
Harry mengajak Margareth menuju lantai delapan diatasnya, lantai paling atas dari kapal pesiar itu.
"Kalau kita berada disini, nanti kita tidak akan sempat turun bila kapalnya berlayar tuan Harry....." Ucap Margareth yang berjalan bersisian dengan Harry.
"Disini, kita tidak hanya sekedar makan siang, tapi kita akan ikut berlayar bersama semua orang yang ada didalam kapal pesiar ini selama dua puluh hari kedepan." Sahut Harry sambil terus melangkah.
Margareth yang mendengarnya merasa terkejut. Ia menghentikan langkahnya. Bagaimana tidak, dirinya tidak memiliki persiapan apa - apa, Harry tidak memberitahukan sebelumnya mengenai hal itu pada dirinya.
"Apa makaud anda tuan Harry? kita akan berlayar hingga dua puluh hari kedepan?" Tanya Margareth menatap Harry tak mengerti. Pria itu, yang sudah menjadi suaminya, mengapa tidak membicarakannya terlebih dahulu dengannya sebelum melakukan perjalan yang memakan waktu hingga dua pekan kedepan, pikirnya.
Harry yang melihat isterinya menghentikan langkahnya, berbalik dan mendekati Margareth.
"Apakah kau tidak suka berlayar bersamaku nyonya Harry?" Tanya Harry saat sudah berhadapan dengan Margareth.
"Bukan begitu maksudku tuan Harry. Bila anda mengatakan padaku sebelumnya, aku akan mempersiapkan segala sesuatunya untuk perjalanan ini." Sahut Margareth memandang Harry yang sedang melihat wajahnya.
Harry meraih kedua tangan Margareth, dan tidak.mengalihkan pandangannya. "Maafkan aku, aku hanya ingin memberi surprise untukmu. Kau tidak perlu khawatir, aku sudah menyiapkan semuanya untuk kita berdua. Aku ingin kita berdua menikmati liburan dan bulan madu kita" Sahut Harry lirih. Hati Margareth terasa bergetar mendengar ucapan suaminya itu,
Harry menautkan tangannya pada jari - jemari Margareth dan kembali mengajak isterinya itu melanjutkan langkah mereka menaiki beberapa anak tangga lagi kelantai paling atas dari kapal pesiar itu.
Walau sedikit ragu, Margareth tidak banyak bertanya, ia tetap mengikuti langkah Harry membawanya menuju lantai atas kapal pesiar itu. Margareth berusaha mempercayai suaminya itu walau banyak kesan mengecewakan yang ia dapatkan saat memasuki pernikahan bersama suaminya itu.
__ADS_1
Angin laut sudah terasa sedikit kencang saat mereka berhasil mencapai lantai atas dari kapal pesiar itu. Selain Margareth dan Harry, ada banyak pasangan seperti mereka yang juga sudah berada disana.
Disore itu, kapal pesiar yang ditumpangi Harry dan Margareth perlahan meninggalkan pelabuhan, angin laut semakin kencang berhembus dilantai teratas dimana Harry dan Margareth berada disana untuk menyaksikan kapal pesiar yang membawa mereka meninggalkan daratan Indonesia untuk dua puluh hari kedepan. Senyum kebahagiaan semua pasangan terpancar dari wajah mereka masing - masing, tidak terkecuali Margareth dan Harry.
"Ayo, ikutlah denganku, aku akan menunjukan padamu kabin yang akan kita tempati." Ajak Harry kembali meraih tangan isterinya itu, setelah beberapa menit lamanya mereka berada bersama beberapa orang asing yang sibuk dengan pasangannya masing - masing.
Letak kabin yang berada dilantai 6, membuat keduanya harus menggunakan lift untuk sampai kesana.
Setelah menyusuri lorong yang cukup panjang, Harry dan Margareth akhirnya sampai didepan pintu kabin. Pilihan Harry pada Balcony stateroom ternyata tidak mengecewakan. Margareth terpesona, saat melihat pintu kabin telah terbuka. Tidak terasa kaki Margareth melangkah ringan memasuki ruangan kabin mewah dihadapannya.
Harry tersenyum saat melihat tingkah Margareth yang melupakan dirinya saat memasuki kabin. Ia mengikuti isterinya itu dari belakang dan menutup pintu kabin dengan rapat.
Margareth terus melangkah menuju balkon yang terbuka lebar menyajikan pemandangan lautan lepas yang menghampar luas didepan mata mereka. Margareth merentangkan kedua tangannya keudara menghadapai lautan yang memperlihatkan ombak - ombak raksasa yang saling berkejaran dihadapannya.
Margareth memang sangat menyukai laut, namun tidak terbayangkan olehnya bisa berlayar seperti sekarang ini. Bila akan berpergian keluar kota ataupun keluar negeri bersama keluarganya, dirinya hanya menggunakan transportasi udara untuk mempersingkat waktu, itu karena kedua orang tuanya sangat sibuk mengurus bisnis yang mereka kembangkan dengan kerja keras tanpa kenal lelah. Saat ini dirinya sungguh - sungguh menikmati suasana yang ia impikan sejak kecil, berlayar dilautan.
Margareth merasakan tangan kokoh Harry memeluk pinggangnya dari belakang. Napas panas Harry terasa hangat menyapu kulit lehernya. Deberan - debaran halus dari jantung Margareth merambat mengikuti aliran - aliran darahnya yang ikut menghangat leseluruh tubuhnya. Margareth sedikit bergerak ingin melepaskan dirinya, namun Harry semakin erat memeluk tubuh Margareth hingga membuat isterinya itu harus pasrah dengan posisi mereka sekarang.
"Apakah kau menyukai pelayaran kita ini sayang....??" Bisik Harry ditelinga Margareth. Sentuhan bibir Harry yang mengenai daun telinga Margareth membuatnya mulai panaa dingin.
"Aku.... aku sangat menyukainya.... ini impianku sejak kecil....." Ucap Margareth sambil menahan debaran - debaran dihatinya.
__ADS_1
"Iya...... mommy sudah cerita padaku tentang keinginanmu untuk berlayar, namun karena kesibukan pekerjaan mommy dan daddy tidak sempat mengabulkan permintaanmu itu. Itu sebabnya aku memilih liburan ini untuk berlayar bersamamu." Ucap Harry, tangannya masih memeluk erat pinggang Margareth dihadapnnya.
"Terima kasih..... tuan Harry......." Suara Margareth sesikit tersendat, ia beeusaha mengatur napasnya yang seolah mulai memburu karena detak jantungnya semakin berdebar merasakan pelukan Harry yang begitu erat dan semakin hangat dirasakan tubuhnya.
"Aku sudah menjadi suamimu, dan kau juga sudah menjadi isteriku..... aku tidak ingin kau memanggilku seperti itu lagi....." Ucap Harry disela - sela deburan ombak yang sesekali menerjang kapal pesiar yang mereka tumpangi.
"Aku harus memanggilmu apa tuan Harry?" Tanya Margareth bingung.
"Apa saja, yang penting membuatmu merasa nyaman saat memanggilku. Asal bukan tuan..... aku bukan bosmu, tapi suamimu. Kau nyonya ku, nyonya Harry,.jadi jangan sebut aku dengan panggilan yang sering kau sebutkan itu. Sebutan itu seperti jarak yang membatasi kita. Aku ingin jarak itu sudah tidak ada lagi seperri posisi kita sekarang ini." Ungkapan Harry membuat tubuh Margareth semakin panas dingin.
"Tuan Harry...... "
"Jangan sebut aku tuan.lagi......." Potong Harry cepat dan semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping milik isterinya itu, membuat Margareth menahan napasnya.
"Iya..... maafkan aku......suamiku...... sayangku...... priaku......my honey...... my lovely......" Ucap Margareth, semua yang ia sebutkan terasa janggal dipendengarannya.
"Aku malu...... malu mengatakannya tuan Harry.... aku tidak terbiasa mengucapkannya..... " Ucqp Margareth dengan wajah memerah dan suara sedikit gugup.
"Biasakanlah sayang..... nanti dirimu pasti akan terbiasa juga. Kau itu adalah isteriku, ratuku......my queen...... nyonyaku...... Dan semua orang akan memanggilmu nyonya Harry, masakan nanti kau memanggilku tuan, orang - orang bisa berpikir kau adalah pegawaiku. Aku tidak mau.....!!" Ucap Harry sambil menempelkan wajahnya dipunggung Margareth sambil menggesek - gesekan wajahnya itu disana membuat wanita itu merasa kegelian dibuatnya.
"Stop..... stop......tuanku......!" Margareth meronta dari pelukan Harry sambil tertawa kegelian.
__ADS_1
"Lho...... kok jadi tuanku..... kaya zaman raja - raja saja." Harry semakin tidak terima mendengar panggilan spontan isterinya itu.
"Sepertinya itu panggilan bagus.....'tuanku'..... kau seumpama raja dihatiku, raja cintaku......" Ucap Margareth sekenanya saja sambil terkekeh.