JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 110 "Bibi tidak salah dengar."


__ADS_3

"Ini perkembangan yang sangat baik nyonya muda. Setelah sekian lamanya dalam perawatan, akhirnya beberapa saraf tuan Moranno mulai dapat berfungsi kembali." Jelasnya.


"Dengan dapat menggerakkan beberapa jari - jarinya, kita berharap tuan Moranno akan segera bangun dari komanya nyonya muda." Ungkap dokter Rogen.


"Iya dokter, saya juga berharap seperti itu." Kata Yurina sambil menggendong bayi Willy dalam pelukannya.


"Bibi Nur, tolong ajak bayi Willy dan bayi Billy kekamar, berikan mereka minum ASI. Ada yang masih perlu saya bicarakan dengan dokter Rogen." Kata Yurina sambil menyerahkan bayi Willy yang sudah tidak menangis lagi pada bibi Nur.


"Baik nyonya muda." Bibi Nur dengan sigap membawa kedua bayi kembar itu keluar dari ruang rawat Moranno dibantu dua suster rawat yang ikut mendorong dua kereta bayi.


"Dokter Rogen, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan berkenaan dengan tuan Moranno suami saya." Kata Yurina setelah ia tinggal berdua dengan dokter Rogen.


"Katakan saja nyonya muda, saya akan mendengarkan anda." Sahut dokter Rogen sambil memperhatikan wajah Yurina yang sedang mengarahkan pandangannya pada Miranno yang masih terbaring seperti orang tertidur.


Yurina terdiam sejenak, berusaha memilih kata - kata yang tepat untuk disampaikan pada sang dokter.


Dokter Rogen terlihat penasaran, namun ia tetap menunggu dengan sabar.


Walau Yurina terbilang muda namun sikap dan tindakannya sebagai nyonya muda dalam keluarga Agatsa selalu dipikirkannya dengan baik. Itulah yang membuat para tenaga medis dirumah sakit Agatsa Hospital itu sangat segan padanya, termasuk dokter Rogen.


"Dokter Rogen, sebelumnya saya mohon maaf bila apa yang akan saya katakan ini mungkkn saja menyinggung perasaan dokter nantinya." Yurina masih mengarahkan pandangannya pada Moranno dihadapannya.


"Saya dengar, nona Margareth saudari kembar tuan Moranno adalah seorang dokter saraf juga. Saya berniat untuk mendatangkan dirinya kemari." Kata Yurina seraya mengalihkan pandangannya kearah dokter Rogen yang terlihat terpaku berdiri ditempatnya.


"Apakah dokter Rogen mengijinkannya? Saya mengerti, dirumah sakit ini, dokter adalah ketua team dokter saraf dalam menangani tuan Moranno suami saya. Itu sebabnya saya menyampaikan hal ini langsung pada dokter." Ucap Yurina dengan sikap sopannya.


"Nyonya muda, sama sekali saya tidak merasa tersinggung ataulu keberatan. Justru saya merasa senang sekali karena nyonya muda berusaha membantu team dokter saya mencari solusi demi kesembuhan tuan Moranno sebagai pasien kami."


"Yang menjadi pertanyaan saya... Apakah nyonya besar tahu rencana nyonya muda untuk mendatangkan nona Margareth? Karena yang saya tahu, hubungan nyonya besar dan nona Margareth tidaklah baik, walaupun mereka memiliki hubungan ibu dan anak." Ungkapnya hati - hati.


Yurina termangu mendengar ucapan dokter Rogen. Ternyata hubungan ibu mertuanya itu dengan putrinya bukanlah menjadi rahasia lagi. Hanya dirinya saja yang tidak mengetahuinya.


"Saya khawatir, kedatangan nona Margareth akan memperkeruh suasana. Mungkin anda perlu memikirkannya ulang nyonya muda." Kata dokter Rogen memberi masukkan.

__ADS_1


Yurina terlihat berpikir sejenak. Lalu dengan tatapan lurusnya memandang kearah dokter Rogen.


"Saya akan tetap mendatangkan nona Margareth dokter. Ini saya lakukan demi kesembuhan tuan Moranno suami saya."


"Dokter lihat, saat bayi Willy menangis kencang dan tubuh bayi itu menyentuh daddynya karena kaki tangannya menendang bebas kesana - kemari, lalu jari tangan daddynya memberi respon."


"Demikian juga dengan bayi Billy, sebelum dokter Rogen kemari. Daddy nya juga memberi respon saat tangannya tertindis bayi Billy putranya."


"Saya rasa selain pengobatan secara ilmu kedokteran, perlu juga adanya hubungan batin antara si pasien dengan orang - orang yang ia sayangi dan rindukan."


"Saya berharap, kedatangan nona Margateth juga dapat merangsang sistem sarafnya untuk berkerja. Saya tidak tahu mengapa, namun saya merasakan bahwa suami saya juga membutuhkan hal itu selain pengobatan secara medis dokter." Tutur Yurina mengungkapkan apa yang ada didalam hatinya..


"Mungkin anda benar nyonya muda. Memang salah satu yang membuat pasien akan membaik atau sembuh bila dari dirinya sendiri ada semangat untuk sembuh, dan salah satunya saat ia memikirkan orang - orang yang ia cintai masih sangat membutuhkan dirinya."


"Namun, jika nyonya muda sudah memikirkan secara baik, dan telah memikirkan segala sesuatunya. Lakukanlah saja apa yang nyonya muda anggap baik."


"Saya percaya, nyonya muda walaupun terbilang masih sangat muda memiliki hati yang bijaksana." Ucap dokter Rogen memberi semangat.


"Terima kasih banyak dokter atas semuanya. Kemungkinan besok saya sudah akan berangkat menemui nona Margareth."


Jam dinding menunjukan jam 16.00 sore. Yurina yang baru terbangun dari tidur siangnya melihat bibi Nur sedang merapikan pakaian - pakaian bayi dilemari milik bayi Billy dan bayi Willy.


Kedua bayi kembar itu masih tertidur pulas karena kelelahan setelah pulang dari rumah sakit.


"Bibi Nur...." Yurina mendekati bibi Nur yang masih terlihat sibuk.


"Iya nyonya muda...." ucapnya seraya bangkit.


"Duduklah saja bibi, dan lanjutkan saja pekerjaan bibi sambil mendengarkan apa yang akan saya katakan." Kata Yurina sambil duduk dilantai dekat bibj Nur.


"Baik nyonya muda. Katakanlah saya akan mendengarkannya." Sahutnya kembali duduk ditempatnya lalu melanjutkan pekerjaannya merapikan pakaian para bayi.


"Bibi Nur, besok saya akan menjumpai nona Margareth."

__ADS_1


Bibi Nur nampak terkejut hingga menoleh kearah Yurina.


"Apa saya tidak salah dengar nyonya muda?" Tanya bibi Nur masih dengan wajah kagetnya.


"Bibi tidak salah dengar. Saya menjumpainya untuk menjemputnya kemari, untuk membantu penyembuhan tuan Moranno. Bukankah nona Margareth seorang dokter bibi?"


"Anda benar nyonya muda. Tapi apakah nyonya besar mengetahui hal ini?" Ucapnya dengan wajah khawatir.


"Nyonya besar tidak tahu bibi." Sahut Yurina yang melihat ada kegelisahan diwajah pengasuh bayinya itu.


"Nyonya muda, mungkin anda tidak terlalu tahu. Perlu saya katakan pada nyonya muda, bahwa hubungan nyonya besar dan nona Margareth putrinya sangat tidak baik. Mereka adalah ibu dan anak, tapi hubungan mereka sangat tidak harmonis nyonya muda. Saya takut... nyonya besar akan marah besar pada nyonya muda nantinya."


"Tolong nyonya muda, pikirkanlah lagi apa yang telah nyonya muda rencanakan itu. Saya sangat tahu bagaimana hubungan antara keduanya nyonya muda." Ungkap bibi Nur sungguh - sungguh.


Yurina nampak sedikit bimbang mendengar perkataan bibi Nur yang terlihat khawatir akan rencananya.


"Bibi Nur, mungkin sesuatu yang sangat serius telah terjadi diantara nyonya besar dan nona Margareth. Tetapi, kehadiran nona Margareth sangat dibutuhkan untuk penyembuhan tuan Moranno bi."


"Saya tidak tahu apakah yang saya upayakan ini bisa berhasil atau tidak. Tapi segala upaya akan coba saya lakukan bi demi kesembuhan tuan Moranno."


"Kami sudah mendatangkan tiga dokter dari luar negeri, dan mereka adalah dokter - dokter yang handal dibidangnya. Dan sekarang saudarinya seorang dokter saraf, saya berkeyakinan, ada perubahan yang lebih baik nantinya.'


"Apapun itu, saya akan terus berupaya bibi, demi kesembuhan tuan Moranno. Keterangan dari dokter Rosalie, dokter Rogen, juga bibi Nur, semuanya sama, mengatakan bahwa hubungan antara nyonya besar dan nona Margareth tidak baik."


"Dan sekarang, walau sedikit, saya telah mengetahuinya, itu bukan berarti saya tidak mau tahu, atau sengaja membuat kericuhan nantinya, tapi semua yang saya lakukan ini hanya demi kesembuhan tuan Moranno suami saya bi..." Ucap Yurina dengan tulus.


"Bila nyonya muda berpikir demikian, saya hanya bisa ikut mendoakan, semoga semuanya berjalan baik, dan keadaan saat nona Maegareth ada disinipun tetap baik baik - baik saja."


"Iya bibi, semoga saja demikkan. Terma kasih banyak ya bibi.".


"iya nyonya...." Sahut bibi Nur memberikan senyum untuk menguatkan nyonyanya.


"Bibi, tolong rahasiakan keberangkatan saya ini besok dari nyonya besar. Bila ia tahu, ia pasti akan melarang saya bi."

__ADS_1


"Baik nyonya muda...." Sahut bibi Nur mengangguk.


__ADS_2