
"Isteriku dimana bi Nani?" Tanya Moranno saat kepala pelayannya itu membukakan pintu untuknya.
"Nyonya muda sedang bersama nyonya besar di tempat kebugaran tuan." Jawab bibi Nani dengan memberi hormat seperti biasa dan berdiri di samping pintu.
"Di tempat kebugaran? Apa yang mereka lakukan disana bi?" Tanya Moranno dengan mengerutkan keningnya.
"Entahlah tuan, saya juga tidak tahu." Jawab bi Nani lagi masih tetap menunduk hormat.
"Ini, bawalah kekamar ku bi." Kata Moranno sambil menyerahkan tas kerjanya pada bibi Nani. Dengan tergesa-gesa, Moranno menuju tempat kebugaran yang dimaksud.
"Tuan..... Selamat sore...." Sapa beberapa pelayan yang sedang berpapasan dengan Moranno sambil memberi hormat mereka pada sang majikan.
"Iya, sore...." Sahut Moranno masih dengan langkah cepatnya.
Suasana nampak lengang, saat Moranno tiba diarea kebugaran. Beberapa pelayan terlihat sedang sibuk membersihkan kolam renang yang berada didepan bangunan tempat kebugaran.
"Nyonya muda ada didalam?" Tanya Moranno pada seorang pelayan yang sedang berjaga didepan pintu.
"Iya tuan." Jawab pelayan itu sambil memberi hormat.
Moranno kembali bergegas. Ia mempercepat langkahnya. Saat melewati tempat gym, disana juga nampak lengang, tidak ada siapapun disana.
Moranno kembali bergegas dan mempercepat langkahnya. Dari kejauhan tampak lampu ruang senam terlihat terang benderang. Samar-samar terdengar suara seseorang, namun nampak asing ditelinga Moranno.
Dengan mempercepat langkahnya, Moranno semakin jelas mendengar suara asing seorang wanita seolah-olah sedang memandu suatu kegiatan.
Ruang senam yang menggunakan kaca transparan sebagai dinding memperlihatkan tiga wanita sedang sibuk melakukan tugasnya masing-masing sesuai perannya.
Moranno menghentikan langkahnya didepan ruangan itu sambil memperhatikan ketiga wanita yang ada didalam ruangan. Dua wanita diantaranya memang sangat dikenalnya, namun satu diantaranya walau nampak asing tetapi ia merasa pernah bertemu.
Moranno mengurungkan niatnya untuk masuk. Ia membiarkan ketiga wanita itu menyelesaikan kegiatannya didalam. Ia lalu menuju kursi yang ada di dekat pot bunga, lalu mendudukan dirinya disana sambil tetap memperhatikan semua kegiatan yang sedang berlangsung didalam.
Moranno sungguh tidak mengerti mengapa dua wanita yang ia sayangi bisa berada didalam ruang senam bersama.
Ia sangat memahami bagaimana sikap ibunya pada isterinya. Namun apa yang dilihanya tidak seperti yang ia ketahui, itu sebabnya Moranno hanya memperhatikannya dari luar ruangan untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.
"Nyonya muda, kegiatan kita cukup sampai disini dulu hari ini. Bagaimana perasaan anda nyonya setelah melakukan senam ini?" Tanya sang istruktur senam.
"Walau terasa lelah, rasanya tubuh saya lebih terasa bugar. Juga senam kehamilan ini membantu saya mengatur pernapasan." Ujar Yurina mengatakan apa yang ia rasakan sambil duduk meluruskan kakinya.
"Syukurlah kalau demikian nyonya. Sampai jumpa minggu depan." Ucapnya pada Yurina.
Saya permisi dulu nyonya muda dan nyonya besar." Ucap sang instruktur berpamitan sambil memberi hormat kepada kedua wanita yang ada dihadapannya.
"Baiklah. Terima kasih sudah bersedia datang kemari nona Maura. Anda akan diantar pak Karso supir kami." Ucap nyonya Agatsa pada sang instruktur senam.
Sementara itu Yurina berusaha berdiri dari duduknya, ia menopang tubuhnya yang berat dengan kedua telapak tangannya menopang dilantai.
"Sayang, mari kubantu...." Kata Moranno yang sudah beridiri disisi Yurina, dan siap membantu isterinya itu untuk berdiri.
__ADS_1
"Kau sudah pulang suamiku? Kapan kau tiba?" Tanya Yurina sambil bertumpu pada tubuh Moranno.
"Sejak tadi, aku melihatmu dari luar." Jawabnya sambil menahan berat badan Yurina.
"Moranno, ini nona Maura, instruktur senam khusus ibu hamil. Nona Maura adalah salah satu asisten dokter Rosalie. Mommy sengaja mendatangkannya kerumah untuk isterimu. Jadi kalian tidak perlu lagi untuk mengikuti kelas ibu hamil diluar. Lagi pula ia sudah tahu banyak tentang kehamilan isterimu dari dokter Rosalie." Kata nyonya Agatsa memperkenalkan seorang wanita muda seusia Yurina yang berdiri didekatnya.
Moranno lalu mengulurkan tangannya dan disambut oleh wanita muda itu dengan bormat.
"Terima kasih nona Maura sudah datang untuk membantu isteri saya melakukan senam wanita hamil. Pantas saja saya seolah pernah melihat anda. Biasanya yang membantu isteri saya adalah nona Yessi." Kata Moranno ramah.
" Sama-sama tuan. Iya terkadang saya dan nona Yessi saling berganti tugas, karena ada banyak ibu hamil yang mengikuti kelas - kalas ibu hamil pada dokter Rosalie. Saya rasa, sampai hari ini nyonya muda sudah semakin bisa mempersiapkan proses persalinan nanti. Jadi saya menambahkan senam supaya nyonya merasa tubuhnya lebih bugar tuan. Senam ini juga akan membuat ibu hamil juga bisa menikmati istirahatnya saat tidur dimalam hari." Jelas Maura pada Moranno.
"Terima kasih banyak nona Maura." Ucap Moranno pada Maura.
"Sama-sama tuan. Saya mohon diri dulu, karena masih ada jadwal kelas ibu hamil yang harus saya kunjungi." Pamitnya pada Moranno, Yurina dan nyonya Agatsa sambil memberi hormat.
"Saya akan mengantarkan anda kedepan nona Maura." Kata nyonya Agatsa pada Maura.
"Baik nyonya besar, terima kasih." Ucap Maura dengan senyum hangatnya.
Nyonya Agatsa dan Maura segera keluar dari ruangan senam itu meninggalkan Moranno dan Yurina yang masih memandangi mereka hingga terlindung beberapa tumbuh-tumbuhan bunga.
"Sayang, ayo kita kekamar untuk segera mandi." Ucap Moranno sambil membimbing Yurina beranjak keluar dari ruang senam.
Langkah Yurina membuat tubuhnya sedikit meliuk-liuk sepanjang perjalanan. Moranno yang berada disisi Yurina tersenyum melihat isterinya itu.
"Tidak ada." Kata Moranno menyembunyikan apa yang menyebabkan ia tersenyum, sambil keduanya berjalan terus dengan bergandengan tangan.
"Apa karena wajahku yang terlihat jelek karena noda-noda luka lebam ini yang belum memudar?" Kata Yurina sambil menyentuh wajahnya dengan satu tangannya lagi. Keduanya sudah berada didalam lift menuju lantai dua dimana kamar mereka berada.
"Bukan sayang. Kau tetap isteriku yang cantik. Walau nodanya belum hilang aku masih tetap suka menciummu kan?" Kata Moranno masih tersenyum sambil mencium pipi Yurina dengan cepat. Keduanya melangkah keluar saat lift sudah tiba dilantai dua.
Yurina tersenyum senang mendapat perlakuan Moranno yang manis padanya.
"Lalu apa? Apa karena kau melihat nona Maura yang cantik itu?" Ujar Yurina menebak sembarangan.
"Kok sampai ke nona Maura sih sayang..." Ucap Moranno heran sambil memandang isterinya dengan wajah berubah serius.
Yurina tidak memperhatikan perubahan wajah serius Moranno, ia masih terus berjalan meliuk-liuk karena berat badannya sambil terus menggandeng tangan Moranno yang masih berjalan disisinya.
"Iya, aku menebak saja." Ucapnya enteng sambil terus berjalan tanpa memandang kearah Moranno.
Moranno sudah tidak berbicara lagi. Ia hanya berdiam diri sambil tetap terus menggandeng tangan Yurina dan memandang lurus kedepan.
Yurina memandang wajah suaminya yang memegang handle pintu lalu mendorongnya perlahan hingga terbuka lebar.
"Kau kenapa suamiku?" Tanya Yurina yang baru menyadari wajah suaminya yang tidak enak dipandang.
"Tidak apa-apa." Sahut Moranno sambil membawa Yurina masuk lalu menutup kembali pintu dengan rapat.
__ADS_1
"Tadi tersenyum ditanya kenapa, dijawab tidak apa-apa. Sekarang wajah ditekuk seperti ini ditanya kenapa, juga dijawab tidak apa-apa. Kau kenapa suami tampanku? Hmmm?" Ucap Yurina memandang Moranno dengan penuh tanya.
"Tidak kenapa-kenapa. Aku mandi dulu, tubuhku berasa lengket." Ujar Moranno hendak segera berlalu kekamar mandi.
Yurina menggenggam erat tangan Moranno yang mau melepaskan gandengan tangan mereka. Dengan perut besarnya Yurina memeluk erat Moranno. Yurina merasakan perubahan sikap suaminya, dan itu sangat mengganggu pikirannya.
Moranno terkesiap, ia lalu membalas pelukan Yurina dengan lembut.
"Sayang, kau kenapa?" Moranno balik bertanya.
"Apa kau lupa kalau aku menyukai bau tubuhmu yang belum mandi ini suamiku." Sahut Yurina sambil menempelkan wajahnya didada Moranno.
Moranno tersenyum. Ia mencium pucuk rambur Yurina yang berbau keringat karena senam ibu hamil yang baru saja ia lakukan. Dibiarkannya Yurina melakukan hobby barunya itu.
Setelah beberapa saat lamanya Yurina melonggarkan pelukannya dan mendongakkan sedikit wajahnya keatas, memandang wajah Moranno yang bertubuh lebih tinggi darinya.
"Tadi kau kenapa suamiku? Apakah ada perkataanku yang membuatmu tidak nyaman. Kau berdiam diri dan wajahmu berubah. Aku tak biasa melihatmu seperti itu suamiku. Dan aku tak mau terbiasa melihatmu seperti tadi. Aku takut bila kau marah padaku. Dan aku tak akan sanggup menerimanya suamiku." Tatapan Yurina terlihat sedih.
Moranno melihat kesedihan itu dimata Yurina. Ia lalu mencium kedua belah mata kekasih hatinya itu dengan penuh perasaan.
"Maafkan aku sayang.... Aku hanya, merasa tak nyaman bila kau berpikir aku tersenyum hanya karena wanita lain." Ucap Moranno berterus terang, membuat Yurina menyadari apa yang telah ia lakukan.
"Akulah yang seharusnya meminta maaf padamu suamiku. Aku tak menyangka hanya sekedar berucap begitu saja membuatmu merasa tak nyaman seperti ini." Lirih Yurina dan kembali mempererat pelukkannya lagi.
"Selama aku hidup hingga usia ku sekarang ini. Hanya ada tiga wanita yang dekat dihatiku. Mommy, karena mommy adalah ibuku. Margareth, karena dia adalah adik perempuanku. Lalu kau... dan kau adalah isteriku." Moranno sejenak memberi jedah pada ucapannya lalu melanjutkannya lagi.
"Sejak kecil aku kurang memiliki teman, baik anak perempuan maupun anak laki-laki. Aku sering menghabiskan waktuku untuk belajar, karena sejak kecil mommy mendidikku menjadi pembisnis seperti daddy. Daddy sibuk dengan membangun bisnis. Namun diwaktu libur daddy pasti meluangkan waktu untuk liburan bersama kami."
"Aku terbiasa dengan didikan mommy, disiplin dan disiplin. Berbeda dengan adik perempuanku. Ia memiliki banyak teman, dan bebas melakukan apapun yang ia anggap baik."
"Tapi kulihat kau banyak kenalan...." Sela Yurina.
"Mereka kenalan-kenalan bisnis keluarga Agatsa, para kolega, dan lainnya. Aku hanya memiliki seorang teman, Yaitu dokter Rosalie. Dia sering berkunjung kerumah kami, karena berteman dengan Margareth, itulah sebabnya aku bisa berteman dengannya. Selain Rosalie tidak ada, dengan yang lain hanya kenal begitu saja."
"Beberapa wanita yang kukenal, sering berusaha menjebakku, seperti Gandis contohnya. Menjadi seorang anggota keluarga Agatsa tidaklah mudah. Sedikit saja melakukan kesalahan, keluarga Agatsa di sorot oleh berbagai pihak. Kau tentu ingat kan pengalaman kita diawal pernikahan kita." Ujar Moranno dan dibalas anggukkan oleh Yurina yang masih betah dalam pelukannya.
"Dan hal seperti itu telah beberapa kali terjadi dengan kasus yang berbeda." Lanjut Moranno lagi.
"Itu sebabnya aku selalu berusaha hati-hati. Bila hanya menyangkut namaku seorang diri, bagiku itu tidak masalah. Tapi bila menyangkut nama keluarga Agatsa, yang telah dibangun mommy dan daddy, aku berusaha bertindak hati-hati." Ucap Moranno mengakhiri perkataannya.
"Iya, aku mengerti suamiku." Ucap Yurina yang mendengarkan penuturan Moranno.
"Sekarang, kita mandi dulu sayang. Sebentar lagi waktunya makan malam." Moranno dan Yurina saling melonggarkan pelukan mereka. Moranno mendaratkan ciumannya dikening Yurina lalu melepaskan pelukannya.
Moranno mengusap perut Yurina yang bergerak terus saat mereka berpelukan sebelumnya. Dengan sedikit berjongkok Moranno mencium perut Yurina.
"Para baby kesayangan daddy, mommy dan daddy mandi dulu ya lalu kita akan makan malam bersama." Ucap Moranno diperut Yurina. Yurina hanya bisa tersenyum melihat tingkah Moranno yang berbicara dengan bayi yang ada dalam kandungannya.
***
__ADS_1