JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 48 "Sungguh mulia hati nyonya Naomi"


__ADS_3

Pagi itu Yurina masih betah ditempat tidurnya, ia mendengus-denguskan hidungnya di tubuh Moranno, suaminya.


Beberapa hari terakhir ia memang sangat menyukai aroma tubuh Moranno, apalagi bila suaminya itu belum mandi.


"Apa yang kau lakukan sayang, aku merasa geli." Kata Moranno dengan mata masih terpejam karena kantuk.


"Biarkan aku mencium aroma tubuhmu sejenak." Kata Yurina setengah berbisik dengan suara manjanya.


Aktifitas yang dilakukan Yurina pada bagian tubuh belakang Moranno hingga ketengkuknya, juga perut Yurina yang semakin besar membuncit itu membuat Moranno tidak mengantuk lagi.


Moranno membalikkan tubuhnya kearah Yurina.


"Kau bangun?" Kata Yurina saat wajah Moranno bertemu dengan wajahnya hanya berjarak beberapa senti saja.


"Iya, si junior juga bangun." Kata Moranno sambil merapatkan tubuhnya ke tubuh Yurina. Yurina merasakan benda keras dibawah sana menyentuh tubuhnya akibat pergerakan tubuh Moranno.


"Maafkan aku, aku tidak sengaja" Kata Yurina sambil tertawa kecil menyadari ulahnya pada Moranno.


"Tidak cukup hanya minta maaf, kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan." Kata Moranno sambil berpindah posisi diatas Yurina isterinya.


"Tapi kita sudah melakukannya semalam." Kata Yurina berkilah.


"Ayolah sayang, daddynya mau menjenguk para baby didalam sana, hmmm."


Moranno tak menunggu jawaban Yurina, bibirnya langsung ******* habis bibir Yurina. Yurina pun tak berusaha menolak, ia mulai mengimbangi permainan Moranno, mengikuti setiap irama yang diciptakan suaminya itu hingga keduanya akhirnya sama-sama terhempas dengan napas yang sama-sama memburu.


***


Jam sembilan pagi itu Yurina sudah tiba di panti asuhan Benih Kasih. Ia segera menuju ruangan ibu Marissa kepala panti asuhan itu.


Ponsel Yurina berdering..Yurina berhenti sejenak mengambil ponsel dari dalam tasnya.


"Hallo Lis.... Aku sudah tiba di panti, kau dimana?" Tanya Yurina sesaat setelah ia mengangkat teleponnya.


"Ya hallo juga.... Maafkan aku Yurina, sepertinya aku tidak bisa bersamamu ke panti hari ini, tiba-tiba saja aku diminta menggantikan rekan kerjaku yang sedang sakit pagi ini." Terdengar suara Lisa dari ujung sambungan telepon.


"Baiklah tidak mengapa, lain waktu kita bisa kesini lagi bersama." Kata Yurina menjawab sahabatnya itu.


"Terima kasih ya, baiklah aku tutup dulu untuk segera berkerja. Titip salam buat bunda Marissa dan bunda- bunda panti yang lain, juga buat adik-adik panti tentunya." Lisa menutup teleponnya. Karena terburu-buru ponsel Yurina terjatuh sebelum sempat masuk ke dalam tasnya.


Yurina dengan susah payah membungkuk untuk meraih ponselnya di tanah karena perut besarnya. Belum sempat tangannya menggapai ponselnya, tangan seseorang telah lebih dulu meraih ponselnya.


"Ini ponsel nyonya." Kata seseorang sambil menyodorkan ponsel Yurina yang ada ditangannya.


Yurina menegakkan tubuhnya untuk berdiri, ia sedikit mendongakkan wajahnya melihat kearah suara. Seorang pria bertubuh tinggi atletis dan berwajah tampan berdiri tegak dihadapannya dengan tersenyum.


"Terima kasih, maaf merepotkan anda tuan." Kata Yurina sambil menerima ponselnya dari pria itu dan balas tersenyum.

__ADS_1


"Perkenalkan, nama saya Harry, anda siapa nyonya?" Tanya pria itu sambil menyodorkan tangannya.


Yurina agak ragu menyambut tangan pria asing itu, namun sesaat kemudian ia mengulurkan tangannya menerima jabatan tangan dari sang pria.


"Saya Yurina." Jawab Yurina singkat.


"Sepertinya saya pernah melihat wajah anda sebelumnya." Kata Harry sambil mengingat-ingat. Matanya menatalp wajah Yurina begiti lekat.


"Benarkah? Tapi saya rasa kita baru bertemu hari ini tuan." Kata Yurina berusaha melepaskan tangannya dari pria itu.


"Maafkan saya nyonya Yurina" Kata Harry yang baru tersadar sambil melepaskan genggaman tangannya.


"Saya kesini ingin bertemu dengan bunda Marissa, tadi security menunjuk kearah sini, tapi saya masih bingung. Ini pertama kalinya saya kemari. Saat saya melihat anda sedang menelpon, saya berpikir akan menanyakan pada anda nyonya." Kata Harry lagi menyampaikan maksudnya.


"Kebetulan saya akan menemui ibu Marissa. Mari ikut dengan saya tuan Harry."


"Terima kasih nyonya."Harry lalu mensejajarkan langkahnya dengan Yurina.


"Selamat pagi bunda Marissa." Sapa Yurina dari depan pintu.


Bunda Marissa yang sedang menulis sesuatu mendongakkan wajahnya, dengan wajah sumringah ia bangkit dari duduknya menghampiri kedua tamunya.


Yurina mencium tangan wanita yang sudah mulai lanjut itu lalu memeluknya dengan penuh rasa kerinduan. Bagi Yurina, bunda Marissa seperti ibunya sendiri.


"Pagi juga sayang, akhirnya kau datang juga untuk berkunjung kemari." Kata bunda Marissa membalas pelukan Yurina. Sesudah keduanya puas melepas rindu dengan berpelukan, bunda Marissa menatap kearah pria yang berdiri disebelah Yurina sejak mereka tiba.


" Ah... Tidak bunda. Dia bukan, bukan suami saya bun." Kata Yurina cepat.


"Tadi kami baru bertemu didepan, kebetulan tujuan kami sama mau bertemu bunda." Jelas Yurina lagi.


"Perkenalkan saya Harry. Cucu nyonya Naomi." Kata pria itu seraya menyodorkan tangannya pada bunda Marissa sambil tersenyum ramah. Bunda Marissa segera menyambutnya dengan balas tersenyum.


"Maafkan saya tuan Harry, saya pikir tadi tuan suaminya Yurina, ternyata cucu nyonya Naomi. Bagaimana kabar Nyonya Naomi? Kapan kembali ke Indonesia lagi?"


"Nenek sehat-sehat saja. Mungkin beberapa bulan kedepan baru kembali. Nenek meminta saya untuk bertemu bunda Marissa membicarakan beberapa hal." Kata Harry menjelaskan maksud kedatangannya.


"Kita masuk dulu, berbincangnya didalam saja." Kata bunda Marissa mempersilahkan kedua tamunya itu masuk.


"Bunda, saya langsung saja bertemu dengan adik-adik panti, ada oleh-oleh yang saya bawa masih di mobil. Bunda lanjutkan saja pembicaraan dengan tuan Harry." Kata Yurina pamit pada ibu panti.


"Kau tidak menunggu Lisa dulu? Tanya bunda Marissa.


"Tidak, Lisa tidak jadi datang bun, karena hari ini ada rekan kerjanya yang sakit, dan pimpinannya meminta Lisa menggantikan pekerjaannya. Tadi Lisa menintip salam untuk bunda dan semua adik-adik panti."


"Baiklah kalau begitu, nanti bunda akan menyusulmu menemui anak-anak panti."


"Iya bun. Pak Harry saya permisi." Pamit Yurina sopan.

__ADS_1


"Iya nyonya Yurina , terima kasih telah mengantarkan saya bertemu bunda Marisaa." Kata Harry sambil tersenyum ramah.


Harry dan bunda Marissa menatap punggung Yurina yang pergi menjauhi mereka.


"Tuan Harry.... Tuan Harry.... Ehemm." Bunda Marissa berdehem saat melihat pria itu masih memandang kearah perginya Yurina.


"Maafkan saya bunda." Kata Harry merasa tak enak kepergok basah memandang Yurina terlalu lama walaiu sudah tak terlihat.


"Apakah tuan Harry mengenal Yurina?" Tanya bunda Marissa penasaran.


"Tidak. Tapi wajah nyonya muda itu tak asing bagi saya, sangat familiar. Entahlah." Kata Harry yang tak berhasil mengingat sesuatu.


"Mungkin tuan Harry melihat ditelevisi atau surat kabar barangkali." Kata bunda Marissa berusaha membantu Harry yang terlihat berusaha keras mengingat sesuatu.


"Maksud bunda Marissa nyonya muda itu seorang model?"


"Bukan, beberapa bulan lalu sempat ada pemberitaan - pemberitaan miring tentang Yurina di televisi dan surat kabar mengenai pernikahannya dengan tuan Moranno suaminya."


"Oh, rupanya nyonya muda tadi isteri tuan Moranno, terlihat lebih cantik aslinya bunda." Puji Harry jujur.


Bunda Marissa tersenyum-senyum mendengar ucapan Harry.


"Maksud saya dibandingkan dengan yang ditayangkan ditelevisi atau media masa, lebih terlihat cantik saat dilihat secara langsung." Harry berusaha menyembunyikan kekagumannya dihadapan bunda Marissa pada kecantikan Yurina.


"Iya tuan Harry saya mengerti." Kata bunda Marissa berusaha menahan senyumnya.


"Tapi mengapa tadi bunda mengira saya suami nyonya muda Yurina?"


"Saya belum pernah bertemu langsung dengan tuan Moranno, hanya melihat dari televisi dan media cetak saja. Perawakan anda dan rambut anda juga ada kemiripan dengan tuan Moranno yang saya liat lewat televisi dan media masa itu. Memang wajah sedikit berbeda."


"Oh begitu rupanya." Harry tersenyum karena ia dikatakan mirip dengan Moranno yang terkenal tampan dan berpenampilan menarik itu. Untuk kalangan pembisnis, Moranno bak selebritis yang dikenal bukan hanya penampilannya tapi juga kesuksesannya dalam membangun kerajaan bisnisnya.


"Apa tuan Harry mengenal tuan Moranno?" Tanya bunda Marissa.


"Iya bunda, sekarang perusahaan kami dengan perusahaan tuan Moranno sedang berkerja sama dalam bidang properti."


Bunda Marissa hanya manggut-manggut mendengar apa yang disampaikan Harry.


"Oh ya, apa maksud kedatangan tuan Harry ke panti kami ini?" Tanya bunda Marissa saat mengingat apa yang disampaikan Harry pada awal bertemu.


"Beberapa hari lalu nenek menelpon saya menyampaikan niatnya untuk membantu panti Benih Kasih ini merenovasi beberapa bangunan yang sudah tua untuk kenyamanan dan keamanan semua penghuni panti. Karena beberapa kesibukan, saya baru bisa datang kemari hari ini." Ungkap Harry.


"Sungguh mulia hati nyonya Naomi. Saya, bahkan kami semua penghuni panti ini tentu saja sangat berterima kasih atas kemurahan hati nenek anda tuan Harry. Kapan kira-kira hal itu ingin dilakukan tuan?


"Secepatnya bunda Marissa, setelah saya melihat kondisi fisik bangunan yang akan direnovasi."


"Baiklah, kalau begitu bagaimana kita langsung melihatnya sekarang." Kata bunda Marissa sambil berdiri dari duduknya dan diikuti oleh Harry.

__ADS_1


***


__ADS_2