JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 160 "Iya, seperti guling...."


__ADS_3

Margareth mengerjap - ngerjapkan matanya, penglihatannya belum terlalu sempurna, masih terlihat seperti bayang - bayang.


Ia berusaha keras mengumpulkan kesadarannya karena kantuk yang begitu mengusainya.


Wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter spesialis saraf itu tersentak, saat mengingat pagi itu dia akan kembali kekota tempat ia berkerja. Kesadarannya kini telah kembali. Namun tubuhnya sulit bergerak, ia berusaha melepaskan diri tapi tubuhnya terasa semakin terbelenggu.


Saat ia menyadari bahwa belenggu itu disebabkan tubuh seorang pria yang menghimpitnya, dengan sekuat tenaga ia melepaskan diri sambil berteriak histeris.


"Tuan Harry.......! Kenapa kau bisa tidur bersamaku.....! Cepat bangun.....! Nanti ada orang yang melihat kita.....!" Pekik Margareth kalang kabut.


Harry yang terbangun langsung terduduk karena kaget. Ia hanya mengucek - ngucek matanya dengan kedua tangannya, sambil berusaha mengumpulkan kesadarannya. Ia merasa bingung kenapa Margareth berteriak - teriak pagi - pagi, dan bagaimana dia bisa tidur dengan wanita itu dalam satu kamar dan bahkan diatas tempat tidur yang sama. Sungguh aneh pikirnya.


"Margareth......!! Apa yang kau lakukan......!!" Suara itu begitu dikenal Margareth. Margareth dan Harry sama - sama menoleh kearah datangnya suara.


Dua manusia lawan jenis yang masih duduk diatas tempat tidur itu mendelik saat melihat nyonya Agatsa yang menatap mereka dengan wajah marahnya. Dan tunggu, disebalah kanan nyonya Agatsa berdiri nyonya Naomi, nenek Harry dengan wajah yang tak kalah seramnya. Sementara tuan dan nyonya Morgan juga berdiri disebah kiri nyonya Agatsa.


"Mampusss.......!!" Guman Margareth dan Harry bersamaan menatap keempat orang tua yang sedang menatap mereka tajam dengan tangan bersedekap didepan dada dan siap menghakimi. Keduanya terlihat menelan ludahnya dengan susah payah.


"Mom..... ini.....ini....." Margareth tergagap. Matanya terlihat sangat gugup saat dipandang keempat orang tua yang tiba - tiba terlihat seperti binatang buas dipagi itu.


"Ini apa.... hahh.... Kau yang datang kekamar tuan Harry dan tidur bersamanya.... Apa maksudmu Margareth??!" Suara nyonya Agatsa meninggi.


"Hahh..... tidak mungkin mom, bukankah tadi malam aku tidur dengan mommy? Mana mungkin aku mendatangi tuan Harry dan tidur dengannya mom....." Margareth tidak terima dengan perkataan ibunya yang seolah - olah telah menuduhnya.


"Tuan Harry, jelaskan..... jelaskan pada mereka kenapa kau bisa ada disini dan tidur bersamaku diatas tempat tidur ini....." Margareth menggoyang - goyangkan punggung Harry yang hanya berdiam diri saja, wajahnya masih terlihat bingung akan apa yang sedang terjadi.


"Ayo tuan Harry, cepat jelaskan pada mereka..... sebelum mereka menelan kita hidup - hidup...." Margareth masih memaksa, sambil terus menggoyang - goyangkan tubuh Harry yang masih bingung harus berkata apa.


"CUKUP MARGARETH....!!" Suara nyonya Agatsa menggema didalam kamar yang masih tertutup itu.

__ADS_1


Margareth tersentak. Wajahnya tiba - tiba memerah, mengapa hanya dia saja yang sejak tadi diberondong pertanyaan, sedangkan Harry tidak.


"Mom..... kenapa hanya aku saja yang dicecar banyak pertanyaan? kenapa tuan Harry tidak? Aku ini anak mommy.... mom....?" Suara Margareth nampak bergetar menahan amarah.


"Sudah berhenti sandiwaramu.....?" Ucap nyonya Agatsa berusaha menurunkan volume suaranya. Margareth mengerucutkan mulutnya, ia merasa ibunya tidak adil padanya.


"Perhatikan baik - baik kamar ini Margareth....." Ucap nyonya Agatsa berusaha membuat putrinya itu mengerti mengapa ia mengejarnya dengan berbagai pertanyaan.


Margareth mengikuti saran ibunya, sepertinya tidak, perkataan ibunya itu lebih tepat adalah suatu titah baginya.


Margareth menatap seluruh isi ruangan, nampak sedikit asing. Tidak ada barang milik ibunya maupun tas tangannya semalam saat masuk kekamar ibunya. Yang ada hanya barang - barang milik seorang pria yang beberapa hari ini digunakan Harry.


Mata Margareth terpaku pada satu teko kaca berisi air putih diatas nakas. Kepalanya mendadak pusing karena mengingat sesuatu yang kini telah ia sadari. Wajahnya memerah, kali ini bukan karena amarah, tapi perasaan malu yang luar biasa.


Semua mata masih mengawasi Margareth, termasuk Harry yang duduk disebelahnya. Pria itu sebenarnya ingin menolongnya, tapi ia takut salah berucap karena nanti bisa menambah kacau suasana. Diam lebih baik menurutnya, sambil berpikir untuk menguak misteri pagi itu.


Wajah Margareth masih merona, ia terlihat gugup. Beberapa pasang mata dihadapannya menatap, dan menunggu penjelasannya, termasuk Harry yang masih setia duduk disebelahnya.


"Semalam.... semalam..... aku terbangun karena haus


mom....." Jelas Margareth terputus - putus.


"Aku kedapur untuk minum dan mengisi teko yang kosong. Saat melewati kamar ini.... aku berhenti karena melihat pintunya sedikit terbuka dan lampu tidurnya menyala....." Nyonya Margareth, tuan dan nyonya Morgan, dan nyonya Naomi, juga Harry masih menyimak penjelasan Margareth.


"Aku pikir.... pelayan lupa mematikan lampu dan menutup rapat kamar tuan Harry, karena saat makan malam tadi aku dengar tuan Harry sudah kembali kekota, jadi aku berinisiatif untuk mematikan lampu terlebih dahulu lalu menutup pintunya."


"Ternyata didalam ada seseorang yang tengah tertidur, saat kuperhatikan, itu tuan Harry. Aku kasihan melihatnya, jadi aku membantu melepaskan sepatu dan kaos kakinya dan kutaruh dibawah tempat tidur." Keempat orang tua itu lalu memperhatikan bawah tempat tidur dan melihat ada sepatu Harry disana.


"Lalu.....??" Nyonya Agatsa menatap wajah putrinya yang terlihat semakin gugup.

__ADS_1


"Aku naik ketempat tidur......." Nyonya Agatsa dan lainnya menahan napas, termasuk Harry yang mendengar perkataan Margareth yang mendebarkan itu.


"Margareth.....??" Suara nyonya Agatsa nampak tertahan menyiratkan ketidak percayaannya pada apa yang ia dengar dari mulut putrinya.


"Mom.... aku hanya membantu tuan Harry menggunakan bantal untuk alas kepalanya dan selimut supaya ia tidak kedinginan......." Ucap Margareth berusaha membuat semua orang yang mendengarnya untuk tidak salah paham.


"Lalu..... mengapa kalian berdua berpelukan diatas tempat tidur saat kami masuk kemari??" Terdengar suara nyonya Agatsa tidak sabar menunggu akhir cerita putrinya itu. Wajah Harry langsung ikut memerah seperti wajah Margareth.


"Kalau itu.... itu.... itu...." Margareth terlihat sangat sulit melanjutkan perkataannya.


"Itu kenapa Margareth??" Desak nyonya Agatsa.


"Karena....... Saat aku menyelimutinya, tangan tuan Harry tiba - tiba menggapaiku membuatku terjatuh....lalu memelukku seperti guling..... iya, seperti guling...." Jelasnya memastikan.


"Lalu kenapa kau tidak melepaskan diri.... malahan ikut tidur bersamanya, apa kalian sudah tidak sabaran untuk dinikahkan??" Cecar nyonya Agatsa tanpa ampun.


"Hah.....??!!." Mata Margareth dan Harry sama - sama mendelik, keduanya kaget mendengar akhir kalimat nyonya Agatsa.


"Mom...... mom...... tidak bisa begitu...... kami tidak melakukan hal - hal terlarang mom......" Ucap Margareth panik, ia segera turun dari ranjang menghampiri ibunya.


"Bagaimana kami bisa mengetahuinya, bila kalian tidak melakukan hal yang lebih jauh....." Balas nyonya Agatsa sengit.


"Swear mom......." Margareth mengangkat dan menunjukan dua jarinya keudara.


"Kami tidak melakukan lebih..... buktinya pakaianku masih utuh....." Ucap Margareth sambil memutar - mutar tubuhnya didepan semua orang.


"Tuan Harry....kancing - kancing kemejanya juga tidak ada yang terbuka mom.... iya kan tuan Harry....??." Margareth meminta dukungan dan dibalas anggukkan oleh Harry.


"Tadi juga..... saat mommy, nenek, paman dan bibi masuk kemari, pintu tidak tertutup rapat, itu tandanya kami tidak melakukan hal yang tidak senonoh mom..."

__ADS_1


__ADS_2