
"Kau sudah bangun suamiku?" Kata Yurina saat Moranno membuka matanya pagi itu.
" Iya.... Tapi aku masih ingin disini bersamamu. Beri aku pelukan." Kata Moranno masih dalam selimutnya.
"Baiklah.... Ayo mendekatlah padaku." Kata Yurina sambil merentangkan kedua tangannya. Moranno menggeser tubuhnya untuk mendekati Yurina.
"Sepertinya kau sekarang mau diperlakukan seperti bayi" Ucap Yurina pada Moranno yang sudah berada dalam pelukannya.
"Iya, sebelum para bayi itu lahir dan membuatmu menghabiskan waktumu dengan mereka." Ucapnya sambil memejamkan matanya.
"Apakah hal itu yang membuatmu takut kalau nantinya aku lebih pokus pada mereka? Hmmm?" Tanya Yurina disela-sela senyumnya.
"Iya sayang. Jangan lupa padaku kalau mereka sudah hadir diantara kita nantinya sayanng?" Ucap Moranno sambil memejamkan matanya.
"Tentu saja tidak suamiku. Bahkan nanti kita akan membuat program punya bayi lagi. Bagaimana?"Kata Yurina masih tersenyum memandang wajah Moranno yang sedang memejamkan matanya.
"Sungguh?? Bagaimana buat bayinya sekarang saja sayang."Ujar Moranno dengan semangat seraya membuka matanya.
"Mana bisa begitu suamiku, yang didalam perut saja belum keluar." Kata Yurina sambil mencubit hidung Moranno yang mancung. Moranno hanya tertawa mendengar ucapan Yurina.
"Sekarang pelukan kita tidak bisa erat seperti dulu lagi." Kata Moranno sambil memandang wajah Yurina isterinya itu sambil tangannya mengusap perut Yurina yang membatasi keduanya.
"Tentu saja. Mereka masih ada didalam sana. Lihatlah mereka bereaksi saat kau menyetuh perutku suamiku."
"Iya sayang.... Kalian pun sudah bangun ya para baby daddy?" Ucap Moranno sambil masih mengusap perut isterinya itu.
"Ayo segera mandi, bukankah hari ini kau akan berangkat berkerja? Aku sudah menyiapkan air hangat di bak mandi untukmu suamiku." Ucap Yurina mengingatkan Moranno.
"Kenapa kau melakukannya? Kau itu sedang hamil besar, aku khawatir kau terpeleset. Jangan lakukan itu lagi ya sayang?" Sahut Moranno pada Yurina dengan wajah seriusnya.
"Baiklah aku tidak akan melakukannya lagi." Kata Yurina sambil melepaskan pelukannya dan berusaha bangkit dari posisi berbaringnya.
"Ayo, aku akan membantumu untuk mandi sayang." Ucap Moranno yang segera keluar dari selimutnya lalu dengan sigap membantu Yurina untuk bangkit dari tempat tidur.
"Aku sudah mandi tadi sebelum kau bangun suamiku." Ucap Yurina yang sudah berhasil berdiri disisi tempat tiddur.
"Baiklah kalau kau sudah mandi. Sekarang aku kekamar mandi dulu untuk mandi." Kata Moranno segera berlalu menuju kamar mandi.
Yurina lalu menuju lemari pakaian kerja suaminya. Dari sana ia mengambil satu set pakaian kerja Moranno, dan meletakkannya diatas tempat tidur.
__ADS_1
Tak lama Moranno telah selesai dengan kegiatan mandinya. Yurina segera membantu Moranno berpakaian hingga memasang dasinya.
"Sekarang kau sudah siap suamiku. Kau tampak tampan." Puji Yurina pada Moranno.
"Bukankah setiap hari aku memang selalu tampan sayang?" Kata Moranno dengan mengerlingkan sebelah matanya pada Yurina membuat isterinya itu tersenyum lebar.
"Iya, kau memang pria yang tampan suamiku. Aku beruntung bisa melihat wajah tampanmu itu setiap hari. Juga memiliki hatimu." Lanjut Yurina pada suaminya itu.
" Kau sekarang pandai merayuku ya, membuatku betah disini bersamamu sayang." Ucap Moranno seraya memeluk Yurina dihadapannya.
Yurina balas memeluk Moranno sambil membelai punggung suaminya itu. Tak lama kemudian, keduanya melepaskan pelukkan mereka. Yurina kembali merapikan pakaian Moranno yang menjadi kurang rapi saat memeluk dirinya.
"Kita sarapΓ n sekarang suamiku, supaya kau tidak terlambat bekerja pagi ini." Ucap Yurina setelah suaminya itu terlihat rapi dan siap untuk berangkat.
"Ayo. Naiklah dikursi roda ini sayang." Kata Moranno meraih kursi roda yang ada disudut ruangan.
"Tidak perlu suamiku. Jarak dari kamar kita kedapur juga tidak jauh. Selain itu aku kan harus semakin banyak bergerak saat hamil besar seperti ini." Tolak Yurina.
"Baiklah...." Moranno lalu mengembalikan kursi roda ke tempatnya semula.
Keduanya lalu keluar kamar bersama menuju ruang makan. Dimeja makan, nyonya Agatsa telah duduk ditempatnya seperti biasanya.
Ketiganya lalu menikmati sarapan paginya dalam diam. Yurina nampak sedikit kikuk, karena beberapa kali ia tak sengaja melihat ibu mertuanya itu diam-diam memperhatikannya.
"Mom, aku berangkat dulu." Kata Moranno berpamitan dengan ibunya, setelah selesai sarapan. Ia berdiri, meraih tangan sang ibu lalu menciumnya.
Yurina ikut berdiri. Ia hanya menunduk untuk memberi hormat pada mertuanya selayaknya seorang pelayan pada majikannya. Lalu melangkah mengikuti Moranno menuju halaman rumah yang ada dilantai bawah.
"Aku berangkat dulu sayang, kau baik-baik dirumah. Jangan terlalu banyak aktifitas supaya kau tidak kelelahan." Ucap Moranno sambil mencium kening Yurina.
"Iya, kau juga suamiku. Selamat berkerja." kata Yurina sambil tersenyum melepas keberangkatan Moranno pagi itu.
Pak Kasan yang berada disisi mobil memberi hormat pada Yurina, lalu masuk dan duduk dibelakang kemudi setelah Moranno berada didalam mobil.
Perlahan mobil yang dikemudikan oleh pak Kasan meninggalkan rumah besar itu. Yurina masih berdiri ditempatnya semula hingga mobil yang ditumpangi Moranno menghilang dari pandangannya.
Yurina lalu meninggalkan tempat itu, saat sekurity metutup pagar dengan rapat.
Dengan langkah santainya Yurina menyusuri taman. Udara pagi itu terasa sangat segar. Yurina menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sambil menikmati aroma beraneka bunga ditaman itu.
__ADS_1
Tampak bibi Asri sedang asik menyiram tanaman bunga. Ia memberi hormat saat Yurina lewat didekatnya. Yurina membalasnya dengan memberi senyuman.
Langkah Yurina terhenti saat melintas didepan pavilliun tempat tinggal para pelayan.
"Bibi Nur...." Sapa Yurina saat melihat seorang wanita paruh baya sedang membersihkan halaman pavilliun.
"Nyonya muda, anda ada disini?" Wanita yang disapa Yurina menghentikan sejenak kegiatannya sambil memberi hormat saat mengetahui siapa yang menyapanya.
"Iya bibi Nur. Bagaimana keadaan bibi, apakah sudah membaik?" Tanya Yurina sambil melangkah mendekat.
"Iya nyonya muda. Saya sudah lebih baik. Maafkan saya belum sempat menjenguk nyonya sampai nyonya muda kembali kerumah ini." Ucapnya pada Yurina.
"Tidak apa-apa bibi. Bagaimana keadaan pak Karso, apakah juga sudah membaik?" Tanya Yurina lagi.
"Pak Karso juga sudah lebih baik dan sehat. Sekarang ia sedang cuti karena ada keperluan keluarga nyonya."
"Syukurlah bibi, bila bibi juga pak Karso sudah membaik, saya turut senang." Ujar Yurina dengan senyum hangatnya.
"Terima kasih banyak nyonya. Bagaimana keadaan nyonya? Apakah nyonya juga kandungan nyonya baik-baik saja?" Bibi Nur balik bertanya.
"Saya dan juga kandungan saya ini baik-baik saja bibi." Jawab Yurina sambil mengusap perutnya yang besar itu.
"Syukurlahnya nyonya. Saya khawatir. Maafkan saya dan juga pak Karso yang tidak dapat melindungi nyonya pada saat itu." Kata bibi Nur dengan wajah sedihnya.
"Tidak apa-apa bibi. Itu murni musibah. Kita patut bersyukur, walau hal itu sempat terjadi dan meninggalkan banyak luka ringan, tapi kita semua bisa selamat dari musibah itu." Sahut Yurina membuat sang bibi kembali lega
"Iya, anda benar nyonya muda." Ucap bibi Nur seraya tersenyum pada Yurina.
"Bibi Nur...." Sapa nyonya Agatsa yang tiba-tiba muncul didekat mereka.
Yurina dan bibi Nur sama-sama menoleh kearah datangnya suara. Keduanya sama-sama memberi hormat pada nyonya Agatsa yang berdiri tak jauh dari mereka sedang berbincang.
"Iya saya nyonya besar.... Apa yang bisa saya lakukan untuk nyonya besar?" Tanya bibi Nur masih menundukkan wajahnya. Yurina yang berdiri disebelah bibi Nur pun masih ikut menundukkan wajahnya.
"Buatkan kami teh herbal." Perintah nyonya Agatsa pada bibi Nur.
"Baik nyonya besar. Segera saya buatkan." Bibi Nur bergegas menuju dapur pavilliun untuk melakukan apa yang diperintahkan majikannya itu.
βββ Maaf ya, author baru update sekarang, kemarin ada kegiatan diluar. Happy reading.... Semoga tetap suka dan sabar membaca JAGA HATIMU UNTUKKU hingga tamat. Mohon tinggalkan like dan komennya setelah membaca bagi para pembaca kesayanganku.q ππππππ βββ
__ADS_1