka memang harus dihukum......" Moranno masih bersikeras,


"Jadi kau sudah tidak mau mendengar permintaan isterimu ini suamiku, hmm....??." Yurina melipat kedua tangannya didepan dadanya, matanya tak berkedip menatap Moranno yang masih belum mau melepaskan hukumannya.

__ADS_1


Perkataan dan tatapan mata Yurina membuat Moranno melepaskan kedua tangannya dari daun telinga Harry dan Margareth.


Margarethl dan Harry mengusap - usap daun telinganya yang terasa perih.


"Jadi cerita tuan Harry tadi benar ya......" Ucap Margareth masih penasaran, tangannya masih terus mengusap daun telinganya yang memar.


"Margaret...... !" Suara Moranno penuh tekanan, ia terlihat sangat tidak suka dengan pertanyaan Margareth.


"Itu lipstik dibelikan kakakmu buatku sebagai hadiah pernikahan kami.... entah kenapa, sulit sekali dibersihkan adik ipar." Yurina sengaja menerangkan.


"Sayang........" Moranno menempelkan jari telunjuknya dibibir Yurina mengisyaratkan agar isterinya tidak melanjutkan ucapanya.


"Jangan - jangan itu cat tembok bukannya lipstik kakak ipar....." Margareth menimpali.


"Entahlah....... yang jelas aku harus berusaha keras menghapus nodanya dipipi kakakmu saat itu......" Yurina sudah tidak bisa menahan senyumnya yang mengembang begitu saja, membuat Margareth kembali tertawa terpingkal - pingkal.


Harry berusaha keras menahan tawanya, ia segera memalingkan wajahnya kearah lain supaya tidak terlihat oleh Moranno.


Wajah Moranno kembali merona merah, namun ia tidak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa menahan malunya yang sudah mulai naik keubun - ubun.


"Iya.... masa lalu yang kau jadikan untuk mengancamku waktu itu kan suamiku......" Ucap Yurina menatap wajah Moranno penuh arti.


"Mengancam bagaimana kakak ipar....." Tawa Margareth mendadak terhenti.


"Saat itu, mommy memarahiku..... katanya aku tidak becus jadi seorang isteri, tidak bisa mengurus suami, sampai cap bibirku harus dibawa suamiku kemana - mana dan dilihat oleh beberapa pegawai sehiingga mereka bergosip tentang hal itu. Tuan Harry, asisten Rudi, Gandis juga ada saat itu, telah melihat juga cap bibirku itu yang menempel dipipinya."


"Jadi bila kakakmu menginginkan sesuatu dariku.... ia selalu mengancam supaya aku tidak menolaknya.... ingat kata mommy, kau harus bisa mengurus suamimu dengan baik....." Kata Yurina mengingat masa - masa awal pernikahan mereka yang sekarang terasa begitu menggelikan saat diingat.


"Tidak ku sangka.....kakak sekonyol itu untuk mendapatkan kakak ipar......" Tawa Margareth, ia lalu menarik tangan Harry untuk melarikan diri dari hadapan Moranno yang ingin menjewer telinganya lagi.


...***...


Margareth berhenti berlari saat ia mengetahui Moranno tidak mengejar dirinya dan juga Harry.


Ia mengatur napasnya yang masih memburu akibat berlari.

__ADS_1


"Kenapa kau mengajakku ikut berlari?"


"Aku tak ingin kau nanti dijewer lagi oleh kak Moranno." Sahut Margareth masih mengatur napasnya yang masih terengah - engah.


"Apa itu artinya.... bentuk perhatianmu padaku....? Ucap Harry percaya diri, ia melihat tangan Margareth yang masih memegang tangannya dengan erat.


"Aaa.... kau salah paham..... " Margareth segera melepaskan tangannya yang sejak tadi masih memegang tangan Harry.


"Aku hanya.....tidak ingin kau dijewer lagi oleh kakak, itu saja....." Margareth nampak sedikit gugup sambil melihat kearah lain.


Harry tersenyum melihat sikap Margareth yang berusaha menyembunyikan perasaannya.


"Ayo, kita lanjutkan joging kita yang belum kita selesaikan....." Ucap Harry sambil berlari - lari kecil didekat Margareth.


"Ayo......" Margareth kembali berlari mengimbangi kecepetan lari Harry yang melambat.


"Margareth.... apa besok..... kau sungguh - sungguh akan kembali kekota tempat kau berkerja? Tanya Harry sambil berlari santai menatap kedepan.


"Iya......Aku bahkan sudah menyiapkannya semuanya......kenapa?" Sahut Margareth yang juga berlari santai disisi Harry.


"Aku.... pasti merindukanmu......." Ucap Harry, ia tetap memperhatikan jalan selebar dua meter yang ditumbuhi rumput sintetis, membuat gerak lari santai Margareth tak terasa berhenti.


"Ada apa?" Tanya Harry ikut berhenti.


"Ahh tidak ada..... kita lanjut lagi jogingnya......" Margareth menggerakkan kakinya lagi untuk kembali berlari diikuti Harry.


"Kau masih bisa mengirim e- mail padaku, pesan, atau menelponku kan?" Sambung Margareth.


"Dan kau harus berjanji untuk tetap membalas pesan ataupun e-mailku...... " Ucap Harry yang masih setia berlari disisi Margareth.


"Kau mengatakan itu seolah - olah aku tidak ingin membalas pesan maupun e- mail darimu ?


"Bukan itu maksudku..... aku selalu menanti balasan darimu dengan perasaan yang was - was.... takut kau tak membalasnya....."


Margareth melirik Harry yang berlari disebelahnya. Entah mengapa dirinya merasa pria itu memiliki hati seperti seorang wanita, mungkin saja, dia dibesarkan oleh neneknya, pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2