JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB127 "Kondisinya saat ini sangat baik."


__ADS_3

"Berita terkini sore ini.... Nyonya Yurina Moranno Agatsa yang mewakili dari pemilik perusahaan Properti Agatsa Grup, perusahaan raksaasa yang membawahi dua puluh empat anak cabang perusahaan yang tersebar dibeberapa kota - kota besar dan kecil memberi pernyataan, bila para pegawainya yang berdemo telah mendapatkan tempat pekerjaan yang baru, dipersilahkan membuat surat pengunduran diri pada saat tuan Moranno telah kembali bekerja. Pernyataan berani nyonya muda dari keluarga Agatsa ini lebih terlihat seperti suatu tantangan bagi para pegawai yang melakukan aksi demonstran pada perusahaan tempat mereka berkerja. Akankah mereka menerima tantangan ini? Karena satu persatu dari mereka yang berteriak - teriak saat aksi demo dilakukan, hanya bisa meninggalkan tempat mereka melakukan aksi demo tersebut dengan diam - diam, setelah nyonya muda itu menyelesaikan pernyataannya dalam pidato singkatnya siang tadi. Sekian berita terkini sore ini..."


Nyonya Agatsa nampak terpaku ditempat ia berbaring. Entah apa yang dipikirkannya setelah melihat berita yang baru saja ia saksikan.


"Doktet Herman, tolong buka semua peralatan oksigen ini." Pintanya pada dokter Herman.


"Apakah nyonya sudah merasa lebih baik?" Tanya dokter Herman sambil mengawasi wajah nyonya Agatsa.


"Iya dokter, saya sudah merasa lebih baik dan ingin segera pulang."


"Baiklah nyonya besar.... Saya akan memeriksa keadaan anda lebih dulu....."Dokter Herman lalu memeriksa kondisi nyonya Agatsa menggunakan stetoskopnya.


Beberapa saat kemudian, dokter Herman melepaskan alat oksigen dari tubuh nyonya Agatsa.


"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, seperti suatu keajaiban, kondisi nyonya besar begitu cepat membaik, biasanya dibutuhkan berhari - hari untuk memulihkan keadaan nyonya besar bila jantung anda kambuh seperti hari ini nyonya...." Kata dokter Herman dengan wajah senang melihat nyonya Agatsa dengan kondisi yang sangat baik setelah menyaksikan siaran langsung siang itu.


Nyonya Agatsa hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya.


Ia bangkit dari tempat tidurnya, dan pergi keluar kamar duduk disofa tamu ruang kerja Moranno.


"Selamat siang nyonya besar......" Sapa Yurina saat masuk keruang tamu sambil membungkuk hormat.


"Nyonya besar kenapa anda duduk disini? Bukankah nyonya besar sedang sakit?" Ucap Yurina merasa heran sekaligus tampak khawatir sambil mendekati nyonya Agatsa.


"Kita pulang sekarang....."Ucap nyonya Agatsa datar.


Yurina masih kebingungan, ia menatap kearah dokter Herman seolah - olah meminta penjelasan.


"Nyonya besar boleh pulang kerumah nyonya muda, kondisinya saat ini sangat baik." Jelas dokter Herman dan sedikit senyuman tersungging disudut bibirnya.


"Tapi... bukankah tadi......"Ucapan Yurina terputus karena nyonya Agatsa menyela perkataannya.

__ADS_1


"Apakah kau tidak menyukai kalau aku sehat seperti ini?" Ucap nyonya Agatsa dengan tatapan mengintimidasi.


"Maafkan saya nyonya besar..... Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya bahkan sangat bahagia bila nyonya sehat, itu adalah harapan saya." Ucap Yurina sedikit menunduk karena tidak berani menatap mertuanya itu.


"Iya nyonya muda, keajaiban bisa saja terjadi bila ada kebahagian dihati, karena pikiran - pikiran kitalah salah satu penentu kesehatan tubuh kita nyonya muda." Ucap dokter Herman berteka - teki menatap nyonya Agatsa dan beralih pada Yurina.


Yurina yang tidak memahami maksud ucapan dokter Herman hanya mengangguk - anggukan kepalanya pura - pura mengerti.


"Tunggu apa lagi..... Kita pulang sekarang....." Ucap nyonya Agatsa seraya berdiri dari kursi sofa.


"Dokter Herman, terima kasih banyak...... " Ucap Yurina berpamitan sambil menganggukan sedikit kepalanya pada dokter Herman.


"Iya nyonya muda, sama - sama." Sahut dokter Herman membungkuk hormat.


"Asisten Rudi, bereskan kekacauan hari ini akibat aksi para pendemo itu. Besok pagi, dimeja harus sudah ada daftar nama yang lengkap para pendemo itu beserta tindakan yang telah nereka lakukan. Dan jangan lupa, minta surat pengunduran diri mereka seperti yang dijagakan nyonya muda." Perintah nyonya Agatsa pada asisten Rudi yang berdiri didekat pintu masuk.


"Baik nyonya besar.... akan saya laksanakan...."Sahut asisten Rudi dengan sikap tegaknya.


***


"Selamat sore nyonya besar dan nyonya muda....." Sapa bibi Nani sambil membungkuk hormat menyambut kedatangan kedua majikannya itu yang baru turun dari mobil.


"Siapa tamu yang datang bibi?" Tanya nyonya Agatsa yang tidak mengenali plat nomor mobil yang terparkir dihalaman mansionnya itu.


"Tuan dan nyonya Morgan nyonya besar. Nyonya Naomi juga datang nyonya besar." Jelas bibi Nani.


Nyonya Agatsa lalu segera masuk diikuti Yurina dari belakangnya.


"Selamat sore nyonya besar....." Sapa tuan dan nyonya Morgan juga nyonya Naomi sambil berdiri membungkuk hormat.


"Selamat sore juga.....Silahkan duduk...." Kata nyonya Agatsa turut membungkuk hormat pada ketiga tamunya dan mempersilahkan mereka duduk.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan anda nyonya Naomi, sudah bertahun - tahun lamanya kita tidak bertemu semenjak anda menetap di Singapura. Kapan anda tiba di Indonesia." Ucap nyonya Agatsa menyapa wanita yang sudah lanjut usia tersebut.


"Iya, anda benar nyonya besar. Saya baru tiba kemarin pagi, ya maklumlah.... Saya merindukan cucu laki - laki saya, Harry. Sejak kecil, setelah kedua orang tuanya tiada, dia tinggal bersana saya di Singapura. Paman dan bibinya menyuruh ia pulang sementara ke Indinesia untuk mengajari bisnis pada putri mereka Gandis."


"Ahhh..... Ternyata, anak nakal itu masuk penjara akibat kelakuan manjanya yang membahayakan orang lain." Keluhnya sambil mengambil napas dalam.


"Selain itu saya pulang karena ada misi lainnya yang sangat penting. Yah.... Saya belum mau mati sebelum misi saya itu berhasil."


Semua yang hadir hanya terdiam mendengar penuturan nyonya Naomi, termasuk nyonya Agatsa.


"Nyonya besar....." Panggil nyonya Naomi.


"Iya nyonya Naomi....." Sahut nyonya Agatsa menatap kearah nyonya Naomi dengan penuh perhatian.


"Inikah menantu anda itu? Isteri dari tuan Moranno?" Tanya nyonya Naomi sambil menantap kearah Yurina dengan lekat.


"Iya nyonya Naomi, maafkan saya..... karena sibuk mengobrol saya lupa memperkenalkan menantu saya pada anda nyonya." Ucap nyonya Agatsa sambil menyunggingkan senyumnya.


Hati Yurina langsung menghangat saat mendengar ibu mertuanya itu menyebut dirinya sebagai menantu pada nyonya Naomi.


"Ini menantu saya, isteri dari putraku Moranno, namanya Yurina." Kata Nyonya Agatsa memperkenalkan Yurina sambil menyentuh punggung menantunya yang duduk disampingnya dengan tangan kanannya.


"Dia adalah nyonya muda keluarga Agatsa dirumah ini." Kata nyonya Agatsa melanjutkan. Wajah Yurina seketika merona. Hatinya yang menghangat serasa ingin menumpahkan bulir - bulir hangat disudut matanya.


"Menantu anda sangat cantik..... Bolehkah saya memeluknya sebagai tanda perkenalan...." Pinta nyonya Naomi pada nyonya Agatsa dengan tatapan penuh harap.


"Iya, tentu saja boleh nyonya Naomi." Nyonya Agatsa memberi isyarat dengan menyentuh tangan Yurina sambil menganggukkan kepalanya pada Yurina.


Yurina lalu berdiri, dan melangkah mendekati nyonya Naomi yang sudah berdiri dari duduknya.


Nyonya Naomi segera memeluk Yurina yang sudah berdiri tepat didepannya. Ia memeluk erat tubuh Yurina, air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa terbendung.

__ADS_1


Yurina yang merasakan pelukan hangat dari nyonya Naomi balas memeluk dengan erat. Hatinya merasa begitu nyaman dalam pelukan nenek lanjut usia itu.


__ADS_2