
Saat ketiga pria kekar berkulit gelap tersebut terlihat kewalahan menghadapi Harry, kedua pria yang berjaga didepan pintu itu segera membantu ketiga temannya.
Moranno lalu mendekati pintu masuk yang sudah tidak dijaga. Sebelum ia sampai pada pintu masuk, tampak Gandis telah keluar dengan beberapa orang bayarannya. Moranno merapatkan tubuhnya kearah dinding.
"Ayo cepat! bawa wanita hamil itu masuk kemobilku, dan cepat tinggalkan tempat ini!" Seru Gandis pada anak buahnya.
"Baik Nona..." Dua pria bertubuh kekar berjalan mengikuti Gandis dari belakang sambil menyeret Yurina yang tangannya telah terikat dibelakang punggungnya. Wajah Yurina memucat karena tubuhnya yang tambah melemah.
Dibelakang mereka tampak seorang pria yang wajahnya babak belur dengan diikat kedua tangannya kebelakang juga dibawa keluar oleh seorang pria dari anak buah Gandis.
Sebelum mereka sampai kemobil, Moranno dengan sigap meringkus Gandis yang berjalan disisi para pria yang menyeret Yurina.
"Hah... tuan Moranno, apa yang anda lakukan pada saya!" Ketus Gandis.
"Tentu saja menangkapmu perempuan jahat!" Sahut Moranno tak kalah ketus.
Bersamaan dengan itu terdengar suara sirene mobil polisi. Gandis dan orang-orangnya terlihat panik. Para pria yang menyerang Harry berusaha melarikan diri, namun para polisi dan orang-orang Moranno yang telah mengepung area itu dengan mudah meringkus mereka.
"Tuan Moranno tolong lepaskan saya tuan." Kata Gandis memohon. Namun Moranno semakin kuat mengunci tangan Gandis tanpa perduli pada perkataannya.
"Saya bisa jelaskan tuan, tolong lepaskan saya." Kata Gandis lagi dengan wajahnya yang terlihat memelas.
"Iya kau memang harus menjelaskannya nona Gandis, tapi bukan disini, melainkan dikantor polisi." Sahut Moranno geram dan menyerahkan Gandis ke salah satu polisi.
Polisi lalu memborgol tangan Gandis dan orang-orangnya dan dimasukkan kedalam mobil polisi.
"Anda baik-baik saja tuan Moranno." Tanya Asisten Rudi.
"Iya, aku baik-baik saja. Dimana mobilku? Aku akan segera membawa isteriku kerumah sakit." Kata Moranno pada asisten Rudi.
"Masih di area saat kita datang tuan." Kata asisten Rudi.
Moranno yang teringat pada Yurina isterinya, lalu bergegas. Namun, ia melihat Harry telah menggendong Yurina dengan kedua tangannya.
"Apa yang kau lakukan tuan Harry!" Kata Moranno setengah berteriak.
Harry yang terkejut mendengar perkataan Moranno yang terlihat marah hampir saja menjatuhkan Yurina dari gendongannya. Dengan sekuat tenaga ia berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya sambil tetap mengendong Yurina.
__ADS_1
"Apa yang kulakukan? Tidak ada, aku hanya menggendong isterimu tuan." Kata Harry berusaha membela dirinya, saat ia mengerti apa yang ada didalam pikirian Moranno.
"Berikan dia padaku, jangan sentuh dia lagi!" Kata Moranno masih dengan nada ketus, sambil melangkah mendekati Harry yang sedang menggendong Yurina.
"Baiklah. Ini... ambillah isterimu yang berat ini. Tanganku juga sudah keram menggendongnya." Kata Harry menyerahkan tubuh Yurina yang ada dalam gendongannya pada Moranno.
Begitu tubuh Yurina berpindah kedalam gendongan Moranno, hampir saja Moranno kehilangan keseimbangan.
"Tuan Harry tolong jangan lepaskan, nanti isteriku terjatuh!" Teriak Moranno spontan.
"Bukankah tuan Moranno melarang saya untuk tidak menyentuh nyonya muda lagi." Sela Harry.
"Jangan banyak bicara, lakukan saja." Kata Moranno sekenanya saja.
"Ayo kita bawa kemobil yang terdekat saja." Kata Moranno pada Harry. Keduannya lalu membawa Yurina masuk kemobil Gandis yang tidak terkunci.
"Apa yang kau lakukan disini tuan Harry." Kata Moranno saat mereka sudah ada didalam mobil.
"Bukankah tuan yang memintaku untuk membantu mengangakat nyonya muda kedalam mobil." Jawab Harry yang merasa bingung akan sikap dan perkataan Moranno padanya.
"Iya, itu benar. Tapi tuan Harry jangan duduk disini bersamaku dan isteriku, tapi didepan sana, dibelakang kemudi itu." Tunjuk Moranno menggunakan isyarat bibirnya yang seďikit dimonyongkan.
"Iya, saya ingat, tapi ini isteri saya harus segera dibawa ke rumah sakit sekarang, kondisinya sangat tidak baik." Kata Moranno sambil memperhatikan wajah Yurina yang lemas dan semakin memucat.
"Baiklah tuan Moranno yang terhormat." Kata Harry yang terlihat kesal..
Harry lalu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, karena ia juga telah melihat kondisi Yurina.
"Kemana kita membawanya tuan Moranno?" Tanya Harry sambil pokus menyetir.
"Agatsa Hospital." Sahut Moranno singkat.
"Bertahanlah sayang, bertahanlah..." Kata Moranno disepanjang jalan menuju rumah sakit pada isterinya yang terbaring lemah dipangkuannya.
Yurina tidak bisa mengeluarkan kata-katanya, matanya hanya bisa memandang wajah suaminya dengan tatapan sayu. Kekuatannya terasa hilang.
"Bisakah lebih cepat lagi tuan Harry??" Kata Moranno yang terlihat gelisah.
__ADS_1
"Ini sudah kecepatan tinggi tuan Moranno, tenanglah. Kita akan segera sampai ke rumah sakit." Sahut Harry masih pokus pada kemudinya.
Moranno meraih ponselnya untuk menelpon seseorang.
"Dokter Rosalie, ini aku. Tolong persiapkan ruang perawatan untuk isteriku, kondisinya sudah sangat lemah." Kata Moranno ditelepon saat tersambung dengan seseorang diseberang sana.
"Baik tuan Moranno, segera kami persiapkan." Sahut dokter Rosalie diseberang sambungan telepon.
"Terima kasih." Moranno lalu menutup teleponnya.
"Bertahan sayang. Kita sebentar lagi tiba dirumah sakit." Kata Moranno lagi sambil mencium kening isterinya yang terasa hangat.
"Kau demam sayang?" Kata Moranno merasakan tubuh Yurina yang menghangat.
Yurina masih tak bisa berkata-kata, hanya matanya saja yang bergerak-gerak memandang Moranno yang menatapnya.
Moranno mengelus perut Yurina dengan lembut. Tangannya merasakan gerakan-gerakan dari dalam perut Yurina yang melemah.
"Baby-baby daddy bertahanlah sayang, kita akan segera tiba dirumah sakit." Kata Moranno berulang-ulang sambil tetap mengelus perut Yurina isterinya itu.
Harry yang sedang berpokus pada kemudinya sempat mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Moranno yang mengatakan pada baby-baby nya, karena ia tidak mengetahui bahwa isteri Moranno sedang mengandung bayi kembar.
Moranno begitu pedih, saat melihat keadaan Yurina yang mengalami beberapa luka lebam pada wajahnya dan juga beberapa goresan pada kulit kaki dan tangannya.
"Maafkan aku sayang yang tidak bisa menjagamu dengan baik." Lirih Moranno. Matanya berkaca-kaca. Ia lalu mengangkat sedikit tubuh Yurina yang terbaring di pangkuannya untuk memeluknya dengan sangat erat. Bola matanya yang memerah menggambarkan kesedihannya yang mendalam.
"Sebentar lagi kita sampai tuan Moranno." Kata Harry pada Moranno yang tengah larut dalam perasaanya.
Moranno mendongakkan wajahnya dan memperhatian situasi didepan kaca kemudi. Terlihat, mobil yang mereka kendarai telah memasuki gerbang Agatsa Hospital, rumah sakit milik keluarga Agatsa.
Harrry memarkirkan kendaraannya tepat didepan IGD. Para perawat sudah bersiap dengan kereta pasien, juga dokter Rosalie ada bersama mereka.
Moranno dan Harry segera memindahkan Yurina dari dalam mobil ke atas kereta pasien.
Dengan sigap, para perawat mendorong kereta pasien yang membawa Yurina dengan setengah berlari ke ruang tindakan yang telah dipersiapkan.
"Tuan Moranno, mohon tunggu diluar. Nyonya muda akan segera kami tangani." Kata dokter Rosalie, lalu ia segera masuk menyusul para perawat yang telah lebih dulu membawa Yurina.
__ADS_1
"Tolong, lakukan yang terbaik untuk isteriku." Ucsp Moranno dari depan pintu ruangan.
"Tentu saja." Sahut dokter Rosalie sambil menutup ruang tindakan dengan rapat.