
Tok....
Tok...
Tok....
Yurina dan bibi Nur yang sedang asik berbicara serius sambil menyusui kedua bayinya itu saling berpandangan.
"Masuklah......" Seru Yurina.
"Selamat sore nyonya muda." Ucap bibi Salu sambil membungkuk hormat.
"Iya selamat sore bi Salu... Ada apa bi?" Tanya Yurina.
"Dibawah ada dokter Rosalie sedang menunggu diruang tamu nyonya ditemani bibi Nani." Sahut bibi Salu.
"Dokter Rosalie? Tidak biasanya dokter kerumah ini untuk bertamu?" Yurina mengerutkan keningnya.
"Iya nyonya muda. Beliau tidak sendirian, ada anak perempuan dan pengasuhnya yang datang bersamanya." Jelas bibi Salu.
"Baiklah, katakan kami akan segera turun bibi."
"Iya nyonya muda...." Bibi Salu membungkuk hormat lalu beranjak pergi.
"Bibi Nur, ayo kita turun, sekalian membawa bayi Billy dan bayi Willy jalan sore ditaman.
"Iya nyonya muda...." Sahut bibi Nur.
Keduanya lalu membawa bayi Billy dan bayi Willy dalam keretanya masing - masing.
Di ruang tamu lantai satu, nampak dokter Rosalie sedang berbincang dengan bibi Nani.
"Hai dedek Bil... dedek Wil udah tulun...." Seru anak perempuan kecil itu sambil menghambur kearah kereta dua bayi itu.
Mata gadis kecil itu begitu berbinar walau terlihat sembab.
Bayi Billy dan bayi Willy mengangkat kedua tangan gembul mereka dengan sangat kegirangan saat melihat siapa yang menghampiri mereka.
__ADS_1
"Rosa, hati - hati sayang...." Seru dokter Rosalie saat melihat Rosa dengan gemes menoel hidung kedua bayi kembar itu.
Yurina dan bibi Nur yang sedang memegang kereta kedua bayi kembar itu hanya bisa tersenyum melihat Rosa yang terlihat begitu menyukai bayi Billy dan bayi Willy.
"Kakak Rosaa..... Kita main ditaman yuk bersama adik - adik bayi." Ucap Yurina lembut pada si gadis kecil.
"Iyaaa.... Loca aauuu...." Sahutnya bersemangat sambil membantu memegang dan mendorong dua kereta itu menuju taman yang ada diluar.
"Kakak Rara, tolong bawa kereta bayi Billy ini ya bersama bibi Nur berjalan - jalan ditaman supaya Rosa bisa bermain bersama mereka, Saya akan berbincang - bincang dengan dokter Rosalie." Kata Yurina pada pengasuh Rosalia.
"Baik nyonya besar...." Sahut Rara, lalu ia mengambil alih kereta bayi Billy, lalu mulai mendorongnya dengan hati - hati, berjalan beriringaan dengan bibu Nur yang juga sedang mendorong kereta Bayi Willy.
Rosa sangat senang, sehingga mulut kecilnya tidak berhenti berceloteh sambil sesekali berlari memetik kuntum - kuntum bunga dan menaruhnya ditelinga kedua bayi kembar itu.
Suara tawa bayi Billy dan bayi Willy begitu riuh terdengar.
"Nyonya muda, maafkan saya datang kemari tanpa membuat janji terlebih dahulu. Rosa merengek dari siang tadi ingin bertemu dengan bayi Billy dan bayi Willy." Ucap dokter Rosalie sesaat setelah keduanya berjalan beriringan dibelakang bibi Nur, Rara dan Rosa yang asik bermain dengan kedua bayi kembar itu.
"Tidak apa - apa dokter, tidak perlu sekaku itu. Rosa terlihat sangat bahagia bermain dengan bayi Billy dan bayi Willy, demikkan juga sebaliknya dengan kedua bayi itu." Sahut Yurina dengan tersenyum.
"Iya dokter, saya bisa melihat dari matanya yang sembab seperti habis menangis begitu lama. Juga matanya begitu berbinar saat bertemu dengan bayi Billy dan bayi Willy." Ucap Yurina sambil tersenyum.
"Rosa sering melihat banyak bayi nyonya muda, karena sejak bayi dia sering bersama saya dirumah sakit ditemani pengasuhnya. Diantara sekian banyak bayi - bayi lucu dan menggemaskan yang ia temui, sepertinya hanya bayi Billy dan bayi Willy yang membuatnya jatuh hati. Ia terlihat sangat sayang pada kedua putra nyonya itu." Ucap dokter Rosalie pada Yurina.
"Iya nyonya, saya bisa melihatnya juga. Rosa sangat menyukai bayi Willy dan bayi Billy."
Kedua wanita itu duduk dikursi taman yang mereka lewati sambil terus mengawasi Rosa yang masih asik bermain sambil tertawa gembira bersama kedua bayi kembar dengan pandangan mereka dari jauh.
"Nyonya muda, apakah anda sungguh - sungguh dengan perkataan pagi tadi saat dirumah sakit?" Tanya dokter Rosalie mengalihkan pembicaraan.
"Iya dokter, besok pagi setelah menengok tuan Moranno, saya akan langsung berangkat. Asisten Rudi sudah menyiapkan keberangkatan saya." Sahut Yurina memandang kearah dokter Rosalie.
Dokter Rosalie tidak langsung merespon, ia terlihat seolah sedang memikirkan sesuatu sambil menatap lurus kedepan dimana bibi Asri sedang menyiram tanaman.
"Ada apa dokter, apakah ada yang ingin anda sampaikan?" Tanya Yurina menyelidik.
"Tidak ada nyonya muda. Apakah anda sudah yakin untuk bertemu nona Margareth dan membawanya kemari?" Tanya dokter Rosalie lagi dan mengarahkan pandangannya pada Yurina.
__ADS_1
"Entahlah dokter....." Yurina mengirup udara taman yang segar dan menghembuskannya kembali dengan perlahan.
"Tapi saya harus melakukan ini. Semua ini demi tuan Moranno. Saya dan kedua bayi kembar saya sangat membutuhkan Moranno hadir dalam keluarga kecil kami, demikian juga nyonya besar, beberapa hari terakhir ini ia tampak kelelahan mengurus perusahaan yang banyak mengalami masalah. Demikian juga ribuan pegawai perusahaan keluarga Agatsa terancam kehilangan pendapatan bila perusahaan benar - benar menjadi bangkrut." Ucapnya dengan tatapan menerawang.
"Kehadiran Moranno sangat dibutuhkan semua orang dokter. Iru sebabnya saya harus berupaya keras supaya tuan Moranno segera bangun dari komanya, juga cepat segera sembuh."
"Bagaimana kalau kehadiran nona Margareth tidak terlalu banyak membantu nyonya muda?" Tanyanya menatap Yurina.
Yurina kembali terdiam.
"Maafkan saya nyonya muda, bukan berarti saya mau melemahkan semangat nyonya muda. Saya hanya tidak ingin, saat semuanya terjadi tidak seperti yang nyonya pikirkan. Bila hal itu sampai terjadi. saya berharap, nyonya muda tetap tidak kehilangan harapan." Tuturnya sambil menggenggam tangan Yurina erat.
"Terima kaaih dokter Rosalie, terima kasih untuk semua dukungan anda pada saya selama ini." Ucap Yurina turut menggenggam erat tangan dokter Rosalie.
"Hmmmm...." Dokter Rosalie menganggukkan kepalanya. Keduanya saling melempar senyum.
"Nyonya muda, saya pamit dulu, hari sudah terlalu sore." Ucap dokter Rosalie.
"Baiklah dokter, terima kasih atas kunjungan anda." Sahut Yurina sambil tersenyum.
Kedua wanita itu lalu bangkit dari duduknya lalu menghampiri Rosalia yang masih asik bermain dengan bayi Billy dan bayi Willy.
"Kakak Rosa, pamitan dulu sama adik - adik bayi. Kita pulang dulu ya sayang, hari sudah sore." Kata dokter Rosalie pad gadis kecil itu.
"Gakkk !!.... Locaaa.... aciiiihh aauuu niniii....." Tolaknya dengan bibirnya yang sedikit mengerucut.
"Besok lagi ya sayang, nanti papah Rosa cariin Rosa gimana?" Ucap dokter Rosalie membujuk.
"Bialin aja.... papah Loca ugak udah betal.... gakk paa tendiliii....." Ucapnya lagi tak bergeming.
Semua wanita dewasa yang ada ditempat itu saling berpandangan.
♡♡♡Terima kasih buat semua pembaca JAGA HATIMU UNTUKKU. Karena kalian semualah, karyaku ini udah lulus kontrak.
Tetap sabar ya membacanya hingga tamat. Love U all ♡♡♡.
__ADS_1