JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 46 "Apa kau cemburu pada asisten Rudi, hmmm?"


__ADS_3

Mobil sedan berwarna hitam pekat memasuki halaman rumah besar milik keluarga Agatsa. Yurina memandang dari balkon kamarnya tempat ia berdiri. Seorang wanita cantik dan sexy keluar dengan gaya anggunnya dari mobil mewahnya. Tentu saja Yurina mengenalnya. Gandis, wanita yang telah dua kali pernah bertemu dengannya secara tak sengaja dan selalu berusaha menyakitinya.


Gandis melangkah menuju pintu masuk dengan membawa sesuatu ditangannya dan disambut oleh bibi Nur sang kepala pelayan. Terlihat mereka bercakap-cakap sejenak, lalu bibi Nur membawa Gandis masuk.


Yurina kembali kedalam kamarnya dan segera masuk kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang baru saja usai berolah raga disore itu.


Notifikasi ponsel Yurina berbunyi saat ia baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Yurina segera meraih ponselnya, ternyata pesan masuk dari Moranno. Yurina tersenyum dan segera membacanya.


Suamiku


"Mommy anak-anakku, bagaimana keadaanmu sore ini? Apa sudah lebih baik?"


Dengan cekatan Yurina mengetik diponselnya untuk membalas pesan Moranno dengan senyum tersungging dibibirnya.


Yurina


"Iya, aku bahkan baru selesai berolah raga dengan berjalan-jalan sore ditaman dan baru selesai mandi."


Tak menunggu lama, Yurina mendapat balasan dari suaminya itu.


Suamiku


"Syukurlah... Lain waktu aku akan menemanimu untuk berolah raga ya. Kau pasti sangat wangi, aku dapat mencium aroma tubuhmu dari sini."


Senyum Yurina semakin mengembang, dengan segera dibalasnya pesan Moranno kembali.


Yurina


Bagaimana mungkin. Kau pasti bercanda. Itu pasti wangi tubuhmu sendiri, atau....ada wanita cantik didekatmu.


Yurina tiba-tiba merasa cemburu pada apa yang ia tulis sendiri, senyumnya langsung menghilang.


Suamiku


"Disini hanya ada diriku dan asisten Rudi. Apa kau cemburu pada asisten Rudi, hmmm? Hari ini aku akan pulang larut lagi, tidurlah lebih dulu supaya kau tidak lelah."


Yurina

__ADS_1


"Baiklah."


Suamiku


"Jangan terlambat makan malam supaya kau tidak sakit lagi. Vitamin dan susumu juga. Aku mencintaimu sayang."


Yurina


"Iya kau juga suamiku. Aku juga mencintaimu."


Yurina kembali menyunggingkan senyum dibibirnya saat membaca pesan terakhir Moranno. Ia lalu meletakan ponselnya kembali diatas nakas, dan segera berpakaian.


Perut Yurina terasa lapar, ia bergegas menuju dapur. Hanya ada bibi Nur yang menyiapkan makan malam dimeja makan.


"Nyonya besar tidak turun makan malam bi?" Tanya Yurina saat tidak dilihatnya ibu mertuanya itu dimeja makan.


"Tidak nyonya muda. Tadi ada non Gandis membawakan nyonya besar makan malam, jadi nyonya besar sedang makan malam dikamarnya ditemani non Gandis."


"Kalau begitu saya akan makan sendirian bibi, tuan juga pulang agak larut hari ini. Makanlah bersama saya ya bi..." Kata Yurina memandang pada bibi Nur.


"Anggap saja ini permintaan bayi yang ada dalam kandungan saya bibi." Kata Yurina membujuk.


"Baiklah nyonya, tapi sekali ini saja ya nyonya, saya takut dihukum." Kata bibi Nur sungkan.


Yurina tersenyum hangat pada bibi Nur. Keduanya lalu makan malam bersama. Bibi Nur dapat melihat bahwa Yurina adalah majikan yang baik. Dari awal Yurina masuk dalam keluarga Agatsa ia selalu bersikap ramah pada semua pelayan, sehingga semua pelayan sangat menghormatinya dan bersimpati padanya.


"Bi, saya lihat nyonya besar sangat menyukai nona Gandis." Yurina membuka pembicaraan disela-sela makan malam mereka.


"Benar nyonya, bahkan nyonya besar sangat dekat dengan non Gandis. Konon, sebelum nyonya muda menjadi isteri tuan Moranno, saya pernah mendengar secara tak sengaja nona Gandis mengatakan pada nyonya besar bahwa ia ingin menikah dengan tuan. " Ujar sang bibi.


"Pasti nona Gandis sangat baik sehingga nyonya besar menyetujui kalau nona Gandis menjadi menantunya ya bi."


"Entahlah nyonya. Dahulu waktu mendiang tuan besar masih hidup, dan nona Margareth masih disini, Nona Gandis memang sering berkunjung bersama kedua orang tuannya, tuan dan nyonya Morgan. Mereka sangat baik dan juga ramah termasuk pada kami para pelayan., berbeda dengan non Gandis ia selalu berusaha mendapatkan perhatian hanya pada tuan dan nyonya besar maupun tuan Moranno dan nona Margareth." Tutur bibi Nur.


"Bi, saya sebenarnya sangat penasaran tentang nona Margareth, bagaimana tentang dia dan dimana dia sekarang?" Yurina berusaha menggali informasi dari bibi Nur.


" Nona Margareth dan tuan Moranno adalah saudara kembar. Tuan dan nyonya besar hanya memiliki mereka berdua sebagai penerus keluarga Agatsa. Nona muda adalah seorang anak yang baik. Bagaimana dan dimana nona muda sekarang saya tidak mengetahuinya nyonya, saya tidak berani banyak bicara, takut salah ucap. Maafkan saya nyonya." Ucap bibi Nur menghentikan ceritanya.

__ADS_1


"Tidak mengapa bibi, saya paham. Ayo, teruskan makannya bi." Kata Yurina pada bibi Nur. Dalam hatinya ia berpikir tentu ada hal yang begitu besar hingga cerita tentang saudara kembar suaminya itu begitu dirahasiakan. Moranno pun hingga kini belum bercerita secara tuntas, hanya sepenggal saja yang pernah ia dengar dari suaminya itu saat mereka baru menikah.


"Bibi Nur...."


Yurina dan bibi Nur tersentak, keduanya sama-sama menoleh kearah datangnya suara. Nyonya Agatsa dan Gandis telah berdiri tidak jauh dari meja makan.


"Ampuni saya nyonya besar. Ampuni saya." Kata bibi Nur tanpa aba-aba langsung berdiri sambil membungkukkan tubuhnya didepan nyonya Agatsa.


"Bibi kau tahu aturannya kan. Aku tidak melarangmu makan tapi aku kecewa kau melanggar aturan yang ada didalam rumah ini." Kata nyonya Agatsa datar namun penuh tekanan.


" Maafkan saya nyonya besar, itu adalah salah saya, saya yang meminta bibi untuk menemani saya makan." Kata Yurina berusaha membela bibi Nur dan turut berdiri dari duduknya.


"Tentu saja itu salahmu. Sudah cukup kau mengubah putraku menjadi penentangku, jangan kau bawa-bawa para pelayan juga ikut menentangku. Kau sudah berusaha mengubah apa yang sudah menjadi aturan di rumah ini. Apa mau mu, apa kau mau menguasai semua yang ada dikeluarga Agatsa?" Kata nyonya Agatsa memandang kearah Yurina yang menundukkan kepalanya.


"Maafkan saya nyonya besar, saya tidak bermaksud mengubah semua yang ada dirumah ini. Saya hanya ingin minta ditemani makan saja. Ampunilah saya, hikumlah saya saja karena saya yang bersalah." Kata Yurina lagi.


"Bila aku menghukummu, kau malah akan mengambil kesempatan untuk membuat Moranno bersimpati padamu, bukankah itu tujuanmu, kau memang perempuan licik, bagaimana mungkin wanita sepertimu bisa masuk ke rumah ini kalau bukan kelicikanmu yang telah memperdaya putraku."


Ucapan nyonya Agatsa membuat hati Yurina begitu pedih dan menusuk begitu dalam ke dalam hatinya. Seburuk itukah penilaian mertuanya pada dirinya. Yurina merasa perkataan mertuanya begitu kejam. Namun ia hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya. Yurina berusaha keras menahan air matanya yang tak terasa keluar dari sudut-sudut matanya.


"Sudahlah tante, perempuan seperti dia memang tak mengerti tentang aturan, bukankah ia sudah terbiasa hidup diluar sana, yang bebas tanpa aturan dan kesopan santunan, tidak ada dikamusnya untuk menghargai dan menghormati aturan yang sudah dibuat. Dia memang tidak pantas masuk dalam keluarga kelas atas seperti kita tante." Tambah Gandis dengan kata-kata mutiaranya.


Yurina hanya bisa tetap menunduk mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Gandis, ia merasa begitu rendah dan hina dihadapan kedua wanita yang berbicara padanya sesuka hatinya itu. Dirinya bukanlah wanita bodoh yang begitu saja mau menerima hinaan seperti ini. Namun ia berusaha menenangkan dirinya karena berusaha menghormati dan menghargai mertuanya itu.Walau bagaimana pun nyonya Agatsa adalah ibu dari suaminya.


"Bibi Nur, karena kau selama ini telah berkerja dan setia pada keluarga Agatsa, aku tidak memecatmu. Hanya saja, mulai malam ini kau bukan menjadi kepala pelayan lagi, tapi hanya pelayan biasa saja. Bibi Nani akan menggantikan semua tugasmu sebagai kepala pelayan dirumah ini." Kata nyonya Agatsa pada bibi Nur.


"Apa yang nyonya besar putuskan saya terima dan itu adalah baik bagi saya." Kata bibi Nur masih menundukkan kepalanya.


"Ayo Gandis, kita pergi dari sini." Ujar nyonya Agatsa pada Gandis yang berdiri disampingnya.


"Iya tante..." Gandis segera bergegas mengikuti nyonya Agatsa yang berlalu meninggalkan ruang makan.


"Bibi Nur, maafkan saya sudah membawa bibi pada posisi sulit seperti ini." Kata Yutina merasa bersalah dan menyesali apa yang telah ia lakukan pada bibi Nur.


"Tidak mengapa nyonya. Lagi pula saya sudah cukup tua, tugas sebagai kepala pelayan akan menjadi berat diusia saya yang seperti sekarang ini." Jawab bibi Nur bijak. Yurina hanya bisa menatap bibi Nur dengan tatapan sedih. Semntara bibi Nur bersikap tenang seperti tidak terjadi apa-apa.


***

__ADS_1


__ADS_2