
Tujuh bulan berikutnya.....
Yurina nampak lemas berbaring diranjang pasien, rasa sakit bersalin sudah menyerangnya sejak enam jam yang lalu.
Diluar ruangan semua keluarga sudah berkumpul. Situasi pagi itu nampak tegang. Tidak ketinggalan nyonya Naomi dan nyonya Agatsa juga hadir disana, menanti anggota keluarga baru mereka yang hadir.
Moranno yang menemani Yurina didalam ruang bersalin nampak cemas, keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuhnya. Ini kali pertama dirinya menemani sang isteri untuk bersalin. Dirinya mulai gelisah mondar - mandir membuat Yurina yang melihat suaminya itu semakin merasa akan segera melahirkan.
Margareth dan Harry yang turut masuk didalam ruangan merasakan kegelisahan yang dirasakan oleh Moranno.
"Kakak tenanglah..... duduklah dulu..... nanti kau akan kehabisan tenaga kalau begitu caranya." Margareth berusaha mengingatkan kakaknya itu.
"Tidak bisa Margareth, aku tidak bisa tenang, sebelum Yurina melahirkan anak - anaknya. Kalau aku tahu begini menderitanya isteriku, berjuang dengan rasa sakit yang luar biasa, lebih baik dia tidak boleh hamil lagi. Iya, aku pastikan.... dia tidak boleh hamil lagi setelah ini." Ungkap Moranno sambil mondar - mandir disamping ranjang pasien, dimana Yurina masih berjuang menahan rasa sakitnya.
Margareth dan Harry saling berpandangan mendengar ucapan Moranno yang terdengar sungguh - sungguh dalam ucapannya.
"Kakak tidak boleh berkata sepertu itu, seperti pertama kalinya saja menemani kakak ipar bersalin." Pungkas Margareth.
"Ini memang baru pertama kalinya diriku menemaninya Margareth. Saat melahirkan Billy dan Willy, Yurina melahirkan seorang diri saja, karena saat itu aku sedang koma, kau ingat 'kan??" Ucap Moranno pada Margareth yang berdiri didekatnya.
"Iya kak..... aku baru ingat. Saat itu setelah melahirkan Billy dan Willy beberapa bulan kemudian, kakak ipar menjemputku karena kakak masih belum sadarkan diri pada saat itu.
"Suamikuuu....."Panggil Yurina. Suara rintihannya terdengar sangat lemah.
"Iya sayang....... aku disini...... katakan padaku apa yang kau inginkan." Ucap Moranno mendekati Yurina lalu menggenggam erat tangan Yurina, sementara tangannya yang lain merapikan anak - anak rambut Yurina yang sudah basah kuyup oleh keringat.
__ADS_1
Yurina menggelengkan kepalanya dengan lemah. " Aku hanya menginginkanmu suamiku."
"Apakah perutmu terasa sakit sekali sayang......? Berteriaklah......! Tidak apa - apa kalau itu bisa mengurangi rasa sakitmu sayang..... Ayo, berteriaklah.....!" Ungkap Moranno merasa iba melihat Yurina yang terlihat sangat menderita.
Yurina berusaha mengulas senyum dibibirnya mendengar ucapan suaminya. Ternyata suaminya itu terlihat lebih menderita dari pada dirinya yang akan melahirkan anak kembarnya lagi.
"Kenapa kau tersenyum sayang? Apa ada yang aneh padaku?" Tanya Moranno yang menangkap senyum Yurina yang bercampur ringisan.
Yurina kembali menggeleng lemah. Rasa sakit yang datang menyerang tiba - tiba membuatnya harus menahan napas, wajahnya terlihat pucat - pasi, bibirnya nampak bergetar, namun tidak sedikitpun keluhan terlontar dari mulutnya.
Berbeda dengan Margareth, Harry yang melihat hal itu ikut merasa lemas sekujur tubuhnya, wajahnya terlihat pucat - pasi tidak kalah dengan Yurina yang akan melahirkan. Margareth yang menyadari sikap Harry, menatap wajah suaminya itu dengan cemas.
"Honey..... kau sakit??" Tanya Margareth, ia merasakan jari - jemari tangan Harry begitu dingin digenggamannya.
"Sayang.... sepertinya diriku ingin pingsan, kita cari tempat istirahat saja ya.....?" Ucap Harry jujur. Margareth menatap cemas wajah suaminya.
"Pergilah..... aku akan tetap disini. Tolong pastikan dokter Rosalie untuk segera kemari." Sahut Moranno tanpa menoleh kearah Margareth dan Harry.
"Iya kakak......" Margareth segera menggandeng Harry keluar dari ruang bersalin. Semua keluarga yang sedang menantikan berita kelahiran keluarga baru mereka semakin terlihat tegang, saat melihat Margareth keluar menggandeng Harry yang berwajah pucat - pasi.
"Sayang...... Suamimu kenapa? Apakah dia sakit??" Nyonya Agatsa mendekati putrinya dan menantunya yang baru saja keluar dari pintu ruang bersalin.
"Iya mom.... aku ajak suamiku keruang sebelah dulu untuk istirahat." Ucap Margareth pada ibunya.
"Iya sayang..... kalian perlu bantuan??" Tanya nyonya Agatsa terlihat cemas.
__ADS_1
"Tidak usah mom, aku bisa menanganinya seorang diri." Sahut Margareth yang tidak ingin merepotkan dan membuat semua orang merasa cemas. Karena ia sangat tahu, saat ini keluarga besarnya sedang dilanda kecemasan menanti kakak iparnya yang sebentar lagi akan bersalin.
"Harry kenapa nyonya besar?" Tanya nyonya Naomi yang baru keluar dari toilet.
"Kata Margareth suaminya sakit. Aku memang melihat wajah Harry pucat - pasi saat keluar dari ruang bersalin Yurina nyonya...." Sahut nyonya Agatsa terlihat cemas.
"Sakit?? Sepertinya tadi pagi saat kami berangkat bersama kemari, Harry baik - baik saja...." Ungkap nyonya Naomi sambil mengerutkan keningnya.
"Menurutku..... Harry pasti merasa tegang melihat keadaan Yurina didalam nyonya. Cucuku itu, ia tidak pernah melihat wanita yang akan bersalin." Tebak nyonya Naomi.
"Mungkin anda benar nyonya Naomi. Aku harus menemani Yurina dan Moranno didalam. Aku khawatir, Moranno juga mengalami hal yang sama dengan Harry. Ini untuk pertama kalinya ia menemani Yurina bersalin nyonya." Nyonya Agatsa terburu - buru hendak pergi.
"Tunggu nyonya besar, saya ikut dengan anda....."Nyonya Naomi langsung melangkah menyusul nyonya Agatsa. Walau sudah beruban, nyonya Naomi masih terlihat enerjik.
Sementara itu didalam ruangan, Moranno semakin terlihat cemas. Tissue - tissue berhamburan dibawah ranjang pasien. Moranno sesekali mengusap keringatnya yang terus mengalir deras. Dirinya juga tidak lupa mengusap keringat didahi dan leher Yurina yang juga tidak henti - hentinya mengalir.
"Moranno......! Kenapa kau berantakan sekali....! Sampah dimana - mana.....!" Nyonya Agatsa yang baru tiba merasa semakin stres melihat situasi ruang bersalin yang kacau balau. Moranno tidak menggubrisnya ia hanya pokus pada Yurina yang ada dihadapannya.
Nyonya Naomi mengelus punggung nyonya Agatsa. "Tenanglah nyonya besar, harap dimaklumi, situasi ini bisa membuat sesorang berlaku tidak seperti dirinya yang biasa. Kita semua tahu, Moranno adalah orang yang selalu menjaga kebersihan, namun bila kita melihat ruangan ini begitu kacau, itu artinya Moranno sedang merasa cemas yang luar biasa. Kita sebagai orang tua lah yang harus mengerti." Ucap nyonya Naomi dengan bijak.
"Iya nyonya, anda benar..... maafkan saya.... saya hanya terkejut saja melihat situasi ini. Saya akan panggilkan suster untuk membersihkan ruangan ini." Nyonya Agatsa lalu meraih ponselnya, ia terlihat sedang menghubungi seseorang.
"Yurina..... kau pasti kuat sayang......" Nyonya Naomi mengelus perut Yurina yang bergerak - gerak.
"Cicit - cicit buyut, kalian yang pintar didalam sana ya..... mommy kalian disini sedang berjuang bersama kalian." Ucap nyonya Naomi sambil terus mengusap perut Yurina yang masih tetap akif bergerak.
__ADS_1
"Terima kasih nenek....." Yurina berusaha mengulas senyum ditengah kesakitan luar biasa yang sedang ia rasakan sekarang. Nyonya Naomi hanya mengangguk sambil tersenyum dan terus memberi dukungan.
"Nenek..... bagaimana kalau Yurina operasi saja, supaya dirinya tidak selama ini menunggu kelahiran bayi - bayi kami." Yurina yang mendengar ucapan Moranno langsung menggeleng - gelengkan kepalanya.