JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 142 "Yang ada aku akan jadi bapak menyusui kalau minum gelas susumu itu."


__ADS_3

Yurina keluar dari kamar bayi kembarnya, ia melihat ruang kerja Moranno masih terang benderang.


Dengan hati - hati ditutupnya kamar itu lalu menuju ruang kerja Moranno.


Yurina melongokkan sedikit kepalanya pada pintu yang tidak terbuka lebar. Dilihatnya Moranno yang pokus menatap layar laptop didepannya dengan tangannya yang menari lincah diatas keyboard laptopnya.


Yurina mengurungkan niatnya untuk masuk. Ia segera menuju dapur. Tak lama ia kembali membawa satu gelas teh herbal dan satu gelas susu ibu menyusui, juga sedikit camilan didalam nampan menuju ruang kerja Moranno.


"Suamiku.... Apakah aku boleh masuk.....?" Tanya Yurina dari depan pintu.


"Tentu saja sayang, kau tidak perlu mendapat ijinku untuk masuk kemari." Kata Moranno masih pokus pada pekerjaannya.


"Suamiku, aku membawa teh herbal untukmu." Kata Yurina melangkah masuk membawa nampan ditangannya.


"Terima kasih..... letakan saja diatas meja, aku akan meminumnya nanti....." Kata Moranno masih pokus pada laptop didepannya dengan tangannya yang terus bergerak kesana - kemari diatas keyboardnya.


Yurina lalu meletakkannya diatas meja dekat meja kerja Moranno.


Yurina duduk dikursi yang berhadapan langsung dengan Moranno yang sedang berkerja.


Moranno tidak menatap sedikitpun kearah isterinya itu yang sedari tadi menatapnya, membuat Yurina tidak betah duduk dikursinya karena merasa diacuhkan.


Yurina mengambil gelas susu miliknya dari atas nampan dan memberikannya pada Moranno.


"Suamiku..... minumlah dahulu, basahi tenggorokanmu dengan ini supaya tidak kering." Ujar Yurina memandang wajah Moranno.


"Sayang..... Kau salah memberikanku gelas. Yang ada aku akan jadi bapak menyusui kalau minum gelas susumu itu." Kata Moranno datar, masih menatap laptopnya tanpa sedikitpun melihat kearah gelas susu yang disodorkan Yurina apalagi melihat isterinya itu.


Ternyata suaminya itu masih sadarkan diri pikirnya karena tahu Yurina sengaja memberikan gelas yang salah.


Yurina lalu meneguk gelas susunya beberapa kali hingga tandas. Tapi Moranno masih saja sibuk pada dirinya sendiri tanpa melihat pada Yurina yang berusaha menarik perhatiannya.


Setelah sekian lama Yurina menunggu, akhirnya ia bangkit dan bergegas keluar, berharap Moranno akan memanggilnya atau mungkin menahannya.


Ternyata itu hanyalah tinggal harapan. Moranno seolah tidak menyadari kepergiannya.


"Huhh..... Kenapa aku kesal melihat caranya mengacuhkanku.....Tidak.... tidak..... aku tidak boleh kesal, dia pasti sibuk dengan pekerjaannya." Gumam Yurina menghibur dirinya sendiri.


Yurina masuk kekamar bayinya, memeriksa kedua bayi kembarnya itu yang masih tertidur pulas diranjangnya masing - masing.


Setelah itu Yurina merebahkan tubuhnya dikasur busa yang ada dilantai kamar bayinya.


Walaupun lelah, Yurina tidak bisa segera tertidur. Pikirannya melayang pada kejadian hari itu, saat nyonya Naomi menceritakan kisahnya yang membuatnya masih belum bisa menerima kenyataan yang sebenarnya, hingga sikap acuh Moranno yang tiba - tiba. Selama ini suaminya itu tidak pernah bersikap seperti itu, ia selalu menunjukan sikap manisnya yang membuat Yurina selalu merasa nyaman.


Yurina memaksakan matanya untuk terpejam. Ia berusaha membuat dirinya terlelap. Hingga akhirnya ia sudah tidak ingat apa - apa lagi.


Suara tangisan bayi membangunkan Yurina. Dengan cepat ia beranjak dari tempat tidurnya menuju ranjang kedua bayinya.


Dilihatnya bayi Billy terjaga sambil menangis. Yurina yang masih mengantuk memeriksa popok bayinya, karena ia mencium aroma yang tidak sedap.


Benar saja, bayi Billy terbangun karena buang air besar. Yurina segera membersihkannya menggunakan tissue basah dan mengganti dengan popok yang baru.

__ADS_1


Bayi Billy yang terlihat masih mengantuk kembali tertidur. Yurina membawa sampah itu keluar kamar dan menaruhnya ditempat sampah yang ada diluar kamar.


Saat akan menutup pintu, Yurina melirik kearah ruang kerja Moranno yang masih terang benderang dan pintu yang sedikit terbuka.


Perlahan ditutupnya kamar bayinya itu dengan rapat. Jam dinding berwarna biru langit menunjukkan jam satu malam, namun suaminya itu belum kembali kekamar untuk tidur bersamanya dan para bayinya.


Yurina melangkah kepintu lagi lalu membukanya perlahan. Ruang kerja Moranno masih terang - benderang seperti yang ia lihat beberapa menit yang lalu.


Yurina lalu mengurungkan niatnya untuk mendatangi Moranno diruang kerjanya, saat ia teringat suaminya itu telah mengacuhkannya. Tentu saja ia akan mengacuhkannya lagi pikirnya.


Yurina lalu masuk kembali kekamar bayi kembarnya dan menutup rapat pintu dibelakangnya.


Ia segera menuju tempat tidur dan tak lama berselang kembali tertidur karena kantuknya.


***


Pagi itu Yurina terbangun, matanya masih berat untuk dibuka. Tangannya meraba - raba sisi tempat tidur disebelahnya. Tidak ditemukannya tubuh yang ia cari.


Yurina segera membuka matanya, disapunya sisi tempat tidurnya. Tidak ada Moranno disana.


Diperiksanya kedua bayi kembar yang masih terlelap diranjangnya.


Yurina bergegas menuju kepintu dan membukanya dengan tidak sabar. Matanya langsung tertuju pada ruang kerja Moranno yang sudah gelap dan tertutup rapat.


Dari kejauhan nampak bibi Nur melangkah mendekat menghampiri Yurina.


"Selamat pagi nyonya muda...." Sapa bibi Nur membungkuk hormat.


"Selamat pagi juga bibi Nur..... Kenapa pagi - pagi bibi sudah ada disini. Bukankah mas Arta akan berangkat pagi ini?" Sahut Yurina dengan senyumannya.


"Kalau begitu bibi temani saja mas Arta sampai ia berangkat."


"Putra saya Arta berangkat jam tujuh pagi, jadi saya ada waktu menyiapkan bayi Billy dan juga bayi Willy untuk berjemur ditaman nyonya muda sekalian melepas keberangkatan putra saya itu nanti." Jelas bibi Nur lagi.


"Baiklah kalau begitu. Saya mau kekamar dulu untuk mandi, tolong bibi temani bayi Billy dan bayi Willy ya bi...."


"Iya nyonya muda....."


Yurina lalu bergegas menuju kamarnya dan suaminya yang berada disebelah kamar bayi kembar mereka.


Dengan cepat diraihnya handle pintu dan didorongnya. Saat terbuka ia tidak melihat siapapun disana. Yurina segara masuk dan menutup pintu dengan tergesa - gesa dibelakangnya.


Tempat tidur nampak rapi, seperti tidak ada orang yang menggunakannya semalam.


Yurina menuju kamar mandi dan membukanya cepat. Juga tidak ada sosok suaminya yang ia cari. Namun lantai kamar mandi terlihat masih basah, seperti baru habis digunakan.


Yurina membuka lemari pakaian kerja Moranno, ia melihat gantungan baju dan celana panjang Moranno kosong sepasang.


Dengan cepat Yurina masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah berpakaian rapi ia segera menuju ruang makan.


Dimeja makan, sosok yang ia cari sudah ada duduk disana bersama nyonya Agatsa dan Margareth.

__ADS_1


"Selamat pagi nyonya besar..... adik ipar.... dan suamiku....." Sapa Yurina sambil membungkuk hormat pada ibu mertuanya itu.


"Selamat pagi kakak ipar....." Balas Margareth dengan senyum lebarnya.


Sementara nyonya Agatsa hanya menganggukan kepalanya dengan gaya elegannya seperti biasanya sambil bergumam lirih.


Moranno menarik kursi disampingnya dan mempersilahkan Yurina duduk disampingnya tanpa menyapanya.


Yurina duduk, namun hatinya merasa tak nyaman akan sikap acuh Moranno sejak semalam padanya.


Seperti biasanya, mereka sarapan pagi dengan tenang, tanpa ada yang bersuara, hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar disela - sela sarapan pagi dihari itu.


Selesai sarapan pagi, mereka segera beranjak kehalaman rumah besar itu.


Nampak bibi Nur sedang membawa bayi Billy dan bayi Willy berjemur di pagi yang cerah itu ditemani Arta yang terlihat sudah bersiap untuk berangkat pulang ke dusun tempat ia mengajar.


"Selamat pagi nyonya besar.... tuan Moranno..... nyonya muda.... dan juga nona Margareth." Sapa Arta saat melihat mereka.


"Selamat pagi......" Sahut mereka bergantian.


"Apakah kau akan benar - benar kembali hari ini nak Arta...." Tanya nyonya Agatsa.


"Iya nyonya besar..... Saya harus segera kembali, karena sudah tiga hari ini saya meninggalkan tugas mengajar anak - anak." Jelas Arta dengan sikap hormatnya.


"Baiklah.... Aku titip salam buat isterimu dan juga anak - anakmu. Ini ada titipan buat keluargamu di dusun." Kata nyonya Agatsa sambil memberikan amplop berwarna cokelat kekuningan yang begitu tebal.


"Apa ini nyonya besar......" Ucap Arta menatap benda yang disodorkan padanya tanpa berani menyentuhnya.


"Terimalah nak Arta..... Aku akan kecewa bila kau menolak niat baikku ini." Kata nyonya Agatsa lagi masih menyodorkan benda ditangannya pada Arta.


"Tapi nyonya......" Wajah Arta sangat ragu untuk menerimanya.


"Terimalah nak Arta, aku mohon......"Kata nyonya Agatsa lagi memaksa, sambil memberikan benda itu ketangan Arta. Arta akhirnya tidak punya pilihan lain selain menerima pemberian nyonya Agatsa itu.


"Terima kasih banyak nyonya besar....." Ucap Arta masih dengan ekspresi wajahnya yang merasa tidak nyaman.


"Mas Arta..... Aku pasti akan merindukanmu....." Kata Moranno seraya merangkul Arta dan memeluknya dengan erat.


"Saya juga tuan Moranno....." Kata Arta yang juga membalas rangkulan Moranno dan memeluknya dengan erat.


"Saya berharap, kita bisa berjumpa lagi mas Arta...." Ucap Moranno lagi.


"Saya juga berharap begitu tuan Moranno." Balas Arta masih memeluk.


Setelahnya Moranno dan Arta saling melepaskan rangkulan mereka masing - masing.


"Saya juga mengucapkan selamat jalan untuk pulang ke dusun mas Arta. Ini ada sedikit oleh - oleh buat Mas Arta juga isteri dan anak - anak mas. Mohon diterima ya mas...." Kata Yurina sambil memberikan beberapa paper bag ditangan kanan dan kirinya.


"Ini banyak sekali nyonya muda......" Kata Arta yang terlihat juga agak ragu menerima pemberian Yurina yang penuh ditangannya.


"Semoga mas Arta dan kelurga suka. Dan Mas Arta selamat sampai tujuan dan kembali berkumpul beraama keluarga tercinta."

__ADS_1


"Terima kasih banyak nyonya muda....." Ucap Arta.


"Sama - sama mas....." Kata Yurina sambil tersenyum.


__ADS_2