JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 74 "Tentu saja tidak sayang. Jangan khawatir."


__ADS_3

Seperti biasanya, makan malam keluarga berjalan dengan tenang. Tak ada seorangpun yang bersuara hingga makan malam usai.


"Moranno, mommy ingin bicara denganmu." Kata nyonya Agatsa pada putranya.


"Iya mom, kita bicara diruang kerjaku saja. Aku akan mengantarkan isteriku ke kamar lebih dahulu." Sahutnya seraya berdiri.


Yurina membungkukkan sedikit tubuhnya tanpa bersuara memberi hormat pada mertuannya sebelum kembali kekamar.


Moranno menggandeng Yurina, keduanya melangkah menuju kamar mereka.


"Sayang, kau tidur lebih dulu ya. Aku akan menemui mommy diruang kerja." Ucap Moranno saat mereka sudah dikamar.


"Hmmm..." Yurina hanya menganggukan kepalanya mengiyakan. Moranno membantu Yurina menyelimuti tubuh isterinya itu. Setelah itu ia mengatur suhu ruangan supaya tidak terlalu dingin untuk Yurina.


Moranno memberikan ciumannya pada Yurina sebelum ia pergi.


"Selamat tidur sayang..." Ucapnya sambil tersenyum.


"Iya, terima kasih suamiku." balas Yurina sambil tersenyum.


"Suamiku...." Panggil Yurina saat Moranno beranjak dari pembaringan mereka.


"Iya sayang, apa kau masih butuh sesuatu?" Tanya Moranno menghentikan langkahnya.


"Jangan bertengkar lagi dengan mommy?" Pesan Yurina dengan wajah yang terlihat khawatir. Moranno tersenyum, ia kembali mendekati Yurina yang berbaring ditempat tidur.


"Tentu saja tidak sayang. Jangan khawatir." Kata Moranno menenangkan Yurina sambil membelai rambut isterinya itu. Moranno kembali mencium kening Yurina.


"Tidurlah, nanti aku segera kembali." Ucap Moranno. Yurina hanya menganggukan kepalanya.


Moranno bangkit lalu beranjak keluar dari kamar meninggalkan Yurina dikamar seorang diri.


Diruang kerja, nyonya Agatsa sudah menanti putranya. Ia duduk disofa yang ada disisi kanan ruang kerja Moranno.


Moranno masuk dan duduk bersisian dengan ibunya. Nyonya Agatsa menuangkan teh herbal kedalam dua gelas kosong yang ada diatas meja, yang telah disiapkan bibi Nani sebelumnya.


"Minumlah teh mu Moranno." Ucap nyonya Agatsa.


Moranno mengambil tehnya, menyesapnya perlahan lalu meletakkannya kembali diatas meja. Moranno memandang kearah ibunya yang juga sedang menyesap tehnya.


"Apa yang ingin mommy bicarakan denganku." Kata Moranno saat ibunya telah meletakan gelas tehnya diatas meja.


"Mengenai isterimu." Kata nyonya Agatsa.


"Ada apa dengan Yurina mommy?" Tanya Moranno penasaran sambil menatap wajah ibunya. Karena selama ini Moranno mengetahui bahwa ibunya tidak pernah perduli apapun itu tentang isterinya.

__ADS_1


"Kenapa kau yang bertanya? Harusnya mommy yang bertanya padamu, kenapa kau tidak menceritakan pada mommy bila isterimu mengandung bayi kembar?" Ujar nyonya Agatsa yang terlihat kesal dari wajahnya pada putranya itu.


Moranno terkesiap. Ia tak menyangka ibunya akan mengatakan hal itu padanya. Ia sempat terdiam sejenak lalu mengatur napasnya.


Nyonya Agatsa masih memandang wajah putranya menanti akan penjelasan Moranno yang perlu ia dengar.


"Dari mana mommy bisa mengetahui bila Yurina sedang mengandung bayi kembar? Siapa yang memberi tahu mommy?" Selidik Moranno sambil terus menatap kearah ibunya yang duduk bersisian dengannya.


"Isterimu sendiri yang mengatakannya tadi pagi saat kami minum teh bersama." Sahut nyonya Agatsa yang masih terlihat agak kesal pada putranya itu.


"Sejak kapan mommy bersikap baik pada Yurina hingga mengajaknya minum teh bersama." Ucap Moranno sedikit pedas ditelinga ibunya.


Nyonya Agatsa berusaha menahan dirinya. Terlihat dari wajahnya yang sedikit memerah dan sempat mengambil napas dalam-dalam saat mendengar ucapan Moranno.


"Mommy memang tidak menyukai Yurina isterimu. Mommy akui itu. Tapi bukankah semalam mommy sudah mengatakan padamu, beri mommy waktu untuk mengenal istrimu Yurina. Itu sebabnya tadi pagi mommy mengajaknya untuk minum teh bersama."


Moranno mendengarkan dan menyimak setiap kata yang keluar dari mulut ibunya dengan masih duduk tenang dekat sang ibu.


"Saat Yurina mengatakan bayi-bayi, mommy merasa aneh. Mommy langsung bertanya apa maksudnya dengan perkataan itu. Ia lalu menjelaskannya pada mommy bahwa ia sedang mengandung bayi kembar." Tutur nyonya Agatsa mengingat apa yang ia bicarakan bersama menantunya itu.


"Termasuk nona Maura yang datang kerumah ini, apakah itu ide mommy setelah mengetahui keadaan Yurina?" Tanya Moranno lagi.


"Iya benar...." Sahut nyonya Agatsa membenarkan.


"Mommy, sebenarnya aku merasa heran dengan apa yang mommy katakan padaku. Bukankah selama ini mommy yang tidak mau mendengar apapun yang ada hubungannya dengan isteriku itu. Sekarang mommy berkata seolah-olah aku yang berusaha menyembunyikan tentang kandungan Yurina isteriku dari mommy." Ucap Moranno berusaha membela dirinya.


"Saat itu aku sempat kecewa. Bagiku saat mommy mengatakan hal itu, mommy seolah-olah menolak anak-anakku yang sedang dikandung Yurina isteriku, padahal mereka itu cucu-cucu mommy."


"Terus terang, sampai sekarangpun aku masih tidak memahami ketidak-sukaan mommy pada Yurina. Tapi sikap mommy hari ini pada Yurina membuat rasa kecewaku itu sedikit terobati. Terima kasih karena mommy perduli pada Yurina dengan mengundang nona Maura kerumah ini." Ucap Moranno terlihat bahagia.


"Mommy lakukan itu bukan untuk Yurina isterimu, tapi buat cucu-cucu mommy yang sedang ia kandung." Sahut nyonya Agatsa tanpa perasaan dan tidak memandang wajah putranya.


Wajah Moranno yang bahagia langsung berubah sedikit muram.


"Tidak mengapa, walau demikian aku tetap bersyukur dan berterima kasih pada mommy. Setidaknya, mommy sudah mengakui dan perduli pada cucu-cucu mommy yang ada dalam kandungan Yurina. Secara tidak langsung Yurina juga dapat merasakan kebaikan mommy walau lewat bayi-bayinya, itu saja sudah lebih dari cukup." Ucap Moranno berusaha bersikap bijak. Ia tak mau bersikap keras seperti yang pernah ia lakukan mengingat pesan Yurina padanya sebelum ia menemui ibunya.


Nyonya Agatsa kembali mengambil gelas tehnya lalu menyesapnya dengan hati-hati. Ia tak bisa berkata-kata lagi mendengar ucapan putranya. Ia dapat melihat putranya itu berusaha menerima sikapnya pada Yurina isterinya.


Moranno pun mengambil gelas tehnya, meneguknya dengan sekali tegukkan karena sudah mulai berasa dingin. Lalu ia meletakan kembali gelas tehnya yang sudah kosong diatas meja.


"Bila mommy sudah selesai, dan tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, aku akan kembali kekamar unruk beristirahat." Ucap Moranno seraya berdiri.


"Hmmm..." Nyonya Agatsa hanya menganggukkan sedikit kepalanya, mengisyaratkan bahwa ia menyetujui Moranno meninggalkannya seorang diri diruang kerja putranya itu.


Moranno melangkah keluar dari ruang kerjanya. Nyonya Agatsa menatap punggung putranya yang meninggalkannya hingga menghilang dibalik pintu.

__ADS_1


Moranno masuk kedalam kamarnya. Ia menghampiri Yurina yang sedang membaca buku. Yurina meletakkan buku bacaannya diatas nakas.


",Kau sudah kembali suamiku?" Kata Yurina saat Moranno mendekatinya.


"Iya sayang, kau belum tidur?"


"Aku membaca buku sambil menunggumu. Aku hanya ingin tahu apa yang kau bicarakan dengan mommy, bolehkah aku mengetahuinya?" Tanya Yurina hati-hati.


Moranno duduk disisi tempat tidur. Ia meraih buku diatas nakas yang baru saja Yurina baca. Memperhatikan sejenak judul bukunya.


"Kau masih rajin membaca buku- buku konstruksi ini?" Tanya Moranno sambil membuka lembaran-lembaran buku ditangannya.


"Iya, untuk mengingat yang pernah kupelajari dibangku kuliah." Sahut Yurina sambil ikut memperhatikan buku yang dipegang Moranno.


"Apa kau sungguh-sungguh ingin melanjutkan kuliahmu itu?"


"Iya, itu bila kau mengijinkanku suamiku."


"Tentu saja aku mengijinkanmu. Kapan kau ingin melanjutkannya?"


"Setelah aku melahirkan bayi-bayi kita." Kata Yurina sambil mengusap perutnya. Moranno ikut mengusap perut Yurina dengan lembut. Para bayi sepertinya sedang tertidur karena tidak ada pergerakan yang biasa mereka lakukan.


"Suamiku, apa yang kau bicarakan bersama mommy. Apa tentang diriku? Kau tidak bertengkar lagi kan xengan mommy?" Yurina mengulang pertanyaannya sebelumnya.


"Tentu saja tidak sayang. Aku ingat pesanmu. Lagi pula kami hanya membahas tentang bayi kembar kita yang sempat mommy dengar saat kau dan mommy minum teh bersama tadi pagi. Mommy hanya bertanya untuk memastikannya padaku. Jadi supaya kau tidak terlalu lelah, mommy mengundang nona Maura kerumah kita supaya kau tetap bisa mengikuti kelas ibu hamil." Ucap Moranno.


"Oh.... Syukurlah kalau begitu, semoga mommy bisa menerimaku." Kata Yurina yang tidak berani banyak berharap. Ia menggenggam tangan Moranno dan menyunggingkan sedikit senyuman. Moranno balas menggenggam tangan Yurina dan turut menyunggingkan senyumnya.


"Suamiku, tadi aku memesan camilan pada bibi Nani. Apa kau mau?" Tanya Yurina seraya turun dari tempat tidurnya dan mengambil nampan berisi beberapa toples camilan.


"Tidak sayang, kau saja yang makan ya. Ibu hamil memang harus rajin makan, supaya asupannya cukup. Aku mau menyelesaikan sedikit pekerjaanku." Moranno berdiri dari duduknya menuju sofa yang ada disisi tempat tidur. Ia menyalakan laptopnya yang berada diatas meja.


Yurina menghampiri Moranno dan ikut duduk disisi Moranno yang mulai sibuk memeriksa laporan yang dikirim oleh asiten Rudy. Sambil menikmati camilannya, Mata Yurina memperhatikan layar laptop suaminya. Dari laporan pekerjaan lapangan hingga laporan keuangan sudah tidak asing lagi bagi Yurina melihat pekerjaan yang suaminya itu periksa.


"Ayo buka mulutmu suamiku." Kata Yurina disela-sela kesibukan Moranno memeriksa laporan yang asisten Rudy kirim.


"Tidak sayang, aku masih kenyang." Tolaknya dengan mata yang tak beralih dari layar laptopnya.


"Satu saja...." Paksa Yurina.


"Baiklah..." Moranno membuka mulutnya. Yurina lalu memasukkan camilan kedalam mulutnya.


"Bagaimana? Enak?" Tanya Yurina memperhatikan wajah Moranno.


"Iya, enak....." Katanya sambil melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


***


__ADS_2