
Ibu Miar masih menagis terisak - isak saat Margareth tiba diruang rawatnya. Selang oksigen sudah terpasang dihidungnya. Dokter Randiasa sudah ada disana, dan terlihat baru juga tiba.
Margareth mendekati ibu Miar pasien yang sudah hampir 2 bulan dirawat dirumah sakit itu.
"Ibu kenapa? Apa ada yang sakit?" Tanya Margareth didekat telinganya.
"Kenapa.... Gandar tidak pernah datang - datang lagi dokter, dia putraku satu - satunya, aku merindukannya." Tangis ibu Miar masih terisak.
Margareth menatap kearah dokter Randiasa sejenak yang berdiri berseberangan dengannya, lalu beralih kembali menatap ibu Miar.
"Ibu harus sabar.... Gandar putra ibu, dia pasti sedang berkerja keras untuk membiayai biaya perobatan ibu, karena dia sayang pada ibu. Sekarang ibu jangan menangis lagi ya.... Yang terpenting, ibu Miar harus semangat untuk sembuh. Bila sudah sembuh ibu bisa kembali pulang kekampung dan berkumpul dengan keluarga ibu disana." Bujuk Margareth dengan suara lembutnya. Tapi ibu Miar masih saja menangis, ia tidak bisa menyembunyikan rasa rindu dan sedihnya mengingat putranya yang tidak pernah menjenguknya setelah mengantarkannya kerumah sakit itu.
Ibu Miar terlihat semakin sulit bernapas, mulutnya mulai mangap - mangap karena terlalu lama menangis. Margareth terlihat khawatir.
"Ibu....... Ibu Miar, lihat saya......" Panggil dokter Randiasa segera membantu. Wajahnya mendekat ke wajah pasien. Ibu Miar masih terlihat mangap - mangap.
Ibu Miar...... Ayo ambil napasnya, lalu hembuskan. Ambil lagi pelan... dan hembuskan lagi dengan pelan..... ayo lakukan lagi ibu Miar, ibu pasti bisa......" Ucap dokter Randiasa memberi semangat.
Ibu Miar mengikuti apa yang dikatakan oleh dokter Randiasa padanya. Ia mengambil napas pelan, dan menghembuskannya kembali. Itu dilakukannya berulang - ulang hingga napasnya bisa kembali normal, dan dirinya sudah tidak menangis lagi.
Setelah beberapa menit berlalu, ibu Miar sudah bisa bernapas dengan baik dan teratur.
"Bagaimana ibu Miar, apa anda sudah merasa lebih baik?" Tanya dokter Randiasa dengan tersenyum hangat menatap ibu Miar yang tengah melihat kearahnya.
"Iya dokter.......napas saya sudah terasa lebih lega, tidak seperti tadi, begitu berat rasanya." Ucapnya membalas senyum dokter Randiasa.
"Syukurlah ibu Miar..... Jangan bersedih lagi ya, harus gembira, dan semangat untuk sembuh. Kalau menangis, nanti napasnya sesak lagi ibu....." Ucap dokter Randiasa menasehati.
"Iya dokter..... terima kasih, saya hanya merindukan anak saya Gandar...... karena saya begitu lama tidak melihatnya." Ucap ibu Miar yang masih terlihat sedih.
"Iya kami mengerti perasaan ibu Miar..... putra ibu juga pasti merindukan ibu, mungkin sekarang belum ada kesempatan kemari. Yakinlah, putra ibu pasti sangat menyayangi ibu sebagai orang tuanya." Ucap dokter Randiasa menghibur.
__ADS_1
"Sekarang ibu sarapan dulu ya, supaya memiliki cukup tenaga untuk terapi nanti." Ibu Miar menganggukkan kepalanya. Dokter Randiasa membuka selang oksigen dari hidung ibu Miar yang sudah bisa bernapas normal.
"Suster..... tolong bawakan sarapan ibu Miar mendekat." Perintah dokter Randiasa.
"Ibu ingin saya suapin atau makan sendiri?" Tanya dokter Randiasa dengan senyuman.
"Saya makan sendiri saja dokter....." Sahut ibu Miar yang sedang membenarkan posisi duduknya.
"Baiklah..... kalau begitu harus dihabiskan ya ibu sarapannya......" Dokter Randiasa memberikan piring yang dipegangmya pada ibu Miar.
"Terima kasih dokter....... dokter mirip dengan anak saya Gandar, dia selalu mengatakan untuk menghabiskan makanan yang dia siapkan untuk saya." Ucap ibu Miar kembali sedih mengingat putranya itu.
"Ibu Miar boleh kok menganggap saya sebagai putra ibu, jadi jangan bersedih lagi ya bu....."Ucap dokter Randiasa sambil mengusap punggung pasiennya itu.
"Dokter, anda sangat baik, terima kasih telah mengijinkan ibu tua dan miskin ini menganngap anda sebagai putra saya sendiri. " Ibu Miar menatap wajah dokter Randiasa dengan haru.
"Jangan berkata seperti itu ibu Miar.....ibu adalah orang yang baik....semua orang pasti menyayangi ibu." Ucap Dokter Randiasa sambil tetap mengusap punggung ibu Miar dengan lembut.
Margareth memperhatikan semua yang telah dilakukan dokter Randiasa itu, ia merasa lega bahwa rekan dokternya itu sudah bisa menyesuaikan diri dan mulai akrab dengan para pasien yang akan ia tinggalkan nanti.
Margareth duduk disudut kantin rumah sakit seorang diri untuk makan siang. Kantin tidak terlalu ramai, karena istirahat jam makan siang sudah akan usai. Hanya tersisa beberapa tenaga medis saja yang masih ada disana karena kesibukan mereka mengurus pasien sehingga baru sempat meluangkan waktu untuk makan siang.
Margareth terlihat tidak bersemangat apa lagi berselera untuk makan. Ia terus mengaduk - aduk makanannya hingga terlihat menjijikan karena sudah bercampur padu jadi satu, antara nasi,.lauk dan pauknya, sambil memperhatikan ponselnya.
Ada.banyak panggilan masuk tidak terjawab di ponselnya selama ia bertugas melakukan pekerjaannya sebagai tenaga kesehatan. Tapi tidak satupun ada nama Harry disana, orang yang selalu ia nanti - nantikan panggilan teleponnya.
Pesan - pesan yang masuk juga berderet rapi. Namun tidak ada satupun dari Harry. Margareth mendesah pelan, dibukanya satu persatu pesan yang masuk diponselnya itu lalu membalasnya.
Pria itu....dimana dia? Kenapa tidak menelpon balik diriku? Dia pasti melihat panggilan tidak terjawab dariku. Juga pesan - pesanku yang telah dua hari ini kukirim berturut - turut, kenapa tidak satupun dibalasnya. Apa yang sedang dilakukannya sampai - sampai tidak sempat menghubungiku juga sekedar membalas pesanku. Margareth terus bermonolog didalam hatinya pada dirinya sendiri.
"Apa ini...... apa kau sedang ingin memberikan kucing makan?" Ucap seorang pria membawa nampan berisi makan siangnya dan duduk tepat dihadapan Margareth.
__ADS_1
Margareth mendongakkan kepalanya. Saat dilihatnya, siapa yang duduk dihadapannya ia langsung memutar bola matanya dengan malas.
"Untuk apa anda kemari dokter?"Ucap Margareth yang merasa terganggu dengan kehadiran dokter Randiasa yang duduk dihadapannya.
"Untuk makan siang....." Sahutnya sambil menyendok makanan dipiringnya kedalam mulutnya dan mengunyahnya dengan berirama.
"Masih banyak tempat lain yang kosong, kenapa harus dimeja ini dan dihadapanku? Apa anda tidak jera dengan pukulan tapak cap lima jariku kemarin dokter RANDIASA....." Ucap Margareth sinis.
"Sebenarnya aku juga sedang tidak berselera makan, beberapa hari ini aku berasa mual - mual, tapi saat melihatmu, aku berselera makan. Jadi, aku datang dan duduk disini, dihadapan anda dokter.." Ucap dokter Randiasa sambil terus menyuap makanannya. Margareth mengernyitkan dahinya mendengar ucapan rekan dokternya itu.
"Anda itu seorang laki - laki dokter, jangan berlagak seperti perempuan yang sedang mengandung saja. Saya tahu, anda hanya beralasan saja kan untuk terus mengganggu saya, sama seperti kemarin." Tuduh dokter Margareth.
"Saya serius dokter Margareth, saya tidak berpura - pura, memang saya sering mual - mual, sepertinya asam lambung saya sedang kambuh. Tapi saya merasa aneh juga, saat melihat wajah dokter saya jadi punya selera makan. Lihat..... piring saya sudah bersih 'kan?" Ucap dokter Randiasa sambil memperlihatkan piringnya yang sudah kosong.
Margareth melihat kepiring yang ada.dihadapan dokter Randiasa, dan memang benar piring itu sudah kosong, bahlan bersih dari makanan, tidak ada yang tersisa disana, selain tulang belulang daging yang mengering.
"Kalau dilihat - lihat dari cara makannya dokter, anda sepertinya sedang kelaparan. Itu buktinya, tulang - tulangnya sudah kering, sama sekali tidak bersisa daging." Margareth sedikit tersenyum. Ia mengingat pria dihadapannya itu memang selalu melakukan hal itu bila makan bersamanya dimasa lalu, bersih sampai ketulang - tulangnya.
♡****♡♡
Terima kasih buat para readers setia novel JAGA HATIMU UNTUKKU yang sebentar lagi akan TAMAT. Yukz, mampir di novel 'HANARIA Wanita Sejuta Rasaku'. Mengisahkan tentang seorang wanita tangguh, dan pekerja keras ulet sehingga menjadi kesayangan pemilik perusahaan yang memperkerjakannya, jangan ditanya untuk pria - pria muda. Cucu kembar dari keluarga Agatsa pun ikut mengharapkan cintanya.
#HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Karya :
#Nama pena : Dewi Payang
#FB Indah Sosilawati
#IG Indah Sosilawati
__ADS_1
♡♡♡