JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 88 "Siapa yang memberimu ijin menanda tangani berkas operasi putraku."


__ADS_3

"Nyonya muda, makanlah dulu sarapan anda." Kata Bibi Nur yang telah menyajikan sarapan pagi bagi Yurina.


"Tapi ini masih terlalu pagi bibi. Aku belum berselera makan."


"Iya nyonya, ingat pesan dokter Rosalie, anda harus makan yang cukup supaya punya cukup tenaga untuk persiapan melahirkan. Bila sakit perut nyonya muda datang lagi, anda pasti akan kesulitan makan nyonya muda. Jadi makanlah sekarang." Bujuk bibi Nur.


"Baiklah bibi. Berikan piringnya, aku akan makan sendiri."


Bibi Nur memberikan sarapan pagi yang telah ia masukkan kedalam piring kepada Yurina.


Yurina terlihat tidak bersemangat menikmati sarapan paginya. Namun ia ingat perkataan dokter Rosalie dan bibi Nur bahwa dirinya harus memiliki tenaga yang cukup untuk melahirkan bayi kembarnya hari ini. Maka, dengan susah payah Yurina berusaha menghabiskan sarapan paginya. Demi bayi kembarnya, dan demi Moranno suaminya pikirnya.


"Bibi.... Tolong beritahu bibi Nani untuk mengantarkan dua koperku yang berisi pakaian dan peralatan bayi . Juga amplop berwarna putih yang berada diatas meja dekat vas bunga, dan kertas nama bayi yang telah kutulis, dan kutaruh dilaci meja riasku. Semuanya itu ada dikamar tidur kami."


"Baik nyonya muda, segera akan saya sampaikan pesan anda nyonya."


"Bibi, perutku terasa sakit lagi..." Kata Yurina dengan wajah meringis sambil memegang perutnya yang bergerak - gerak.


"Kalau begitu, nyonya berbaring lah dulu ditempat tidur nyonya."


"Tidak bibi, aku harus pergi..."


"Nyonya muda mau pergi kemana?"


"Melihat suamiku..."


"Tapi nyonya muda, bukankah anda sedang mengalami sakit perut nyonya." Bibi Nur nampak khawatir.


"Sejak kemarin aku belum melihat suamiku. Pagi ini operasinya selesai. Aku ingin mengetahuinya bibi."


Tapi nyonya muda, pikirkan kondisi diri anda sekarang, saya khawatir...."


"Ayo bibi, lekaslah...." Yurina sudah tak ingin mendengar larangan pelayannya yang mengkhawatirkan keadaannya. Ia bergegas keluar ruang rawatnya.


"Nyonya muda tunggu, kursi roda anda nyonya..." Panggil bibi Nur sambil mendorong kursi roda Yurina dengan terburu - buru dari belakang.

__ADS_1


"Anda mau kemana nyonya muda." Ucap pengawal jaga menghentikan langkah Yurina dengan sikap hormatnya.


"Ketempat suamiku dioperasi."


"Silahkan naik kekursi roda anda nyonya muda supaya anda tidak kelelahan." Ucap penjaga sambil mengambil kursi roda dari tangan bibi Nur dan mendekatkannya pada Yurina.


"Aku berjalan kaki saja."


"Jaraknya cukup jauh nyonya muda. Mohon naiklah kekursi roda anda nyonya." Kata pengawal jaga itu lagi.


"Pengawal jaga benar nyonya muda, nanti anda kelelahan." Ujar bibi Nur sambil menambahkan.


"Tidak, aku berjalan saja. Cepat, beri aku jalan."


Pengawal jaga berpandangan sejenak dengan bibi Nur. Bibi Nur mengganggukkan kepalanya memberi isyarat. Pengawal jaga itu lalu segera menepi.


Yurina bergegas, ia terlihat sangat terburu - buru. Bibi Nur mengikutinya dari belakang dengan mengimbangi langkah Yurina.


Sementara kedua pengawal mengikuti keduanya dari belakang dengan tetap membawa kurai roda Yurina.


"Berhati - hatilah nyonya muda, pelankan langkah anda. Anda bisa terjatuh, itu sangat berbahaya nyonya muda."


"Iya nyonya muda.... saya mengerti, tapi kandungan anda juga harus dijaga..." Bibi Nur masih terus mengikuti majikannya itu dengan langkah yang semakin dipercepat.


Pagi yang masih samar - samar itu nampak sepi. Hanya beberapa perawat yang lewat dan berpapasan dengan mereka sambil memberi hormat saat melihat Yurina.


"Aduh.... Perutku semakin sakit...." Keluh Yurina sembari menghentikan langkahnya sambil memegang perutnya dengan kedua tangannya.


"Apa nyonya muda baik - baik saja." Tanya bibi Nur dan kedua pengawal jaga bersamaan sambil memegang tubuh Yurina.


"Aku... Aku baik - baik saja, perutku saja yang sakit..." Kata Yurina dengan suara yang tersendat - sendat, sambil mengatur napasnya yang terasa sesak.


"Nyonya muda, naiklah kekursi roda ini... Kita kembali ke ruang rawat saja." Kata bibi Nur nampak khawatir.


"Tidak bibi, aku harus ke ruang operasi suamiku dulu."

__ADS_1


"Kalau begitu, nyonya muda gunakan kursi roda ini saja, supaya anda tidak lelah, kami akan mengantarkan nyonya muda sampai ke ruang operasi tuan Moranno."


"Tidak bibi... Aku berjalan kaki saja. Bukan tanpa alasan aku melakukan ini. Saat berjalan aku berusaha mengalihkan rasa sakit perutku ini, selain itu, mungkin saja bisa mempercepat proses kelahiran bayi - bayi ini saat aku banyak bergerak."


" Kalau begitu, terserah nyonya muda saja. Bila nyonya sudah tidak sanggup berjalan lagi, naiklah kekursi roda ini. Kami akan tetap membawanya."


"Iya bibi, aku mengerti. Sekarang, kita lanjut lagi. Sakit pada perutku sudah mulai mereda lagi...." Yurina langsung melangkah mendahului bibi Nur dan kedua pengawal jaganya tanpa menunggu mereka menjawab.


Bibi Nur dan pengawal jaganya segera menyusul. Beberapa kali terlihat mereka berhenti karena Yurina yang nampak kesakitan pada bagian perutnya. Namun tanpa menyerah ia kembali berjalan saat sakit pada perutnya terasa mereda.


Dari kejauhan, Yurina melihat didepan ruang operasi Moranno nampak banyak orang berkumpul pagi itu. Dengan tidak sabar, ia mempercepat langkahnya supaya segera tiba ditempat tujuannya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.


Bibi Nur dan kedua pengawal jaga pun turut mempercepat langkah kaki mereka.


Yurina segera mengatur napas dan mengambil posisi berdiri tegak, saat dilihatnya ibu mertuanya ada diantara beberapa orang yang berkumpul didepan ruang tindakkan operasi Moranno.


"Selamat pagi nyonya besar." Sapa Yurina membungkukkan tubuhnya dengan mata memandang kebawah, sikap hormat yang biasa ia lakukan. Bibi Nur dan juga kedua pengawal jaga yang mengiringnya dari belakang juga melakukan hal yang sama seperti Yurina.


Orang - orang yang bersama nyonya Agatsa merasa heran melihat pemandangan itu. Khususnya Yurina sebagai menantu berperilaku bak seorang pelayan dihadapan ibu mertuanya sendiri pikir mereka. Namun mereka hanya berdiam diri melihat keganjilan itu.


"Kenapa kau baru tiba disini. Apa kau tidak mengkhawatirkan suamimu?" Suara nyonya Agatsa terdengar dingin, sedingin tatapan wajahnya saat melihat wajah Yurina yang berdiri membungkuk hormat padanya.


"Maafkan saya nyonya.... saya...." Kalimat Yurina terputus karena keburu ďipotong mertuanya.


"Apa kau baru bangun? Dan siapa yang memberimu ijin menanda tangani berkas operasi putraku?" Nada suara nyonya Agatsa sedikit naik.


Semua yang hadir nampak sedikit tegang dengan suasana yang tengah terjadi antara Yurina dan nyonya Agatsa. Mereka berusaha tidak mencampuri urusan antara mertua dan menantunya itu.


"Walaupun kau isteri dari putraku, kau tak berhak menanda tangani apapun berkas - berkas menyangkut keluarga Agatsa, apalagi menyangkut nyawa putraku. Apa kau bisa bertanggung jawab bila terjadi sesuatu pada putraku." Tambah nyonya Agatsa tanpa menghiraukan orang - orang yang ada disekitarnya.


Semua yang mendengar ucapan nyonya Agatsa masih berdiam diri. Mereka dapat melihat kemarahan dari setiap bahasa tubuh dan ucapan yang dilontarkan wanita pemilik rumah sakit Agatsa Hospital itu.


Yurina sudah tidak bisa berbicara lagi, dengan tetap menundukkan kepalanya menatap kelantai, ia masih berusaha berdiri ditempatnya saat ia baru tiba ditempat itu.


Bibi Nur dan juga kedua pengawal jaga itupun turut mematung ditempatnya tanpa berani bergerak sedikitpun dibelakang Yurina.

__ADS_1


"Maafkan kelancangan saya Nyonya besar, saya mohon tenangkan diri anda nyonya besar. Ini rumah sakit. Tuan Moranno tengah dioperasi. Jangan sampai suara kita mengganggu konsentrasi team dokter dan para perawat didalam sana nyonya besar." Kata dokter Herman memberanikan diri dengan suara pelannya.


"


__ADS_2